Reportase Telulikuran DK Edisi #10 – Agustus 2017 “Kuda – Kuda Keseimbangan” (2)

(bagian 2 dari 2)

“Batu vs Hantu”

Lik Ham memasuki tema dengan cerita awal perjalanannya hari itu.

Lik Ham memasuki tema dengan cerita awal perjalanannya hari itu. Beliau berangkat dari Malang menaiki bus menuju Surabaya. Dinamika gerak yang dialami bus sepanjang perjalanan: belok sana-belok sini, menyalip, disalip, ngerem mendadak, menghindari sesuatu, dan sebagainya, memberikan gambaran tadabbur tema ‘kuda-kuda keseimbangan’. “Bayangkan jika bus tidak dalam kondisi seimbang, apa gak moncat-mancit penumpang’e ? Mesthi gak nikmat lah..”, tutur Lik Ham. Bisa dibayangkan jika roda sisi kiri berukuran lebih kecil daripada sisi kanan, maka ketidakseimbangan pasti terjadi.

Dalam majelis malam itu, JMDK juga sedang mencoba memasang kuda-kuda. Jamaah yang hadir tidak semata mendengar dan menyimak, namun juga aktif berbicara. Upaya yang layak untuk terus kita tempuh demi menuju keseimbangan. “Anda hadir menyimak dan mendengar saja tanpa mencoba sekali waktu berbicara, itu tidak seimbang. Meskipun ada nasehat mendengar itu baik, namun segala sesuatu perlu keseimbangan. Di sini kita sinau bareng,” papar Lik Ham. Beliau menambahkan bahwa dinamika alur forum yang tidak melulu diskusi tapi juga diselingi sholawatan, lagu dan puisi adalah bagian dari upaya membangun kuda-kuda.

Lik Ham memancing nalar jamaah dengan mengajukan statemen menarik untuk ditadabburi JMDK. “Kalau anda terlalu jasmani, anda akan jadi batu. Jika anda terlalu ruhani, anda akan menjadi hantu. Nah dari dua hal itu bisa kita cari-identifikasi dan kita pelajari karakter batu dan hantu”

Salah satu modal paling awal bagi manusia dalam menata kuda-kuda keseimbangan, menurut Lik Ham, adalah adegan ketika Allah menyampaikan rencana untuk menciptakan khalifah di muka bumi. Respon para malaikat atas rencana itu seharusnya membuat kita bertanya-tanya. “Tahu dari mana? Dapat informasi dari mana malaikat kok mempertanyakan rencana Tuhan, sambil mengajukan argumen bahwa khalifah yang dimaksud Tuhan hanya akan membuat kerusakan di muka bumi?”, Lik Ham menjelaskan. Hal tersebut masih menjadi rahasia dan menyimpan tanya bagi benak kita. Itulah modal awal kuda-kuda.

Berikutnya Lik Ham mengajak jamaah untuk memasuki fase tadabbur atas kata “khalifah”. Jamak dipahami bahwa arti kata “khilafah” adalah wakil, duta, pengganti dan sebagainya. Menurut Lik Ham, makna asal dari kata “khalifah” adalah masalah. Ketika dikaitkan dengan adegan rencana penciptaan khalifah di atas, malaikat mengetahui makna kata khalifah adalah “masalah”, sehingga mereka mempertanyakan rencana Tuhan. “Karena sang khalifah nantinya berpotensi bikin masalah, maka ia dibekali akal, fithroh, dan macem-macem, untuk mengelola masalah”, papar Lik Ham. Manusia juga dibekali empat nafsu agar manusia benar-benar menjadi sumber masalah, yang setelah dikelola dengan baik oleh manusia, maka akan menuju pancer. Manusia tidak akan menemukan solusi atas masalahnya jika gagal mengelola keempat nafsu agar menuju pemusatan pada pancer-nya. Pancer adalah ciptaan Allah sebelum alam semesta yang lain diciptakan, yakni Nur Muhammad. Masalah yang tidak bisa diselesaikan manusia, pasti menjadi urusan Tuhan. Oleh karena itu, kita perlu terus menerus mencari, dengan selalu menyandarkan pada wasilah Nur Muhammad.

Selain hal di atas, masih banyak beragam ilmu yang disalurkan melalui Maiyah sebagai bekal menata kuda-kuda. Agar dapat mencapai keseimbangan dalam memandang sebuah masalah, diperlukan empat jenis kuda-kuda: sudut pandang, jarak pandang, sisi pandang dan cara pandang. “Dengan bekal itu, yang terus dipelajari dan ditadabburi, kita akan menemukan titik-titik ketidaktepatan, untuk kemudian kita perbaiki hingga menuju keseimbangan”, ujar Lik Ham memungkasi wedaran.

 

Maiyah adalah Reaktor Hidayah

“Kakak senior” BangbangWetan, Cak Amin, Cak Jambrong, dan Cak Fajar bergabung melingkar.

Suasana Telulikuran edisi 10 kali ini kian hangat, ketika Cak Amin, Cak Jambrong, dan Cak Fajar bergabung melingkar. Sungguh membahagiakan bagi keluarga Damar Kedhaton mendapati “kakak senior” BangbangWetan menjenguknya. Diminta turut mengelaborasi tema, Cak Amin mengawali dengan menyodorkan idiom seksi; reaktor hidayah. “Bom nuklir tidak akan meledak, jika tak ada reaktor nuklir yang bekerja,” ulasnya. Bagi Cak Amin, maiyahan adalah reaktor hidayah Allah. Hidayah Allah memang bertebaran di berbagai tempat dan terentang di beragam waktu, namun tak semua orang mampu dengan mudah mengaksesnya. Cak Amin merasa, maiyahan mengasah daya tangkapnya terhadap hidayah Allah.

Cak Amin kemudian mencuplik salah satu dhawuh Mbah Nun; “Nandur, Pasa, Sedekah”. Ia menuturkan, nandur atau menanam menjadi menarik ketika dijlentrehkan lebih detail oleh Mas Sabrang pada suatu kesempatan, sambil menyitir khazanah ilmu Nabi Khidir; masa silam, masa kini, dan masa depan. “Jika setiap saat kita menanam kemarahan, kemarahan, dan kemarahan, maka kelak kira-kira apa yang kita tuai? Jika kepada anak setiap hari kita menanam doktrin, pengekangan, dan pembatasan-pembatasan, kira-kira kelak buahnya seperti apa?”, Cak Amin seolah sengaja mengajukan pertanyaan retoris pada para jamaah.

Demi memperjelas apa yang disampaikan Lik Ham sebelumnya, Cak Amin memberikan gambaran perihal jarak pandang dengan mengambil contoh ikan di akuarium. Seekor ikan koki tidak akan pernah mampu melihat isi dan tepi akuarium sepanjang ia hidup berenang di dalamnya. Namun, ketika ia dipindahkan oleh pemilik ke akuarium sebelahnya, maka ia berkesempatan melihat isi akuarium dari luar. Diperlukan jarak tertentu agar kita memiliki penglihatan yang lebih baik, lebih jangkep.

Cak Amin mengajak Jamaah untuk mensimulasikan identifikasi keseimbangan kerja otak

Terkait dengan tema, Cak Amin berpesan agar dalam mengelaborasi tema, dulur-dulur DK tidak terjebak imajinasi kondisi ideal. Kondisi ideal tidaklah sama dengan kondisi seimbang. Justru dalam berbagai situasi tidak ideal itulah kita ditantang untuk mampu bersikap seimbang. Malam itu, Cak Amin juga loman berbagi wawasan tentang keseimbangan otak. Jamaah diajak untuk mensimulasikan identifikasi keseimbangan kerja otak dengan membuat gerakan-gerakan tertentu. Suasana jadi kian renyah, ketika sebagian jamaah didapati tidak mampu menirukan gerakan tangan seperti yang dicontohkan Cak Amin. Gelak tawa pun pecah, jamaah saling menertawakan. Keterampilan berproses menuju keseimbangan adalah kemampuan. Kemampuan yang mumpuni lahir dari seringnya latihan, seringnya diasah. “Keseimbangan bukanlah sesuatu yang given dari langit, namun bisa diasah,” tegas Cak Amin mengakhiri ulasannya.

Cak Adib membawakan puisi jenaka karya WS Rendra yang berjudul “Pantun Koruptor”.

Menginjak pukul satu dini hari, suasana Telulikuran kembali disegarkan oleh penampilan Cak Adib. Malam itu, ia membawakan puisi jenaka karya WS Rendra yang berjudul “Pantun Koruptor”. Lalu dipandu Cak Umar Husain, jamaah bareng-bareng menyanyikan lagu “Padamu Negeri” yang diselingi pembacaan puisi “Negeriku“ karya Gus Mus oleh Cak Arjun.

 

 

 

Irama Keseimbangan dan Harga Kegagalan

Cak Hariri turut urun rembug menanggapi tema.

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, mumpung rawuh, maka Cak Teguh mempersilakan Cak Hariri untuk turut urun rembug. Menurut Cak Hariri, mencari keseimbangan membutuhkan irama. Seperti saat ketika kita kencing, kantung kemih perlu dikeluarkan dengan cara goyang kanan sedikit dan kiri sedikit. Itulah irama keseimbangan. Ia juga memaparkan perihal konsepsi “sedulur papat kalima pancer” dengan analogi dokar. Keempat nafsu diibaratkan kuda, dan kita adalah penumpang dokar. Jika kita ingin selamat, maka kita harus manut pada sang kusir. Sang kusir adalah Nur Muhammad. Terkait dengan jarak pandang, Cak Hariri menyampaikan bahwa kita butuh jarak untuk melihat. Butuh jarak untuk mengetahui bahwa jari kita ada lima, dan satu jaraknya seharga satu kegagalan. Kegagalan itu penting. Jarak itu penting. “Dengan melingkar di Maiyah, mari kita cari posisi kita di Maiyah sebagai apa, agar ketemu keseimbangan”, pungkasnya mengakhiri.

Cak Pitro sebagai moderator mempersilahkan jamaah merespon.

Selanjutnya, Cak Pitro mempersilakan jamaah memberikan respon. Pertama, Cak Zaim Abror yang ambil bagian. Membaca dan menyimak elaborasi dulur-dulur jamaah terkait tema Kuda-Kuda Keseimbangan, ia teringat pada puisi Gus Mus berjudul “Aku Harus Bagaimana”. Poin penting yang ia gali dari puisi tersebut adalah; untuk mencapai keseimbangan kita tidak harus melulu mendengarkan pihak luar. Keseimbangan individu perlu digarap lebih dulu sebelum keseimbangan komunal. Perihal “batu vs hantu”, Cak Zaim menyampaikan perspektifnya bahwa batu adalah benda yang tidak bergerak. Ketika masih kecil batu masih bisa digerakkan. Namun, ketika batu berukuran besar maka ia susah dikendalikan.

Cak Saris menambahkan bahwa sifat batu itu cuek, tidak memiliki kepedulian pada sekitar. Lain lagi dengan Cak Nanang. Ia mencoba mengungkit sisi positif dari batu. Menurutnya, kita perlu belajar pada batu perihal kesitiqomahannya pada kesadaran dan perannya sebagai batu. Ia tak pernah protes akan perannya. Toh batu juga memiliki sisi positif, memberi manfaat bagi kehidupan manusia dalam membangun gedung, misalnya. Cak Nanang juga mengajukan pertanyaan, “Jika kuda-kuda adalah prosesnya, dan keseimbangan adalah hasil dari kuda-kuda yang baik dan kokoh; bagaimana kita bisa memiliki kuda-kuda yang baik dan kokoh? Metode dan jalannya seperti apa?”

Ibu Noer Krisadji mengajukan pertanyaan.
Cak Madrim bertanya mengenai langkah membangun Kuda – Kuda Keseimbangan.

Ibu Noer Krisadji juga turut mengajukan pertanyaan, “Diibaratkan jika manusia teralu berpikir pada materi, dia akan menyerupai batu. Jika terlalu berpikir pada Tuhan, dia akan menjadi hantu. Sampai sebatas mana kita tidak menjadi hantu dan menghantui diri sendiri. Empan papannya di mana?” Cak Madrim pun ikut urun tanya. Ia menanyakan sebaiknya memulai langkah dari mana dalam membangun kuda-kuda menuju keseimbangan. “Dari materi, atau dari ruhani mulainya?”

Atas respon dan pertanyaan dari para jamaah, Lik Ham memberikan pendapat dan pandangan. “Di dalam setiap kebenaran yang kita temukan, tetap sisakan sekian persen untuk membuka kemungkinan terbukanya kebenaran berikutnya”, Lik Ham mengawali ulasan. Sebaiknya, kita tidak buru-buru menyimpulkan kebenaran diri sebagai kebenaran mutlak. Itulah titik awal keberangkatan dari tahap pemasangan kuda-kuda. Lik Ham menambahkan bahwa setiap detik, setiap waktu, kita butuh untuk terus memasang kuda-kuda. Situasi yang kita hadapi terus berkembang dan berbeda. Dari menit satu ke menit berikutnya, boleh jadi situasi berbalik 180 derajat. Untuk itu dibutuhkan kesigapan menata kuda-kuda agar seimbang dalam menyikapi secara tepat dengan sikap terbaik.

Lik Ham juga mengulas enam fase evolusi penciptaan, dari benda, tumbuhan, hewan, manusia, hamba dan khalifah. Dengan menekankan pada fase abdullah (hamba), Lik Ham mengajak jamaah untuk teliti dan telaten mengidentifikasi berbagai kesadaran yang lazim digapai oleh manusia menuju status hamba Allah. Satu kesadaran yang krusial adalah bahwa manusia yang menyadari posisinya yang lemah, dan ada pihak di luar dirinya yang Maha Memiliki Kekuatan. Itulah tangga menuju fase hamba.

Lik Ham merespon pertanyaan dari jamaah.

Sebagaimana disampaikan Lik Ham pada Telulikuran edisi sebelumnya, bahwa penting bagi kita untuk terus menerus melatih diri agar memiliki kesadaran akan batas, dan mampu melihat dan memanfaatkan momentum jeda.

Berikutnya Pak Kris turut menandaskan poin perihal “batu vs hantu”. Beliau menyarankan agar kita tidak memilih jadi batu dan jangan jadi hantu. Keduanya adalah kutub, keduanya berlebihan. Segala yang berlebihan pastilah tidak baik. Batu menunjuk pada sifat menange dhewe, sedangkan hantu angel dandanane. Dalam perpspektif ilmu desain, keseimbangan dapat tercipta ketika kita mampu menggabungkan unsur-unsur garis, bidang dan ruang. Jika unsur-unsur itu diramu dengan benar, maka akan ditemukan keseimbangan, dan melahirkan wujud artistik yang indah.

Cak Chabib berinisiatif memaparkan pandangannya setelah menadabburi tema.

Diskusi kian menarik. Walau waktu sudah menunjuk fase sepertiga malam terakhir, jamaah  masih anteng tak beranjak. Cak Chabib berinisiatif memaparkan pandangannya setelah menadabburi tema, mengaitkannya dengan Alqur’an Surah Alfajr ayat 27-28. Menurutnya, kuda-kuda keseimbangan justru merupakan alat atau media untuk mencari ketenangan jiwa, yang ujungnya adalah kepuasan hati dalam mendapatkan ridhoNya. Memakai analogi layang-layang, jika kedua sisinya tak seimbang, maka layang-layang tidak tenang. Untuk mencapai ketenangan, kita perlu mencari dan berproses agar seimbang.

Atmosfer khusyu’ melingkupi saat jamaah berbarengan melantunkan Hasbunallah dipandu Lik Ham. Suara bising di kawasan padat industri kota Gresik tak mengurangi kadar ketawadhu’an di benak jamaah dalam menghaturkan puji kepasrahan kepada Tuhan.

 

Hati yang Selesai

Lik Ham merespon hasil tadabbur Cak Chabib.

Merespon hasil tadabbur Cak Chabib, Lik Ham menyampaikan bahwa ayat Alfajr 27-28 tersebut adalah bekal lagi bagi kita agar fokus menuju penataan kuda-kuda keseimbangan. Titik tekan utamanya adalah hati yang selesai, nafsul muthmainnah. Hati yang selesai sebagaimana diteladankan oleh Kanjeng Nabi dan sering disampaikan Cak Nun adalah ketika hati kita berserah pada kehendakNya. “Wis terserah Panjenengan Gusti Allah, katene Sampeyan gawa nang endi, kate Sampeyan apakna ae kula manut, sing penting Sampeyan mboten ngamuk ten kula, fa laa uballi”, jelas Lik Ham.

Di bagian akhir, Lik Ham nambahi  lagi sangu untuk jamaah, “Yang paling utama, kuda-kuda utama kita sebagai orang Islam adalah; kaki kanan syahadat, kaki kiri sholawat”. Kedua hal tersebut yang menjadi inti perbedaan antara kita sebagai muslim dibandingkan dengan para pejalan kebatinan dan umat agama lain. Pada puncaknya, setelah mendapatkan hati yang selesai, mereka akan bingung. “Kita, orang Islam, jelas ujungnya; pakem Syahadat dan mediasi Sholawat. Mereka tidak punya ini. Jika kita sudah menggapainya, pasti tidak lagi yang menjadi batu maupun hantu“. Lik Ham juga berpesan agar kepada semua makhluk Allah kita rajin menyapa. “Dalam mlaku, bagaimana caranya agar selaras kehendak diri dengan kehendakNya ? Rajinlah menyapa alam. Ajaklah gunung, rumput, lautan, sungai untuk bareng-bareng syahadat dan sholawat. Bahkan justru sebetulnya, merekalah (alam) lebih setia,” pungkas Lik Ham.

Di kesempatan akhir, Cak Hariri turut mengutarakan poin-poin penting untuk disinauni. Yang pertama, ia menadabburi batu. “Batu itu saklek, ngeyelan, tanpa laku, tanpa pernah mengalami. Semacam orang punya pengetahuan tapi tidak punya ilmu. Orang tahu ini kopi, tapi ia tidak punya informasi tentang kopi ini ditanam di mana, cara pengolahannya bagaimana dan sebagainya. Ia mandheg sebatas pada yang sedang ia hadapi. Tidak melahirkan gelombang pengetahuan”, tegasnya.

Cak Hariri membagi perspektifnya perihal keseimbangan pada praktik menimbang beban.

Cak Hariri juga membagi perspektifnya perihal keseimbangan pada praktik menimbang beban. Menurutnya, untuk mencapai kondisi seimbang tidak harus dengan memberi beban yang sama antara kedua sisi. Cak Hariri mengilustrasikan agak detail, “Jika titik penyangganya tepat berada di tengah, memang harus sama beban di kanan dan di kiri. Tetapi jangan lupa, ketika sisi kanan kita taruh beban 10 kg, dan kiri 5 kg, tetap bisa seimbang lho, dengan syarat kita mencari presisi titik penyangganya. Geser lebih ke kanan”

Sebagai pamungkas, Cak Hariri memberi PR pada jamaah, “Di tengah materialisme ‘batu-batu’, lalu kita memilih menjadi ‘hantu’, apakah (tindakan itu) bisa disebut sebagai penyeimbangan?”.

Lik Ham memimpin jamaah melantunkan Shohibu Baity.

Tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Menjelang pukul tiga, jamaah bersama-sama melantunkan Shohibu Baity, dan dipuncaki dengan doa oleh Lik Ham. Kemudian semua saling bersalaman, berpamitan, untuk berjumpa kembali di Telulikuran edisi berikutnya.  (aif/ddk)