Prolog Telulikuran DK Edisi #16 – Februari 2018 “Guna Amigunani”

 

Rasulullah SAW bersabda, “Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia .” (HR. Thabrani dan Daruquthni).

Hadits di atas memberi panduan kepada kita bahwa untuk dapat menjadi manusia yang terbaik maka berbuatlah yang paling bermanfaat bagi sesama. Tetapi hal tersebut juga mengandung banyak pertanyaan, bermanfaat bagi siapa, bermanfaat yang bagaimana?

Amal, sebagai sebuah entitas tak terpisahkan dari ilmu, ditakar kualitasnya dengan ukuran seberapa manfaat ia bagi sesama. Terdapat rentang antara amal yang mewujud tampak di level perbuatan, dengan kemurnian niat yang bersemayam di kandungan batin. Dan di rentangan itu, betapa beragam nuansa mewarnai. Di tengah masa yang mana aspek “citra” kian mengemuka, ketika yang tampak, yang bungkus, yang “wajah” makin jadi arus utama, maka di manakah koordinat amal menemukan presisinya ?

Sebagian dari kita mungkin lebih sibuk mempermak citra dengan amal yang alakadarnya. Sebagian dari kita barangkali habis konsentrasinya menyetor manfaat lewat berbuat, dan abai sama sekali dengan rupa wajah bungkusnya. Sebagian lagi boleh jadi merasa tersadar betapa citra sungguh semu, sehingga sibuk “membunuh dirinya” sambil bersikap nyinyir pada setiap gelagat cari muka, hingga tak lagi punya energi untuk menjadi sosok pemberi guna. Sebagian yang lain…. Ah, betapa ragam kombinasi bisa disandingkan antara keduanya. Layaknya tanda tanya di ujung kisah Ashabul Kahfi, betapa lubuk hati di diri ini mengandung misteri.

Niat memberi guna, aksi agar jadi sosok yang amigunani bagi sesama, begitu tak sederhana dipetakan ketika dikepung hawa citra yang membikin lena, selayak guna-guna.

***

Mbah Nun pada suatu kesempatan di forum Sinau bareng pernah memberikan pertanyaan, “Jika kamu sedang shalat kemudian di dekatmu ada kejadian kecelakaan yang ada korbannya dan membutuhkan bantuan, maka mana yang kamu pilih? Apakah meneruskan shalat atau berhenti shalat untuk menolong korban kecelakaan?”
Tidak mudah juga untuk menjawabnya, pada satu sisi kita sedang melaksanakan kewajiban kita kepada Allah SWT ( hablumminallah) pada sisi yang lainnya ada situasi darurat yang siapa tahu ketika menolong korban dengan cepat bisa menyelamatkan nyawanya (hablumminannas ). Betapa kita menghadapi situasi dilematis pada waktu itu. Tetapi orang Maiyah tentu sudah tahu apa jawabannya. Bahwa kita lebih memilih untuk berhenti shalat dan segera menolong korban kecelakaan.
Nah bagaimana dengan perbuatan – perbuatan lainnya. Marilah kita simulasikan, baik skala ketepatannya dan apakah perbuatan tersebut menjadi prakaryan kang guna amigunani.
Dalam berhimpun dan melingkar dengan hati meneb, saling asah, asih dan asuh di Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke 16 di :

Balai Desa Raci Kulon, Kecamatan Sidayu, Gresik.
Kamis 08 Februari 2018
Pukul 19.23 WIB.