Dolanan dan Mental Anak Negeri (2)

Ilustrasi, mtheodric.blogspot.co.id

 

Sampeyan ingat Cak Wanto, tetangga kita yang dulu rumahnya dekat lapangan, yang sekarang pindah di daerah bantaran Sungai Bengawan Solo?”, tanya Cak Temon.

“Iya Cak, aku ingat. Waktu itu, aku juga sempat ketemu sebentar”, jawab Kang Gotri.

“Kemarin, waktu acara pernikahannya Dik Sodi, Cak Wanto diundang oleh Kang Sueb. Coba tebak, apa kesan pertama Cak Wanto saat mengamati kampung kita ini? ‘Kampung kok kelihatan gelap ya?Arek-arek cilik padha nang endi kabeh iki?’ Aku sempat bingung, apa maksud Cak Wanto bilang begitu. Sudah jelas lampu kampung kita ‘padhang jingglang’ kok dibilang gelap. Kan aneh”, Cak Temon menjelaskan.

“Oiya, Cak. Menurut sampeyan, apa hubungan antara mental anak negeri yang sedang merosot ini dengan dolanan?”, tanya Kang Gotri.

“Menurutku, sangat berkaitan. Walaupun, pendapatku ini hanyalah sebuah opini saja, dan bukan sebuah kebenaran mutlak yang harus sampeyan yakini”, jawab Cak Temon. Semenit kemudian, ia melanjutkan. “Jadi begini, Kang. Dulu, ketika masih kecil, kita mempunyai keseharian yang menurutku pas dengan perkembangan mental anak. Contoh, mulai bakda Ashar, kita belajar mengaji di langgar sampai menjelang Maghrib. Setelah Maghrib, kita nyicil sinau dikit-dikit tentang pelajaran sekolah. Setelah sinau, kita kumpul, lalu dolanan. Entah itu, Gobaksodor, Jumpritan, Benteng-Bentengan atau apalah. Tapi, tradisi itu sudah hilang sekarang. Padahal, kalau kita mau menyadari dan merasakan, ternyata dolanan dapat melatih kita untuk terbiasa bekerjasama dengan teman, melatih keuletan, strategi, kecerdasan. Lebih-lebih, badan kita menjadi segar, karena tubuh kita senantiasa mengeluarkan keringat.”

Kang Gotri hanya mengangguk-angguk. Mendengar dengan seksama, sembari sesekali menghisap rokoknya dalam-dalam.

“Dan, kebiasaan dari bakda Ashar sampai kita dolanan itu sebenarnya adalah ‘Prime Time’ umat Islam dan masyarakat kita. Tapi, sekarang kan sudah direbut oleh televisi dan sebangsanya itu”, terang Cak Temon.

Belum sempat Kang Gotri bertanya atau menjawab pemaparan dari Cak Temon, tiba – tiba muncul Cak Supar dari pintu warung. Cak Supar adalah suami Yuk Fatma yang bekerja dengan berjualan kacang rebus.

“Hmm.. ada benarnya juga apa yang sudah dijelaskan sama Cak Temon, Kang Gotri. Walaupun, obrolan warung kopi semacam ini, jelas bukan sesuatu yang harus diyakini sebagai kebenaran mutlak. Tapi, memang begitulah keadaan bangsa kita sekarang. Hari ini, kita dan anak-cucu kita sedang dikepung oleh ilusi-ilusi. Maaf loh ya, dari tadi aku nguping dari dalam sambil nggodok kacang untuk aku jual nanti sore.. hehe..”, Cak Supar nimbrung berdiskusi.

“Duh… serasa pecah kepalaku. Belum sempat tanya sama Cak Temon lebih lanjut, tiba-tiba sampeyan datang dan ngomong begitu”, keluh Kang Gotri.

“Hmm. Terus, bagaimana maksud istilah dikepung ilusi-ilusi, Cak? Aku semakin bingung dengan arah pembicaraan kita ini.” Kang Gotri semakin tidak mengerti.

“Hehehe. Maaf, Kang Gotri. Maksudku, seringkali kita luput perhatian dengan hal-hal yang dianggap sepele. Misal, rejeki kita hari ini adalah makan tempe, tetapi kesadaran kita membayangkan sate. Ya manusiawi sih, namanya juga keinginan. Tapi, kalau keinginan ini menjadi sebuah kebiasaan, keseimbangan cara berpikir kita akan rusak. Kesadaran sikap syukur kita kepada pemberian Allah juga akan tergerus. Tentu sangat mengganggu kita, kan? Tidak akan enak rasanya, saat kita makan lauk tempe, tapi membayangkan sate. Itu contoh sederhana saja ya, Kang Gotri”, terang Cak Supar. Ia pergi ke dapur, lalu kembali lagi seraya membawa sepiring kacang rebus.

“Ini Kang Gotri, Cak Temon. Aku kasih kacang rebus. Buat icip-icip. Buat teman ngobrol. Gratis, hehe..”, katanya.

“Tidak usah repot – repot Cak”, jawab Cak Temon dan Kang Gotri bersamaan.

Ndak kok, kan cuma kacang rebus saja. Oh iya, tadi sampai mana ya?”, tanya Cak Supar.

“Ilusi, Cak”, jawab Kang Gotri singkat.

“Oh iya, hmm…. Belum lagi, anak-cucu kita saat ini sedang dicekoki yang namanya ‘Game Online’. Dibuat ketagihan sampai lupa waktu. Game juga merupakan bagian dari ilusi-ilusi itu. Sebuah kesenangan semu. Lebih-lebih, saat mereka ngegame, aktifitas gerak tubuh juga tidak ada. Otomatis, dapat mengganggu kesehatan mereka juga. Kalau kita mau menelusuri lebih jauh, ternyata ‘Game Online’ pun merupakan bagian dari komoditas kapitalisme. Di balik permainannya yang menggoda anak-cucu kita, toh, mereka harus membayar atau membeli sesuatu kepada provider pembuat game tersebut untuk menunjang permainan agar bisa naik grade“, jawab Cak Supar.

“Hmm… menurut sampeyan, ada solusi tidak untuk persoalan seperti ini?”, tanya Kang Gotri.

“Ya seperti yang disampaikan Cak Temon tadi. Poinnya, kita harus nyicil dari sekarang, mencari formula agar permainan tradisional bisa dibangkitkan lagi. Kita harus menemani perkembangan dan pertumbuhan anak-cucu kita, agar menjadi generasi penerus yang kuat. Kita juga musti nyicil mengajarkan tembang-tembang dolanan kepada anak-cucu kita. Semisal Lir – Ilir, Gundhul Pacul, atau Jamuran.. Karena, di dalam tembang dolanan, justru terkandung makna – makna tersirat”, jawab Cak Supar.

“Yaitu, petuah-petuah atau nasehat dari leluhur kita dulu. Isinya bisa mencakup banyak hal, mulai pelajaran soal berpolitik, hingga soal kepemimpinan. Pertanyaannya, kenapa hal-hal yang menyangkut politik dan kepemimpinan disisipkan dalam tembang dolanan anak-anak? Ini adalah sebuah strategi yang sangat luar biasa menurutku. Pelajaran bernegara dan kepemimpinan sengaja dititipkan kepada anak-anak lewat tembang dolanan, tujuannya agar awet. Karena sabagai manusia, kita terus beregenerasi. Pasti lahir anak-anak baru di dalam kehidupan kita”, terang Cak Supar lagi, panjang-lebar.

Mbokkk.. Cak Supar, kok punya wawasan kayak gitu? Sumprit, aku baru tahu dan menyadari itu semua. Kalau gitu, ya wis, ayo kita bangkitkan lagi tradisi itu. Ngomong-ngomong, Cak Supar dapat wangsit dari mana, kok bisa ngomong kayak gitu tadi? Petani tambak juga nggak pengen kalah sama penjual kacang rebus”, tanya Kang Gotri.

“Halah… Kang Gotri. Lah, wong aku kebetulan nguping saja dari poin-poin diskusi yang disampaikan para pemuda di balai desa kampung sebelah. Tempo hari, kebetulan aku jualan di situ”, jawab Cak Supar.

“Loh, memangnya ada apa di situ, kok mereka pada diskusi? Aku jadi penasaran. Soalnya, seorang Cak Supar saja, bisa bicara seperti tadi. Menurutku, ada sesuatu di sana. Wah, aku jadi pengen kesana, Cak”, Kang Gotri berantusias.

“Hehehe…Ya wis, bulan depan, ayo kita bareng-bareng ke sana. Acaranya sebulan sekali. Aku juga ketagihan pengen ke sana lagi”, ajak Cak Supar.

“Oke, siap!” Kang Gotri menyanggupi dengan nada bersemangat.

Mengetahui obrolan Kang Gotri dan Cak Supar yang sangat hangat, mencair, sekaligus mengalir, Cak Temon hanya senyum-senyum saja. Sebenarnya, Cak Temon juga termasuk salah satu orang yang setor kuping dalam kegiatan diskusi di balai desa malam itu.

 

Rifqi Febrian Apriliansyah

Penggiat Damar Kedhaton. Aktif dalam berbagai kegiatan Maiyah.