
Sore itu, hujan baru saja reda. Lantai Balai Desa Iker-Iker Geger, Cerme tampak masih basah oleh air hujan. Seolah, menjadi pemantik dan pengingat kalau suasana mamel memang akrab pada setiap kegiatan rutin Damar Kedhaton seperti beberapa bulan yang lalu. Menjelang Maghrib, hujan mulai reda, dan kalender Hijriyah pun telah memasuki 23 Jumadil Akhir 1438 H. Curahan air langit yang berhenti seolah mempersilakan pegiat Damar Kedhaton (DK) untuk mempersiapkan Balai Desa Iker-Iker Geger yang sebagian lantainya tergenang air. Satu per satu dulur DK yang berdomisili di sekitar Cerme pun mulai datang.

Tanpa dikomando, masing-masing jamaah dengan kesadarannya ambil bagian. Kesadaran akan peran dan fungsi dalam kebersamaan membuat para dulur bahu-membahu membersihkan dan mempersiapkan tempat beserta uba rampe lainnya untuk keperluan melingkar rutin Telulikuran (21/3).

Setelah semua siap dan Jannatul Maiyah Damar Kedhaton (JMDK) lain mulai berdatangan, acara Telulikuran Edisi ke-5 diawali dengan pembacaan Alquran Juz 5 Surat An Nisa oleh Ning Kiki, kemudian dilanjutkan nderes oleh Cak Chabib. Sekedar informasi, Ning Kiki adalah salah satu pegiat Karang Taruna Desa Iker-Iker Geger yang sengaja diajak melingkar. Lalu, Cak Roy dan Cak Dedy mengajak JMDK untuk membaca wirid dan sholawat sebagai wujud rasa cinta kepada kekasih Allah yaitu Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Tepat pukul 21.30, acara dibuka oleh Cak Teguh dengan mulai memperkenalkan DK kepada Pak Kepala Desa, perangkat desa, serta kawan-kawan dari Karang Taruna. Cak Teguh menjelaskan bahwa konsep dan gagasan yang dipakai dalam acara Telulikuran adalah sinau bareng, sebagaimana dalam Majelis Maiyah yang lain. Untuk pertama kalinya, Telulikuran terselenggara di sebuah gedung pemerintahan, setelah tiga edisi sebelumnya di gedung yang disediakan oleh lembaga pendidikan.
Selanjutnya, Cak Teguh mempersilakan Pak Kristono, selaku Kepala Desa Iker-Iker Geger, untuk memberikan sambutan. Pak Kristono menyampaikan kekaguman serta dukungannya kepada Jannatul Maiyah, khususnya Lingkar Maiyah Damar Kedhaton, yang bukan merupakan sebuah organisasi dan tidak memiliki struktur, tetapi bisa menyelenggarakan acara rutin.

Pak Kristono menambahkan sebuah pesan dari sang ibu, bahwa “urip kuwi kudu urap lan urup”. Urap berarti mau membaur atau nyawiji dengan lingkungannya, urup berarti mau bergantian. Pak Kristono mengatakan, apa yang dilakukannya dengan memberikan fasilitas tempat bagi DK untuk mengadakan acara Telulikuran adalah bagian dari melaksanakan petuah sang ibu dengan hanya berharap pada ridha Allah SWT.

Memasuki sesi berikutnya, sebagaimana tradisi, JMDK yang pertama kali menikmati atmosfer Telulikuran diminta memperkenalkan diri.
JMDK yang selama ini hanya bertegur sapa lewat media sosial grup WhatsApp, malam ini dengan izin Allah diperjalankan untuk ber-muwajahah dengan dulur-dulur lain. Selain Ning Wiwid yang jauh-jauh datang dari Tuban bersama suami serta anak lelakinya, ada 27 orang JMDK lainnya yang baru pertama kali melingkar malam ini, termasuk dulur-dulur dari “Arek Cangkruk Biasa (ACB)” dan Cak Johan dkk. Dari Lingkar Maiyah Lidah Surabaya.
Anak ke-16 Bunda Chalimah

Sebelum memasuki sesi elaborasi tema, Cak Gogon memainkan sebuah nomor lagu Selamat Menikah Teman karya Begundal Lowokwaru dengan iringan petikan gitar. Lagu ini dipersembahkan khusus untuk Cak Rifqi yang baru saja melepas masa lajangnya, dan Cak Chabib yang bulan depan juga akan menyusul. Kemesraan katresnan semakin hangat, karena pada saat lantunan lagu selesai, Cak Rifqi langsung merespon dengan membalas membacakan puisi ciptaannya yang berjudul Katresnan, serta dilanjutkan lantunan lagu dari Payung Teduh berjudul Resah yang dibawakan oleh Cak Ferry dan Cak Nuri, dulur dari Desa Jogodalu yang juga baru pertama kali melingkar di Telulikuran DK.
Masuk pada elaborasi tema Wujud Katresnan, Pak Kris Adji, seorang pegiat budaya dan sejarah Gresik yang selama ini membersamai DK dan malam ini datang ditemani istri, menyampaikan pembukaan bahwa kata Kepala Desa/Lurah adalah bentuk kata baru. Sebelumnya, masing-masing desa mempunyai penyebutan sendiri bagi pemimpinnya. Sebagai contoh, di Jawa, seorang pemimpin desa dipanggil dengan sebutan “petinggi”. Lanjut pada pembahasan inti,

Pak Kris Adji mengatakan, wujud katresnan bisa bermacam-macam tergantung perspektif masing -masing dalam mendefinisikan wujudnya. Salah satu wujud katresnan adalah cinta seorang ibu kepada anaknya. Setelah sempat me-request lagu Ibu ciptaan Iwan Fals, Pak Kris Adji menambahkan sedikit review mengenai sejarah Gresik sebagai bekal penting JMDK untuk mengetahui dan mempelajari sejarah.

Elaborasi tema disambung oleh Cak Sueb, yang menurut cerita merupakan ‘anak ke-16’ Bunda Chalimah (Ibunda Cak Nun). Cak Sueb menyampaikan, apapun tanpa didasari katresnan/cinta tidak akan terwujud. Cak Sueb mencontohkan, seorang petani cabe mewujudkan katresnan dengan menanam, memupuk dan merawat tanamannya. Urusan panen biarlah menjadi hak prerogatif Allah SWT. Jamaah Padhang mBulan sejak tahun 1996 ini sangat berharap bahwa apa yang dilakukan DK sesuai dengan jalan perjuangan Cak Nun, dengan ranah manfaat yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, hingga masyarakat. Ditambahkan oleh Pak Kristono, perwujudan cinta pemimpin desa kepada warga adalah dengan melaksanakan program-program pemerintah sebaik-baiknya. Walaupun tidak semua warga bisa menerima kebijakan tersebut, Pak Kristono tetap yakin melaksanakannya dengan niat mewujudkan cinta kepada warganya. Tak heran bila beliau mendapatkan balasan cinta dari warga berupa terpilih untuk kedua kalinya sebagai Kepala Desa Iker-Iker Geger. Pak Mustofa, Modin Desa Iker-Iker Geger yang ternyata juga sempat menjadi jamaah Padhang mBulan di masa mudanya, ikut melengkapi elaborasi tema dengan menyampaikan pesan untuk selalu mencari ridha Allah lewat ridha kedua orangtua. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua dan memohonkan ampunan bagi mereka kepada Allah SWT.
Mencari Jati Diri, Mewujudkan Katresnan


Sesi tanya-jawab diawali oleh tanggapan Cak Wahyu tentang mewujudkan katresnan lewat pengenalan jati diri. DK tidak bisa dipisahkan dari Gresik. Oleh karena itu, untuk mengetahui seperti apa wujud katresnan DK, kita harus mengenal apa itu Gresik, dengan cara mempelajari sejarah pendirian Gresik oleh Sunan Giri. Cak Wahyu juga mengajukan pertanyaan, mana yang sesungguhnya menjadi jati diri Gresik; Kota Santri yang ada industrinya, ataukah Kota Industri yang ada santrinya? Menyambung poin sejarah yang disentuh Cak Wahyu, Cak Apris menanyakan apakah ada hubungan antara daerah Menganti dengan Giri Kedhaton? Sebab, dalam pengamatannya terhadap sejumlah literatur tentang Gresik, Cak Apris menemukan banyak istilah dalam sejarah Giri Kedhaton yang menurutnya terindikasi kuat berkaitan dengan nama-nama desa di daerah Menganti. Contohnya, bangsal Sri Manganti — Menganti, Patih — desa Kepatihan, Kesetran – desa Setra, dan lain-lain. Senada dengan Cak Wahyu dan Cak Apris, Cak Mustofa menyoroti tradisi/budaya nusantara yang semakin tergerus oleh jaman. Padahal, menurut pendapat Cak Mustofa, pelestarian budaya adalah kunci untuk mempertahankan Indonesia. Oleh karena itu, Cak Mustofa menanyakan cara apa yang bisa ditempuh untuk menghadapi situasi ini.

Apa itu Indonesia? Pertanyaan menggelitik tersebut dilontarkan Pak Kris Adji untuk menanggapi poin-poin di atas. Menurut Pak Kris Adji, nama Indonesia pertama kali digunakan oleh James Richardson Logan, seorang akademisi berkebangsaan Skotlandia dalam sebuah majalah ilmiah sekitar tahun 1850. Menamai bangsa sendiri dengan penamaan yang berasal dari orang asing, bukan dari hasil ekstraksi perjalanan sejarah bangsa, menunjukkan bahwa kita belum mengenal jati diri kita sebagai sebuah bangsa. Padahal, belajar dari sejarah menghindarkan kita mengulangi kesalahan-kesalahan masa lalu. Sebagai orang Gresik, kita butuh belajar dari Sunan Giri. Beliau membangun berdasarkan azas kebermanfaatan bagi rakyat Gresik. Sebagai contoh: telaga. Telaga dibuat selain sebagai resapan air untuk mencegah banjir, juga dijadikan sumber air dan sumber penghidupan bagi warga sekitar. Tetapi, di jaman modern, keberadaan telaga malah semakin tersingkir, ditimbun menjadi pabrik dan perumahan. Tak hanya unsur kebermafaatan bagi rakyat, unsur kearifan lokal pun diabaikan dalam pembangunan, dan tidak digunakan sebagai pijakan untuk membangun masa depan. Seperti halnya pembabatan pohon-pohon siwalan, tanpa memperhitungkan bahwa Gresik adalah daerah berkapur yang kandungan airnya dapat memperbesar risiko terjadinya batu ginjal. Sementara legen, minuman dari buah siwalan, amat efektif untuk menurunkan risiko tersebut. Pola pembangunan seperti ini merupakan akibat dari tidak bijaksananya pengaplikasian teori-teori Barat yang jelas-jelas memiliki kultur alam dan budaya yang berbeda dengan kita. Menanggapi pengamatan Cak Apris tentang sejarah Gresik, Pak Kris Adji menyatakan, memang benar nama-nama tempat dan nama-nama tokoh leluhur Gresik memiliki kandungan sejarah seperti yang diungkapkan Cak Apris. Pak Kris Adji berpesan untuk mempelajarinya (sejarah) dibutuhkan sumber-sumber yang otentik. Sedangkan novel-novel sejarah yang sekarang ini sedang popular beredar, dijadikan sebatas bahan kajian saja.Mengenai pertanyaan Cak Wahyu tentang kota santri dan industri, Pak Kris Adji menanggapi; santri adalah perilaku, sikap, kebiasaan yang dilakukan masyarakat setempat yang sesuai dengan perilaku santri di pesantren, yaitu perilaku yang mencerminan nilai-nilai keagamaan. Nah, pertanyaannya; apakah masyarakat Gresik berperilaku seperti itu (santri) atau tidak?

Kehangatan tanya jawab yang terbagi menjadi dua sesi ini diselingi oleh persembahan syahdu dari Cak Adib yang membacakan Syi’ir Abu Nuwas, bersinergi serasi dengan senandung nada Cak Madrim. Untuk menjawab request Pak Kris Adji pada awal acara, dulur-dulur Oi (Orang Indonesia) memainkan gitar dan mengajak JMDK untuk menyanyikan lagu Ibu karya Iwan Fals secara serentak, demi mengenang kasihnya yang tak bertepi kepada anak-anaknya.


Tema diskusi tergali semakin dalam oleh respon Cak Rifqi mengenai perjalanan DK mulai Edisi ke-3 hingga Edisi ke-5:Nandur Katresnan, Ngandel Marang Katresnan, Wujud Katresnan. Entah disengaja atau tidak, kata Cak Rifqi, ketiga hal ini terekam baik dalam acara Melukis Cinta, Cinta Melukis yang diadakan pada tanggal 19 Maret 2017 lalu, melalui kolaborasi DK, Rumah Baca Nusantara, dan Karang Taruna Perumahan Alam Singgasana Cerme. Acara tersebut diawali dengan dolanan (mewakili unsur nandur; walaupun permainan, namun merupakan sesuatu yang dikerjakan sungguh-sungguh), mendongeng (mewakili unsur ngandel; dongeng berada dalam dimensi angan-angan, tetapi dipercaya nilai-nilainya), dan melukis (mewakili unsur wujud; mewujudkan nilai-nilai/konsep yang berada dalam dimensi angan-angan ke dalam bentuk nyata/materi). Ning Ika menambahkan, bahwa wujud katresnan yang sejati adalah cinta Allah kepada kita semua. Jika kita mendekatiNya dengan berjalan, maka Allah akan mendekati kita dengan berlari. Untuk membalas cinta Allah kepada kita, sambung Ibu Noer Kris Adji, bisa dimulai dari hal kecil dan sederhana yang dilakukan sungguh-sungguh serta ikhlas setiap hari. Misalnya, mengolah sampah menjadi barang-barang bernilai guna dan melakukan pekerjaan rumahtangga. Harapan dari Ning Wiwid, Trilogi Katresnan ini bisa menjadi landasan/filosofi DK dalam langkah-langkahnya di masa depan, di mana tema-tema Telulikuran ataupun kegiatan-kegiatan DK lain mengandung semangat untuk mewujudkan katresnan. Dari seluruh pemaparan di atas, Pak Kris Adji menggarisbawahi, wujud katresnan adalah bagaimana kita membawa manfaat sebesar-besarnya bagi sesama manusia.

Memasuki sesi penghujung acara, Cak Rohman mengajak JMDK melantunkan serempak wirid Hasbunallah Wa Ni’mal Wakil. Kemudian, Cak Totok menambahkan pendapat bahwa dalam katresnan terdapat 5 tahap yang disebut KP4; dimulai dari Keyakinan, Pernyataan, Pengorbanan, Penyaksian dan Penyatuan. Kemudian, dilanjutkan oleh pertanyaan Cak Nawir mengenai kebenaran sejarah makam Siti Fatimah binti Maimun di Desa Leran. Akhirnya, menjelang pukul 3 dini hari, acara dipuncaki doa yang dipimpin oleh Pak Mustofa, Modin Desa Iker-Iker Geger.
(guh/gon/wid/ddk)