Menipu Si Sakit

Ilustrasi, abumujahidah.blogspot.co.id

Mbak Sangidah rupanya habis ditipu mentah-mentah. Kalau ditipu oleh orang asing sih tidak jadi soal; tidak masalah, ditipu oleh pihak yang semua orang sepakat kalau dia jahat. Lha ini, Mbak Sangidah ditipu oleh pihak yang sangat dia percaya. Pihak yang malah dipercaya oleh kebanyakan orang. Mayoritas komunitas di negeri ini percaya, pihak tersebut mampu menyembuhkan si sakit. Padahal, pihak ini, kalau dirunut dari logika kata, (rasa-rasanya) kok malah sengaja ingin orang sakit; bukan kok ingin orang menjadi sehat. Makanya, pihak tersebut dinamakan rumah sakit, bukan rumah sehat (rumah yang ingin membuat orang menjadi sehat).

“Wah, kalau ini sudah tidak mentah lagi. Ditipunya sudah mateng-mateng“, keluh Kaspolan, suami Mbak Sangidah, pada Noor.

“Ditipu kok mateng. Apa lagi itu?”, sergah Noor.

“Ya saking kecewanya, saking perih batinnya, saking panas mendidih pikirannya, sampai-sampai benda yang mentah bisa jadi matang kalau ditaruh kepala”

“Pasti bisa goreng telur tanpa wajan dan kompor”, kelakar Noor.

Mbok ya kalau menipu itu tidak usah pakai sorban, baju koko putih, dan berkalung sajadah segala. Orang berbuat jahat kok takut ketahuan. Itu namanya setengah-setengah. Tidak jantan”

“Memangnya, kenapa Mbak Sangidah, Cak?”, tanya Noor.

“Kami pergi ke tempat yang disebut RS itu untuk berobat. Awalnya, kami sepakat membayar biaya berobat, yang oleh pihak RS disebut sebagai satu kali bayar untuk semua tahap pengobatan. Tapi, Mbak Sangidah dan aku sendiri kecewa betul, ketika pihak RS bilang kalau tiap kali berobat, kami harus bayar lagi”, cerita Kaspolan.

“Ah, mungkin di awal, sampeyan salah dengar keterangan, Cak”, bantah Noor.

“Memang, keterangan awalnya begitu, Noor. Coba, bagaimana kalau teman-temanmu juga merasakan trik yang sama?”, ucap Kaspolan.

“Sebentar… sebentar, RS itu ‘Rumah Sakit’ atau ‘Rumah Saham’ ? Kok, kerjaannya cari untung dari pasien yang datang? Sudah begitu, caranya pakai menipu pula”

“Mau disebut ‘Rumah Saham’, ya mangga. Mau disebut ‘Rumah Sial’ juga bisa”

“Hahaha, betul-betul. Kamu sial; kena tipu, Cak!”, Noor sepakat.

“Bukan kehilangan uang yang membuat sesal”, ungkap Kaspolan. “Tapi, karena adanya praktik ketidakjujuran yang melanggar term kebaikan. Pada uang yang hilang karena kena tipu, manusia tidak pantas menangisinya. Manusia tidak pantas menangis, karena derajat manusia yang ahsani taqwim lebih tinggi dibandingkan semua makhluk materi duniawi. Tapi kalau soal penipuan, dimain-mainkan, dilanggar, itu baru yang patut disayangkan.”

“Memangnya, kenapa kok patut disayangkan?”, tanya Noor.

“Patut disayangkan, karena Tuhan mengetahui bahwa anjuran-Nya tidak dituruti oleh para mafia dan manusia kapitalis. Tidak ada asas anta rodlin minkum, suka sama suka di antara dua pihak. Saat satu pihak melanggar pihak lain, yang terjadi adalah keterpaksaan karena penindasan. Bukan suka sama suka. Rela sama rela”

“Aku tahu artinya, Cak”, sahut Noor, ”Tuhan memang sengaja menghendaki ketidakjujuran, sehingga Dia bisa lebih menyayangi hamba yang ikhlas menerima ketidakjujuran atas dirinya. ”

 

Nur Khusnin

JM Damar Kedhaton tinggal di area Kota Gresik