Reportase Telulikuran DK Edisi #10 – Agustus 2017 “Kuda – Kuda Keseimbangan” (1)

(bagian 1 dari 2)

Sesi nderes mengawali Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton (DK) edisi 10. Dimulai pada pukul 20:23 WIB, Mas Huda, Cak Ibad, Cak Zulfan dan Cak Saris secara bergantian mengkhatamkan Juz 10 Alqur’an. Sebagaimana biasa, pasca nderes, jamaah bersama-sama melantunkan wirid dan sholawat. Dipandu Mas Dedy, Mas Huda, dan Cak Yayak, Jannatul Maiyah Damar Kedhaton (JMDK) larut dan hanyut dalam ekspresi cinta pada Allah dan Rasulullah. Mengambil tempat di SMK Nurul Islam, Manyar, Gresik, para Jannatul Maiyah Damar Kedhaton melingkar bersama pada Selasa 15 Agustus 2017.

Cak Teguh sebagai moderator membuka telulikuran.
Pak Abdush Shomad memberikan sambutan.

Acara dibuka oleh duet Cak Teguh dan Cak Pitro, selaku moderator. Pak Jalal (Kepala SMK Nurul Islam) dan Pak Abdush Shomad (Pengurus Yayasan Nurul Islam) yang telah hadir di tengah majelis, dipersilakan memberikan sambutan selaku tuan rumah. Pak Abdush Shomad menyampaikan rasa syukur, karena SMK Nurul Islam kembali dipercaya Damar Kedhaton untuk menjadi lokasi bermajelis. Beliau mengapresiasi gaya dakwah Mbah Nun yang sangat khas, dan berharap agar jamaah yang hadir dapat istiqomah meneruskan dan mewarisi model dakwah yang telah diteladankan Sang Guru Maiyah. Atas dasar semangat tersebut, maka Pak Shomad berkenan melonggarkan batas waktu penggunaan gedung SMK Nurul Islam untuk diskusi Telulikuran. “Silakan berdiskusi sampai tuntas, sampai subuh pun tak apa. Ini adalah kegiatan positif. Kami mendukung”, tegas beliau. Sebelum mengakhiri sambutan, Pak Shomad menyampaikan permohonan kepada jamaah untuk mendoakan, semoga Yayasan Nurul Islam senantiasa sukses. Sukses dalam mendidik siswa-siswi, agar menjadi sukses di dunia dan sukses di akherat.

Pak Jalal memberikan sambutan.

Pada kesempatan berikutnya, Pak Jalal memberikan sambutan. Beliau berharap, Majelis Ilmu Telulikuran tidak sekedar menjadi tempat berkumpul, tetapi sekaligus tempat menimba ilmu dan mengasah batin. Pak Jalal membagikan nasehat dari Sunan Giri tentang dinamika hidup manusia yang diibaratkan layang-layang. Ekor layang-layang menggambarkan nafsu. Semakin panjang ekor, semakin susah layang-layang untuk naik. Agar bisa naik sempurna, maka ekornya harus dipotong, dilepas. Begitu pula laku manusia. Demi melaksanakan titah penciptaan “illa liya’budun” secara sempurna, nafsu pada diri harus dikendalikan. Beliau juga berpesan, bahwa proses menjalani kehidupan diibarat lomba. Lomba kehidupan bukan lomba kecepatan, namun lomba ketepatan untuk selalu berlaku seimbang. Garis startnya adalah kelahiran, dan garis finishnya adalah kematian. “Mari berlomba sesuai aturan Panitia, jangan sampai keluar garis. Jika keluar garis, maka akan terdegradasi”, ajak beliau kepada jamaah. Mengakhiri sambutan, Pak Jalal menyampaikan kesediaannya memberikan ruang jika DK hendak rutin melingkar di SMK Nurul Islam.

*****

Sesi perkenalan jamaah yang baru pertama kali ikut melingkar.

JMDK menyebutnya sebagai sebuah adat; setiap Telulikuran berlangsung, selalu ada sesi perkenalan bagi jamaah yang pertama kali ikut melingkar. Tercatat tujuh orang dulur baru malam itu. Cak Dwiki, pemuda asal GKB yang sehari-hari menangani desain grafis di sebuah perusahaan berita online di Surabaya. Cak Rokhim dari Nganjuk, seorang sekuriti di sebuah perusahaan swasta di Gresik. Cak Zaim Abror dari Bungah, mahasiswa sebuah kampus di Malang, Jurusan Peternakan. Cak Zaim rutin melingkar di Relegi, dan suatu ketika mendapat saran dari Cak Dil agar menyempatkan diri untuk melingkar bersama JMDK. Malam itu, saran tersebut ia tunaikan. Beberapa nama lain yang juga memperkenalkan diri, di antaranya : Cak Wiji, Cak Umar Husain, Mbak Riyatin, dan Cak Hariri Thohir. Nama yang terakhir disebut ini istimewa. Ia lahir dan besar di Jeddah. Orang tuanya berasal dari Nusantara. Selama ini, ia menyelami Maiyah “dari jauh”. Dua minggu sebelumnya, ia tiba di tanah air, mudik ke Madura. Tiada henti, ia berkeliling maiyahan di berbagai tempat. Dan JMDK beruntung, malam itu Cak Hariri – yang hadir beserta istri – berkenan membersamai majelis hingga usai.

Cak Syaiful Gogon mbeber klasa tema diskusi Kuda-Kuda Keseimbangan.

Dalam suasana persaudaraan yang telah dihangatkan melalui sesi perkenalan, Cak Syaiful Gogon mbeber klasa tema diskusi Kuda-Kuda Keseimbangan. Diawali dengan membidik soal betapa proporsional dan jangkep wujud ciptaan bernama manusia, sehingga Tuhan pun menyebutnya ahsani taqwiim, Cak Gogon mengajak jamaah mempertanyakan kembali cara kita dalam memperlakukan unsur kemanusiaan; jasmani dan ruhani. Ia mengajukan pertanyaan menggelitik. “Kita rajin membersihkan diri jasad melalui mandi sehari dua kali; tapi seberapa rajin kita menyucikan diri ruhani? Saat jasmani ditimpa sakit, segera kita mencari obat. Maka seberapa bergegas kita ketika menjumpai bagian jiwa kita ada yang tak sehat?” Pertanyaan tersebut membuka pintu bagi jamaah untuk memulai mencari dan mengelaborasi perihal keseimbangan. Cak Gogon juga menyitir tulisan Mbah Nun bertajuk “Mad-Soc, Semacam Surga”. Di dalamnya dituliskan, betapa kita bisa menjumpai perilaku manusia yang paling baik sekaligus yang paling buruk di medsos (media sosial). Kebebasan berekspresi di medsos yang nir-tanggungjawab, beresiko menciptakan ketidakseimbangan sosial. Beragam situasi yang mengepung kita sehari-hari inilah yang menuntut kita untuk mencari dan melatih kuda-kuda keseimbangan.

Jamaah dibagi menjadi 4 kelompok kecil untuk mendiskusikan tema Kuda-Kuda Keseimbangan.

Kemudian, Cak Pitro memandu jamaah untuk membagi diri menjadi empat kelompok kecil; kelompok Walaa, kelompok Tansa, kelompok Nashiibaka, dan kelompok Minaddunyaa. Sepanjang 40 menit, tiap kelompok melakukan diskusi untuk mengelaborasi tema. Dengan metode seperti ini, jalinan keintiman antar JMDK menjadi lebih terasa. Tiap jamaah juga terlihat lebih aktif dalam bersulam pendapat. Hasil perasan diskusi kelompok, lantas dipaparkan di forum besar.

Cak Nanang yang mewakili kelompok Walaa, mendapat kesempatan untuk memaparkan hasil diskusi.

Cak Nanang yang mewakili kelompok Walaa, mendapatkan kesempatan pertama. Ia memaparkan bahwa keseimbangan di dalam diri harusnya yang menjadi konsentrasi utama. Maka, diskusi di kelompok Walaa lebih fokus pada diri manusia. Dalam diri manusia terdapat tiga sifat ; sifat binatang (rakus, jasadi, memenuhi kebutuhan perut semata), sifat setan (kecerdikan, kepintaran), dan sifat malaikat (sifat kepatuhan tanpa reserve/syarat). Keseimbangan manusia tergantung pada sejauh mana ia mampu mengelola ketiga sifat tersebut. Ia juga menambahkan bahwa posisi manusia sebagai poros keseimbangan alam. Jika tiap diri mampu mencapai keseimbangan, maka situasi di luar diri pasti mengikuti. Dalam kebudayaan Jawa ada unenunenSangkan Paran” dan “Empan Papan”, yang dimaknai Cak Nanang sebagai prinsip tentang bagaimana kita bisa menempatkan diri dan bersikap dalam hidup dengan tujuan kembali padaNya.

Cak Supri, dari kelompok Tansaa menyampaikan hasil diskusi.

Diwakili Cak Supri, kelompok Tansaa menyampaikan hasil diskusi. Ia menuturkan bahwa keseimbangan ada dua; keseimbangan alam dan keseimbangan diri. Untuk menuju keseimbangan alam, syaratnya adalah keseimbangan diri. Lebih detail ia mengulas bahwa keseimbangan diri ditentukan oleh dua faktor; hati dan pikiran. Dialektika antara pikiran dan hati inilah yang menghiasi dinamika perjalanan seorang manusia dalam mencari keseimbangan hidup. Ia mengharapkan, sepulang dari Telulikuran, jamaah mendapatkan oleh-oleh perihal kuda-kuda keseimbangan sebagai bekal menjalani kehidupan.

Cak Ateng, wakil kelompok Nashiibaka, menyampaikan hasil diskusi kelompoknya.

Cak Ateng, wakil kelompok Nashiibaka, menyampaikan; hidup terdiri dari positif dan negatif sehingga perlu upaya mencari titik keseimbangan, yakni titik nol. Ia melihat, bermaiyah merupakan upaya membangun kuda-kuda keseimbangan. Diskusi bareng, wirid bareng, membangun paseduluran tulus karena Allah, adalah jalan menuju titik keseimbangan.

Cak Saris, juru bicara kelompok minad-dunyaa menyampaikan hasil diskusi.

Terakhir, kelompok minad-dunyaa menyampaikan hasil diskusi. Cak Saris, sang juru bicara, menjelaskan bahwa diskusi kelompoknya berangkat dari apa yang pernah dikatakan Mas Sabrang “Perlakukan sebuah kata sebagai pintu. Dari pintu itu kamu akan memasuki sebuah ruangan, dan menjumpai dunia baru”. Berangkat dari kata “dunyaa”, kelompok keempat ini memasuki tema. Hal-hal kecil diinventarisir sebagai wujud keseimbangan atau ketidakseimbangan. Ia menambahkan bahwa Mbah Nun pernah menyampaikan perihal  perempuan yang harus terampil mencari titik keseimbangan antara peran sebagai seorang istri dan seorang ibu. Dinamika proses memerankan diri tersebut mencerminkan bahwa menuju keseimbangan memerlukan upaya terus-menerus.

Diiringi petikan gitar Cak Umar Husain, Cak Arjun membawakan puisi bertajuk “Makna Sebuah Titipan” karya WS Rendra.

Suasana forum usai presentasi kelompok disegarkan oleh sajian musik dan puisi. Diiringi petikan gitar Cak Umar Husain, Cak Arjun membawakan puisi bertajuk “Makna Sebuah Titipan” karya WS Rendra. Cak Umar Husain sendiri kemudian membawakan lagu syahdu karya Letto “Ruang Rindu” yang langsung disambut nyanyi bareng tanpa komando oleh jamaah. Setelah Cak Teguh dan Cak Pitro merangkum poin-poin yang dipaparkan keempat kelompok, tiba giliran jamaah diajak nimba ilmu dari para sepuh yang rawuh.

Pak Kris membedah tema Kuda-Kuda Keseimbangan.

Pada kesempatan pertama, Pak Kris membedah tema dari sisi etimologis. “Dalam dunia persilatan, istilah ‘kuda-kuda’ lahir dari keyakinan bahwa kita sedang atau akan menghadapi situasi marabahaya.” ungkap beliau. Keseimbangan, menurut Pak Kris, adalah kondisi di mana kedua sisi berbobot sama. Untuk mencapai bobot yang sama antara jasmani dan rohani, atau pikiran dan hati, maka membutuhkan proses. Proses penyeimbangan bermula dari bobot satu sisi yang sudah pasti, kemudian diseimbangkan dengan sisi satunya. Sebagaimana proses menimbang barang di pasar, untuk menimbang gula 1 kg, maka dipastikan dulu timbel seberat 1 kg diletakkan di satu sisi. Lalu, gula ditakar hingga timbangan mencapai titik keseimbangan. Hal ini menggambarkan bahwa substansi keseimbangan adalah sebuah proses. Durasi prosesnya tidaklah pendek, bahkan hingga akhir hayat. Keseimbangan harus selalu kita temukan hingga cocok dan mencapai bobot yang sama sebagaimana dikehendaki Allah SWT. Tuntunan dalam menapaki tahap-tahap tersebut telah diberikan oleh Allah melalui Rasul kekasihNya, Muhammad SAW. Pak Kris juga mengajak jamaah mengambil pelajaran soal keseimbangan dari warisan fisik dari leluhur; alun-alun. Alun-alun adalah salah satu ekspresi keseimbangan jasmani–rohani masyarakat. Produk budaya yang telah dibangun oleh para pendahulu kita, pasti memiliki makna. Sebagai contoh, skema penataan ruang di sekitar alun-alun mencerminkan upaya leluhur dalam meniti proses menuju keseimbangan. Satu sudut pandang, misalnya, menawarkan pesan : Barangsiapa abai terhadap sisi barat (masjid), bersiaplah terjungkal ke sisi timur (penjara). (aif/ddk)