“In God We Trust”

“In God We Trust”

(Catatan Kecil Acara Belajar Melukis Bersama, 11 Maret 2018)

Sumpah! Saya cuma berniat pinjam kata-kata dari uang kertas Amerika Serikat ini. Tidak ada hubungannya dengan tren kebarat-baratan, fluktuasi mata uang dunia, teori konspirasi internasional, apalagi dengan gaya rambut Donald Trump. Kata-kata ini saya pinjam semata-mata karena memang itulah pegangan utama saya selama menjadi penanggung jawab acara “Belajar Melukis Bersama” yang diselenggarakan kedua kalinya di Cindelaras Cafe ‘n Gallery, 11 Maret 2018 lalu.
​Saya adalah orang pertama yang diajak Cak Yusuf—inisiator sekaligus pemilik Cindelaras Cafe ‘n Gallery—berdiskusi dan merancang konsep acara. Saya langsung berpikir keras, karena saya juga menginginkan hal serupa, mengulang kembali kegembiraan belajar melukis bersama pada September 2017 dan membuat acara kali ini lebih berbobot serta menarik daripada sebelumnya.
​Segera, saya menghubungi dulur-dulur pegiat Damar Kedhaton untuk membantu terwujudnya acara tersebut. Perbincangan melalui dunia maya antara saya, Cak Yusuf, dan dulur-dulur yang pernah terlibat pada acara “Belajar Melukis Bersama” tahun lalu memutuskan bahwa acara kedua nanti akan dilaksanakan pada 11 Maret 2018. Tanggal ini dipilih berdasarkan pertimbangan dari berbagai aspek, termasuk kesiapan orang-orang yang terlibat dalam acara sehingga tidak ada yang merasa disulitkan atau dirugikan.
​Seperti tahun lalu, sesi acara melukis bersama terbagi menjadi dua kategori, yaitu anak-anak (dipandu Cak Irul) dan remaja (dipandu Cak Yusuf). Selain melukis, rencananya akan ada sesi fashion show dari bahan daur ulang, dongeng, dolanan tradisional, dan lagu-lagu daerah.
​Semua berjalan sesuai rencana sampai H-2. Jumat itu, mendadak Cak Yusuf mengabari bahwa putranya masuk rumah sakit karena demam tinggi. Otomatis, sesi melukis bersama kategori remaja dibatalkan, dan tanggung jawab acara yang semula dipegang Cak Yusuf diserahkan kepada saya. Mateng aku! Seruan itu hanya bisa saya telan, sebab acara melukis bersama Minggu nanti harus tetap berjalan. Mateng aku! Seruan itu berulang lagi ketika pada hari-H, dulur-dulur pegiat yang sebelumnya menyatakan sanggup membantu, ternyata banyak yang tidak dapat hadir karena urusan keluarga. ​Saya sudah benar-benar mateng dan barangkali agak gosong ketika kawan-kawan remaja dari KAG (Komunitas Anak Gresik)—pendamping sesi dolanan tradisional—telah tiba di lokasi acara, sementara saya dan Cak Nanang masih ribut mencari hadiah di toko untuk mengapresiasi peserta anak-anak nanti. Jadilah mereka datang tanpa sambutan panitia. Buru-buru, saya raih batang-batang cokelat di hadapan saya dan langsung ngegas balik ke kafe. Kekhawatiran saya tentang kelancaran acara semakin meraja. In God we trust. Saya memejamkan mata, tidak ada cara selain itu.
​Sambil terus berusaha semampu saya dan dengan menggunakan sumber daya yang ada, akhirnya persiapan acara berhasil diselesaikan pada jam dua belas siang, Banner, sound system, dan peralatan lainnya juga sudah dipasang Jam setengah satu, anak-anak (kategori peserta yang jumlahnya paling banyak hadir) mulai berdatangan. Sementara itu, Cak Fauzi (pemandu acara) dan Cak Irul (pemandu sesi melukis bersama kategori anak-anak) masih terjebak macet di daerah Bungah bersama mobil yang dikemudikan Cak Zulfan. Dapat dipastikan, mereka datang terlambat. Cak Gani, yang sedianya mengajak anak-anak menyanyikan bersama lagu-lagu daerah, juga mengabarkan keterlambatannya. Ini berarti, acara tidak dapat berjalan sesuai run down yang telah disusun rapi.
​Menghadapi situasi ini, saya—orang yang minim pengalaman dalam memeriahkan acara anak-anak—hanya bisa pasrah menatap langit. Mungkin saat itu wajah saya memelas pol, sehingga Allah (dalam imajinasi saya) berpikir, “Ah, mesakne tenan arek iki. Yo wis tak kancanane.” Kemudian, Tuhan mengirimkan malaikat-malaikat tanpa sayap dan momen-momen kebetulan untuk saya. Sesi dolanan tradisional, yang sengaja dimajukan untuk menggantikan sesi pembukaan acara, berhasil membangunkan semangat peserta. Pada sesi tersebut, kawan-kawan KAG begitu terampil mendampingi adik-adik peserta bermain bola bekel, kelereng, dan dakon. Supaya suasana tetap seru saat menunggu kedatangan pemandu acara, kawan-kawan KAG berinisiatif mengajak adik-adik peserta memainkan alat musik keyboard. Alhamdulillah, sekitar jam 1 siang, Cak Fauzi dan Cak Irul pun datang. Namun karena ada kendala teknis, Cak Fauzi tidak bisa langsung menjalankan tugas sebagai pemandu acara. Sedangkan nyala kemeriahan acara harus ada yang menjaga supaya tak padam.

Ibu Aliyah Hanim memberi semangat anak-anak sebelum memulai belajar melukis bersama

​Malaikat tanpa sayap berikutnya pun menjelma di hadapan saya. Ibu Aliyah Hanim, salah seorang pengantar peserta anak-anak, tanpa ragu tampil ke depan atas permintaan Cak Nanang—yang kebetulan adalah kawannya—untuk menyelamatkan situasi. Kebetulan lagi, beliau adalah Ketua PAUD KBM 88 Manarasul Ulum Kec. Dukun, Gresik. Tentu, Ibu Aliyah Hanim luwes saja memandu acara anak-anak ini. Sambil menunggu Cak Fauzi siap, beliau mencairkan sekaligus memeriahkan suasana dengan mengajak anak-anak meneriakkan yel-yel dan mendorong mereka untuk berani maju ke depan. Apapun boleh ditampilkan, mulai dari membaca doa makan, menjawab pertanyaan, sampai menyanyi. Di tangan Ibu Aliyah Hanim, batang-batang coklat yang tadi saya saut seadanya dari rak toko, menjadi pancingan hadiah yang menggiurkan bagi anak-anak.

​Mau tahu kebetulan lain yang “dikirim” Tuhan hari itu? Langit yang biasanya rajin mengguyur daerah Panceng dengan hujan deras pada siang hari, kebetulan sedang ingin “puasa”. Padahal, saya sudah ketar-ketir. Jika hujan turun, ruangan kafe tidak akan cukup menampung para peserta untuk berteduh. Hujan memang tidak membasahi bumi Panceng siang itu, tetapi rupanya tim yang hendak menampilkan fashion show dari bahan daur ulang punya pertimbangan lain. Bermaksud mengantisipasi turunnya hujan, mereka membatalkan penampilan gaun-gaun berbahan daur ulang karena kahwatir akan rusak terkena air. Jadi, mereka menampilkan pakaian-pakaian umum saja. Rupanya, animo adik-adik peserta tetap tinggi, karena mereka kebetulan belum pernah menyaksikan fashion show.
​Acara “Belajar Melukis Bersama ke-2” berlangsung melebihi ekspektasi saya, baik karena membludaknya jumlah peserta maupun kemeriahan jalannya acara. Terutama, karena semua itu berlangsung dengan banyak keajaiban bagi saya. In God we trust. Saya merasa, Allah membersamai saya sepanjang acara berlangsung. Dia terus menguatkan dan menolong saya dengan caraNya yang amat menyentuh. Seperti saat Cak Fauzi dan Cak Irul hendak pulang namun tak ada mobil yang bisa mengantar. Muncullah Cak Gani yang datang terlambat bersama mobilnya dan kesanggupan total untuk mengantar Cak Fauzi dan Cak Irul.

(Ibnu Adib Wibowo, Eryani W.)
Penggiat Damar Kedhaton. Aktif dalam berbagai kegiatan Maiyah.