Reportase Telulikuran DK Edisi #14 – Desember 2017 Milad Satu Tahun DK “Manunggal” (1)

Getaran-getaran halus bacaan ayat-ayat Alquran juz 14 yang dilantunkan Cak Ghozi, Cak Chabib, dan Cak Ibad, merambati dinding-dinding gedung UPT SKB Cerme-Gresik pada 8 Desember 2017, pukul 19.23 WIB. Getaran itu semakin rata menyebar ke sekitar, ketika Cak Roy memandu setoran cinta dulur-dulur Jannatul Maiyah Damar Kedhaton (JMDK) kepada Allah dan Rasulullah melalui wirid dan shalawat. Di bawah temaram suluran 23 buah lentera Damar Kurung, JMDK menyorongkan kerelaan jiwa untuk menerima hidangan apapun yang diberikanNya dalam momentum “Setahun Damar Kedhaton”  yang manunggal dengan momentum Telulikuran Edisi-14. Pada peringatan hari lahirnya yang pertama ini, Damar Kedhaton tidak hendak merayakan, tetapi me-menep-kan diri demi memaknai tema “Manunggal”.

Cak Roy memandu jamaah melantunkan wirid dan sholawat.

Klasa telah digelar oleh Cak Fauzi dan Cak Teguh yang memandu jalannya acara, diiringi lagu-lagu Iwan Fals yang dimainkan Cak Yusuf dkk. Sambil menunggu Gus Sabrang Mawa Damar Panuluh (Gus Sabrang) rawuh, JMDK diajak menikmati dua penampilan di atas panggung. Dengan lantang, Paksi Bhumisena, seorang JMDK cilik, membawakan puisi karangannya “Rumahku” dan menyanyikan tembang Jawa favoritnya “Saben Malem Jumat” yang kerap dilantunkan oleh (almarhum) Mas Zainul. Tiba pada bagian shalawat, tanpa dikomando siapapun, seluruh JMDK kompak bershalawat bersama.

Cak Fauzi dan Cak Teguh memandu jalannya acara.

Selanjutnya petikan gitar Cak Anwar dan kotak kayu yang dipukul lembut Cak Udin secara berirama, mendramatisir isi dada yang tengah digemuruhkan pembacaan puisi “Ke mana anak-anak itu?” oleh Cak Rezki, Cak Bayu, Cak Mujib, Cak Roy, dan Cak Haqiqi. Gemuruh dada pun seolah mencair ketika pembacaan puisi tadi ditutup dengan tembang Lir-Ilir versi CNKK. Sementara itu, sekitar pukul 21.45 WIB, Gus Sabrang memasuki ruang transit sebelah panggung dan menikmati aneka suguhan yang telah disediakan oleh Ning Tariko, Ning Sita, Cak Ibad, dan para panitia lain yang bertugas di belakang layar.

 

 

Mengenang Perjalanan Setahun Damar Kedhaton: Celana Bedah-Rambut Gondrong, Tapi Gelem Ngaji

Panggung berukuran 6 m x 4 m itu memang sederhana. Tidak ada dekorasi lain, kecuali bentangan poster acara yang didesain apik oleh Cak Ghozi sebagai backdrop-nya. Tetapi apa yang telah, sedang, dan hendak berlangsung di atasnya tidak sesederhana itu. Di atas panggung, ruang bisa meluas untuk memeluk keluasan pengetahuan alam semesta atau menukik demi menampung kedalaman hikmah kehidupan, dan alur waktu bisa mengalir ke mana saja. Seperti ketika 3 orang tamu undangan menuturkan pengalaman masing-masing selama bersentuhan dengan DK melalui Telulikuran yang pernah digelar di tempat mereka.

3 Tamu undangan perwakilan tuan rumah.

Pak Siswanto (Perpusda Gresik) merasa senang karena DK tetap ingat pernah mengadakan diskusi dan dialektika Telulikuran di Perpusda dan menyaksikan DK sudah semakin berkembang. Bicara simpul Maiyah tentu tak bisa lepas dari sosok Cak Nun. Menurut Pak Sis, Simbah adalah sosok yang selalu mengajak masyarakat untuk berpikiran terbuka, sekaligus menyinergikannya dengan syariat.

“Semoga Damar Kedhaton dapat membawa semangat reformasi pemikiran, untuk memajukan intelektualitas masyarakat Gresik, terutama para generasi muda,harap Pak Sis.

Pak Syamsuri, perwakilan SD Alami Driyorejo, juga menceritakan kenangannya saat Telulikuran bersama DK di aula SD Alami, “Meskipun hujan, tapi suasana diskusi tetap mesra.”

Cak Yusuf, perwakilan Yayasan Hidayatussalam, malah dua kali bersentuhan dengan Telulikuran, yaitu di SMA Hidayatussalam di mana ia bekerja sebagai pengajar seni musik, dan di Kafe Cindelaras yang dimilikinya. Setiap tahun, cerita Cak Yusuf, SMA Hidayatussalam mengundang ‘orang-orang aneh’ dengan orientasi seni budaya, seperti Kartolo dan Zawawi Imron. Tetapi ketika DK datang melingkar di sana, para pengajarnya (rata-rata nyantri) masih juga terheran-heran. Cak Yusuf menuturkan komentar mereka, “Iki ngaji, selawatan, kok blas gak koyok biasane. Penampilane macem-macem. Onok sing gondrong, celonone bedhah, onok sing wiridan nggawe catetan wirid tulisan huruf latin. Tapi pas salawatan, apik (fasih). Bocah model ngene kok gelem ngaji alasane opo?”

Sebelum ketiga tamu undangan tersebut turun panggung, Cak Gogon, selaku ketua panitia, meng-hatur-kan katresnan yang berupa kalender Maiyah 2018 dan satu eksemplar buku Daur karya Mbah Nun. Semoga kedua tanda mata tersebut dapat menjadi pertautan hati antara DK dan Perpusda Gresik, SD Alami Driyorejo, Yayasan Hidayatussalam, serta Kafe Cindelaras.

Atmosfer Telulikuran edisi khusus ini kian istimewa. Beberapa dulur JM dari berbagai simpul/lingkar Maiyah menyempatkan rawuh ngombyongi hajat Milad Setahun DK. Ada hadir diantaranya dulur dari Majelis Pahingan (Jombang), Paseban Mojopahit (Mojokerto), Arek Cangkruk’an Biasa (Lidah), Linkar Barat (Sememi), BangbangWetan (Surabaya), Suluk Kadirian (Kediri) dan Semesta (Lamongan).

 

Berbagi Pemikiran tentang Manunggal    

Cak Irul (Surabaya) berbagi pemikiran tentang manunggal.

Cak Fauzi dan Cak Teguh mempersilakan jamaah berbagi pemikiran dan wacana mengenai tema malam ini. Cak Irul (Surabaya) menyambutnya dengan senang hati. Ia menghubungkan gambar segitiga backdrop dengan simbol sebuah organisasi internasional yang selalu disebut-sebut dalam teori konspirasi Tatanan Dunia Baru. Tatanan ini, menurut sebagian besar teori tersebut, sedang berusaha me-manunggal-kan isi otak seluruh manusia di bumi. “Benarkah bumi ini bulat atau malah datar? Benarkah luas benua Eropa sebesar yang digambarkan dalam peta dunia, sementara ukuran Indonesia sangat kecil?” gugat Cak Irul.

Jika dihubungkan dengan peringatan hari lahir DK, Cak Nanang (Gresik) memaknai “manunggal” sebagai usaha untuk menyatukan isi kepala JMDK yang bermcam-macam. Ia juga menambahkan penafsiran mengenai gambar segitiga di-backdrop,”Puncak segitiga bersinar itu saya maknai sebagai Nur Muhammad. Kedua titik samping segitiga saya maknai sebagai Muhammad dalam diri manusia yang berusaha kembali ke asalnya, yaitu Nur Muhammad.” Terakhir, Cak Nanang menyampaikan; meskipun beda isi kepala, tapi kita semua memiliki kesamaan, yaitu ketauhidan kepada Allah.

Bang Jali (Lamongan) memberikan pendapat mengenai manunggal.

Momentum malam ini tepat digunakan untuk menanamkan ketauhidan. Sebab, tauhid adalah dasar. Mau ‘diisi’ apapun sang manusia, insya Allah akan berjalan dengan semestinya. Jika ‘diisi’ ilmu, maka ilmu yang dilandasi ketauhidan akan membawa manfaat bagi semua makhluk.

Bang Jali (Lamongan) membuka pendapatnya dengan frasa bijak ‘semua yang kita cari sebenarnya ada dalam diri sendiri, tetapi jangan tak lupa untuk saling mengisi’. Menurutnya, manunggal dapat digambarkan sebagai proses bersatunya sesuatu yang awalnya adalah satu, lalu karena berbagai sebab menjadi berpisah (tidak menyatu), kemudian ingin kembali menjadi satu (menyatu). Meskipun tidak dituntut manunggal, kita pasti punya keinginan untuk kembali bersatu.

Momen pemotongan tumpeng yang menjadi simbol rasa syukur bahwa DK telah melakukan perjalanan selama satu tahun.

Sekitar pukul 22.15 WIB, Gus Sabrang, Lik Ham, Cak Rahmat (BbW), Pak Kris Adji dipersilakan naik ke panggung untuk memberikan restu pada momen pemotongan tumpeng yang menjadi simbol rasa syukur bahwa DK telah melakukan perjalanan selama satu tahun. Setelah pembacaan shalawat dan doa yang dipimpin oleh Lik Ham, puncak tumpeng dipotong oleh Cak Gogon, kemudian di-hatur-kan kepada Gus Sabrang.

“Semoga Damar Kedhaton semakin ‘manunggal’. Cak Fauzi menyampaikan harapan. “Di tengah keragaman isi kepala, harusnya ada satu-dua hal yang dapat menautkan hati JMDK tanpa harus meninggalkan keniscayaan perbedaan. Secara individu, hati-pemikiran-perkataan-perbuatan kita pun juga harus ‘manunggal’. Nah manunggal ini bagaimana? Mari kita gali bersama.”

 

Manunggal dalam DNA Rasulullah   

Tidak ada yang namanya kebetulan. Bahkan sehelai daun yang jatuh ke bumi pun adalah bagian dari kesempurnaan rancangan besarNya. Demikian pula yang terjadi ketika poster acara Milad 1 Tahun DK di-publish pada tanggal 6 Desember 2017, caknun.com merilis Tetes berjudul “Hanyalah Tunggal”. Dan pada hari-H, 8 Desember 2017, caknun.com merilis Tetes berjudul “Menyatu dengan Allah”. Pun juga ketika dari 23 lentera Damar Kurung yang di-install di dalam gedung ternyata 9 di antaranya tak bisa menyala, hingga menyisakan 14 buah, sesuai dengan edisi Telulikuran yang jatuh pada nomor 14. Allah sengaja mengobrol dengan Damar Kedhaton. Setiap JMDK pasti memiliki penafsiran masing-masing mengenai apa isi obrolan tersebut.

Pak Kris Adji mengelaborasi tema manunggal.

Dalam diskusi malam itu, Pak Kris Adji flash back sejenak pada masa awal DK melingkar di Giri Kedhaton. Kemudian, beliau menyampaikan kabar gembira bahwa Damar Kurung telah diakui sebagai warisan budaya nasional. Pekerjaan rumah bagi masyarakat Gresik adalah memahami filosofi lentera kubus khas Gresik tersebut. Beliau juga menyampaikan keprihatinan atas banyaknya jumlah situs budaya yang mulai dihilangkan. Sayang sekali jika pembangunan hanya berkisar pada hal-hal yang bersifat material, sementara pembangun yang bersifat spiritual ditinggalkan. Pak Kris Adji berpesan, “Peristiwa-peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini sebaiknya dijadikan pelajaran. Dalam situasi tersebut, kita harus tahu bagaimana memosisikan diri. Hal yang perlu dilakukan adalah menata lingkungan kita sendiri yang sekiranya sefrekuensi, kemudian berusaha untuk ‘manunggal’.”

Cak Rahmat memberikan pandangannya mengenai manunggal.

Kenapa jika bertemu sesama orang Maiyah rasanya sudah seperti saudara sendiri walaupun baru pertama kali? Fenomena ke-manunggal-an misterius ini jamak dialami oleh Jannatul Maiyah di mana-mana. Mengenai hal tersebut, Cak Rahmat memberikan pandangannya. Beliau merunut teori Big Bang, di mana ledakan besar tersebut disebabkan oleh Nur Muhammad. Jadi, semua makluk (baik yang hidup maupun mati) memiliki/dititipi “DNA Rasulullah”. Maka, perasaan familiar yang timbul ketika bertemu sesama Jannatul Maiyah merupakan tanda bahwa kita telah menghidupkan DNA Rasulullah yang tersimpan dalam diri masing-masing. Bukankah kesamaan DNA berarti kita bersaudara? Menghidupkan DNA tersebut dan membangun kesadaran bahwa DNA Rasulullah tersimpan dalam diri siapa saja atau apa saja yang ditemui adalah cara kita berterima kasih/menyukuri keberadaan DNA Kekasih Allah dalam diri kita.

Pada awal pembicaraan, Cak Rahmat sempat mengulas perjalanan orang-orang Maiyah,“Kalau suatu kawah candradimuka, sekolah, atau lembaga pendidikan yang tidak bisa menampung pemuaian para santrinya, berarti itulah lembaga pendidikan/tempat pendadaran yang benar. Tidak cukup (dengan adanya) Bangbang Wetan, akhirnya lahirlah Damar Kedhaton dan simpul-simpul lain, karena adanya asal daerah dan rasa haus yang sama. Melihat pemuaian-pemuaian itu, insya Allah, artinya Maiyah kita ini berada pada jalan yang benar.”

Lik Ham menjelaskan tentang penyelarasan getaran.

Sesuai tema “Manunggal” yang harus memiliki siapa/apa yang dituju, maka Lik Ham menyarankan agar diskusi fokus merujuk kepada Gus Sabrang,  “Kita ‘manunggal’ kepada Mas Sabrang di malam spesial ini. Kita ngangsu kawruh kepada Mas Sabrang. Untuk memahami manunggal, kita  bisa mengupasnya dari berbagai macam sisi. Untuk itu, kita perlu menyelaraskan getaran diri terhadap alam sekitar. Semakin luas radius (penyelarasan) getaran yang kita lakukan, maka akan semakin luas yang kita peroleh.”

Lik Ham menjabarkan, penyelarasan getaran memiliki 3 tipe. Pertama, tipe membaca pikiran, yaitu menggunakan daya tangkap akal untuk memahami apa yang disampaikan Gus Sabrang. Kedua, tipe membaca rasa, yaitu berusaha meresapi apa yang disampaikan Gus Sabrang hingga rasa kita ikut tersentuh/tergerak. Ketiga, tipe membaca sebab-akibat, yaitu membayangkan sebab-akibat (pengaruh) dari apa yang disampaikan Gus Sabrang terhadap diri kita. Dengan demikian, maka diskusi ‘manunggal’ bisa langsung menyentuh atau berfungsi dalam kenyataan hidup kita masing-masing, dan tidak berhenti di awang-awang atau menjadi sebatas ide belaka.

 

Ilusi Definisi Manunggal

Gus Sabrang menjelaskan konsep manunggal.

Setelah jamaah mendapatkan sangu dari Lik Ham, Gus Sabrang langsung menukik dengan pertanyaan, apa itu ‘manunggal’? Antonim bisa digunakan untuk memahaminya. Lawan kata ‘manunggal‘ adalah ‘terpisah‘. Karena Gus Sabrang percaya bahwa Tuhan selalu memberikan kita contoh-contoh kecil agar mampu memahami konsep-konsep besar, maka diambillah tumpeng sebagai contoh sederhana untuk mendialektikakan konsep ‘manunggal vs terpisah.

Jika dipandang secara terpisah, satu buah tumpeng yang ada di depan tadi sebenarnya merupakan butiran-butiran nasi yang bertumpuk-tumpuk. Ketika manunggal menjadi tumpeng, apakah kemudian setiap butir nasi itu kehilangan esensinya? Tidak. Nasi tetaplah nasi; tetapi masing-masing menyediakan diri untuk bekerjasama menjadi sebuah tumpeng. Sama halnya dengan dua orang yang menikah pasti butuh kerelaan, terlepas apapun alasannya, untuk masuk dalam komposisi manunggal. Bila salah satu pihak tidak rela, bisakah keduanya manunggal? Tidak. Manunggal membutuhkan kerelaan.

“Konsep ‘satu’ dan ‘terpisah’ itu benar-benar konsep (yang dibuat oleh) manusia. Sebab, apapun yang dianggap sebagai ‘satu’ bisa dipisah menjadi ‘banyak komponen’. Satu manusia jika di-‘breakdown’/dipisah-pisah pun bisa menjadi jantung, ginjal, otak, dll. Satu jantung dipisah-pisah bisa menjadi sel, darah, katup, dll. Bahkan darah juga masih bisa dipisah-pisah (menjadi komponen yang lebih kecil lagi). Syarat pertama untuk menjadi ‘satu/manunggal’ adalah ‘kerelaan’. Contohnya, jika ada sel yang tidak rela bersatu, maka ia akan menjadi kanker, sel perusak kesatuan tubuh tersebut, Gus Sabrang menjelaskan.

Seperti halnya ketika manusia membangun rumah. Jika batu bata diletakkan di atas sebagai atap, sementara genting diletakkan di bawah sebagai dinding, maka bahan-bahan bangunan tersebut tidak akan bisa manunggal menjadi sebuah rumah. Maka syarat kedua manunggal adalah mengetahui posisi masing-masing dan menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari sebuah kemanunggalan. Maka jika ia adalah batu bata, maka relalah untuk ditata, ketahuilah bahwa dirinya berfungsi/bertugas/berposisi sebagai dinding. Jika ia sebuah genting, maka ia rela diletakkan di atap, menerima terpaan panas-hujan. Seraya melaksanakan tugas masing-masing dengan ikhlas, bata dan genting sama-sama menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari sebuah kemanunggalan yang bernama “rumah”.

“’Satu’ atau ‘terpisah’ itu ilusi dari definisi. Penyebutan ‘satu’ atau ‘terpisah’ amat tergantung pada definisi masing-masing kata. Secara tubuh, kita yang ada di sini ‘terpisah’. Namun secara kemanusiaan, kita adalah ‘satu’.”

 

Syarat Manunggal dengan Allah

Kemudian Gus Sabrang memperdalam diskusi melalui pembahasan manunggal dengan Allah. Agar bisa manunggal, maka sebelumnya manusia harus mengenal Allah. Nah, bagaimanakah caranya agar manusia bisa mengenal Allah? Dalam Islam, konsepnya sudah jelas. Karena kita semua ini merupakan bagian/tajjali Allah, maka manusia harus mengenal dirinya sendiri untuk mengenal Allah. Seperti bata yang mengenal dirinya adalah bata.

“Kenalilah dirimu dan menyerahlah (rela) kepada Tuhan atas apapun yang Dia perintahkan kepadamu. Tidak rela terhadap tugas yang diberikan Allah akan mempersulit kita untuk berada dalam komposisi Ilahiah (‘manunggal/nyawiji’). Ketika kamu sudah mengenal dan merelakan dirimu, maka kamu harus mencapai kesempurnaan. Tetapi bukan sempurna berdasarkan imaji Illah (sempurna seperti Tuhan), kata Gus Sabrang.

Kesempurnaan bata bukanlah menjadi rumah, karena bata tidak mungkin bisa menjadi pintu, atap, dsb. Kesempurnaan bata adalah menjadi bata sesuai dengan sifat dan fungsi yang telah Allah berikan. Misalnya, bersifat kuat dan berfungsi sebagai dinding yang baik. Demikian pula, kesempurnaan manusia adalah ketika manusia berhasil menjadi dirinya sendiri sebagaimana Allah telah men-tajjali-kan diriNya kepada sang manusia. Bata tidak bisa menanyakan bagaimana kesempurnaan sebuah bata kepada pintu. Seperti halnya setiap manusia, ia tidak bisa menanyakan kepada orang lain bagaimana cara menjadi manusia sempurna, sebab setiap manusia memiliki karakter dan tugas (tajjali) yang berbeda-beda dari Tuhan. Tidak ada yang sama. Di kemudian hari nanti pada titik kerelaan dan kesempurnaan tertentu, ia akan patut ditarik bergabung dalam ‘Rumah Ke-Ilahi-an. Sementara rela/berserah kepada Tuhan bukan berarti tidak melakukan apa-apa, tetapi harus berbuat sesuai tajjali Allah dalam diri kita.

 

Manunggal dalam Kepemimpinan

Pada sesi yang sama, Gus Sabrang mengkritisi salah satu slogan yang sering dipakai lembaga pendidikan yang menghendaki semua anak didiknya menjadi pemimpin. Padahal, tanpa perlu di-deder pun, seseorang yang memiliki tugas (dari Tuhan) sebagai pemimpin pasti memiliki kapasitas dalam memimpin, entah dalam level apa dan lewat mekanisme yang mana. Sebab, itulah tajjali Allah di dalam dirinya. Lagipula bayangkan jika semua orang menjadi pemimpin, lantas siapa yang akan dipimpin? Sama halnya dengan seorang pemimpin yang harus memimpin secara baik, maka orang-orang yang porsinya/tugasnya dipimpin juga harus menjadi rakyat yang baik. Sementara secara siklikal, syarat utama untuk menjadi seorang pemimpin yang baik adalah bersedia untuk dipimpin. Dalam lingkup sistem masyarakat, anak dipimpin oleh orangtua, orangtua dipimpin oleh ketua RT, ketua RT dipimpin oleh kepala desa, dan seterusnya hingga presiden. Lantas siapa yang memimpin pimpinan tertinggi negara? Presiden harus bersedia dipimpin rakyat dan Tuhan, karena pada dasarnya, kata Gus Sabrang, setiap orang dipimpin oleh Tuhan. Tinggal mau atau tidak. Ketika seseorang rela dipimpin oleh Tuhan, maka selanjutnya ia akan mengetahui perannya ketika dipimpin orangtuanya, ketika dipimpin ketua RT, dan ketika dipimpin presidennya. Jika setiap orang siap dipimpin dan otomatis mengetahui serta mau menjalani perannya masing-masing dalam kehidupan, maka negara pun ikut tertata.

“’Manunggal’ bisa terjadi di mana saja. ‘Manunggal’ bisa terjadi pada level apa saja, level fisik, ruh, atau pun kesadaran. Tapi syarat (mencapai ‘manunggal’) pada semua level tidak berubah: mengetahui dirinya sendiri sehingga mengenal Tuhannya, dan rela untuk menjadi apa yang disuruh oleh pemimpinnya, yaitu Kanjeng Nabi dan Allah SWT.” Gus Sabrang memungkasi pemaparannya pada sesi pertama. (wid/ddk)