
Ditemani sayup-sayup angin di suatu Jumat siang yang panas, saya menunggu seorang teman lama, katanya, hendak datang ngopi. Saat menunggu, terbersitlah ingatan akan sebuah idiom yang menurut saya sangat makjleb dari Mas Sigit, seorang dulur Maiyah yang sosoknya cukup dikenal oleh banyak dulur lain. Nulis tanpa papan, maca tanpa buku diungkapkan Mas Sigit dalam sebuah acara Padang mBulan. Maksudnya, kata Mas Sigit, adalah belajar dari alam. Mempelajari gerak-gerik alam, tanda-tandanya, dan apa saja yang dapat bermanfaat bagi kita sendiri. Sebagaimana dicontohkan oleh junjungan kita Kanjeng Nabi Muhammad SAW, sewaktu mendapatkan perintah iqra’ melalui wahyu pertama dariNya di Gua Hira’. Mengapa beliau diperintahkan untuk ‘membaca’, padahal Allah tahu Nabi adalah seorang yang ummi (tidak bisa membaca, menulis, dan menggunakan ilmu hisab)?
Esensi dari ‘iqra’ tidak terbatas ‘membaca’ aksara, huruf, atau angka seperti pengertian pada umumnya. Dalam cara pandang yang lebih luas, obyek dari aktivitas ‘membaca’ di sini adalah hakikat dari apa yang ada di alam semesta, baik berupa simbol/tanda-tanda tertulis, maupun yang tak tertulis seperti kejadian atau keadaan alam kehidupan, misalnya, perubahan cuaca, pola tiupan angin, bencana, gerak-gerik hewan, perilaku manusia, dll. Iqra’! Bacalah keadaan dan situasi kehidupan yang ada di sekitar kita! Bacalah alam semesta yang tergelar! Sebab, alam merupakan ciptaanNya yang memuat tanda-tanda keberadaanNya. Maka, sang khalifah bumi (manusia) wajib berguru kepadanya. Disadari atau tidak, mbah-mbah kita dahulu sesungguhnya ahli dalam membaca alam, sebab mereka berguru kepadanya. Kepekaan batin nenek moyang kita tersebut diwujudkan ke dalam olah batin, sehingga memperkuat sisi spiritual mereka. Kemampuan mereka dalam melihat serta mencerna makna sesungguhnya dari ‘baca dan tulis’ tersebut tidak didapatkan secara singkat, melainkan melalui proses yang panjang. Oleh karena itu, amat sayang jika kita tidak melestarikan dan mengembangkan warisan-warisan mereka.
Kontradiktif dengan Mas Sigit yang memaknai idiom nulis tanpa papan, maca tanpa buku dari sisi positif, saya memaknainya dari sisi negatif. Pemikiran beda sisi pandang tersebut berangkat dari sebuah unek-unek klasik yang pasti pernah terpikirkan oleh hampir semua orang, yaitu mengenai perubahan jaman yang dipengaruhi kemajuan teknologi. Jaman analog berganti pelan tapi pasti menjadi digital. Sedikit banyak, mindset masyarakatpun ikut terpengaruh, sehingga mengalami perubahan. Berkaitan dengan kondisi ini, saya mencermati, idiom ‘nulis tanpa papan, moco tanpa buku’ merupakan simbol dari perubahan mindset kita tentang membaca dan menulis secara manual (analog) yang telah terdigitalisasi secara siginifikan, sehingga mengubah konsep kehidupan bermasyarakat dan perlahan menyebabkan tergerusnya kemampuan sosial. Jika ditarik secara horizontal dalam pandangan Islam, bisa dikatakan, unsur hablumminannas luntur dan mundur secara teratur. Kentara sekali, masyarakat sedang belajar menjadi manusia instan yang tak mau repot dalam menempuh proses manual dalam bidang apapun, termasuk dalam berhubungan dengan sesama manusia. Biarpun begitu, kita juga tidak bisa memungkiri manfaat perubahan peradaban analog ke digital dalam setiap sendi kehidupan yang kita jalani sekarang. Memang ironis; perwujudan idiom ‘tanpa papan, tanpa buku’ adalah benda yang jika dilihat dari volume-nya cuma segenggaman tangan. Tetapi dalam kehidupan sosial, benda yang lazim disebut gadget ini sanggup membuat hubungan antar manusia yang semula terasa jauh menjadi dekat, dan yang dekat, sebaliknya, menjauh. Dengan sekali-dua kali ketuk pada layar sentuh, ia bisa memotong begitu banyak ruang usaha dan ruang waktu, sehingga kebutuhan dan keinginan manusia dapat segera terpenuhi. Tentu, pola ini lambat laun menguasai pikiran manusia. Efek jangka panjangnya, manusia tak lagi punya cukup jarak untuk mempertimbangkan keputusannya, tak lagi punya cukup kesempatan untuk melatih daya juangnya, sehingga manusia menjadi cenderung tidak bisa bersabar dalam proses. Begitu kuatnya peran tersebut, manusia jadi memberhalakan gadget, yang akhirnya melahirkan perilaku-perilaku sosial semacam mengagamakan copas, mencopaskan agama. Wallahua’lam.
Ada satu pertanyaan yang muncul dalam benak saya ketika mendialektikakan idiom nulis tanpa papan, moco tanpa buku. Apakah iqra’ merupakan perintah yang turun khusus untuk Rasulullah? Bagaimana dengan kita, orang-orang awam yang mengaku umat beliau, bolehkah melakukan iqra’? Berdasarkan terjemah Surah Al-Alaq ayat pertama yang berbunyi: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan”. Jika kita menadabburi ayat tersebut dari sudut pandang kata ‘bacalah’, bisa dikatakan Tuhan tidak terbatas menyuruh Rasulullah saja untuk membaca dan mempelajari alam semesta, tetapi juga menyuruh semua manusia. Baca dan pelajari, kemudian ambil manfaatnya tanpa membuat kerusakan di muka bumi. Semoga anak cucu kita kelak dapat memaknai apa yang dimaksud dengan nulis tanpa papan, moco tanpa buku berdasarkan firman Allah dalam bentuk Alqur’an dan alam semesta ini, lebih luas lagi daripada yang telah kita lakukan sekarang. Wallahua’alam bisshowab.
M. Chabib Afandi
Penggiat Damar Kedhaton. Aktif dalam berbagai kegiatan Maiyah.