
Braaaakkk!
Terdengar sesuatu yang sengaja digebrakkan ke meja dalam sebuah warung, tempat Cak Temon biasa ngopi. Tentu saja, ia kaget bukan kepalang, karena sedang asyik-asyiknya SMS-an dengan salah satu kawan lamanya, saat masih sama-sama bekerja menjadi TKI di Taiwan.
Cak Temon clingukan, mencari sumber suara tersebut. Di sudut warung, ternyata ada Kang Gotri yang terlihat komat-kamit tidak jelas, seperti sedang mengutuki sesuatu. Di depannya, tergeletak sebuah koran. Tampaknya, koran itulah yang habis digebrakkan ke meja.
“Sampeyan itu kenapa Kang, kok tiba-tiba membanting koran? Cak Temon sampai kaget begitu. Untung, cuma ada sampeyan dan Cak Temon saja. Coba kalau warungku lagi rame. Bisa-bisa, pelangganku pada lari”, protes Yuk Fatma, penjaga sekaligus pemilik warung yang tidak kalah kaget, ketika Kang Gotri menggebrakkan koran ke meja tadi.
“Ini loh Yuk, isi koran semakin hari kok semakin menjengkelkan saja”, jawab Kang Gotri kesal.
“Lah, sampeyan ini gimana. Sudah tahu isinya cuma bikin jengkel, kok ya masih saja tiap hari baca koran”, jawab Yuk Fatma sedikit ketus.
“Ya kan aku juga nggak pengen ketinggalan berita, Yuk. Setidaknya, aku tahu gimana kabar Indonesia setiap hari”, jawab Kang Gotri dengan raut dan nada bicara yang mulai reda jengkelnya.
“Sampeyan ini kayak pengamat saja, Kang. Pengen tahu kabar Indonesia setiap hari. Apa ya Indonesia pernah tanya kabar ke sampeyan? Hehehe…” sindir Yuk Fatma.
Merasa disindir, Kang Gotri hanya melengos saja.
Melihat keadaan yang mulai kondusif, Cak Temon coba menggeser tempat duduknya. Mendekat ke tempat duduk Kang Gotri. Mengetahui hal itu, Kang Gotri lekas memberi ruang untuk Cak Temon merapat.
“Memang, apa kabar Indonesia hari ini, Kang Gotri? Kok sampeyan jengkel kayak gitu. Sorry loh, cuma pengen tanya saja. Barangkali kita bisa ngobrol-ngobrol atau diskusi tentang apa yang sampeyan jengkelkan itu”, Cak Temon mencoba menyapa, sekaligus membuka ruang untuk mengobrol bersama Kang Gotri.
“Ini loh Cak. Coba sampeyan baca. Anak-anak kita, sekarang kok manja sekali. Lemah. Kayak gudir !” jawab Kang Gotri sambil menunjuk-nunjuk isi berita yang dia maksud.
Sambil menghela nafas, Cak Gotri lanjut berbicara.
“Masa’, gara-gara masalah sepele saja, dipukul sama guru pakai penggaris, lapor orang tuanya. Ndilalah, setali tiga uang, orangtuanya tidak terima dan melaporkan guru anaknya itu ke polisi. Dan, Komnas HAM juga ikut-ikut ngurusin. Ini kan sudah gila! Dulu, kita sudah biasa mengalami hal seperti ini. Dan, kita nggak main lapor saja.”
Cak Temon mengambil koran tersebut. Kemudian, membacanya pelan-pelan. Sesaat setelah membaca, Cak Temon menghela nafas panjang, seperti melepaskan sesuatu yang lama tertahan di dalam dadanya.
“Fyuh… oh, masalah ini toh yang bikin sampeyan jengkel. Bagaimana ya, Kang Gotri? Masalah besar ini yang juga sedang aku pikirkan dan sedang aku carikan formula untuk mengatasinya”, jawab Cak Temon.
“Masalah besar bagaimana maksudnya, Cak?”, tanya Kang Gotri penasaran.
“Begini, Kang. Kalau kita mau sedikit belajar, mau menyadari betul, bahwa sekarang memang sedang berlangsung sebuah ‘Grand Design’ yang mengepung kita. Mengepung anak-cucu kita”, jawab Cak Temon mencoba menjelaskan.
“Sebentar-sebentar… ‘Grand Design’ bagaimana? Terus, apa dan siapa yang sedang mengepung kita, dan anak-cucu kita, Cak?”, Kang Gotri semakin penasaran.
“Loh, bukannya tadi sampeyan sempat ngomong ke Yuk Fatma, kalau sampeyan sebisa mungkin tahu kabar tentang Indonesia setiap hari, agar tidak ketinggalan berita. Masa’ tidak tahu tentang ‘Grand Design’ yang sedang berlangsung di negeri ini. Kan jelas sekali; tentang isi koran, televisi, hingga internet hari ini, sedang gencar-gencarnya menjadi jari-jari operasional ‘Grand Design’ tersebut”, terang Cak Temon.
“Sik.. sik.. ta lah, Cak. Aku nggak ngerti apa yang sampeyan maksud. Mbok ya, bahasa sampeyan itu sedikit diturunkan. Sekelas petani tambak kayak aku ini, jujur, nggak nutut sama model berpikir sarjana seperti sampeyan“, Kang Gotri mencoba menego.
“Nggih… Sebenarnya, ini bukan soal sampeyan seorang petani tambak atau saya seorang sarjana. Tapi, kebiasaan melatih daya nalar, menata kerangka pemikiran, dan terbiasa membangun sebuah kesadaran bahwa segala informasi yang berasal dari luar diri kita, terutama dari televisi, media cetak, atau pun lewat internet, sepatutnya kita endapkan dulu di dalam pikiran. Disaring dulu, bila perlu, segala informasi yang sampeyan terima cukup ditaruh saku saja. Atau, cukup sampeyan tenteng saja pakai tangan. Jangan semuanya dimasukkan ke dalam hati tanpa ada filter. Nanti, hati sampeyan malah penuh, seperti orang sesak nafas. Kalau istilahnya jaman sekarang ‘Sumbu Pendek’; tindakan atau sikap terlalu cepat bereaksi sebelum menata kuda-kuda untuk nyicil menalar semuanya”, jelas Cak Temon mencoba berdiplomasi.
“Oh begitu, ya… masuk di akal juga apa yang sampeyan jelaskan barusan. Soalnya akhir-akhir ini, masyarakat kita gampang panas. Kadang, cuma gara-gara hal sepele saja, jadi gampang ribut. Setiap orang memegang teguh apa yang diyakini sebagai kebenaran. Kemudian, dibenturkan dengan kebenaran orang lain”, Kang Gotri mulai mencoba menalar keadaan.
“Nah, sampeyan juga mengerti begitu, kok. Jadi sebenarnya, untuk permasalahan merosotnya kualitas mental anak negeri ini, banyak faktor yang mengiringi. Salah satunya, mulai pudarnya ‘dolanan-dolanan’ anak kecil beserta tembangnya. Sampeyan lihat, sampeyan amati. Di kampung-kampung, di gang-gang, di setiap daerah di kota ini, seperti kehilangan aura keceriaan yang terpancar dari kegiatan dolanan anak kecil, yang dulu ketika kita masih kecil, sering kita lakuka”, Cak Temon menjelaskan.
“Iya ya, sekarang di kampung kita sudah tidak ada anak dolanan lagi. Sepi rasanya”, keluh Kang Gotri.
Bersambung….
Rifqi Febrian Apriliansyah
Penggiat Damar Kedhaton. Aktif dalam berbagai kegiatan Maiyah.