Perwujudan Cinta dari Tanah Giri Kedhaton *)

Acara Melukis Cinta, Cinta Melukis

Cinta bisa tumbuh dimana saja, bahkan ditempat-tempat yang mungkin tak terpindai oleh mata awam. Buktinya, di tempat yang terhitung jauh dari pusat denyut nadi Kota Gresik, di luar segala fasilitas yang disediakan oleh pemerintah, dan di tengah hiruk-pikuk cerobong asap industri yang mengutamakan laba ekonomi, Rumah Baca (Rumba) Nusantara berani menggagas sebuah perwujudan cinta tanpa pamrih kepada generasi tunas bangsa.
Rumba Nusantara lahir dari keprihatinan Kak Fauzi dan istrinya atas makin menjangkitnya gejala aliterasi dan ileterasi pada generasi sekarang, yang berlangsung sejak usia dini.

“Kami mencoba menempuh upaya kecil-kecilan, membuat perpustakaan mini. Menyulap ruang tamu rumah kiami menjadi rumah baca yang bisa diakses secara gratis untuk anak-anak di sekitar rumah.” ungkap Kak Fauzi, yang juga merupakan pegiat Lingkar Maiyah Damar Kedhaton.

Sejak dibuka bertepatan dengan tanggal peringatan Harlah Pancasila, 1 Juni 2014, Rumba Nusantara cukup aktif mengadakan berbagai kegiatan kemasyarakatan yang ditujukan bagi generasi muda. Salah satunya adalah acara bertajuk Melukis Cinta, Cinta Melukis yang diadakan pada tanggal 19 Maret 2017, di Perumahan Alam Singgasana, Cerme. Kegiatan yang ditujukan untuk anak-anak usia 3-6 tahun ini dapat terwujud berkat sinergi yang baik antara Rumba Nusantara dengan para pemuda Karang Taruna setempat dan dulur-dulur Lingkar Maiyah Damar Kedhaton.

Semula, acara hanya dikonsep untuk belajar melukis saja. Namun, setelah dikomunikasikan dengan dulur-dulur Damar Kedhaton, lahirlah ide untuk menambahkan acara permainan tradisional dan mendongeng. Tak disangka, animo masyarakat terhadap konsep baru acara Melukis Cinta, Cinta Melukis sangat menggembirakan. Melebihi perkiraan awal, jumlah peserta terus bertambah hingga menit-menit terakhir penutupan pendaftaran, mencapai seratus anak lebih. Pada hari Minggu pagi yang cerah, pukul 07.30, para peserta cilik tersebut telah duduk rapi di bawah tenda dengan meja lipat dan alat menggambar seperti pensil, spidol, dan krayon. Sementara itu, peserta-peserta lain tampak terus berdatangan dari arah jalan masuk. Rata-rata, mereka didampingi orang tua / pengasuh, dan sebagian besar berasal dari Kota Gresik.

 

Menghidupkan Kembali Permainan Tradisional

Kak Fauzi menyapa peserta dan mengajak peserta untuk senam ceria.

Sapaan riang Kak Fauzi menandakan dimulainya acara. Beberapa peserta diminta ke depan, memimpin kawan-kawannya melakukan senam ceria untuk menyegarkan badan. Sedangkan sebagai pembangkit semangat, Kak Fauzi mengajak adik-adik peserta menyanyikan serempak sejumlah lagu, termasuk lagu-lagu nasional, dan meneriakkan yel-yel untuk menumbuhkan kepercayaan diri mereka.

Kak Rifqi dan Kak Qiqi memandu sesi Dolanan Tradisional.

Kemudian, acara dilanjutkan ke sesi Dolanan Tradisional yang dipandu oleh Kak Rifqi dan Kak Qiki dari Damar Kedhaton. Adik-adik peserta diarahkan membentuk kelompok yang terdiri atas 5-6 orang anak, dan diajak memainkan Cublak-Cublak Suweng. Permainan ciptaan Sunan Giri ini dipilih karena asyik bila dimainkan beramai-ramai, tidak memerlukan lahan yang luas karena keterbatasan lokasi acara, dan tidak memerlukan aturan yang rumit. Meski tampak asing dengan cara bermainnya, adik-adik peserta tetap bisa menikmati permainan. Gelak tawa tak terhindarkan saat salah satu dari kawan mereka gagal menebak di dalam tangan siapa gaco yang berupa batu itu disembunyikan.

Kak Rifqi dan Kak Qiqi mengenalkan permainan Cublak-Cublak Suweng.

Ketika ditanya mengenai makna dibalik dolanan tradisional ini, Kak Rifqi menjelaskan, “Berdasarkan berbagai sumber, saya menyimpulkan bahwa Sunan Giri berpesan kepada kita; dalam mencari harta, janganlah menuruti hawa nafsu serta keserakahan. Namun, gunakanlah nurani dan berendah hatilah, agar harta yang diperoleh nanti dapat menjadi kebahagiaan sejati dan berkah untuk diri sendiri maupun orang lain.”

 

 

 

Menanam Pesan Kebaikan melalui Dongeng

Kak Eryani menampilkan dongeng pertama berjudul Mopi Menangkap Pelangi.

Usai seru bermain Cublak-Cublak Suweng, Kak Eryani dari Damar Kedhaton menampilkan dongeng pertama berjudul Mopi Menangkap Pelangi. Melalui dongeng tersebut, Kak Eryani mengajak adik-adik peserta untuk berkreasi sendiri bila menginginkan sesuatu, tidak sekedar merengek minta pada orang tua. Sebagai penambah semangat sesi melukis nanti, Kak Eryani memungkasi dongeng dengan menceritakan bahwa sang tokoh berhasil menangkap pelangi dengan cara melukisnya di atas kertas.

Paksi membawakan dongeng kedua dengan judul Dunia Martabak.

Selanjutnya, dongeng kedua dibawakan oleh Paksi, salah satu adik peserta berusia 8 tahun. Melalui dongeng Dunia Martabak yang ditulis berdasarkan idenya sendiri, Paksi berpesan kepada kawan-kawannya supaya jangan menilai teman dari penampilan luar saja. Dalam dongeng tersebut, Paksi menyelipkan lagu dolanan tradisional Jamuran. Begitulah dongeng, mampu melanglangbuanakan anak ke dalam dunia kaya imajinasi dan mampu menjadi media nasihat tanpa harus menggurui.

 

 

 

Cinta Melukis, Membangun Kepercayaan Diri

Usai istirahat beberapa saat dari sesi permainan tradisional dan mendongeng, Kak Fauzi meminta adik-adik peserta memanggil Kak Khairul Suyanto (Kak Irul) yang akan mengajari mereka menggambar hari itu. Setelah tiga kali adik-adik peserta berseru, dari luar tenda muncullah seorang lelaki ramah, bersepatu bot hitam, dan berambut gondrong. Itulah sosok Kak Irul, yang dikenal dengan nama ‘KarikaturKha’ di dunia maya, seorang guru lukis yang sudah berpengalaman membimbing anak-anak.

Kak Irul mengajarkan teknik-teknik dasar menggambar kepada Peserta.

“Menggambar itu mudah. Kalian harus percaya diri bahwa kalian bisa melakukannya. Mulai dari tengah, mulai dari satu titik saja,” pesan Kak Irul pada awal sesi.
Kak Irul mengajarkan teknik-teknik dasar menggambar yang memang penting untuk dikuasai. Harapan Kak Irul, begitu adik-adik peserta memahami teknik dasar ini, mereka akan menjadi percaya diri dalam menggambar dan tidak tergantung pada instruksi pendamping. Dengan telaten, Kak Irul menuntun adik-adik peserta agar percaya diri menggoreskan alat gambarnya ke atas media kertas yang sudah dibagikan sebelumnya oleh kakak-kakak panitia. Mulai dari konsep gradasi warna hingga ke konsep bayangan benda.

Peserta Melukis Cinta, Cinta Melukis.

Melalui obyek gambar buah-buahan yang digunakan dalam arena belajar, Kak Irul menyelipkan pesan mengenai kebanggaan sebagai penduduk Nusantara yang memiliki kekayaan buah-buahan. Dari sekian jenis buah-buahan yang kita miliki, banyak diantaranya yang tidak tumbuh di negeri-negeri lain. Selain itu, Kak Irul juga menyampaikan pentingnya keterampilan menggambar. “Menggambar bukan hal yang remeh. Sekarang ini, kita memasuki era konseptual, di mana kalian harus memiliki keterampilan (menggambar) untuk menuangkan ide-ide yang berasal dari imajinasi kalian.”

Peserta Melukis Cinta, Cinta Melukis bersemangat melukis dengan dampingan orang tua.

Pesan-pesan Kak Irul tidak hanya disimak oleh adik-adik, tetapi juga disimak oleh para orang tua yang mendampingi mereka. Inilah uniknya atmosfer yang tercipta dalam acara Melukis Cinta, Cinta Melukis. Dua generasi berbeda, orang tua-anak, berdampingan mempelajari hal yang sama.

Mendekati pertengahan hari, udara semakin panas. Tetapi hebatnya, adik-adik peserta masih bersemangat mengikuti bimbingan Kak Irul. Mereka bersungguh-sungguh menyelesaikan gambar bedasarkan teknik yang telah diajarkan. Tiba pada penghujung acara, beberapa adik peserta diminta ke depan untuk mendapatkan hadiah karena gambar mereka berhasil terpilih sebagai karya terbaik. Sebelum matahari berada di puncak kepala, acara diakhiri dengan ulasan senyum, baik dari adik-adik peserta, maupun kakak-kakak panitia. (EWD)

*) Pernah dimuat di BMJ Edisi April 2017