Reportase Telulikuran DK Edisi #15 – Januari 2018 “Ins(t)an Berbudaya” (1)

Sebagaimana lazimnya forum rutin Maiyahan, sesi nderes mengawali Telulikuran Damar Kedhaton (DK) edisi ke-15. Cak Chabib, Cak Zulfan, Cak Ibad dan Cak Ghozi, secara bergantian membaca Al Qur’an Juz 15. Lantunan suara mereka menjadi penyambut kehadiran Jannatul Maiyah Damar Kedhaton (JMDK) di Gubuk Taman Sari, Desa Suci, Kec. Manyar. Malam itu, Rabu, 10 Januari 2018, satu per satu JMDK berdatangan, dilingkupi hawa basah seusai hujan. Setelah khatam, dengan panduan Cak Ghozi dan Cak Huda, jamaah bareng-bareng melantunkan wirid dan sholawat hingga puncaknya, mahallul qiyam.

Kegiatan rutin sebelum memulai 23an, (Nderes Al-Quran, Wirid dan Sholawat) oleh Jamaah DK.

Mencoba istiqomah dengan tradisi, sesi berikutnya adalah kenalan. Kepada jamaah yang baru pertama kali menghadiri Telulikuran, Cak Teguh (moderator) mempersilakan untuk memperkenalkan diri. Patut disyukuri, setiap Telulikuran digelar, selalu saja ada jamaah baru yang turut bergabung. Bukan soal akeh-akehan secara kuantitas, tapi ini tentang kegembiraan menyambut-sambung paseduluran.

 

Cak Takul (Kiri) selaku sesepuh setempat dan Cak Sony (kanan) selaku Owner Gubuk Taman sari, memberikan sambutan sebelum memulai diskusi tema.

Menyicil Usulan Piagam Maiyah

Melaksanakan mandat Tim Koordinator Simpul, maka di bagian awal Telulikuran ini digelar proses penjaringan ide butir Piagam Maiyah. Sebagai pengantar, Cak Hari “Tello” (Tim Koordinator Simpul) yang sudah hadir di lokasi sejak sesi wirid, diminta untuk mbeber klasa. Ia menceritakan garis besar isi dari Rembug Maiyah 2017 yang dilaksanakan di Jakarta pada 1-3 Desember 2017, serta mem-babar urgensi Piagam Maiyah.

Lik Ham menuntun JMDK dalam Diskusi Piagam MAIYAH

Lik Ham yang juga sudah hadir turut memberikan arahan bagi JMDK. “Saya tidak yakin kalau Piagam Maiyah ini digagas tidak dengan tujuan yang serius dan mulia. Maka lakukanlah setiap tahapan proses secara serius, dengan niatan mulia bahwa goal dari proses ini adalah ukhuwah,” papar Lik Ham. Beliau juga menambahkan bahwa melalui proses yang partisipatif ini, diharapkan muncul gagasan-gagasan yang otentik dari masing-masing simpul. Dan, apa yang nanti akan dituangkan di butir piagam, maka JM mempunyai konsekuensi untuk menaatinya. Sedangkan soal durasi, Lik Ham menyarankan agar jamaah tidak tergesa-gesa dan merasa ditarget untuk cepat menghasilkan usulan. “Menurut saya Piagam Maiyah tidak perlu ditarget selesai dalam waktu dekat, tidak harus selesai dalam tahun ini. Memang perlu waktu untuk berdiskusi secara mendalam, mengendap, agar tidak asal menulis dan membayangkan,” himbau Lik Ham. Maka, beliau menyarankan agar di luar rutinan Telulikuran, JMDK menggelar lingkaran-lingkaran kecil yang lebih intim untuk bersama berproses menjaring ide Piagam Maiyah.

Untuk mencairkan suasana, Cak Umar Husain mengajak jamaah bersama-sama melantunkan lagu “Andaikan Kau Datang Kembali”, sekaligus mengenang (alm.) Mas Yon yang beberapa hari sebelumnya berpulang. Disambung oleh Cak Madrim dengan gitar mininya, menyanyikan lagu “Suket Teki”. Atmosfer lebih fresh kini menyelimuti forum.

Suasana Diskusi Piagam Maiyah dalam beberapa kelompok kecil.

Setelah itu, jamaah dibagi menjadi 5 kelompok kecil. Masing-masing kelompok mendapatkan edaran “Ide dan Gagasan Piagam Maiyah” dan form usulan Piagam Maiyah. Waktu 30 menit yang disediakan untuk diskusi kelompok, harus diulur menjadi 60 menit. Setelah satu jam berdiskusi pun, masih saja banyak jamaah yang menyatakan kekurangan waktu. Lantas, masing-masing kelompok dipersilakan untuk menyampaikan hasil diskusinya. Satu hal yang patut menjadi catatan, ada kelompok yang menghabiskan separuh waktunya untuk sekedar berkenalan. Demikianlah, keintiman memang perlu waktu. Butir-butir usulan Piagam Maiyah yang sudah terlahir, dikompilasi oleh moderator untuk kemudian akan dikirimkan kepada Tim Koordinator Simpul.

Malas Mengetahui dan Menghargai Proses

Mengawali sesi berikutnya, Cak Fauzi menyampaikan pengantar untuk mengelaborasi tema “Ins(t)an Berbudaya”. Sebagaimana tertuang dalam prolog, bahwa gejala mengejar dan menggunakan produk dan cara yang instan, telah jamak dijumpai. Jamaah diajak untuk turut mengidentifikasi beragam gejala yang dialami, dan kemudian melakukan penggalian sisi positif-negatifnya.

Pada kesempatan pertama, Cak Alauddin urun rembug. Ia menyoroti maraknya layanan belanja ­online, yang manfaatnya jelas tak dapat dipungkiri, yakni membantu pembeli untuk mendapatkan barang yang diingini tanpa harus repot keluar rumah. Namun, dampaknya, toko yang offline jadi kalah bersaing, kemudian mati. Berikutnya, Cak Pitro mencoba mengingatkan bahwa ada ‘kenikmatan’ yang hilang ketika kita berbelanja online, yakni asyiknya tawar-menawar.

Cak Alaudin mengawali ngonceki Tema Ins(t)an Berbudaya

Sementara itu menurut Cak Riza, insan yang berbudaya pasti memiliki dimensi sosial dalam hidupnya, sehingga ia mendayagunakan akal pikirnya untuk menghasilkan sesuatu bagi sekitarnya. Dengan itu, insan yang berbudaya mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Agak lebih menukik, Cak Nanang turut menimpali. Menurutnya, dengan menjamurnya budaya instan, manusia menjadi kian malas untuk mengetahui dan menghargai proses. Biasanya diiringi oleh sikap yang mudah ikut-ikutan tren tanpa alasan rasional, yang penting sesuai apa yang sedang usum. Salah satu muara perilaku instan adalah sikap konsumtif, enggan memproduksi sendiri. Sebagai respon terakhir, Cak Ghozi menyampaikan bahwa ia teringat apa yang pernah disampaikan oleh Kiai Budi (Semarang) bahwa watak modernitas memang memanjakan manusia. Dalam konteks itu, Maiyah melatih kita semua untuk terus mencari koordinat keseimbangan, dan tidak berpikir hanya pada level buah. “Ketika kita melihat buah mangga, kita dilatih untuk tidak lupa pada daun, batang dan tanah. Ada proses panjang yang sangat penting untuk kita hikmahi, dari sebiji buah mangga,” pungkasnya.

Cara Instan Tak Pernah Mencapai Puncak Kamanungsan

Cak Amin BBW Urun Pendapat soal Tema

Malam itu, Cak Amin (BbW) turut hadir pula menemani diskusi JMDK. Iamenegaskan bahwa segala fasilitas/kemudahan yang kemudian mendorong kita berperilaku instan, sebetulnya adalah buah dari kreativitas. Kreativitas adalah salah satu karakter dari insan yang berbudaya. “Jadi dalam tema ini, menurut saya, insan berbudaya adalah subyeknya, pelakunya, sedangkan instan berbudaya adalah produknya,” terang Cak Amin. Ia menambahkan bahwa produk-produk instan telah, sedang, dan akan terus ada. Tidak bisa dinafikkan. Kita tak bisa menyalahkan produk instan. Dengan tegas, ia menutup elaborasinya dengan menyatakan, “Yang menjadi problem utama adalah sikap mental generasi instan; malas mencari tahu secara detail, malas berpikir dan bersikap secara komprehensif, malas men-thowaf-i persoalan”.

 

Cak Hari Telo mencoba mengkolaborasikan tema dengan dunia musik saat ini

Kemudian, Cak Hari “Tello” turut mengelaborasi tema melalui pendekatan dunia musik. Ia menceritakan bahwa di era sebelum ‘90-an, proses rekaman di studio tidaklah mudah dan tidak murah. Sebelum betul-betul masuk proses rekaman, sebuah grup musik perlu melakukan proses untuk menstabilkan nada-irama tiap alat musik. Tahap ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar, apalagi bagi grup yang belum banyak memiliki pengalaman. “Bisa-bisa, butuh sebulan hanya untuk belajar nggenjreng,” terang Cak Hari. Namun kini, tahap itu tak lagi menjadi soal. Telah tersedia software untuk menyelaraskan suara dari alat musik, termasuk vokal penyanyi. Proses rekaman sekarang jauh lebih mudah, dan bisa dilakukan secara mandiri. “Hasil rekamane pun uapik, jernih. Semua instrumen selaras. Tapi, nek konser kok palih beda? Jauh beda dibandingkan dengan hasil rekaman,”

 

Cak Hari “Tello” melanjutkan penjelasan, “Rupanya, ada proses berharga yang dilompati. Makanya, sekarang mulai muncul gejala band-band barat, khususnya di Inggris, sedang kembali menuju model rekaman cara lama. Kembali pakai mik todong, dan pita rekaman”. Bagaimanapun, musik adalah soal rasa. Dan rasa adalah wilayah yang tak bisa dibohongi.  “Di wilayah rasa, cara-cara instan tak akan pernah mencapai puncak kamanungsan, tidak akan mampu everlasting,” tegasnya. (aif/ddk)