
Diiringi rintik hujan yang turun sedari senja, satu per satu jamaah datang memasuki pintu gerbang SD Alami di Desa Kesamben Wetan, Driyorejo, Gresik. Setelah memarkir rapi sepeda motor, melepas jas hujan, dan lalu mengayunkan sepuluh langkah kaki, masuklah mereka di pendopo. Di bangunan berukuran 5 x 5 meter itulah, rutinan telulikuran Damar Kedhaton, pada minggu 19 Februari 2017, digelar. Diguyur hujan sepanjang perjalanan, meski mengenakan jas hujan, tak pelak, mayoritas jamaah duduk melingkar dengan kondisi pakaian mamel. Raut wajah-wajah kedinginan pun menjadi pemandangan awal. Namun, tak butuh waktu lama untuk mengubahnya. Sapaan karib berbalut senyum tulus, dan kopi yang baru selesai diseduh, segera menghangatkan suasana. Serta lantunan ayat-ayat suci yang dibawakan oleh Kang Roy, mengantarkan atmosfer syahdu.

Ketika jarum jam menunjuk angka delapan, Lek Ham tiba di lokasi. Senyum hangat nan sumringahnya, seolah menghilangkan kesan lelah setelah menempuh perjalanan dari Kediri. Pegiat dan jamaah DK merasa sangat bersyukur, beliau berkenan menghadiri rutinan DK, yang masih terbilang bayi.
Setengah jam kemudian, Kang Roy mengajak jamaah untuk memulai membaca wirid dan sholawat, dengan masih ditemani gerimis, sambil menanti beberapa jamaah yang telah mengabari akan datang merapat. Sementara yang baru tiba, segera menyesuaikan diri dan mengambil tempat. Suasana menjadi makin hangat.

Tepat pukul setengah sepuluh, Cak Teguh (Bunder) yang didapuk sebagai moderator, membuka acara. Sebagai pengantar, sempat ia me-review perjalanan rutinan DK. Setelah yang pertama mengambil lokasi di situs Giri Kedhaton, ternyata pada tiga edisi berikutnya, DK diperjalankan untuk selalu menggelar rutinan di lokasi lembaga pendidikan. Telulikuran Edisi Desember 2016 bertempat di MTs Nurul Islam Pongangan, Edisi Januari 2017 bertempat di SMA Hidayatus Salam Lowayu, dan kini, Edisi Februari 2017 mengambil tempat di SD Alami Driyorejo.

“Apakah ini sebatas kebetulan, karena sesungguhnya sejak semula tidak direncanakan demikian? Atau, memang ada pesan dari Tuhan?”, Cak Teguh menggoda benak jamaah.
Ketidakistiqomahan adalah Penyakit Perjuangan

Abah Munashim yang baru tiba di lokasi pada pertengahan sesi sholawat, langsung dipersilahkan memberikan sambutan. Beliau adalah Ketua Al Mushoffa, yaitu yayasan yang menaungi SD Alami. Malam itu, cukup banyak poin yang diutarakan Abah Munashim. Di antaranya, beliau memaparkan bahwa keberadaan lembaga pendidikan yang kini beliau pimpin, dilatarbelakangi oleh keprihatinan atas situasi jaman, khususnya di wilayah Driyorejo. Beliau menyoroti perihal tergerusnya kearifan lokal, seiring derasnya arus industrialisasi. Betapa generasi muda telah mengalami degradasi di berbagai sisi sejak dini. Sebagai salah satu contoh, beliau membidik kian jarangnya anak-remaja-generasi muda yang melantunkan pujian di masjid atau langgar. Tak seperti jaman dahulu. Oleh karena itu, Abah Munashim, yang juga Ketua Dewan Masjid Indonesia Kecamatan Driyorejo, memberikan perkenan ketika DK meminta ijin menggunakan pendopo SD Alami untuk melingkar. Beliau mengapresiasi kehadiran DK, yang dinilainya selaras dengan nilai-nilai yang beliau perjuangkan. Aktivis ECOTON (sebuah LSM pemerhati lingkungan hidup) itu juga berpesan kepada DK untuk menjaga stamina, supaya bisa istiqomah.
“Ketidakistiqomahan adalah penyakit perjuangan”, tandas Abah Munashim.
Kepercayaan dan Cinta adalah Landasan Membangun Persaudaran

Sebagai upaya menjaga tradisi baik, Cak Teguh mempersilakan jamaah yang malam itu baru pertama kali melingkar untuk memperkenalkan diri. Secara bergantian, enam orang jamaah menyebutkan identitas diri, domisili, dan pengalaman bersentuhan dengan Maiyah.

Selanjutnya, suasana forum Telulikuran disegarkan dengan pembacaan puisi oleh Cak Andre. Ia membawakan Dua puisi berjudul “Ibu Kain Tenun” dan “Jangan Tidur Kekasih”. Kemudian, jamaah diajak seorang Slankers, Cak Haqiqi yang berduet dengan Cak Rizqi, melantunkan lagu “Terlalu Manis”.
Setelah disapa puisi dan lagu, jamaah diajak Cak Teguh menyerap ilmu dari Pak Kris dan Lik Ham terkait tema Telulikuran, “Ngandel Marang Katresnan”. Sebagai awalan untuk memancing diskusi, Pak Kris menyampaikan beberapa hal secara singkat nan padat. “Ngandel, percaya, artinya kita sepakat atas sesuatu, meskipun tentang sesuatu itu belum kita ketahui”, papar Pak Kris. Poin lain yang beliau utarakan adalah tentang asas hidup manfaat. Dengan landasan katresnan, seharusnya hidup dilakoni melalui upaya memaksimalkan peran untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi sesama. Begitulah seharusnya persaudaraan dibangun.

Landasannya adalah rasa saling percaya dan saling cinta. Dua hal itulah yang inhern di dalam jiwa manusia. Persaudaraan akan berubah (dari khittah-nya), ketika didasari oleh hal-hal di luar diri, seperti kekayaan dan kedudukan/jabatan. Dua hal terakhir tersebut adalah ukuran-ukuran materialisme, yang menjauhkan diri dari kesejatian.
Risetlah, meskipun Dilakukan Diam-Diam
Setelah tema dielaborasi oleh Pak Kris, tiba saatnya Lek Ham mengantarkan jamaah memasuki relung-relung nilai, tetap dalam konteks tadabbur tema. Lek Ham menukik kesadaran jamaah dengan mengajukan umpan awal, “(Kita) jelas ngandel, jelas tresna, buktine bengi iki kene teka. Kenapa kita ngandel, kenapa kita katresnan, itulah yang perlu dicari. Kemudian, apa yang bisa kita lakukan setelahnya?”. Lek Ham menambahkan bahwa tidak ada alasan apapun untuk menolak adanya cinta, dan tak ada jalan untuk menghindar darinya. Cinta merupakan entitas yang given. Mawaddah wa rohmah sudah dibekalkan oleh Tuhan sejak manusia lahir. Bayi menangis saat pertama kali menghirup udara dunia adalah simbol adanya cinta.

Kemudian, Lek Ham mengajak jamaah untuk mengekspresikan pula cinta kepada leluhur. Dalam khazanah budaya leluhur Nusantara, tak ditemukan kosakata “kalah” dan “miskin”. Hal itu menunjukkan, memang tidak didapati kejadian faktual bahwa orang dulu mengalami kekalahan dan kemiskinan dalam menjalani kehidupan. Dalam kesempatan berkumpul semacam rembug desa, tak pernah terbahas tema kemakmuran dan kesejahteraan, yang ada tema keamanan. Tiap warga memang sudah makmur dan sejahtera, sehingga tak perlu menjadi pekerjaan rumah komunitas.
Sebagai wujud katresnan kepada leluhur, Lek Ham menganjurkan kepada DK agar proaktif melakukan riset tentang warisan-warisan peninggalan leluhur. Dengan beragam kemampuan jamaah yang teridentifikasi, riset atas jejak masa lalu akan menjadi energi. Kelak, jika makin masif upaya pe-mitos-an (atas warisan leluhur), maka DK siap bersikap berdasarkan bukti. Minimal, sikap berlandas bukti menjadi benteng bagi diri sendiri. Riset, riset, dan risetlah, meskipun dilakukan diam-diam.
Di atas ilmu, ada cinta
Setelah Lek Ham mengelaborasi tema, Kang Dahlan melanjutkan dengan memaparkan beberapa poin. Beliau menyampaikan bahwa idiom “percaya” atau iman disebut sebanyak 219 kali dalam Al Qur’an. Karena begitu pentingnya, ditekankan oleh Kang Dahlan bahwa percaya adalah pondasi dari segala hal, serta keimanan dapat memicu alam bawah sadar untuk meningkatkan kemampuan/kepercayaan pada diri masing-masing. Contohnya, orang-orang sebelum kita (leluhur) cukup berdoa dengan “Bismillahirohmanirrohim” saja sudah mustajabah. Sungguh lain jika kita yang berdoa, sepertinya “sulit” untuk dikabulkan. Hal ini, tengarai Kang Dahlan, disebabkan oleh rendahnya kualitas rasa percaya. Yakinnya kurang nothok.

Sebagai informasi tambahan, Kang Dahlan tiba di lokasi Telulikuran agak malam, bersama dengan Cak Wakhid. Mereka berdua berdomisili di ujung utara Gresik, tepatnya Kecamatan Panceng. Tetapi semangatnya sungguh luar biasa untuk bisa datang di majelis Telulikuran, dengan yakin tetap berangkat meski harus menerobos hujan sepanjang jalan. Kehadiran Kang Dahlan cukup dinanti sedulur DK yang lain, karena memang beliaulah yang nyeletuk mengusulkan “percaya” sebagai tema untuk Telulikuran Edisi ke-4 ini.
Berikutnya, Cak Teguh mengantarkan jamaah memasuki sesi tanya jawab, dengan memberikan prolog bahwa perbedaan sudut pandang atau jarak pandang bukanlah sebuah masalah. Ia mengajak untuk melihat hal tersebut sebagai peluang untuk memperkaya khazanah, demi merayakan keragaman.

Cak Dwi mengawali dengan mengajukan pertanyaan, “Apakah masih ada kitab Musarar yang asli. Jika masih ada, bagaimana bentuknya?”
Lalu disambung oleh Cak Roy, “Bagaimana cara menyikapi situasi sekarang ini yang kelihatannya banyak umat makin tidak percaya pada kitab suci ? Indikasinya adalah banyak perbuatan yang tidak mencerminkan ajaran kitab suci”.
Cak Roy juga menambahkan pertanyaan kepada Pak Kris, tentang siapa saja nama para leluhur Kota Gresik.

Lek Ham merespon dengan cara memancing rasa penasaran jamaah. Beliau menyatakan, banyak pihak yang beranggapan bahwa kitab Musarar itu tidak mungkin bisa dibuat oleh Jayabaya tanpa diskusi dengan para Ulama.
Lek Ham juga menebar beberapa poin yang bisa dijadikan sangu jamaah. Diantaranya, berilmu itu harus, namun di atas ilmu masih ada cinta. Selain itu, ilmu juga berkaitan erat dengan agama dan budaya. Posisi budaya adalah memperindah agama. Jamaah juga diingatkan agar senantiasa mencari titik keseimbangan antara upaya memberi gizi pada jasmani dan ruhani.
Terkait Kitab Musarar, Pak Kris menambahkan bahwa terdapat banyak sekali tafsir atas kitab Musarar. Untuk itu, soal keasliannya perlu diteliti ulang. Beliau juga menyarankan jamaah DK agar mulai nyicil menggali buku “Babad Giri Kedhaton”.
Indonesia didirikan dengan landasan utama katresnan

Waktu menunjukkan jam 00.00 lebih sedikit. Jamaah diajak menikmati sajian puisi dari Cak Adib. Dengan suara yang khas, ia membawakan 2 puisi karya D. Zawawi Imron, berjudul “Zikir” dan “Ibu”. Dilanjutkan sebuah nomor lagu “Sebelum Cahaya” yang dipopulerkan oleh Letto, dilantunkan secara koor oleh jamaah diiringi petikan gitar elektrik Cak Rizky. Suasana lingsir wengi kian syahdu, ketika Cak Roy memandu jamaah berbareng memujikan “Hasbunallah”. Atmosfer sakral serasa melingkupi.
Suasana malam itu mengalir penuh kehangatan, sementara gerimis romantis masih menemani. Tak ketinggalan minuman kopi yang dihidangkan seperti tak pernah habis, terus mengisi kembali gelas-gelas kosong yang isinya telah berpindah ke dalam lambung para jamaah. Setelah sedikit refresh dengan puisi dan 2 nomor lagu, sesi tanya jawab pun dilanjutkan.

Cak Rifqi memancing dengan pertanyaan, “Sebagai generasi muda, bagaimana cara menyikapi peninggalan leluhur kita terhadap perkembangan jaman seperti sekarang ini?”
Kemudian, Cak Mustofa menyambung dengan pertanyaan, “Kenapa Hubbul wathon minal iman yang dicetuskan KH. Wahab Chasbullah kok dijadikan jimat oleh muslim?”. Cak Musthofa juga bertanya tentang keberadaan makam Mbah Rangga yang identik dekat dengan kampung Kranggan. Sementara itu, Cak Umam sepertinya tak mau ketinggalan pula. Ia menanyakan, apakah iman itu fitrah atau hidayah.

Lek Ham merespon pertanyaan dari Cak Rifqi dengan meminta jamaah untuk taddabur terhadap peninggalan-peninggalan sejarah para leluhur secara terus-menerus, sebab menadabburi warisan-warisan leluhur merupakan bekal dalam memasuki wilayah masa kini. Pesan Lek Ham, sebaiknya tadabbur dilanjutkan dengan melakukan penelitian secara komprehensif. Rangkaian kedua aktifitas tersebut harus dilandaskan pada katresnan pada leluhur. Terkait konsep “hubbul wathon minal iman”, Lek Ham mencoba menyarikan laku teladan dari para pendahulu. Founding Fathers negeri ini, termasuk para ulama, menjadikan katresnan pada Indonesia sebagai landasan terpenting dalam menentukan bentuk negara. Indonesia disepakati bukan sebagai negara Islam, supaya bisa memuat harapan para founding fathers dari beragam keyakinan, dan agar penduduk nusantara, tanpa terkecuali, bisa mencintai negerinya. Menjawab pertanyaan Cak Umam, Lek Ham singkat menandaskan, “Terserah-serah Tuhan mau memberi hidayah kepada hamba-Nya yang mana.”

Pak Kris menjawab pertanyaan dari Cak Mustofa, bahwa kata “Rangga” menunjuk pada “Turangga”, yang berarti kuda. Maka, keberadaan makam Ki Rangga di Kampung Kranggan menunjukkan bahwa pada masa lampau terdapat aktivitas ternak kuda di sana. Ki Rangga adalah orang yang ngopeni daerah tersebut.
Tak terasa waktu sepertinya berlalu begitu cepat. Jam menunjuk angka 02.00, sedangkan di luar gerimis masih turun. Walaupun begitu, jamaah sepertinya enggan beranjak dari tempatnya. Bagaimanapun, bermajelis Maiyah juga harus belajar mengenai batasan. Maka, acara pun segera dipungkasi dengan doa oleh Lek Ham.

Beliau mengajak semua jamaah untuk menyatukan hati dan pikiran menghadap kepada Allah. Atmosfer cinta Ilahi yang begitu khusyu segera memeluk seisi forum. Segenap Jannatul Maiyah seperti larut dan terhipnotis dalam untaian sholawat, wirid, dan doa yang dilafalkan Lek Ham.
Sebelum acara benar-benar usai, 45 jamaah yang melingkar tersebut mengekspresikan katresnan di antara sesama mereka dengan makan bersama. Lingkaran-lengkaran kecil terbentuk menghadap talam berisi lengkap sajian pengusir lapar. Berbareng mereka murak cinta, semacam bekal sebelum bubar, untuk bertemu kembali bulan berikutnya.
(aif/guh/wit/ddk).