Momentum di Bukit Jamur

Pemahaman tentang makna Maiyah dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Maiyah dengan mudah kita temukan di internet (browsing). Akan tetapi, semua itu tidaklah cukup untuk menjelaskan serta membuat paham makna sejatinya. Inilah salah satu cara yang saya tempuh untuk menyelami kedalaman makna Maiyah, yaitu ber-Maiyah melalui tulisan.
Maiyah berasal dari kata “ma’a” yang berarti ‘bersama’ dan “maiyatullah” yang berarti ‘membersamakan diri dengan Allah’. Jadi, inti Maiyah adalah membersamakan diri. Untuk itu, diperlukan pengenalan mekanisme membersamakan diri, yaitu Segitiga Cinta. Kita tidak bisa langsung bersama Allah tanpa ada pihak yang menjadi kekasihNya, Rasulullah Muhammad SAW. Rasulullah tidak hanya sebagai pihak yang memperantarakan, namun juga menggandeng dan membersamakan dirinya dengan insan dan Allah. Dalam Maiyah, Segitiga Cinta menjadi pegangan pokok untuk memahami posisi diri agar senantiasa empan papan.
Jannatul Maiyah (JM) sendiri adalah manusia-manusia yang sedang “diperjalankan”, sebuah generasi baru, sesuai yang disebutkan dalam ayat berikut; “Wahai sekalian orang beriman barangsiapa di antara kalian murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan kaum tersebut mencintai Allah. Mereka adalah orang-orang yang lemah lembut kepada sesama orang mukmin dan sangat kuat (ditakuti) oleh orang-orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah, dan mereka tidak takut terhadap cacian orang yang mencaci.” (QS. Almaidah: 54).
Ada beberapa istilah yang sering kita jumpai saat ber-Maiyah. Salah satunya adalah kata “momentum”. Pada saatnya, setiap manusia pasti akan mendapatkan momentum. Sebagaimana yang saya rasakan, momentum itu datang pada saat acara Sinau Bareng Cak Nun di Festival Bukit Jamur Bungah-Gresik, 21 Oktober 2017. Gempuran hujan dan badai sebelum acara berlangsung membuat lokasi sinau bareng menjadi sangat becek dan berlumpur pekat. Namun, situasi itu tak dapat menghalangi datangnya momentum yang diawali dengan pertemuan tak sengaja antara saya dan beberapa dulur JMDK (Jannatul Maiyah Damar Kedhaton). Kami saling sapa, meskipun sebagian besar dari kami belum pernah berkenalan sebelumnya. Uniknya, saya merasa seolah-olah ikatan paseduluran di antara kami sudah terjalin sejak lama. Pada saat itu juga, saya dipertemukan dengan “sesepuh Maiyah”, baik dari lingkar JMDK maupun dari simpul Bangbang Wetan.
Setelah digelitik oleh momentum kebersamaan yang tak terduga dan tak terbayangkan tersebut, kemudian digugah oleh pembukaan acara sinau bareng, tiba-tiba saya merasakan adanya peningkatan getaran dalam dada yang sangat dahsyat ketika melihat sebuah mobil putih yang ditumpangi Simbah tiba di lokasi. Dengan bantuan dulur-dulur JMDK, saya menyelinap masuk ke dalam area VVIP. Segera, saya menguluk salam dan salim ta’dhim begitu berjumpa dengan Simbah dan “rombongan Kadipiro”. Sempat terlintas ketidakpercayaan diri atas apa yang sedang saya alami. Saya merasa bukan siapa-siapa dan merasa tidak pantas berada dalam satu ruangan dengan Simbah dan orang-orang yang saya takdzimi tersebut. Akan tetapi, salah satu “sesepuh” JMDK mendekat, lalu berbisik bahwa saya telah mendapatkan momentum.
Memang benar kata pepatah “manusia hanya bisa merencanakan, akan tetapi Tuhan yang menentukan”. Bahkan, saya tidak pernah merencanakan pertemuan-pertemuan istimewa ini, dan turunnya hujan serta datangnya badai di Bukit Jamur tetap tidak mampu menghalangi kehendak Allah untuk mempertemukan saya dengan dulur-dulur Maiyah, “rombongan Kadipiro”, dan terutama, Simbah. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa sebagai Jannatul Maiyah, kita harus terus berjuang meletakkan Segitiga Cinta pada porsi yang lebih besar daripada semesta yang kita huni. Dengan begitu, bulatan yang kita huni akan semakin luas untuk menampung aneka rahmat dariNya, bagaikan kebun yang kaya akan bebuahan beragam jenis dan rasa. Itulah rumus untuk memperoleh cinta Rasulullah SAW dan ridho Allah SWT. Tak lupa, kita diminta untuk selalu menjaga keseimbangan, seperti bunyi haluan baru Maiyah: “walaa tansa nashiibaka minaddunyaa” dan tetap pada “wa-ilaa rabbika farghab”.

Salam salim paseduluran. Mohon maaf, matur nuwun. Rahayu.
Syuhada Nasrullah

*Dengan bertambahnya sedulur (khususnya JMDK), semoga saya tetap bisa istiqomah menjaga silaturrahim dan belajar lebih banyak lagi dengan sedulur JM