
Telulikuran edisi ke-7 Damar Kedhaton pada tanggal 19 Mei 2017 kali ini berbeda dengan sebelumnya, karena bertempat di rumah Kang Dahlan, Desa Banyutengah, Panceng. Kang Dahlan merupakan seorang JMDK yang patut dijadikan panutan dulur-dulur dalam hal keistiqomahan ber-Maiyah. Di berbagai kesempatan forum maiyahan beliau seringkali hadir, meski jarak yang harus ditempuh dari rumahnya sangatlah jauh.

Tepat pada pukul 16.09 WIB, sebagian jamaah sudah hadir untuk membantu menyiapkan keperluan acara di rumah Kang Dahlan yang terlihat asri, sejuk, dan tentram. Bersebelahan dengan hutan jati dan pesisir Pantai Dalegan, membuat rumah Kang Dahlan menjadi perwujudan rahmat Allah yang begitu indah.

Memasuki pukul 20.00 WIB acara dimulai dengan nderes Al Qur’an Juz 7 oleh beberapa dulur JMDK yang sudah hadir, lalu disambung dengan pembacaan surat Ar Rahman oleh Cak Alauddin. Sekitar pukul 21.00 WIB, satu per satu dulur mulai hadir. Rahmat Allah begitu terasa dengan datangnya Abah Hamim Ahmad, salah seorang sesepuh Maiyah di Gresik, sekaligus yang merekomendasikan tema Telulikuran kali ini. Kemudian, dengan ditemani Cak Dedy, Cak Roy mengajak seluruh JMDK untuk melantunkan wirid & sholawat, menghadapkan hati pada Allah seraya menyapa Sang Baginda Rasulullah Muhammad SAW.

Sebelum memasuki sesi diskusi, Cak Teguh mempersilakan Kang Dahlan selaku tuan rumah untuk memberikan sambutan. Kang Dahlan menyampaikan banyak terima kasih kepada semua dulur yang sudah hadir pada acara rutin Telulikuran yang diselenggarakan di rumahnya. Kang Dahlan juga berharap JMDK dapat bermanfaat bagi sesama. Selesai sambutan tuan rumah, Cak Teguh membuka forum diskusi dan mulai mengelaborasi tema “Nulung Nganggo Katresnan” dengan mempersilakan semua dulur JMDK untuk urun rembug, menyampaikan pandangan, dan pemikiran masing-masing.
Di Mana Katresnan Diletakkan? Kepada Siapa Katresnan Ditujukan?

“Kepada siapa katresnan ditujukan saat memberikan pertolongan? Kepada yang ditolong, ataukah kepada Sang Pencipta?”, demikian elaborasi awal dari Cak Alauddin. Tak hanya itu, ia juga mengajak JMDK mengintrospeksi diri masing-masing.
Suasana forum bergerak semakin cair. Banyak dulur yang tergelitik untuk merespon pertanyaan Cak Alauddin.
“Nulung ya nulung ae, lapo kudu ngenteni nganggo katresnan atau nganggo lainnya, kesuwen.” Dengan dengan singkat dan tegas Mas Huda, JMDK dari Siwalan, menanggapi.

Cak Gogon ikut bersuara, “Kenapa yang didahulukan bukan rasa katresnan-nya? Dengan rasa katresnan, insya Allah, perbuatan baik akan menjadi output, dan menolong akan masuk di dalamnya.”
Lalu, disambung oleh respon Cak Fauzi atas tema. “Tema yang diangkat malam ini mengajak kita untuk memeriksa kembali motif di batin kita masing-masing, terutama ketika memberikan pitulungan. Pamrih duniawikah ? Ingin mendapatkan pujiankah? Ikhlas kah? Setelah sukses ikhlas pun, apakah kemudian kita lolos dari pintu uji merasa lebih baik katimbang orang lain yang tidak ikhlas? Begitu banyak lipatan pengertian di poin ini”, paparnya.
Ia juga menambahkan dengan mengajukan pertanyaan, “Lalu menolong memakai cinta. Cinta ini dipakai sebagai apa saat kita menolong ? Di mana letak koordinatnya katresnan, ketika kita nulung ?”

Situasi diskusi kian menghangat. Kang Farhan turut mengajukan diri urun pemikiran. “Katresnan itu bahasa anugerah. Seperti halnya nandur pari, ya nandur saja. Entah bagus apa tidak hasilnya, yang penting ngrumat sebaik mungkin yang kita bisa. Itulah proses menuju ikhlas. Dhawuh Mbah Mus (KH. Musthofa Bisri-red), “abadikan kebaikanmu dengan melupakannya”. Ketika seseorang menolong, dan merasa telah menolong, itulah letak ketidakikhlasannya. Dan, kalau kita menolong menunggu cinta, ya lama sekali, gak nulung-nulung akhirnya, gak nandur-nandur pari”.

Cak Yusuf juga tak mau tinggal diam. Ia menambahkan sebuah pandangan yang unik. “Nulung nganggo Katresnan, seandainya bisa diukur levelnya, bisa jadi ini adalah level terendah. Nulung dengan cinta ini kan sudah biasa sekali, lumrah sekali. Coba sesekali ada nulung dengan dendam, nulung dengan kebencian. Itu lebih dramatis kayaknya. Hadiahe kudune luwih gedhe saka Gusti Allah..”, papar Cak Yusuf menggoda nalar jamaah.
Maka ia pun menawarkan gagasannya agar nulung tidak usah dikaitkan dengan perasaan apapun, termasuk rasa cinta. “Karena nulung itu kebutuhan dan dibutuhkan”, tegasnya. Cak Yusuf juga membagi cerita tentang perjalanan JSP (Jamaah Siwalan Peduli) yang selama ini istiqomah membantu mengantarkan orang ke rumah sakit. Ia menggambarkan bahwa 90% orang yang diantarkan JSP menuju RS adalah orang-orang yang sebelumnya tidak mereka kenal. “Jadi bagaimana ada waktu bagi kami untuk berpikir ini enaknya dengan cinta atau benci. Mana mungkin ada celah berpikir untuk itu, lha wong kenal ae gak”, tandasnya.
Cinta yang Gelap dan Cinta yang Terang.

Semua pertanyaan dan pernyataan dari para dulur JMDK tampaknya terekam baik dalam benak Abah Hamim Ahmad. Beliau pun memulai dengan memberikan penjelasan kenapa dari 5 tema yang diajukan saat dulur-dulur JMDK sowan, tema Nulung Nganggo Katresnan yang dipilih. Bukan berarti 4 tema yang lain kurang bagus. Lebih dikarenakan, tema yang dipilih tak sekedar bagus, tetapi juga berpotensi menjadi pintu masuk atau landasan diskusi. Tema ini menarik, sebab mengandung konten vertikal dan horisontal. Keempat tema yang lain akan dapat dicakup di dalamnya saat proses diskusi berlangsung.

Abah Hamim Ahmad mencoba memasuki tema dengan mengelaborasi lebih dulu perihal cinta. Beliau memaparkan bahwa cinta memiliki banyak dimensi; Allah, Kekasih Allah, bangsa & negara, orangtua, lawan jenis, dan sebagainya. Cinta kepada Allah dan cinta kepada lawan jenis sangatlah besar perbedaannya. Kalau cinta kepada wanita, maka ia akan menjadi gelap. Tapi kalau cinta kepada Allah maka akal pikiran dan perbuatan akan terang benderang. Langkah akan menjadi sangat pasti. Karena apa yang dilakukan demi cinta pada Allah, atau lillahi ta’ala.
Abah Hamim kemudian menuturkan apa yang pernah disampaikan oleh Prof. Fuad Hasan di suatu kesempatan silaturahim bersama para mahasiswa di Mesir. Prof. Fuad Hasan menyampaikan bahwa cinta itu buta. Cinta itu tidak menerima nasehat. Cinta itu tak bisa mencari segi-segi negatif orang yang dicintai. Karenanya, disebut cinta itu buta. Lalu Prof Fuad Hasan berkelakar bahwa ada cinta manusia yang tidak buta, cintanya melek, yaitu cintanya Thoha Hussein terhadap istrinya, yang bernama Susan. Thoha Hussein adalah seorang intelektual muslim, sarjana Al Azhar Mesir, yang menempuh program doktoral di Perancis. Ia buta sejak kecil. Ketika belajar di Perancis, ia bertemu dan jatuh cinta kepada seorang non muslim bernama Susan. Merasa dicintai oleh seorang yang buta, Susan menyerahkan cintanya kepada Thoha Hussein dan mengikuti memeluk Islam. Dan sampai di dalam Islam, Susan dikenal sangat menjaga kepribadiannya sebagai seorang muslimah. Begitulah cintanya seorang Thoha Hussein yang matanya buta, yang mampu melihat hanya dengan mata batin. “Itulah cinta yang melek”, tegas Abah Hamim di ujung cerita.
Selanjutnya, Abah Hamim Ahmad menanggapi salah satu dari 5 tema yang diajukan kepada beliau, yaitu Gelandangan di Kampung Sendiri. Menurut beliau, hal itu terjadi karena rakyat kurang mendapatkan aliran rasa cinta dari lingkungan sekitar. Beliau pun menyarankan agar melalui Damar Kedhaton, kita semua selalu belajar berpikir, berbicara, berbuat baik, agar dapat menuju suatu tempat dengan selamat, aman dan lancar.
Dalam kesempatan yang sama, Abah Hamim Ahmad memperkenalkan diri. Beliau menceritakan sedikit pengalaman pribadinya yang akrab dan pernah bersentuhan langsung dengan Cak Nun. Dulu, beliau bersekolah di Denanyar, Jombang. Kemudian menempuh kuliah di Kairo, Mesir selama 6,5 tahun. Lantas, melanjutkan ke Berlin. Di ibukota negara Jerman inilah, pada tahun 1984, Abah Hamim Ahmad pertama kali bertemu Cak Nun. Mereka berkenalan lewat perantara sahabat Abah Hamim ketika di Mesir, yaitu Dr. Rusdi Abu Dalih. Seorang sarjana Al Azhar yang sedang menempuh studi S3 di Universitas Berlin. Waktu itu, sebenarnya Cak Nun sebenarnya sedang mengikuti Studi Budaya di Belanda, tetapi malah lebih kerasan tinggal di rumah salah seorang koleganya, Pak Pipit, di Berlin. Jadi setiap pekan, Cak Nun berada di Belanda selama 1-2 hari untuk melaksanakan kewajiban studi, lalu balik lagi ke Jerman.
Ketika pertama kali bertemu Cak Nun, kesan Abah Hamim biasa saja. Namun setelah beliau berdua berdiskusi dengan 3 orang teman lain di suatu tempat dan membahas tentang 7 lapisan langit, Abah Hamim Ahmad mulai merasakan bahwa Cak Nun bukan orang sembarangan. Sejak saat itu, Abah Hamim Ahmad mulai intens berkomunikasi dengan Cak Nun dan merasakan kecocokan di antara mereka berdua. Beberapa dari sekian banyak hal yang membuat Abah Hamim salut kepada Cak Nun adalah totalitas dan kesederhanaannya. Sebagai contoh, Cak Nun sangat total membantu masyarakat dalam kasus Waduk Kedung Ombo, dan sama sekali tidak mau meminta imbalan. Cak Nun juga bukan tipe orang yang materialistis. Kata Abah Hamim Ahmad, Cak Nun bahkan tak memiliki keinginan untuk mengumpulkan uang. Kesederhanaan Cak Nun juga tercermin dalam pola hidupnya, yang oleh karena itu, tak memerlukan kemewahan bila ingin menjamunya.

Kisah kedekatan dengan Cak Nun yang dituturkan Abah Hamim Ahmad memang sudah selesai. Tetapi, kehangatan kedekatan yang dibawanya masih dirasakan dulur-dulur JMDK. Untuk menjaga kehangatan tersebut menyala sampai akhir acara, Cak Teguh meminta Cak Yusuf untuk me-refresh suasana dengan membawakan beberapa lagu ciptaan Iwan Fals melalui petikan gitarnya. Dua nomor lagu dari Cak Yusuf yang berjudul Ikrar dan Bangunlah Putra Putri Ibu Pertiwi, berhasil membuat dulur-dulur bersenandung bersama. Kemudian Cak Adib merangkaikannya dengan bacaan puisi karya sendiri yang berjudul Hening. Sebagaimana Cak Adib, Kang Farhan turut membacakan puisi karyanya yang masih belum diberi judul. Pada saat bersamaan, alhamdulillah, Pak Kris Adji hadir beserta istri.
Cak Teguh kembali membuka ruang kepada dulur-dulur JMDK untuk bertanya maupun menyampaikan pendapat tentang tema malam itu.

“Manusia sebagai hamba, pada hakikatnya selalu membutuhkan pertolongan Tuhan, kapanpun dan dalam segala hal”, Cak Edy menanggapi.
Cak Alauddin menambahkan pertanyaan, “Keyakinan dan pandangan setiap orang memang berbeda-beda. Lalu, bagaimana cara menguatkan keyakinan?”
Cak Fikri pun ikut menghaturkan pertanyaan, “Kenapa kok menolong harus dengan katresnan? Bukan dengan ikhlas atau yang lainnya?”
Muncul pula pertanyaan yang unik dari Kang Wachid, “Di surat Al Fatihah, kita diajari untuk hanya kepada Allah kita menyembah, dan hanya kepadaNya pula kita mohon pertolongan. Lalu bagaimana kalau kita meminta pertolongan kepada sesama manusia? Dan kalau meminta bantuan setan, gimana?”

Suasana semakin cair, dan Cak Roy pun ikut mengemukakan pandangannya tentang Telulikuran edisi ke-7 ini. Ia mengawali dengan doa,”semoga dalam ‘pitu’ ini kita akan selalu mendapat ‘pitulungan’ dari Allah.” Kemudian disambung Cak Roy dengan pertanyaan kepada Abah Hamim tentang rahasia Istiqomah Cak Nun yang sangat luar biasa dan mungkin bisa menjadi resep bagi JMDK untuk dijadikan panutan langkah ke depannya nanti.
Selain itu, Cak Roy juga mengutarakan, “nulung itu ya sudah wujud katresnan. Selaras dengan tema kita di putaran-5. Masa’ ada sih nulung dengan benci ?! Prasaku, misal’e ana wong tiba. Nek kene benci, mesthi muni kapok kon. Gak kira nulung. Nek duwe katresnan, masiya gak kenal, mesthi langsung nulung”. Menurut Cak Roy, orang yang demikian itu pasti cinta vertikalnya sudah beres. Kalau cinta kepada Allah sudah tuntas, otomatis bisa aweh tulung kepada yang diciptakanNya.
Merangkaikan apa-apa yang telah dilontarkan oleh dulur-dulur sebelumnya, Cak Fauzi mengajukan analisis bahwa barangkali memang setiap orang memiliki titik berangkat yang berbeda. Antar orang boleh jadi beda roka’at hidupnya, beda semester perjalanannya dalam hal mengaktualisasikan nilai katresnan. “Maka, bagi saya tidak ada kontradiksi atas apa-apa yang telah diutarakan dulur-dulur. Ini hanyalah gambaran perbedaan roka’at etape kehidupan saja. Ada yang sudah roka’at tiga, nulung ya langsung nulung ae. Ada yang masih roka’at satu saja belum, masih sedang berwudhu”, ulas Cak Fauzi. Menurutnya, sangat tandas apa yang dituturkan Abah Hamim sebelumnya, bahwa katresnan adalah menjadi landasan dan modal utama. Katresnan kepada siapa? Kepada Allah.
Seorang yang Tumbuh di atas Batu

Sebelum Abah Hamim Ahmad merespone pertanyaan dari para dulur JMDK, Cak Teguh terlebih dahulu mempersilahkan Pak Kris Adji untuk menanggapi dan mengelaborasi tema.
“Menolong nganggo katresnan itu sebenarnya ada pada diri Cak Nun. Cak Nun sudah nandur kebaikan yang bersifat menolong, salah satunya adalah melalui tulisan.” papar Pak Kris Adji
Tulisan-tulisan Cak Nun menurut Pak Kris Adji bersifat menolong para pembacanya tentang agama, keadaan negara dan individu masing-masing. Pak Kris Adji menambahkan bahwa dari dulu sudah ada ‘Kiai Selebritis’; pemuka agama yang hanya mengejar eksistensi. Tapi, apakah itu bersifat menolong? Beliau juga menjelaskan bahwa para Walisongo menyebarkan ajaran Islam di Jawa juga bersifat menolong, dengan niatan karena dan untuk Allah. Beliau juga berharap kepada JMDK untuk mengaplikasikan apa yang sudah diberikan oleh Cak Nun, yaitu keseimbangan berpikir, bahwa kebenaran itu dibagi menjadi 3: kebenaran diri sendiri, kebenaran orang banyak, dan kebenaran sejati. Maka, selalu carilah kebenaran sejati, dan hal tersebut hanya bisa dicapai dengan cinta kepada Allah.
“Kita bisa meneladani istiqomahnya Cak Nun, minimal dari hal yang kecil-kecil.” pungkas Pak Kris Adji.

Abah Hamim Ahmad menanggapi apa yang ditanyakan Kang Wachid. Bahwa betul di Surat Al Fatihah tersurat perintah untuk hanya memohon pertolongan kepada Allah, wa iyyaka nasta’in. Tapi tidak boleh dilupakan bahwa juga terdapat perintah Allah kepada hamba untuk saling tolong menolong. Di Surat Al Maidah ayat 2 dan Surat Al ‘Ashr ayat 3 kiranya dapat menjadi rujukan.
Memenuhi permohonan Cak Roy, Abah Hamim menambahkan cerita perihal apa yang bisa dijadikan panutan dari keistiqomahan Cak Nun. Cak Nun adalah seorang yang multitasking, teliti dan cermat. “Sambil ngobrol dan nonton pertandingan sepakbola di tivi pun, Cak Nun bisa sambil menulis dengan konten yang sangat bagus. Pernah juga beliau menulis empat halaman. Pakai mesin ketik manual tentunya. Saya baca, tak satupun saya jumpai ada salah ketik. Tak satu huruf pun”, papar Abah Hamim. Di samping itu, Cak Nun juga seorang yang tuntas dalam mengerjakan sesuatu. Tidak akan meninggalkan pekerjaan yang belum selesai. “Tidak seperti kita pada umumnya. Misalkan, menulis dapat separuh, lantas kita tunda penyelesaiannya. Cak Nun tidak. Pasti digarap hingga tuntas”, pukas Abah Hamim.
Dalam kacamata Abah Hamim, Cak Nun adalah sosok yang tangguh. “Dia adalah, saya sebut, seorang yang tumbuh di atas batu. Ia terus bertumbuh dengan sendirinya tanpa perlu disiram lagi,” tegas Abah Hamim.
Ditambahkan oleh Abah Hamim bahwa sebagai sahabat dekat, adalah hal lumrah untuk saling meminta rokok. Namun Cak Nun tidak demikian. Cak Nun bukanlah tipikal orang yang mudah meminta pertolongan dalam keadaan seperti apapun. Dalam hal rokok pun, ketika kehabisan, tak pernah minta Abah Hamim. Cak Nun sangat tahan lapar dan selalu menyederhanakan pola hidupnya. Dalam kondisi terdesak pun beliau tidak berani ataupun sungkan bila harus meminjam uang. Hal itu menurut Abah Hamim Ahmad bila kita aplikasikan, InsyaAllah akan menuju kesholehan yang dikehendaki oleh Allah SWT.
Beliau pun kembali menceritakan pengalamannya dengan Cak Nun, bahwa sepulang dari Jerman, beliau sempat bingung harus tinggal di mana. Beliau ingin berjumpa dan berdiskusi dengan Cak Nun. Untuk itu beliau mengirimkan kartu pos kepada Cak Nun berisi kabar bahwa beliau akan ke Mentoro, Jombang pada tanggal dan jam yang diinginkan. Dan tepat pada tanggal dan jam tersebut, Cak Nun menyambut kehadiran sahabatnya di musholla depan rumah Mentoro. Setelah berdiskusi dengan Cak Nun, Abah Hamim memutuskan untuk tinggal di Jogja. Mengontrak rumah yang tidak jauh dari rumah kotrakan Cak Nun. Di Jogja inilah Abah Hamim semakin intens dengan Cak Nun, beliau membersamai perjalanan Cak Nun mulai dari Teater Dinasti sampai ikut merintis Padhang mBulan. Hingga kemudian musibah kecelakaan sepulang dari Padhang mBulan beliau alami pada tahun 1998. Peristiwa yang membuat beliau berpikir bahwa itu petunjuk dari Allah untuk diam di rumah saja.

Menginjak dini hari, Cak Yusuf kembali mempersembahkan lantunan lagu dari Iwan Fals yang berjudul Kupaksa untuk Melangkah, disambung Cak Teguh melantunkan Perahu Retak dari Franky Sahilatua. Kemudian, Cak Adib kembali membacakan puisi karya Cak Nun diiringi lantunan Wirid Penjagaan oleh Cak Roy. Memasuki penghujung acara, terlihat satu orang yang baru hadir, yaitu Cak Ali Wafa. Ia adalah seorang perupa yang tinggal di Desa Campurejo dan sengaja diundang bergabung ke Telulikuran oleh Pak Kris Adji. Menurut Pak Kris Adji, karya lukis Cak Ali Wafa sangat bagus, dan satu-satunya karya dari Gresik yang masuk seleksi galeri nasional. Secara kebetulan, almarhum ayah Cak Ali Wafa adalah sahabat dekat Abah Hamim Ahmad di Campurejo. Menurut riwayat Abah Hamim Ahmad, kalau saja ayah Cak Ali Wafa masih hidup, mungkin kawasan Gresik tidak akan terasa jauh baginya. Saking eratnya persahabatan mereka, perjalanan akan terasa pendek bila bepergian dengan ayah Cak Ali Wafa.
Ada tambahan satu poin lagi dari Abah Hamim perihal kekuatan katresnan dari Cak Nun. Dengan pola hidupnya yang sederhana, dan bisa dibilang tidak berkelebihan harta, bahkan masih menanggung hutang, Cak Nun malah menghajikan beberapa orang yang sudah sepuh di kampungnya. Dari peristiwa itu, Abah Hamim berpesan, “akan memiliki kekuatan yang besar, ketika katresnan kepada Allah itu terhubung.

Sebelum Telulikuran diakhiri, Pak Kris Adji mempersembahkan sebuah puisi karya WS Rendra berjudul “Kesaksian Akhir Abad”, dan ditutup do’a oleh Abah Hamim Ahmad. Lalu, Cak Teguh mengajak dulur JMDK untuk berdiri melingkar dan bersalaman dengan bersholawat, sebagai tanda akhir perjumpaan malam itu. (din/gon/ddk)