Prolog Telulikuran DK Edisi #14 – Desember 2017 Milad Satu Tahun DK “Manunggal”

 

Meskipun belum lazim dibilang panjang, namun dalam rentang waktu setahun tetaplah tidak sedikit jejak perjalanan yang telah terekam. Dari rekaman itu dapat dipetik-gali-peras nilai-nilai dan pengetahuan sebagai bagian dari proses refleksi, dan menjadi bekal untuk mengayunkan langkah menapaki perjalanan berikutnya. Damar Kedhaton, sebagai salah satu simpul organisme Maiyah, sedang berada pada koordinat waktu tersebut, setahun.

Tentu saja, Damar Kedhaton tidak sedang berupaya menghitung-hitung apa saja yang telah dicapai dalam perjalanannya setahun ini. Karena memang sejak semula, kelahirannya tidak diniati untuk mencapai-capai sesuatu. Apalagi sampai terjebak pada usaha mendaku sesuatu dan lalu dilabeli predikat “sukses”. Tentu tidak demikian. Damar Kedhaton hanya ingin mencoba serius mengalami proses refleksi, serta khusyuk menghaturkan syukur pada Allah SWT yang telah memperjalankan, dan tekun berikhtiar menabung husnudzon pada qudrah-iradah Allah SWT dalam mengarungi ruang masa depan. Ke depannya, Damar Kedhaton tidak sedang menarget apa-apa, atau menjadi apa-apa. Damar Kedhaton berniat untuk terus mencoba beristiqomah meneguhi komitmen Segitiga Cinta.

Melalui momentum setahun usianya, Damar Kedhaton mengandaikan dirinya belajar membangun kesadaran bahwa keragaman nuansa niat di benak para pegiat/jamaahnya adalah sebuah keniscayaan. Namun perlu ditempuh rembug untuk menemu-kenali titik/faktor/determinan apa yang mampu menautkan antar hati tersebut, sehingga dapat manunggal berkeluarga dalam kesejukan dan keberagaman kebun kecil Damar Kedhaton. Oleh sebab itu, manunggal tidak dimaknai sebagai proses penyeragaman, namun sebagai ikhtiar penegasan kembali entitas yang sejatinya memang sudah ada. Dari perspektif lain, dapat pula ditilik arti manunggal sebagai kebersatuan antara apa yang lahir dalam pikiran dengan apa yang terbit di hati, serta apa yang mewujud dalam ucapan dan tindakan.

Maka, Setahun Damar Kedhaton merupakan momentum bagi para JMDK untuk belajar manunggal dalam berbagai cakupan. Manunggal pribadi, yaitu me-manunggalkan empat hal (pikiran-hati-ucapan-tindakan) dalam diri, menjadi kuda-kuda agar menemui keseimbangan langkah. Berbekal manunggal pribadi, setiap diri ber-manunggal sosial dengan mencari dan mengusahakan kesamaan frekuensi jiwa, kemudian bersama-sama nandur katresnan dalam kebun kecil Damar Kedhaton, memupuk rasa ngandel marang katresnan itu, hingga nantinya bisa mempersembahkan buah yang menjadi wujud katresnan kepada siapa saja. Salah satunya, memenggal idiom madhangisingturu menjadi madhangi-sing-turu, bukan madhang-ngising-turu. Dalam skala yang lebih luas, kebun kecil Damar Kedhaton ber-manunggal dengan kebun-kebun Maiyah lain supaya bisa saling menguatkan dalam perjalanan meneguhkan diri menuju manunggal pamungkas, Segitiga Cinta antara pribadi-Allah-Rasulullah.

Tetapi, bagaimanakah bila diri ini tak kunjung matang me-manunggalkan pikiran-hati-ucapan-tindakan, sementara jika manunggal sosial dan manunggal pamungkas disisihkan, kita menjadi kesulitan angon kahanan yang semakin hari semakin rusuh ini? Bagaimanakah ‘cara kerja’ ketiganya dalam kehidupan; apakah parsial, simultan, atau siklikal? Berbagai pemikiran dan pertanyaan tentang ‘manunggal‘ akan kita diskusikan bersama Gus Sabrang Mowo Damar Panuluh (SMDP) dalam acara Milad 1 Tahun Damar Kedhaton dengan tema Manunggal, pada:

Jumat, 8 Desember 2017
Pukul 19.23 WIB
UPT SKB Cerme
Jl. Jurit No.2 Cerme, Gresik