Reportase Telulikuran DK Edisi #11 – September 2017 “Madhangisingturu”

Damar Kedhaton Edisi 11.

Tidak ada rencana, baik jangka pendek ataupun jangka panjang, perihal penentuan jenis lokasi Telulikuran Damar Kedhaton (DK). Semua berjalan natural, mengalir begitu saja. Setelah menempati kawasan pendidikan (sekolah), balai desa, kantor kecamatan, kantor perpustakaan, aula pondok pesantren, dan rumah sedulur DK pada putaran-putaran sebelumnya, kali ini majelis ilmu Telulikuran DK edisi ke sebelas diperjalankan menempati kafe. Sebuah kafe di tepi sawah di Desa Siwalan Kec. Panceng, yang baru seminggu di-launching dengan nama Cindelaras Cafe & Art Gallery, pada Rabu malam 13 September 2017 menjadi palagan bagi para Jannatul Maiyah Damar Kedhaton (JMDK) untuk menebus rindu setelah sebulan tak bertemu.

Cak Roy dan Cak Dedy memandu jamaah melantunkan wirid dan sholawat.

Tanpa merasa saling terganggu dan mengganggu, keberadaan pengunjung kafe yang sedang bersantai menikmati waktu sambil bercengkrama, dikhusyukkan oleh suara Kang Farhan, Cak Ibad dan Cak Ghozali yang bergantian nderes Al Qur’an juz 11. Kemudian dilanjutkan oleh oleh Cak Roy dan Cak Dedy yang memandu jamaah melantunkan wirid dan sholawat. Ketika tiba sesi mahallul qiyam, pemandangan indah terjadi. Para pengunjung kafe yang duduk melingkar kecil-kecil di luar lingkaran jamaah Telulikuran, sontak berdiri turut melantunkan sholawat nabi. Temaram lampu kafe dan hembusan semilir angin sawah, makin membuat suasana hangat di kalbu kian paripurna.

Cak Yusuf, sang pemilik dan pengelola kafe, memberikan kata sambutan.

Setelah forum dibuka oleh Cak Teguh selaku moderator, Cak Yusuf, sang pemilik dan pengelola kafe, memberikan kata sambutan. Ia mengaku merasa sangat berbahagia, karena malam itu adalah event terbesar pertama setelah kafe dibuka seminggu sebelumnya. “Saya tidak ingin mengakui bahwa sebetulnya saya sangat berharap Telulikuran diadakan di sini. Saya diam-diam berdoa semoga terpaksa Telulikuran akhirnya diadakan di kafe ini”, ungkapnya secara diplomatis mengutarakan kegembiraannya.

Sebagaimana tradisi DK, tiap majelis perjumpaan digelar, selalu ada sesi perkenalan bagi jamaah yang baru bergabung. Pada edisi kali ini, teridentifikasi 15 orang sedulur yang diperjalankan untuk turut melingkar kali pertama. Masing-masing orang dipersilakan Cak Teguh untuk memperkenalkan diri. Setelahnya, demi makin mencairkan suasana, kelompok musik “Angger Wae” diminta untuk perform. Grup yang beranggotakan dulur-dulur dari Wonokerto itu membawakan empat lagu sekaligus. “Bongkar”, “Cucak Rowo”, “Kopi Lambada” dan “Keramat” disuguhkan bagi para JMDK, serta pengunjung kafe yang masih stay.

Cak Makhrus dipersilakan mbeber klasa, sebagai pengantar bagi jamaah untuk memasuki ruang diskusi.

Pada sesi berikutnya, Cak Makhrus dipersilakan mbeber klasa, sebagai pengantar bagi jamaah untuk memasuki ruang diskusi. Latar belakang lahirnya tema “Madhangisingturu”, dan beberapa keyword pembuka diskusi diulas olehnya. Cak Makhrus menjelaskan bahwa tiga aktivitas “madhang”, “ngising”, dan “turu” merupakan kewajaran urip, kebutuhan hidup. Tiap orang pasti mengalaminya karena memang demikianlah metabolisme tubuh berlangsung, agar sehat. Sedangkan pada aktivitas “madhangi sing turu”, Cak Makhrus mengajak jamaah untuk bersama mengelaborasi dari tahap “madhangi apane?” dan “sing turu apane?”. Sesi mbeber klasa kian berwarna, ketika Cak Makhrus merangkai narasi dengan lantunan tembang “Pangkur Kerinduan”, yang kemudian dipungkasi Cak Fauzi dengan nderes puisi “Menyorong Rembulan”.

Cak Dahlan menyampaikan responnya atas tema.

Pemantik diskusi telah dinyalakan. Bak gayung bersambut, Cak Dahlan lekas menyampaikan responnya atas tema. Menurutnya, tema telulikuran kali ini luar biasa, karena memuat sindiran dan menuntun jamaah untuk berproses menuju manusia yang seharusnya. Jika hanya melakoni tiga aktivitas madhang-ngising-turu, keberadaan manusia tidak lagi memiliki arti. “Hewanlah yang hanya seperti itu”, tandas Cak Dahlan.

Bu Noer Kris Adji juga turut mengelaborasi tema.

Berikutnya, Bu Noer Kris Adji juga turut mengelaborasi tema. Beliau menuturkan bahwa batin beliau tergelitik begitu membaca tema “madhangisingturu”. Sebuah frasa apik yang merangkum tiga aktivitas keseharian manusia, namun mengandung pesan yang dalam jika mau menggalinya. Satu demi satu beliau ulas dengan menyediakan pertanyaan. Madhang: apakah kita sesudah mengukur seberapa pentingkah kita makan? Porsinya seberapa? Makan itu sebagai kebutuhan, ataukah sebagai wisata kuliner? Seberapa jauh kita mampu membangun batas antara kebutuhan dan keinginan dalam soal memenuhi hasrat makan? Ngising: kalau kita tidak mengeluarkan itu, kita menimbun kotoran. Mengeluarkan itu keniscayaan, dan seberapa ulet upaya kita dalam mengeluarkan kotoran hati dan kotoran jiwa? Turu: pernahkah kita menghitung mana tidur kita yang karena jadwal, dan mana tidur kita yang karena memang mata yang lelah? Bu Noer juga menyoal tentang sejauh mana kemampuan kita mengorganisir ketiga aktivitas tersebut. Harusnya, konsentrasi kita adalah menekan keinginan, yang pada gilirannya, membawa kita pada posisi memberikan cahaya bagi seluas-luasnya orang. Beliau meng-ending-i dengan statemen menarik, “Semakin kita madhangi orang lain, semakin daya hidup kita meningkat. Dan dalam madhangi, hendaknya kita seperti rembulan yang menyinari semua tanpa pilih-pilih, dan jangan seperti lilin yang menerangi sekitar tapi dirinya habis”.

Cak Roy menyambung elaborasi tema dengan berangkat dari tema Teluikuran edisi ke-10, “Kuda-kuda Keseimbangan”.

Sambil menikmati kudapan, nyruput kopi, dan menghayati belaian angin malam, JMDK tampak kian fokus dan antusias. Cak Roy menyambung elaborasi tema dengan berangkat dari tema Teluikuran edisi ke-10, “Kuda-kuda Keseimbangan”. Ia mengajukan pertanyaan retoris, “Sudahkah kita seimbang? Jangan-jangan selamai ini kita madhang hanya untuk jasad saja? sedangkan diri ini selain jasad juga ada ruh”. Ia juga menegaskan bahwa selama diri sendiri belum padhang, maka tak bisa kita madhangi orang lain. Selaras dengan apa yang disampaikan Cak Roy, Cak Gogon menawarkan ajakan kepada JMDK agar berupaya madhangi diri sendiri, sebelum mengambil peran madhangi sing turu. Dan saat proses madhangi orang lain pun, tetap harus terus mengelola momentum jeda dan mempertimbangkan kesadaran akan batas: jangan-jangan yang sedang turu ini memang sedang butuh tidur, agar terkumpul tabungan energi ketika ia bangun dan tandang gawe. Proses bertanya pada diri sendiri, “Apa sing taklakoni iki bener?” harus terus diajukan, termasuk ketika madhangi sing turu.

Cak Nashih juga turut berpendapat mengenai tema.

Cak Nashih kemudian turut berpendapat. Di antara ketiga aktivitas tersebut, sepertinya hanya makan yang bisa dikelola. Dengan merujuk pada konsep puasa yang sering diulas Mbah Nun, bahwa orang yang selamat adalah orang yang berhasil dan mengerti kapan ngerem kapan ngegas.  Berikutnya, pandangan menarik diajukan oleh Cak Nanang. Menurutnya, makan bisa diibaratkan ketika kita mencari ilmu. Ngising adalah peroses pemilahan mana ilmu yang relevan mana yang tidak. Semua ilmu pasti berguna, namun tetap perlu dihitung saat ini sudah waktunya disinauni apa belum. Sedangkan turu adalah tahap pengendapan, meresapi ilmu dan menyandarkannya pada Sang Maha Cahaya. “Hanya orang-orang yang bersandar, yang turu alias tidak terikat pada belenggu raga, yang mampu menjemput cahaya, terpadhangi”, kata Cak Nanang mengakhiri responnya.

Pak Kris mengelaborasi tema.

Setelah mendapatkan berbagai respon apik dari para jamaah, Cak Teguh kemudian mempersilakan Pak Kris untuk berbagi ilmu. Menurut Pak Kris, siklus madhang-ngising-turu  itu memang harus terjadi pada kita. Apabila salah satu saja tidak terjadi, maka keseimbangan tidak akan terjadi. Ketiganya memang harus berlangsung. Siklus hidup ini memang diberikan oleh Allah, supaya kita menjadi makhluk sempurna. Siklus yang menjangkau baik jasmani maupun rohani. Untuk mengaturnya, Pak Kris menyarankan agar berpegang pada prinsip : apakah didasari keinginan, ataukah kebutuhan, dan tahu kapan kita butuh, kapan harus berhenti. Pak Kris juga menyepakati bahwa kita harus padhang dulu sebelum madhangi dan menyarankan untuk memilih sebagai rembulan daripada lilin. Ketika kita dalam posisi madhangi, kita harus bisa mengukur diri sendiri. Mengukur sebesar apa potensi dan kekuatan diri ini, demi menghitung-hitung peluang, apakah mampu kita madhangi orang lain. Jika kapasitas diri rendah, kita bisa jatuh seperti lilin yang habis terbakar dirinya. Beiau menegaskan bahwa sinau bareng, ngaji bareng, seperti halnya forum Telulikuran, adalah bagian dari upaya meningkatkan dan  memperkokoh ruhani kita untuk makin bercahaya.

Pak Kris juga mengajak jamaah menimba wacana dari khazanah sejarah, yang darinya kita banyak mendapatkan teladan. Salah satu contoh, kisah Roro Jonggrang-Bandung Bondowoso. Ketika dipersyarati membangun seribu candi dalam semalam, dia tidak mengukur kemampuan diri, sehingga akhirnya dia minta bantuan makhluk lain. Tuhan menakdirkan dia gagal. Siklusnya tidak dipenuhi, karena dia mendasarkan diri pada keinginan (untuk memperistri), bukan kebutuhan. Di penghujung narasinya, Pak Kris mencoba memaknai idiom turu. Orang yang sedang tidur, mripatnya sedang merem, yang bisa dimaknai tidak peduli sesama. Sedangkan orang yang melek, bisa ditarik pada pengertian melek budaya, melek sejarah, melek hukum, dan seterusnya.

Cak Nanang (Siwalan) turut merespon tema.

Berikutnya, Cak Nanang (Siwalan) turut merespon. Ia menuturkan bahwa boleh jadi pada kondisi tertentu, lilin memang diperlukan. Semua memang punya perannya masing-masing. Maka ia tidak ingin menjustifikasi, mana yang lebih bermartabat, apakah lilin ataukah rembulan, sebab yang paling penting adalah kita menjadi baik dan memberikan output membaikkan sesama. Sementara itu, Cak Ghozali menambahkan bahwa pada kondisi tertentu, kita dituntut mengambil peran seperti layaknya lilin. Ketika listrik padam misalnya, maka lilin harus rela dan ikhlas membakar dirinya demi menerangi sekitarnya.

Abah Hamim me-wedhar hikmah. Beliau mencoba mendekati tema melalui pengalaman empiris yang beliau alami.

Selanjutnya, tibalah giliran Abah Hamim me-wedhar hikmah. Beliau mencoba mendekati tema melalui pengalaman empiris yang beliau alami. Sebulan menjelang reformasi 1998, beliau mengalami kecelakaan yang kemudian membuat beliau istirahat total, dan menghentikan semua jenis aktivitas sosialnya selama kurun waktu belasan tahun. Beliau merasa, peristiwa kecelakaan itu mengantarkannya memasuki atmosfer Gua Kahfi, menepi, dan menyepi. Sebagaimana tersurat dalam Al Qur’an tentang kisah para pemuda yang “ditidurkan” Allah SWT selama sekian ratus tahun, maka peristiwa tidur dalam konteks itu adalah mekanisme penyelamatan dari Allah SWT. Meskipun kemudian resikonya adalah ketika terbangun, zaman sudah sama sekali berbeda, mata uang telah berganti dan pemikiran tak lagi laku. Abah Hamim seolah menawarkan salah satu kacamata baru bagi jamaah dalam melihat peristiwa tidur. Lalu, beliau juga menguraikan perihal dua cahaya yang menjadi kebutuhan manusia, yakni cahaya lahiriah dan cahaya batiniah. Yang terakhir disebut, juga tak kalah penting, hingga Nabi Muhammad SAW pun memberikan teladan berdoa memohon pancaran cahaya dari Allah SWT untuk menerangi qalbunya.

Tentang madhang, Abah Hamim menyampaikan bahwa itu merupakan sunnatullah yang tak bisa dihindari. Tinggal kemudian manusia me-manage sejak tahap niat. Salah niat berakibat menjadi penyakit di tubuh. Esensi dari pesan Kanjeng Rasul perihal makanan adalah murni soal menjaga kesehatan. Begitu juga halnya dengan tidur. Setiap orang sehat pasti butuh tidur. Tidur yang baik adalah tidur yang di-manage. Abah Hamim mempersilakan jamaah untuk melakukan penggalian sendiri tentang bagaimana cara me-manage-nya, tentu saja titik berangkatnya adalah pesan dan teladan dari Kanjeng Nabi.

Cak Bayu tampil berdiri dan dengan apik membacakan puisi “Aku” karya Chairil Anwar.

Suasana majelis ilmu Telulikuran kian khusyu’ ketika waktu lingsir wengi tiba. Demi makin terawatnya atmosfer yang teduh penuh pendaran ilmu, Cak Bayu tampil berdiri dan dengan apik membacakan puisi “Aku” karya Chairil Anwar. Disambung oleh Cak Totok dengan membacakan puisi karyanya sendiri yang belum sempat ia beri judul namun mampu membuat jamaah khusyu’ menyimak.

Setelah sajian puisi, Cak Yusuf ikut urun rembug. Menurutnya, tema Telulikuran kali ini mbeling. Jika dipenggal jadi kusruh, jika digandeng jadi baik. Tetapi, bagaimanapun ketiga aktivitas tersebut, sadar tidak sadar kita harus menerimanya. Yang utama adalah output-nya. Ia berharap, jangan sampai seolah kita sudah tahu banyak hal, tapi lagi-lagi hanya sebatas omong-omong belaka.

Cak Hariri yang datang jauh-jauh dari Madura bersama ayahnya, turut mengelaborasi tema.

Kemudian, Cak Hariri yang datang jauh-jauh dari Madura bersama ayahnya, turut mengelaborasi tema. “Ngising adalah suatu proses. Yang kotor kan hasilnya, bukan ngising-nya. Prosesnya itu laku suci, yakni membuang iri, dengki, cemburu dan segala kekotoran hati”, jelasnya to the point. Perihal tidur, ia memaknai sebagai aktivitas kepasrahan dan ketiadaan diri, ketiadaan persepsi, yang ada hanya Allah SWT. Melalui proses tidur, sebetulnya kita bisa belajar tentang proses peniadaan diri, dan itulah substansi tauhid. Ia juga menambahkan agar kita lebih luwes melihat realitas, bahwa dalam proses madhangi pun, kita tidak pernah mampu memberikan cahaya secara utuh, pasti ada sisi gelap, ada bayangannya. Cak Hariri menegaskan, “kalau mau madhangi, hapuskan niat madhangi. Ketika diri kita di-padhangi, otomatis sekitar pasti ter-padhangi. Turua sing padhang, agar isa madhangi wong liya”. Ia juga tertarik merespon bab lilin. Menurutnya, lilin lebur saat menerangi karena masih ada “diri”nya, masih ada “aku”nya. Perspektif baru yang memikat, sungguh majelis ini sedang terlimpahi guyuran ilmu.

Gus Himam (Atas) dan Gus Baydhowi (Bawah) menambahkan elaborasi mengenai tema.

Jamaah yang baru pertama ikut Telulikuran, Cak Hendra, memberikan respon singkat nan mengena. Menurutnya, mengikuti maiyahan, rasanya seperti membangunkan diri yang sedang tidur. Tak ketinggalan, Gus Himam menambahkan, “madhangi niku nggih proses, mboten saged instan direkayasa. Harus berkoalisi dengan irama alam. Proses yang lahir secara alami”. Disambung dengan apik oleh Gus Baydhowi, bahwa tema yang diangkat dan segala dinamika diskusinya malam itu sungguh merupakan keindahan.

Nikmatnya dialektika penggalian ilmu dengan selimut lembut angin malam di tepi sawah, tak terasa mengantarkan jamaah pada ketukan waktu jam dua. Dengan niatan untuk terus melakukan pencarian, majelis ilmu Telulikuran edisi ke-11 dipungkasi dengan doa yang dipandu Abah Hamim, dan sesudahnya jamaah bermesraan makan bareng talaman. (aif/ddk)