
Telulikuran Edisi 4
Berpijak pada langkah kita sebelumnya, Nandur Katresnan, maka kontinuitas tema yang sesuai untuk bulan Februari 2017 adalah Ngandel Marang Katresnan. Berasal dari bahasa Jawa Timur, ngandel berarti percaya, marang berarti kepada, dan katresnan berarti rasa cinta, tema kali ini bermakna ajakan untuk percaya kepada rasa cinta.
Secara individu, para Jannatul Maiyah telah menyadari bahwa ilmu dasar Maiyah adalah tentang cinta; cinta kepada sesama, cinta kepada Kanjeng Nabi, dan cinta kepada Allah SWT, yang sejak dulu sangat sering disampaikan oleh Simbah melalui Solusi Segitiga Cinta. Bahkan, di awal penciptaan semesta pun, penyebab utamanya adalah cinta, yaitu cinta Allah SWT kepada Nur Muhammad. Maka secara komunal, Damar Kedhaton berusaha percaya kepada katresnan yang selama ini sudah kita tandur bersama.
Pada acara Maiyah Bangbang Wetan (BbW) Februari 2017 di Surabaya, Gus Sabrang mengungkapkan, “Yang membuat kita kuat adalah kepercayaan satu sama lain. Lalu, bagaimana dengan kepercayaan antar masyarakat kita sekarang? Seampuh-ampuhnya kita menirukan sesuatu ataupun orang lain, tetap saja kita akan tetap menjadi KW alias tiruan.”
Secara tradisional, nenek moyang kita sudah memegang teguh dasar hubungan antar sesama, yaitu saling percaya. Tapi sekarang, sebagian besar dari kita sudah beralih cara dalam bersosialisasi. Warisan kebudayaan saling percaya semakin tergerus oleh budaya luar. Hubungan antar sesama pun tidak dilandaskan pada rasa saling percaya lagi, tetapi pada hitung-hitungan materi. Tak pelak, di jaman modern ini, orang yang mempunyai banyak materilah yang akan dipercaya. Budaya saling percaya yang dimiliki Bangsa Indonesia telah hancur, mengakibatkan tingginya tingkat kecurigaan antara anak bangsa sendiri.
Dalam Maiyah, kita diajarkan untuk percaya bahwa segala urusan hidup diatur oleh Allah SWT. Kita juga diajarkan untuk yakin, bahwa semua kejadian dalam hidup berada dalam kekuasaan Allah. Tiap detik yang berlalu dan tiap peristiwa yang terjadi harus disertai kesadaran mengenai kepercayaan tersebut. Jadi, ketika kita menghadapi sebuah kejadian buruk, apakah itu artinya Allah, yang mencintai hambaNya melebihi cinta seorang ibu, menghendaki keburukan bagi hambaNya? Tentu tidak, kan?
Masih dalam acara Bangbang Wetan yang sama, Gus Sabrang kurang lebih menyampaikan begini, “Baik atau buruknya suatu kejadian itu tergantung cara pandang manusia terhadap kejadian tersebut. Yang membuat buruk adalah ketidakmampuan kita mengartikan ‘baik’ dari kejadian tersebut. Kejadian yang baik bisa berfungsi sebagai peredam. Sementara, kejadian yang buruk dibutuhkan sebagai nyala api perjuangan.”
Pesan-pesan dari Gus Sabrang di atas, akan menjadi ‘sangu’ kita untuk menperdalam bahasan tema Ngandel Marang Katresnan. Bagaimana kita akan menanam dan menumbuhkan kembali nilai-nilai luhur dari nenek moyang kita tentang cinta dan percaya, dimana pada hakikatnya semua insan itu saling memiliki dan dimiliki?
Lantas, bagaimana cara memupuk rasa percaya terhadap diri sendiri dan orang lain dengan landasan katresnan yang berwujud Solusi Segitiga Cinta?
Mari belajar, berusaha, dan berproses untuk menjalankan sunnatullah yang berwujud rasa cinta dengan kendaraannya yang bernama “percaya/ngandel”.
Untuk itu, mari saling percaya dengan rasa cinta, saling menjaga di dalam lingkaran katresnan Telulikuran edisi ke-4, berhimpun dalam kesatuan cinta yang InsyaAllah akan berlangsung di :
SD Alami Driyorejo
Jl. Embong Trengguli RT 08 RW 02, Ds. Kesamben Wetan, Kec. Driyorejo
Tanggal : 19 Februari 2017
Pukul : 20.00 – Selesai