Terop: Payung Ketulusan di Randu Songo

Terop: Payung Ketulusan di Randu Songo

Untuk kali pertama, setelah berjalan 16 kali putaran, Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-17, ada teropnya. Karena tak seperti biasanya, maka boleh saja disebut istimewa. Paling tidak, bisa dibilang berbeda. Yang pasti, bagi Damar Kedhaton, keberadaan terop pada ajang Telulikuran kemarin Sabtu (10/3) patut dicatat sebagai penanda.

Sebagai salah satu wujud ikhtiar niteni, berikut petikan wawancara singkat redaksi damarkedhaton.com dengan Cak Yudi dan Cak Dika, dua sosok yang menyedekahkan energinya menyiapkan uba rampe Telulikuran edisi 17, seusai acara :

Cak Yudi, hal apa yang mendorong sampeyan memilih balai dusun Randusongo?
Teman-teman Karang Taruna Dsn. Randusongo memiliki program di bidang keagamaan. Dan pada Telulikuran edisi 17 ini, wilayah Gresik Selatan mendapat giliran menjadi tuan rumah. Bagi saya, ini kesempatan baik untuk men-silaturahim-kan dua agenda tersebut. Maka saya tawarkan kepada Mas Dika, dan dia setuju. Saya usulkan ke dulur-dulur DK area kidul , direspon positif.

Mas Dika, bagaimana proses perizinan yang sampeyan alami? Adakah kendala?
Alhamdulillah lancar, Mas. Kami sempat merasa agak bingung untuk menjelaskan format acara Telulikuran kepada perangkat desa. Disebut pengajian ya bukan, disebut bukan pengajian, faktanya ya ngaji. Agar mudah, ya kami sebut saja pengajian dengan model sinau bareng.

Lantas, bagaimana tanggapan perangkat desa?
Sepertinya ya agak bingung. Setelah kami jelaskan bahwa Damar Kedhaton ini adalah perkumpulan arek-arek santri atau muridnya Cak Nun, Pak Kades langsung memberikan izin.

Suasana Lokasi 23an Edisi ke-17 berlokasi di Dusun. Randu Songo

Lalu, bagaimana ceritanya kok teman-teman Kartar sampai repot-repot mendirikan terop segala, Cak Yudi?
Min haitsu laa yahtasib, Mas. Setelah mendapatkan izin dari desa, kami di-support penuh oleh perangkat dusun dan para warga. Mendengar anak-anaknya punya hajat, tanpa kami minta, mereka berdatangan memberi dukungan. Ada yang nanggung terop, ada yang ngasih konsumsi. Ini semua dari spontanitas warga, Mas.

 

 

 

Tanpa proposal? Ndak ada penggalangan dana?
Ndak ada, Mas. Tanpa proposal. Murni inisiatif warga. Kami juga kaget. Bahkan, kita bisa lihat sendiri tadi kan, Mas, banyak warga yang turut hadir. Ada yang mengajak anak-anaknya juga.

Cak Dika, adakah pesan kesan dari sampeyan tentang acara ini?
Saya bersyukur dulur-dulur DK mau singgah di sini. Semoga berkah dari acara ini bisa menular khususnya bagi Kartar Dsn. Randusongo, agar semakin aktif belajar berorganisasi. Harapan saya, ke depan Telulikuran DK bisa bertempat sini lagi. Setahun sekali pun saya terima.

Demikian wawancara singkat dengan Cak Yudi dan Cak Dika. Semoga menjadi penanda, agar JMDK tak mudah lupa, bahwa di dusun yang pernah ditanami pohon randu berjumlah sembilan oleh para auliya’ era Walisanga ini, kita pernah melingkar bersama, menghirup atmosfer ketulusan. (aif)

Cak Yudi
Cak Dika

Keterangan :
Cak Yudi : JMDK yang tinggal di Dusun. Randu Songo.
Cak Dika : Ketua Karang Taruna Dusun.  Randu Songo.