Prolog Telulikuran DK Edisi #10 – Agustus 2017 “Kuda-kuda Keseimbangan”

Manusia diciptakan Allah dalam status ahsani taqwiim , bentuk yang sebaik-baiknya. Dibandingkan dengan wujud rupa makhluk lainnya, betapa aspek proporsionalitas pada jasad manusia, ialah yang paling sempurna. Tak hanya itu, komposisi penyusun diri manusia pun jangkep. Ya jasmani, ya ruhani. Ya jiwa, juga raga. Keduanya sama-sama bertumbuh dan berkembang. Maka upaya pemenuhan kebutuhan dan perawatan menjadi sebuah keniscayaan.

Dengan spirit muhasabah , kita layak memeriksa kembali laku diri dengan mengajukan pertanyaan sederhana pada diri sendiri. Ketika setiap hari raga ini diberi makan tiga kali, maka berapakah frekuensi jiwa ini diberi nutrisi ? Di saat kita rajin memandikan jasad sehari dua kali, seulet apakah upaya kita dalam mensucikan ruhani ? Di kala bagian dari organ hardware tubuh ini ada serangan penyakit, dan lalu kita lekas mencari obat, maka seberapa bergegas kita ketika mendapati bagian software jiwa ada yang tak sehat ?

Arus besar modernisasi dan kecanggihan teknologi di abad ini semakin membuat manusia lupa akan keseimbangan di segala hal. Keberadaan media sosial yang menawarkan informasi dan komunikasi melaju deras tanpa adanya referensi dari sumber berita yang dapat terpercaya, segala isu, informasi jarene, bebas masuk tanpa ada filter. Hal semacam ini sangat riskan dan mengancam keseimbangan sosial bila setiap individu hanya menelan mentah informasi dari media sosial. Pemerintah yang seharusnya menjadi tonggak keseimbangan pun semakin rumit dan sulit dimengerti tentang kebijakan-kebijakan yang diterapkan. Full Day School, impor garam, penggunaan dana haji, dan juga soal perppu.
Kalau sudah seperti ini, apakah benar NKRI ini telah mengamalkan Pancasila? Di mana sila pertama adalah Ketuhanan yang Maha Esa, tetapi dalam prakteknya Tuhan seperti dinomor-duakan, di setiap kebijakan tidak pernah “diajak berunding”. Bukankah dulu para Founding Fathers NKRI membuat Pancasila serta UUD 1945 sebagai kuda-kuda agar tercapai keseimbangan negara dan goalnya adalah Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, tapi tepat di bulan Agustus ini di umurnya yang ke-72 Tahun, sudah adakah indikator menuju sila ke-5?.

Di Maiyah kita diingatkan untuk selalu menjaga keseimbangan, seperti haluan baru Maiyah: “walaa tansa nashiibaka minaddunyaa” yang telah disampaikan pada Mocopat Syafaat Yogya di edisi bulan Juli kemarin, bahwa kita dianjurkan untuk tidak lupa kehidupan di dunia. Berdoa kemudian berusaha, selalu ridho dengan pemberianNya, harus mengerti skala prioritas, tetap survive, dan tidak gampang mengeluh pada keadaan, juga menciptakan rasa aman pada lingkungan sekitar.

Dulur, di bulan yang heroik ini Majelis Ilmu Telulikuran Damar kedhaton telah sampai pada edisi ke-10, apa dan bagaimana pendapat dulur-dulur tentang Kuda-kuda Keseimbangan? Yuk kita sinau bareng, Tetap pada wa-ilaa rabbika farghab mari kembali berhimpun, bersinergi, dan berjumpa pada :

Selasa, 15 Agustus 2017
Pukul : 19.23 WIB
SMK Nurul Islam
Jl. KH. Syafii No. 21 Sukomulyo Manyar – Gresik.