Awal Akhir Puasa

Ilustrasi, hellodoctor.co.id.

Maiyah adalah hal yang istimewa dan selalu memberi kejutan. Itulah yang saya yakini dan pahami dalam bermaiyah yang masih seumur jagung ini, tidak terkecuali dalam simpul Damar Kedhaton (DK). Yang paling baru, rasa istimewa dan penuh kejutan tersebut saya rasakan saat melingkar di Telulikuran Edisi ke-8 dengan tema “Pasane Remeh Riyayane Rame”. Sebagai informasi, Telulikuran merupakan majelis ilmu bulanan yang diadakan DK setiap tanggal 23 Hijriyah,

Semenjak datang, saya menikmati suguhan tadabbur-tadabbur tema yang digagas dulur-dulur. Semakin lama, saya terseret oleh arus pertanyaan-pertanyaan mengenai puasa. Kenapa kita harus puasa; sampai-sampai Allah berfirman bahwa puasa kita hanya untuk Allah? Adakah hal yang khusus, hingga terang-terangan Gusti Allah ‘ngendikan’ demikian? Ada apa dibalik itu semua? Apakah sebenarnya puasa itu merupakan kebutuhan manusia?Dan, apakah yang dimaksud dengan puasa ‘hanya untuk menahan lapar dan haus’? Pertanyaan-pertanyaan yang seakan berontak dan tidak dapat berdamai dengan ketidaktahuan itu terus berputar-putar dalam benak saya. Pada puncak kebingungan tersebut, mendadak ubun-ubun saya seakan tersiram air segar, kala mendengar hadits Rasulullah, “Umatku senantiasa berada dalam kebaikan jika mereka menyegerakan buka dan mengakhirkan sahur.” (HR Ahmad).

Bagaikan tersihir, saya pun termangu. Wah, tidak main-main kalau Kanjeng Nabi sudah ngendikan seperti itu. Maka, menggantikan kecamuk pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, muncullah satu pertanyaan baru: Kenapa dalam berpuasa yang paling baik adalah sahur di akhir waktu, dan berbuka di awal waktu?

Tanpa terasa, majelis ilmu Telulikuran Damar Kedhaton berakhir. Sesampainya di rumah, saya masih memikirkan hadits tersebut, hingga tak kuat lagi menahan kantuk, lantas tertidur. Ketika bangun keesokan harinya dengan semangat baru, saya berniat dalam hati untuk menadabburi hadist tersebut. Mula-mula saya berpikir, apa benar perkataan Rasulullah itu hanya dimaksudkan agar kita kuat menahan lapar dan haus saja saat puasa? Sahur di akhir waktu supaya kita kenyang dan punya bekal energi untuk berpuasa sampai waktu berbuka. Kemudian berbuka di awal waktu, agar kita tidak terlalu lama menahan kondisi lapar dan haus. Apakah cuma itu? Hanya sesimpel itu? Rasanya, kok terlalu ‘remeh’ jika kata-kata tersebut digunakan hanya untuk menahan lapar dan haus? Masa’ sih Kanjeng Nabi repot-repot mengatakan hal tersebut hanya untuk menyemangati kita menahan lapar dan haus? Atau jangan–jangan, hadits tersebut mempunyai makna lain? Mungkin, semacam kalimat kiasan yang memiliki banyak sayap, dan setiap sayap itu memiliki keindahannya tersendiri? Dengan mengucap Bismillah, saya mencoba menadabburi hadist Rasulullah tersebut, dan menuliskan proses serta hasilnya di sini.

Mula – mula saya akan coba membagi tiga proses puasa: mengawali (sahur) di akhir waktu, berlangsunglah Puasa, mengakhiri (berbuka) di awal waktu. Dalam konteks puasa, yang Allah sendiri mengatakan puasamu hanya untukKu, saya pun pada akhirnya menyadari bahwa puasa tidak sepatutnya hanya sekedar menahan lapar dan haus. Ada hal besar yang sesungguhnya bisa kita maknai:

1. Mengawali (sahur) di akhir waktu
Saya memaknai sahur di akhir waktu dengan sudut pandang manusia sesuai dengan tujuan penciptaannya, yaitu sebagai khalifah di muka bumi. Untuk mencapai tujuan penciptaan tersebut, maka jika manusia ingin mengawali sesuatu (menyiapkan bekal), haruslah diakhirkan (disempurnakan/digenapkan). Dalam artian, kita harus menggenapkan diri, melengkapi keilmuan, memahami sesuatu secara menyeluruh, dan melakukan banyak hal positif lain sebagai bekal menjadi seorang khalifah yang baik. Dalam sudut pandang puasa, sesudah bekal kita benar-benar cukup untuk mengarungi samudera puasa, dan sahur kita sudah tepat di akhir waktu, selanjutnya berlangsunglah proses puasa.

2. Puasa
Aktifitas puasa, sejauh yang dapat saya pahami, adalah berusaha sekuat tenaga untuk menahan/menghilangkan segala sesuatu yg mengalihkan kiblat hati dan pikiran kita kepada selain Allah. Dengan bekal sahur yang telah digenapkan sebelumnya, maka tugas manusia yang sudah mampu atau telah berproses sebagai khalifah, semestinya bisa berjalan dengan sempurna. Tapi, memang tidak semudah itu. Dalam puasa terjadi pergolakan-pergolakan atau perang, antara nafsu diri dan hati nurani. Ada juga yg memahami dalam konteks bahasa Jawa; puasa/poso adalah proses ngemposno roso/menggembosi rasa. Dalam perang tersebut, kalau kita kalah dengan nafsu setan yang terdapat dalam tiap-tiap diri manusia, dan kalau kita gagal mengarahkan kiblat hati dan pikiran kita hanya kepada Allah, bisa jadi kita mokel. Sehingga, batal-lah puasa kita. Tentunya sayang sekali bila itu terjadi. Semoga kita bisa terus menegakkan dan memperbarui puasa-puasa kita yang dengan sengaja kita mokel-kan atau batalkan. Sebagai Jannatul Maiyah, telah kita ketahui bersama bentuk-bentuk mengagumkan dari puasa sejati yang telah diteladankan oleh Mahaguru kita, Emha Ainun Nadjib (Mbah Nun). Teladan puasa dari Mbah Nun lah yang menjadikan saya lebih memahami makna puasa dan menjadikannya sebagai pijakan tadabbur ini.

3. Mengakhiri (berbuka) di awal waktu
Sehubungan dengan teladan puasa dari Mbah Nun, saya ingat beliau sering berkata,”Biarlah aku berpuasa selamanya, kalau perlu tak ada waktu berbuka”. Atau, yang sering beliau katakan, “Aku iki pasa, Rek. Aja ngongkon aku mokel. Ben Gusti Allah wae sing ngongkon aku buka“. Apa yang telah disampaikan dan diteladankan Mbah Nun tentang puasa sejati telah membuka gerbang pemahaman saya. Bahwa, dalam kondisi berbuka, bisa jadi orang yang melakukan puasa tersebut telah lulus, terverifikasi bahwa dirinya telah mendapatkan keistimewaan untuk berbuka ketika waktunya tiba. Karena keterbatasan ilmu, sebagaimana penentuan waktu ‘mengakhirkan sahur’ pada poin sebelumnya, saya juga tidak bisa mengidentifikasi penentuan waktu ‘menyegerakan berbuka’. Menurut hemat saya, dan bisa jadi salah, berbuka adalah peleburan diri menuju penyatuan atau manunggal seperti dalam ‘manunggaling kawula gusti’, dan bisa kita saksikan perwujudannya pada ulama-ulama yang telah ber-maqom/berkedudukan tinggi di hadapan Allah SWT.

Alhamdulillah, demikian sedikit tadabbur yang bisa saya selami dari hadist Rasulullah ‘manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka’. Barangkali, itulah puasa yang benar-benar disukai Allah. Puasa seperti itulah yang benar-benar harus kita persembahkan; puasa orang-orang yang mencintai-Nya dan Allah pun cinta kepadanya.

 

Mohammad Febriansyah
Pegiat Lingkar Maiyah Damar Kedhaton.