Jangan Dipaksakan Jadi Gajah, Jika Sebenarnya Kamu Ini Wedhus

Ilustrasi, identity-mag.com

(Sebuah Pengalaman Bermaiyah)

Namanya Adam Junior. Anak turun Nabi Adam ini hidup bukan di zaman nabi-nabi, era kuno, era Orde Lama, maupun Orde Baru. Ia hidup di zaman Pasca Reformasi. Adam Junior, manusia yang kritis, bergaya hidup bebas dan mewah dari hasil jerih payah sendiri, punya kekasih pula (berbeda dengan saya yang masih jomblo, hehe). Ia tumbuh dewasa bersama pemuda-pemuda sebaya dengan kebhinekaan akhlak. Maksudnya, mulai dari akhlak yang biasa, buruk, sampai tidak berakhlak sama sekali. Dalam perjalanan hidupnya, Adam Junior merasa telah makan asam garam. Termasuk menggeluti dan menyentuh hal-hal unik. Maksudnya, mulai dari hal yang bernuansa sangat agamis, ke lumayan agamis, sampai tidak agamis sama sekali. Bahkan, ada masa ketika Adam Junior dibenturkan pada keadaan yang statis, beku, dan terbata.

Waktu itu, Adam Junior dilanda masalah secara bertubi-tubi. Masalah pekerjaan, masalah pribadi dengan sang kekasih, dan kondisi orangtua yang tengah sakit parah. Ia benar-benar merasa buntu, pola pikirnya mandeg; karena apa yang ia punya, seolah direnggut seluruhnya oleh Sang Penguasa Bumi. Keyakinan akan prinsip-prinsip hidupnya ikut terguncang! Ia segera menghentikan perputaran hari-harinya yang penuh euforia. Adam Junior meratap, merenung, meraba ke dalam dirinya. Adakah kesalahan dalam prinsip hidup yang kuyakini dan cara hidup yang aku jalani selama ini? Bulan demi bulan ia lalui sebatangkara seperti meja berkaki tiga; mencoba bangkit dari keterpurukan hidup, meski sering oleng dan terpincang-pincang. Didayungnya cepat-cepat perahu asa masa depan yang sudah reot, demi keluar dari lautan kelam penuh kesedihan. Ia tinggalkan semua; apa yang ia geluti, kerumuni, dan yakini selama ini. Selamat tinggal hobi, kebiasaan, kegiatan, dan teman-temanku!

 

Berjumpa Sang Guru

Adam Junior berjalan ke sana kemari mencari teman baru; benar-benar baru secara kualitas, pola pikir, dan gaya hidupnya. Singkat kata, teman itu haruslah manusia yang baik, bukan manusia semacam dirinya. Suatu ketika, momentum itu tiba. Ia dipertemukan dengan sebuah komunitas diskusi berskala besar. Sang Maestro, pembicara utama diskusi, adalah sosok yang amat menarik. Penampilannya bersahaja; tetapi caranya mengguncang-guncang pola pikir, kelincahannya bergonta-ganti sudut pandang dalam mengkaji utuh sebuah topik, serta tuturan-tuturannya mengenai proses perjuangan hidup manusia, begitu tepat dan relevan dengan pengalaman-pengalaman Adam Junior. Sejak malam itu, ia meluangkan waktu setiap bulan untuk mengikuti diskusi bersama Sang Maestro. Ia memang belum begitu dalam mengenal sosoknya. Namun, Sang Maestro telah mencuri hatinya.

Hitungan bulan merayap naik, tahun-tahun pun berganti. Adam Junior semakin memantapkan langkah untuk hijrah dari lembaran gelap menuju hari-hari yang dicahayai oleh harapan-harapan baik. Berkat Sang Maestro, kini ia memiliki bekal baru, yaitu logika-logika yang relevan dengan keadaan, menggelitik, dan tepat pada sasaran permasalahan hidupnya. Di tengah masa menggeluti diskusi besar bernama Maiyah tersebut, ia melakukan riset praktis dengan ilmu seadanya; sesungguhnya, siapa sih Sang Maestro yang aku kagumi itu? Berbekal jurus ‘googling wal titeni’, ia menemukan nama dan potongan-potongan biografi Sang Maestro, Emha Ainun Nadjib. Sejak itu, ia secara egois menobatkan beliau sebagai Guru Kehidupan pribadinya. Kemudian, Adam Junior mulai belajar istiqomah melaksanakan prinsip-prinsip hidup yang didapatkan dari Sang Guru. Ia selami ilmu-ilmu berlogika, bergaya pikir yang relevan dengan keadaan, dan tentu, belajar menjadi seorang manusia yang baik. Ia berjuang untuk menjaga ketauhidan terhadap Sang Penguasa Jagad, dan menanam kebaikan tanpa harus ada yang mengerti jika ia yang menanam. Dalam lingkaran persaudaraan bersama Sang Guru pula, akhirnya Adam Junior menemukan teman-teman baru yang berkualitas secara ruhaniah, seperti yang pernah ia idam-idamkan. Benang-benang peristiwa tertenun menjadi lembar kain takdir yang baru. Daun-daun kehidupan pun mulai bersemi.

 

Mencari Peran Kehidupan

Bersama dulur-dulur Maiyah, Adam Junior menata bata demi bata tembok kehidupannya agar kian kokoh dan mapan. Anehnya, semakin ia mengistiqomahi tuntunan Sang Guru, berbagai pertanyaan timbul dalam benaknya, membuatnya bingung dan tidak nyaman. Ujung-ujungnya, hatinya berseru, bukan di sini tempatmu, bukan hanya di sini ranah dan rute hidupmu!

Adam Junior merasa ada sesuatu yang dipaksakan dalam dirinya, sehingga dirinya yang sejati malah terkubur. Dalam perenungan mencari apa yang salah, ia berimajinasi agak serius. “Aku ini apa? Berperan apa aku ini? Menjadi Begawan kah? Menjadi Kyai kah? Sangat tidak mungkin rasanya, jika kupaksakan diri ini berperan mulia. Wong aku hanyalah kotoran di bawah sendal jepit lusuh. Lantas harus menjadi apakah hamba, ya Gusti? Rasanya, sudah cukup bekal yang hamba tanam”. Ia tampak bermuram durja. Wajah yang disinari semangat sebelumnya, berubah legam. Kehidupan baru yang ia geluti sekarang, serasa berada di luar jalur fitrahnya.

Adam Junior terus menadabburi peranannya dalam kehidupan; mencoba meraba tempat di mana ia seharusnya mengabdikan diri, dan merenungkan pijakan bagaimana yang harus ia miliki supaya tetap teguh. Dalam resah, ia memanjatkan puji-pujian pada hitungan jemarinya sambil menanyakan hal yang sama dalam bahasa Jawa, “Ya Allah, lantas apa yang harus hamba perankan dalam keseharian?”. Jawaban dari doa itu, jika boleh menyebut, adalah sebuah ilham, meski cuma kelas amatir. Mendadak, ia ingat ucapan Sang Guru, “Jadilah Wedhus jika kamu itu memang wedhus. Jangan memaksakan jadi Gajah, jika kamu itu Wedhus”. Tak hanya ingat, kini ia juga dapat memahaminya. Ingatlah siapa dirimu, dan berperanlah sesuai takaranmu. Adam Junior menerapkan pemahamannya. Ia memutuskan kembali kepada dirinya sendiri, yaitu lingkungan asalnya yang masih berada di bawah kesuraman bayang-bayang. Dan, menerapkan bekal kebaikan dari Sang Guru, sesuai kemampuannya. Ibarat pemilu, ia harus mencoblos partainya sendiri; berbakti pada tempat yang telah berjasa membesarkannya. Maka, ia pun bergabung bersama teman-teman lawasnya yang asyik bereuforia dengan dunia, sambil tetap mempertahankan pijakan, melingkar bersama dulur-dulur Maiyah.

Barangkali dari luar dirinya, orang melihat ia masih belum berubah. Tak salah, ia memang Adam Junior yang dulu, karena memang peran itulah yang sedang ia jalankan. Tetapi di dalam diri, hatinya tak lagi berpijak pada dunia. Jiwanya terus bersama Allah; Maiyatullah.
Mekaten.
Surabaya, 21 Agustus 2017, pukul 21:21 WIB

Rezki A
Pegiat Lingkar Maiyah Damar Kedhaton, tinggal di Driyorejo, Gresik.