Reportase Telulikuran DK Edisi #17 – Maret 2018 [Bukan] Generasi Cangkir

Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-17, 10 Maret 2018, diawali lebih dini ketimbang biasanya. Mushaf Alquran dibuka pada halaman juz 17, lalu di-deres ketika warga Dsn. Randusongo Ds. Kesamben Kulon Kec. Wringinanom baru turun dari masjid usai menunaikan jamaah sholat Isya. Beberapa pegiat Karang Taruna bergantian melantunkan kalam ilahi tersebut, mengiringi kehadiran para warga untuk turut melingkar di balai dusun. Gerimis yang awet menemani sedari sore tak mengurangi antusiasme warga. begitu juga Jannatul Maiyah Damar Kedhaton (JMDK). Spirit istiqomah menjadi bahan bakar utama bagi mereka untuk hadir melunasi rindu, mereguk kembali nilai-nilai Maiyah yang malam itu berpintu tema “[Bukan] Generasi Cangkir”.

Nderes Alquran oleh Dulur-dulur Karang Taruna Randu Songo

Dipandu oleh Ustadz Abidin (tokoh masyarakat Dsn. Randusongo), jamaah kemudian bersama-sama melantunkan tahlil dan istighotsah. Kian paripurna suasana khusyuk yang tercipta saat wirid-wirid Maiyah dilantunkan bersama, dan dipuncaki dengan mahallul qiyam. Kemudian Cak Syaiful Gogon – berduet dengan Cak Pitro yang bertindak sebagai moderator—memegang kendali forum. Kesempatan pertama diberikan kepada Cak Bayu untuk mengantarkan prolog tema. “Bukan Generasi Cangkir” merupakan judul salah satu tulisan Mbah Nun dalam seri Daur. JMDK memilih tema tersebut sebagai bagian dari ikhtiar men-tadabbur-i pesan Simbah untuk JM dan anak cucu.

 

Sibuklah dengan Isi, Pasti Menemukan Hikmah

Gelar Kloso oleh Lik Ham mengawali Diskusi tema 23an

Pelan mengalir namun lugas, Lik Ham memberikan konteks atas tema malam itu agar menjadi pintu diskusi bagi jamaah. Dengan mengambil analogi nyruput kopi, beliau mengajukan pertanyaan retoris, ”Kopi ini disajikan di dalam cangkir. Yang kita nikmati rasa kopinya atau cangkirnya? Masa sampeyan ngrakoti cangkire? Kan ora! Kemudian, apa yang akan kau ceritakan pada teman ngopi-mu? Bentuk cangkirnya, ataukah rasa kopinya?”. Simulasi-simulasi dengan contoh kecil keseharian pun diungkap Lik Ham, menggiring pemahaman bahwa betapapun wadah itu perlu, namun tak boleh menghentikan kita untuk lebih menyeriusi isi. Beliau menegaskan, “Jangan berhenti sibuk pada cangkir saja. Sibuklah pada isinya, pasti lebih banyak hikmah akan kita temukan”.

 

Jamaah tampak kian khusyuk menyimak ketika Lik Ham mendedah frasa “sibuk dengan isi” melalui peristiwa “perjalanan”. Dalam melangsungkan sebuah perjalanan, kesibukan terhadap isi dapat dilatih dengan membiasakan untuk menerapkan 5T : Tata, Titi, Telateni, Titeni, dan Tutupi. Tata adalah tahap menata segala hal yang perlu dipersiapkan sebelum memulai perjalanan. Titi adalah fase menjalani, meniti, menempuh proses perjalanan itu sendiri, nglakoni. Sedangkan Telateni adalah ketangguhan mental untuk terus telaten mengkhalifahi segala dinamika yang muncul saat berjalan. “Di tengah perjalanan, ndadak ban gembos, atau kesandung, sembarang suasana—enak gak enak, mbuh piye carane ya kudu ditelateni, kudu lanjut,” ulas Lik Ham. Kemudian Titeni, keharusan untuk titen, teliti mengamati dan mencatat setiap penanda yang hadir beserta jejak sejak berangkat. Sehingga memahami jalan kembali pulang. Terakhir adalah Tutupi, yakni kematangan sikap dalam soal kapan membuka kapan menutup. “Gak kabeh sing elek iku perlu diungkap. Semunu uga gak kabeh sing apik kudu dibukak. Semua ada momentumnya,” pungkas Lik Ham mengakhiri elaborasinya.

Cak Syuaib urun elaborasi tema 23an

Bab Titèn, Cak Syuaib turut menggarisbawahi. Betapa leluhur Jawa telah memberikan keteladanan yang istimewa tentang titèn. Dalam menjalankan mandat mengelola pertanian, mereka berhasil membuktikan diri bisa nitèni tak hanya yang wadag semata. “Nek fisik sik gampang titen-titenane, sing angel iku niteni kahanan, suasana,” tegas Cak Syuaib.

Cak Pitro lantas memberikan kesempatan kepada jamaah untuk ikut merespon tema. Cak Hanief mengawali dengan menyitir Tahqiq Daur I-249. “Tentu kita tidak bisa mengelak eksistensi cangkir itu sendiri. Manusia adalah cangkir pada awalnya. Bagaimana kita bisa berjalan jika sebelumnya tak diisi informasi tentang berjalan. Begitu juga bekerja, mencari, dan berdoa, tak mungkin ditempuh jika sebelumnya cangkir tak diisi,” ulasnya.

 

Menanggapi Cak Hanief, Cak Rizky menyatakan, “Kata ‘berubah’ itu penting. Alangkah bijaknya, apapun kondisinya, dalam setiap menerima ilmu baru, kita memosisikan diri sebagai cangkir. Berubah menjadi bukan cangkir, adalah soal kapan. Tetapi tidak meningggalkan atau melupakan peran sebagai cangkir.”  Suasana forum makin hangat. Cak Syamsuri terdorong menimpali, “Zaman saya kecil, cangkir ini disebut cengkir. Welinge wong tuwa, nek nang endi-endi aja lali cengkir, kencenge pikir.” Menurutnya, kencenge pikir terkait erat dengan proses niteni. Borobudur adalah bukti nyata dari “bukan generasi cangkir”. Mahakarya itu merupakan hasil dari proses titen, padahal fasilitas kala itu tak semudah seperti sekarang.

Menurut Cak Apris, generasi cangkir adalah generasi yang sekedar menadah, tanpa ada kemauan untuk menggali dan mencari. “Memang, kita semua sejatinya adalah cangkir. Kita ini dituangi dari ceret yang besar. Alam semesta pun cangkir, dituangi Allah tumbuhan dan lain-lain. Manusia pun cangkir, dituangi akal pikiran dan potensi. Tapi setelah kita tumbuh dewasa, mari  tuangi dengan kedaulatan kita sendiri,” paparnya.

Lantunan Syair oleh Cak Mujib diiringi gitar Cak Haqiqi menyegarkan suasana 23an

Setelah menyerap atmosfer diskusi yang mulai menghangat, benak jamaah kemudian disegarkan oleh Cak Mujib yang melantunkan syair “Terlalu Manis” (Slank) dan “Ingsun” (Sujiwo Tejo), dengan iringan gitar oleh Cak Haqiqi. Tak ketinggalan, teman-teman Karang Taruna juga turut menyumbangkan keindahan vokalnya melalui lagu “Ruang Rindu”.

 

 

Cangkir, Wadah, hingga Fir’aun

Menapaki fase pergantian hari dalam hitungan Masehi, beberapa jamaah undur diri. Layak dimaklumi, mereka adalah para warga sekitar yang hadir untuk ngombyongi. Kerawuhan mereka sejak sore memberikan suntikan energi tersendiri. Tak hanya orang dewasa, bahkan beberapa orang tua mengajak serta anak-anaknya yang masih bayi. JMDK yang duduk di terop diajak merapat ke dalam pendopo balai dusun. Diskusi tema [Bukan] Generasi Cangkir pun dilanjutkan.

Menyelami lebih dalam tema 23an oleh Lik Ham dan Jamaah yang hadir

Berangkat dari paparan yang disampaikan jamaah pada sesi sebelumnya, Lik Ham kemudian mengulas cangkir sebagai wadah ilmu. “Sampeyan budhal iki mau nggawa gelas kosong, tong kosong, atau apa?” sentil Lik Ham. Diperlukan kejujuran untuk mengakui bahwa memang masih sangat banyak hal yang tidak kita tahu. Tapi kita yakin—dengan terus menempuh proses, kita akan mendapatkan hikmah-hikmah. Kesadaran akan gelas kosong itulah yang perlu ditanamkan. “Masiya wis kebak, wis eruh, tapi sejak sebelum berangkat cangkir dan gelasmu perlu dikosongi, agar mendapatkan isi. Jangan memenuhi gelas, lalu nanti semua yang ada didebat, dibantah, karena telah merasa isi,” jelas Lik Ham. Salah satu pesan dari “[Bukan] Generasi Cangkir” dalam konteks mencari ilmu adalah agar ketika pergi ke mana-mana janganlah membawa cangkir yang telah berisi.

Cak Syaiful (Gogon) berkesempatan menahkodai 23an edisi ke-17

Selanjutnya, Lik Ham mengajak jamaah menghampiri kisah Fir’aun. Pasti dipahami bahwa Fir’aun adalah sosok pemimpin yang hebat, dan berhasil menciptakan kemamkmuran bagi rakyatnya. Sangat mustahil rakyat yang kelaparan dapat menghasilkan mahakarya berupa piramida yang hingga kini tegak berdiri. Prestasi kerja Fir’aun sebagai leader pantas diakui kalibernya. “Kesalahan Fir’aun mung siji, dia tidak mengakui adanya tuhan selain dirinya sendiri. Fir’aun terjebak pada pemusatan fokus hanya pada kebesaran dirinya sendiri, cangkirnya sendiri. Mula, aja sibuk ambek awake dhewe thok, Rek. Nggarai ora mlaku. Ya kuwi cangkir,” pungkas Lik Ham.

 

 

 

Kepala Dusun Randusongo yang sejak sore setia menemani Majelis Ilmu Telulikuran turut me-wedhar gagasannya. Beliau menekankan perlunya kekuatan tekad untuk mengubah kualitas diri agar tidak sekedar menjadi cangkir yang pasif menunggu dituangi oleh ceret, atau sekedar alat transit dari cangkir ke lepek. Secara rendah hati memang patut diakui bahwa pertumbuhan diri sebagai manusia bermula dari sifat cangkir yang hanya menerima, bahkan termasuk dalam soal keyakinan beragama. “Dari segi pengetahuan, segi duniawi, apapun yang kita miliki, tidak lepas dari nenek moyang kita. Jangankan harta benda, bahkan kepercayaan dan pengertian akan pola hidup, kita diajari orang tua. Tapi kita perlu ubah dengan metode baru,” pesan beliau.

Cak Musthofa Ngabehi menambahkan bahwa kehadiran dulur-dulur JMDK pada majelis-majelis ilmu termasuk forum Telulikuran adalah pengejawantahan rasa keingintahuan dan upaya pencarian. Ia menegaskan bahwa ikhtiar itu merupakan bagian dari karakter “Bukan Generasi Cangkir”. Cak Syamsuri lalu menambahkan poin soal 5T yang diutarakan Lik Ham di sesi sebelumnya, “Kalau boleh, saya mengusulkan 2 idiom lagi setelah tutupi, yakni open lan panen.”

Pertanyaan kemudian diajukan Cak Hanief kepada Lik Ham, “Dulu, orang lebih mudah untuk melakukan ilmu titen. Cuaca mudah dititeni. Kini sepertinya makin susah karena tak lagi stabil. Bagaimana caranya agar lebih gampang niteni?”. Lik Ham langsung memberikan respon bahwa kita harus belajar paham akan wilayah. “Endi wilayah akal pikiran, endi wilayah ati, wilayah rasa. Iki sing kene kudu terus ndoleki. Jangan sampai kita mengabaikan salah satunya. Di Maiyah, ada (yang namanya) doa gelombang pantul-memantul, “ jelas Lik Ham.

Sholawat Indal Qiyam dilantuntan dengan khusyuk oleh ibu-ibu yang hadir dalam 23an

Cangkir dan Sajian Informasi, serta Kesadaran akan Panen

Jamaah diajak jeda sejenak dengan menikmati suara merdu Cak Madrim. Keheningan suasana sepertiga malam terakhir kian khusyuk saat bait-bait lagu “Ayah” (Ebiet G Ade) dilantunkan Cak Madrim. Dilengkapi kemudian oleh Cak Fauzi yang membawakan lagu “Belum Ada Judul” (Iwan Fals) atas permintaan Lik Ham.

Usai me-review beberapa poin yang telah terungkap di forum, Cak Syaiful Gogon mempersilakan kembali jamaah untuk mengelaborasi tema. Pintu pendalaman dan peluasan selalu dibuka, begitulah tradisi Maiyah. Dan memang terbukti, Cak Zulfan menyambut kesempatan yang diberikan dengan menawarkan perspektif yang sama sekali baru perihal cangkir. Ia, yang sehari-hari bekerja di bidang teknologi informasi, membagi gagasannya. Cangkir merupakan produk budaya umat manusia. Secara fungsi sudah jelas ia adalah media untuk menyajikan minuman, meski wujud fisiknya berbagai ragam, mengikuti budaya bangsa. Minuman yang disajikan tentu sudah siap untuk dinikmati, karena telah melalui proses pengolahan sebelumnya. “Dengan mengibaratkan informasi sebagai sajian dalam cangkir, kini dalam keseharian, kita tidak lagi bisa menikmati sajian informasi dari cangkir-cangkir yang sudah pasti bagus dan bermanfaat, karena telah melalui proses pengolahan. Kita dikepung, disemprot dan diguyur hujan deras informasi,” demikian Cak Zulfan menyampaikan analisisnya.

Suasana 23an DK bertempat di Dusun Randu Songo Desa Kesamben Kulon Wringinanom Gresik

Mengakhiri Majelis Ilmu Telulikuran edisi ke-17, Lik Ham memberikan sangu  beberapa poin kepada JM Damar Kedhaton. JMDK disarankan agar tidak berhenti pada pemahaman yang didapat malam itu. Proses pencarian harus terus dilakukan, dan sikap “saling anti” sebisa mungkindihindari. Generasi Cangkir tidak perlu anti kepada yang Bukan Generasi Cangkir, begitu pula sebaliknya. Maiyah mengajarkan kita untuk tidak saling menegasikan. Yang utama adalah saling menyapa dan setor kasih sayang. Terhadap keyakinan akan panen atas output open, Lik Ham menekankan pentingnya menjaga kesadaran nafas panjang. Ikhtiar nandur kebaikan harus terus dilakukan, tanpa mengharap kita yang menikmati panen. Tidak harus pula kita yang panen. Sebab yang sedang kita tanam sekarang adalah benih untuk dinikmati anak cucu kita kelak. Kepada keluarga besar Damar Kedhaton, Lik Ham juga berpesan agar sebagai cangkir, DK menyadari akan pentingnya silaturahim dengan cangkir-cangkir lainnya. Saling membuka pintu dan saling memasuki menjadi hal yang perlu di-istiqomah-i. Tidak dalam kerangka apik-apikan cangkir. Melalui silaturahmi, masing-masing pihak diharapkan dapat saling memperkaya menu-menu sajian utama demi memenuhi kebutuhan masa depan. (aif/ddk)