Belajar Manunggal kepada Mereka*

Belajar Manunggal kepada Mereka*

Beberapa orang berkumpul, melingkar, menghabiskan malam pergantian tahun Hijriah. Di tepian tanah lapang, di daerah Cerme, mereka yang berasal dari Gresik kidul, kulon, kota, dan lor mencecap kopi hingga dini hari, mencoba menyelaraskan frekuensi. Di penghujung perjumpaan, mereka berdoa bersama. Hajat Milad Setahun Damar Kedhaton (DK) dilangitkan. Maka, kepada mereka aku belajar manunggal.

JM Damar Kedhaton Merakit Damar Kurung Untuk Acara Milad DK ke-1

Usai malam itu, ada yang diam-diam mulai membuat rangka Damar Kurung. Satu per satu rangka ia cicil kerjakan. Sepulang kerja, atau saat hari libur, ia setorkan energi cintanya. Mengukur panjang rusuk, menggergaji, memaku, ia telateni hingga rampung. Tak tanggung-tanggung, dua puluh tiga buah rangka ia tuntaskan, sendirian. Kurang seminggu perhelatan digelar, 23 buah rangka Damar Kurung ia angkut menuju “sekretariat”. Pakai mobil pick up? Mboten. Sepeda motor, Lur. Maka, kepada ia aku belajar manunggal.

 

 

Ada pula dulur yang lincah memainkan desain. Dari keahliannya itulah ia menafkahi keluarganya. Sebagian energi ia ikhlaskan untuk membuat desain kaos DK. Tanpa diminta, dulur lain juga yang menyediakan diri sebagai juru catat pemesanan kaos. Pagi, siang, petang hingga malam, dengan rajin ia mencatat tiap pesanan dari JMDK. Selanjutnya, ayunan tugas disambut oleh dulur yang lain lagi; ia memuat mengerjakan proses produksi sampai distribusi kaos. Hari-hari terakhir menuju Milad Setahun Tahun DK, mereka harus melesat ke sana kemari menyusuri Gresik, membagi-bagikan kaos. Maka, kepada mereka aku belajar manunggal.

Bagaimana dengan rangka Damar Kurung tadi? Bukankah perlu sarung? Ya. Maka ada ia – dulur yang berinisiatif mendesain, lalu mencetaknya. Kabel, bola lampu dan pithingan? Ada ia – dulur yang melakukan kalkulasi detail. Kemudian pada suatu pagi yang telah disepakati, beberapa dulur berkumpul di “sekretariat”, bareng-bareng meng-install Damar Kurung hingga tuntas hari itu juga. Maka, kepada mereka aku belajar manunggal.

JM Damar Kedhaton dalam rangka ikhtiar yang tak kenal lelah mencari lokasi untuk Acara Milad DK ke-1

Tentu saja, lokasi acara adalah soal yang tak kalah krusial. Maka aku sangat menaruh hormat pada mereka yang wareg menerima penolakan saat mengajukan permohonan peminjaman tempat. Sangat bisa diterima akal bahwa rata-rata birokrasi merasa ragu memberikan izin pemakaian tempat. Apa pasal? Lha, Damar Kedhaton ini tidak jelas bentuk organisasinya. Nir sekretariat, tanpa ketua, dan stempel pun tiada. Hari-hari dilalui dengan penolakan demi penolakan. Ada dulur yang rela memberanikan diri izin 3 jam keluar kantor, demi mengurus izin lokasi. Ada dulur yang usai bekerja shift malam, paginya ngluthus mencari lokasi. Maka, kepada mereka aku belajar manunggal.

 

Mendekati hari H, persiapan acara hampir tuntas, termasuk perihal lokasi. Semua lega. Namun kelegaan itu sirna dalam sekejap, ketika tiba-tiba pihak pengelola membatalkan izin pemakaian lokasi pada hari H-2! Dulur-dulur DK kebingungan, macam tahu bulat yang ditolak dadakan. Segera, dulur-dulur di lapangan menempuh gerak cepat; yang lain, khusyuk ‘menyantetkan’ Alfatihah dari segala penjuru. Akhirnya, lokasi pengganti pun berhasil didapatkan. Nuansa dadakan dan manunggal meliputi seluruh proses tersebut.

Pusaran-pusaran energi manunggal baru masih belum berhenti bermunculan. Di ujung Gresik utara, ada dulur yang diam-diam menyiapkan pin dan gantungan kunci berlogo DK. Di ujung selatan sana, ada dulur yang mencetak stiker. Di sebelah barat, ada dulur yang berbelanja berbagai pala pendhem dan uba rampe untuk membuat tumpeng. Di bagian Gresik tengah, ada dulur yang mengumpulkan belasan tikar dan karpet. Ada juga dulur yang memberanikan diri meminjam mobil pick up di kantornya untuk keperluan angkut-angkut. Di sebuah bengkel, ada yang sembunyi-sembunyi membuat asbak, khusus untuk Milad Setahun DK. Ah, betapa indah harmoni putaran energi itu. Maka, kepada mereka aku belajar manunggal.

JM Damar Kedhaton memasang Spanduk disekitaran venue acara dengan mandi rahmat (hujan) untuk Acara Milad DK ke-1

Tiba hari-H, ada dulur yang telah ready sedari pagi. Tak masuk kerja? Ya, sengaja ia ambil jatah cuti di hari – yang baginya – istimewa itu. Ada saja tugas yang ia sabet. Mulai membeli karet, membungkus bingkisan, hingga mengurus izlin ke pihak keamanan. Agak siang, bala bantuan berdatangan. Bahkan ada dulur yang datang dari kejauhan, 200-an kilometer jaraknya. Ia tiba di “sekretariat”, menggulung kalender dan membuat karcis parkir. Ketika hujan turun sehabis jumatan, persiapan di lokasi acara pun dimulai. Ada mereka yang dengan gembira memasang spanduk sambil hujan-hujan. Ada mereka yang menyiapkan berbagai perlengkapan. Instalasi Damar Kurung dan sound system hanya memiliki jatah waktu 2 jam. Ditemani gerimis, mereka bahu-membahu naik-turun tangga. Selesai terpasang, dari 23 buah Damar Kurung, hanya sebagian yang menyala. Kecewa? Ndak terlalu. Mereka cuma misuh, tapi buanter. Haha…. Agak tenteram hati mereka ketika kuberitahu bahwa Damar Kurung yang berhasil menyala 14 buah jumlahnya. Ya, ini adalah Telulikuran edisi ke-14. Saat acara berlangsung pun, mereka harus rela untuk tidak turut menikmati. Semua meneguhkan hati berkhidmad menjalani peran yang sejak mula dipilih. Misal, sejak awal hingga selesai, hanya duduk di ruang sebelah acara, mengaduk teh serta kopi. Maka, kepada mereka aku belajar manunggal.

JM Damar Kedhaton Manunggal dalam persiapan Acara Milad DK ke-1

*secarik catatan tentang sekitar Milad 1 Tahun DK. Tentu tak mampu merekam lembaran-lembaran fakta energi manunggal dari mereka, dengan sepenuhnya.

Surabaya, 22 Desember 2017
Ahmad Irham Fauzi
Pegiat dan Pembelajar di Lingkar Maiyah Damar Kedhaton