Frekuensi Maiyah

Seumpama menghadapi secara personal seorang penjudi yang belum tergerak hatinya untuk berhenti main taruhan, kira-kira apa pendekatan yang digunakan Mbah Nun? Cara tercepat memang menasehatinya panjang lebar dan membeberkan dalil-dalil, supaya tidak ada pilihan yang tersisa baginya selain berhenti main judi. Menyimak argumennya, berusaha memahami latar belakang keseharian dan kegundahan hatinya sungguh terasa membuang-buang waktu dan tidak efektif. Tetapi dalam Maiyah, Mbah Nun telah meneladankan kepada kita untuk merangkul hati, bukan ngendas-endasi. Secara insting, tidak ada orang yang suka diungguli, namun yang pasti semua orang ingin dimengerti.

Pohon Mangga ‘Kesadaran’

Baik dalam forum-forum Maiyah, Sinau Bareng, maupun tulisan-tulisan, kita menyaksikan sendiri bagaimana Mbah Nun mengedepankan perbaikan pola pikir dan peningkatan kesadaran terhadap aspek kehidupan kita sekecil-kecilnya. Mbah Nun memberi pelok (barang mentah), bukan mangga (barang jadi/matang).

Pelok harus diolah terlebih dahulu oleh si penerima dengan berbagai laku dan dialektika pribadinya. Butuh usaha dan waktu yang tidak sedikit untuk kemudian tumbuh menjadi pohon mangga ‘kesadaran’ yang menghasilkan buah manggaperilaku-perilaku positif’ dalam hidup. Salah satunya, bagi si penjudi dalam perumpamaan tadi, berupa keputusan berhenti main judi. Bukan karena doktrin-doktrin. Keputusan tersebut merupakan buah dari pohon mangga ‘kesadaran’-nya sendiri. Barangkali berbeda motif jika dibandingkan dengan dulur-dulur Jannatul Maiyah (JM) lain yang mengalami proses sama. Namun semua bermuara pada satu titik temu, yaitu ingin dekat dengan Allah. Ingin selalu bersama Allah dalam setiap jengkal langkah. Maiyatullah.

Menyetel ‘Frekuensi Maiyah

Menumbuhkan pohon mangga ‘kesadaran’ diperlukan suatu pengondisian spiritual, sehingga seorang JM bisa berada satu gelombang kesadaran tertentu, yang kemudian saya sebut dengan ‘Frekuensi Maiyah’. Sebagaimana jika kita ingin mendengarkan kanal RRI, maka radio harus disetel pada frekuensi yang sama dengan siaran RRI. Barangkali JM tersebut tidak sadar bahwa dirinya telah melewati pengondisian tersebut, bahkan sebelum berada di lokasi Maiyahan. Mulai dari menyiapkan diri menempuh perjalanan ke lokasi Maiyahan yang seringkali jauh dari rumah, mengokohkan niat untuk melekan hingga menjelang Subuh, dan mengosongkan ke-soktahu-an serta kecondongan terhadap kepentingan golongan, supaya bisa menerima ilmu baru dan mengikuti pola pikir Maiyah yang khas, zig-zag, siklikal, dsb.

Tiba di lokasi Maiyahan, pengondisian terus berlangsung. Setelah tali jiwa dibawa melangit oleh pembacaan surah Alqur’an, shalawat kepada Kanjeng Nabi, wirid, dan doa-doa, forum dibuka dengan diskusi ringan nan cair antara para pegiat dan JM. Di sela-selanya, beberapa kali musik dimainkan serta puisi dibacakan. Tak hanya sebagai penyeimbang fungsi logika otak, sebagaimana Einstein mengimbangi kecerdasan matematika-fisikanya dengan permainan biola. Tak asal meriah. Pemilihan sajian seni ditujukan untuk membangun kegembiraan persaudaraan tanpa sekat. Bersama menggapai-gapai jubah Kanjeng Nabi, digondheli erat-erat, supaya selamat menuju pangkuanNya. Siapapun, tak peduli latar belakang ekonomi, suku bangsa, jenis organisasi, pilihan politik, serta madzhabnya, membaur mencari kesejatian hidup dalam selimut udara malam dan kesunyian bintang-gemintang.

Pada titik tune in tertentu, barulah Mbah Nun, atau siapapun marja’ yang hadir, masuk pada inti diskusi; menyicil pelok-pelok hikmah, dan bersama-sama JM, merumuskan cara-cara yang baik untuk menumbuhkannya. Bagi saya pribadi, menciptakan frekuensi tertentu untuk mengedukasi sekumpulan manusia bisa jadi merupakan terobosan dalam dunia pendidikan moderen. Namun tetap harus dicatat, bagaimana keakuratan dan kepresisian pengertian, termasuk ada/tidaknya ‘Frekuensi Maiyah’, hanya Mbah Nun yang mengetahui.

Menyebarkan Isi di Luar Frekuensi

Mengingat proses pengondisian yang panjang untuk mencapai kesamaan frekuensi dalam suatu forum Maiyah, maka menjadi sulit bagi orang-orang di luar frekuensi tersebut, terutama yang tidak hadir langsung, untuk menangkap secara utuh apa yang disampaikan Mbah Nun pada momen itu. Hal inilah yang akhirnya menjadi masalah baru jika isi diskusi Maiyah tersebut dibawa keluar frekuensi.

Siapapun bisa menonton Maiyahan; melalui televisi atau video-video di internet. Kemudian, mencuplik bagian-bagian tertentu dari kata-kata Mbah Nun, diberi judul atau di-frame dalam suatu topik tertentu sesuai kepentingan pribadi/golongannya. Lantas, disebarkan. Sekalipun dalam cuplikan tersebut, yang biasanya kemudian menjadi viral karena disorot sisi bombastisnya saja, Mbah Nun sendiri yang mengucapkan kalimat tersebut, tetap saja cuplikan tersebut sangat berpotensi untuk disalahpahami. Diskusi Maiyah yang panjangnya bisa sampai 3-4 jam tidak bisa diwakilkan esensinya dalam cuplikan video sepanjang satu menit. Akan ada banyak proses dialektika yang hilang selama proses diskusi. Tidak akan terasa getaran apakah Mbah Nun mengucapkan kalimat tersebut dengan nada olok-olok, nada marah, atau malah sebenarnya prihatin. Risiko ini, saya rasa, dipahami betul oleh Mbah Nun. Potensi kesalahpahaman atas apa yang Mbah Nun ucapkan sudah berada dalam perhitungan beliau ketika berjuang mendekonstruksi pola pikir manusia Indonesia.

Jadi, jika kita memang benar-benar berniat baik untuk mengambil mutiara dari perkataan Mbah Nun yang terdapat dalam artikel atau video, bacalah/tontonlah secara lengkap dan seksama dari sumber resmi Maiyah. Lebih mantap jika kita mau hadir langsung dalam forum Maiyah dan larut dalam freukuensi persaudaraan yang sama. Syukur-syukur, jika metode menyamakan frekuensi semacam dalam ‘Frekuensi Maiyah’ berhasil dimanfaatkan bagi kemaslahatan banyak pihak di berbagai bidang. Bagaimana cara memulainya? Mari ngangsu kawruh kepada Mbah Nun, menadabburi ilmunya, dan menyesuaikan aplikasinya sesuai dengan porsi serta kondisi kita masing-masing.

 

Eryani Widyastuti & Wahyu Herdianto

Jannatul Maiyah Bangbang Wetan dan Damar Kedhaton.