Reportase Telulikuran DK Edisi #19 – Mei 2018 “Manipulasi Kebenaran”

“Damar Kedhaton Lingkar Maiyah Gresik”; demikian bunyi tulisan pada banner yang terpasang di pendopo Kantor Desa Suci Kecamatan Manyar. Seperti lazimnya Telulikuran di tempat lain sebelumnya, majelis ilmu Damar Kedhaton (DK) edisi ke-19 ini dimulai dengan nderes Alquran Juz 19 yang merupakan kaloborasi antara Jamaah DK dan Karang Taruna Desa Suci. Seiring lantunan ayat suci Alquran tersebut, para jamaah mulai berdatangan hampir dari seluruh penjuru Gresik. Telulikuran kali ini terasa spesial karena berlangsung berdampingan dengan kegiatan desa, yakni Rapat KPPS Pilgub Jatim. Kedua acara tersebut diperjalankan Allah SWT secara beriringan dalam satu lokasi, namun tetap berlangsung dengan gayeng. Alhamdulillah.

Suasana Wirid dan Sholawat Telulikuran edisi ke-19

Dipimpin oleh Cak Huda (salah satu Jamaah DK, sekaligus alumni Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Suci), Jamaah DK dan Karang Taruna Desa Suci melanjutkan pembacaan ayat suci Alquran dengan lantunan wirid dan sholawat. Semua yang hadir diajak untuk mengendapkan hati, menghadap Allah SWT, dan menyapa Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Beberapa sesepuh yang turut menemani para jamaah malam itu, antara lain Bapak Muhammad Syahid (sesepuh Desa Suci), Bapak Krisaji (budayawan Gresik), dan Gus Jauhan Farhat (putera salah satu kiai pemangku Pondok Pesantren sekaligus Pembina Karang Taruna Desa Suci).

Napak Tilas Desa Suci Sebagai Bekal Masa Depan

Gus Farhat dalam mengelaborasi tema Telulikuran edisi ke-19

Memasuki sesi pra diskusi, Gus Farhat menyampaikan sambutannya mewakili tuan rumah. Beliau sedikit bercerita mengenai Mbah Dono atau yang lebih dikenal dengan Mbah Wedono, salah satu pemimpin Kota Kawedanan Petambaan pada masa penjajahan Belanda. Kota Kawedanan Petambaan inilah cikal-bakal terbentuknya Desa Suci. Mbah Wedono yang berdarah Madura tersebut merupakan leluhur Gus Farhat dan Pak Syahid. Dipercaya, makam Mbah Dono tidak hanya ada di Medokan Ayu Surabaya, namun juga terdapat di Desa Suci.

 

 

 

Pak Syahid, salah seorang sesepuh dan sejarawan desa suci

Selanjutnya, Pak Syahid mengapresiasi kegiatan positif semacam forum diskusi Telulikuran, dan mendoakan semoga Damar Kedhaton dapat menjadi pelita dan penerang bagi masyarakat. Beliau juga mengajak jamaah melakukan napak tilas sejarah untuk lebih mengenal Desa Suci. Beliau menjelaskan, sumber mata air Kota Kawedanan Petambaan (sekarang Desa Suci) berada di kawasan Gunung Ringgit yang membentang hingga Desa Sumber Kembangan. “Ringgit” berarti ‘uang/duit/duwek‘. Gunung Ringgit memang dimanfaatkan sebagai sumber mata pencaharian oleh masyarakat sekitar, mulai dari pengambilan air hingga penambangan batu kapur. Pada tahun 1932, Pemerintah Belanda menjadikan Gunung Ringgit sebagai PSA (Pusat Saluran Air). Tepatnya di sumber mata air “Sumber Nggung”, dibangunlah sebuah mesin pompa penyedot air. Sumber air ini diperkirakan tidak akan habis hingga kurun waktu ratusan tahun.

Selain sumber mata air yang menjadi ikon identitas, di Desa Suci terdapat pula festival budaya rakyat “Rebo Wekasan” yang diselenggarakan setiap satu tahun sekali pada hari Rabu akhir bulan Safar. Asal-usul festival budaya tersebut mempunyai dua versi. Pada tahun 2016, salah satu versi kisahnya diterbitkan oleh Biro Kesra dalam sebuah buku berjudul “Babad Tanah Suci”. Menurut Pak Syahid, versi tersebut tidak benar karena tidak menyebutkan fakta sejarah bahwa cikal bakal festival budaya desa suci merupakan salah satu warisan Sunan Giri. Dari segi pendidikan, di Desa Suci juga terdapat pondok pesantren yang cukup terkenal, yaitu Mambaus Sholihin dan Darut Taqwa.

Berkenaan dengan ajakan napak tilas, Pak Syahid telah menyiapkan “warisan” untuk para penerus muda Desa Suci berupa tulisan-tulisan mengenai sejarah dan budaya Desa Suci, antara lain Gang Pandan Arum, Mesin Nggung, Cikar-Kendaraan favorit, Lontong Bumbu Ladhan, dll. Beliau berharap, tulisan-tulisan tersebut dapat dipelajari sebagai bekal melangkah ke depan. Mendekati pukul 23.00 Pak Syahid menutup penuturannya dengan meminta sedikit penjelasan sedikit mengenai apa itu Damar Kedhaton. Cak Teguh (moderator) menjelaskan bahwa DK bukanlah  organisasi seperti pada umumnya, tidak punya AD/ART, dan bermajelis demi mencari ridha Allah SWT. Usai melintasi sejarah masa lampau bersama Pak Syahid, diadakanlah sesi rutin “Perkenalan Jamaah” bagi yang baru pertama kali mengikuti Majelis Telulikuran dan disambung gelar klasa oleh Cak Dedi mengenai Tema Telulikuran edisi ke-19 “Manipulasi Kebenaran”.

“Kita sudah banyak mendapat pelajaran dari pem-babar-an sejarah Desa Suci dari berbagai versi tulisan sejarah,” Cak Dedi merespon apa yang telah disampaikan Pak Syahid sebagai jembatan mbeber klasa, baru kemudian mengupas dhawuh Mbak Nun tentang kebenaran. “Kebenaran itu ada 3, yaitu kebenaran pribadi (benere dhewe), kebenaran publik (benere wong akeh), dan kebenaran sejati (benere Gusti Allah). Arti kata “manipulasi” sendiri seolah bermakna negatif. Contohnya, sejarah—yang memang sangat rentan disusupi manipulasi kebenaran. Karena banyak pelaku yang terlibat di dalamnya membawa kepentingan masing-masing, maka kebenaran sejati (atas sejarah) perlu dicari dan dipelajari. Seperti tahun ini; memasuki tahun politik pastinya banyak manipulasi kebenaran. Mari kita pelajari bersama.”

Memanipulasi Kebenaran, Membijaksanai Kebenaran

Karang Taruna Desa Suci membawakan nomor dari Letto dalam Telulikuran edisi ke-19

Usai gelar klasa, jamaah sepakat untuk rileks sejenak dengan menikmati persembahan dari Cak Umar Husain yang membawaka lagu Letto “Cinta Bersabarlah”. Disusul penampilan Karang Taruna Desa Suci yang juga membawakan dua nomor Letto “Permintaan Hati” dan “Sebelum Cahaya”. Memasuki elaborasi tema, Cak Murtadlo—seorang putra Benjeng Gresik yang juga berprofesi sebagai guru dan penulis sejarah, khususnya sejarah Gresik—turut urun rembug. Menurut pengalaman sehari-hari Cak Murtadlo, kadang kebenaran perlu dimanipulasi dan dibijaksanai sedemikian rupa, karena di atas kebenaran masih ada kebijaksanaan/pener. Di bidang sejarah yang beliau geluti misalnya, banyak kebenaran yang menurut beliau harus dipendam lebih dahulu. Ukuran manipulasi kebenaran tersebut tergantung pada situasi kondisi masyarakat. Dibutuhkan keluasan jiwa, penerimaan dan kerelaan kita ketika menyaksikan kebenaran itu “jatuh ke dalam lubang kotoran terlebih dahulu” sebelum akhirnya berhasil disampaikan.

 

Cak Murtadlo memaparkan pandangan mengenai tema telulikuran edisi ke-19

Perlu diingat, meskipun kebenaran boleh dimanipulasi dengan alasan kondisi yang tidak memungkinkan bila disampaikan apa adanya, namun ikhtiar untuk mengungkapkan kebenaran tersebut tetap tidak boleh ditinggalkan. Cak Murtadlo memberikan contoh penyampaian kebenaran yang masih menjadi salah satu “pekerjaan rumah”-nya. Dulu, Manyar adalah pusat agama Hindu. Tak heran jika di sana terdapat makam seorang raja/tokoh Hindu. Tetapi kebenaran tentang keberadaan makam tersebut belum memungkinkan untuk disampaikan hingga kini, mengingat ketidaksiapan masyarakat untuk menerima fakta tersebut. Jadi, Cak Murtadlo memilih memendam dulu kebenaran tersebut sambil terus mencari jalan yang bijak untuk mengungkapkannya. Di sela diskusi, Cak Teguh—sang moderator andalan DK—kembali mengingatkan bahwa hari demi hari yang kita lewati sekarang ini semakin mendekati momentum politik. Akibatnya, suguhan informasi dipenuhi manipulasi demi menciptakan citra “paling benar” dalam diri tokoh politik yang dijagokan.

Elaborasi tema diskusi semakin mengembang ketika Gus Farhat merespon, “Kita harus mengeksplorasi atau ‘ngelmu, angel ben nemu‘. (Dalam) ngelmu itu jangan takut salah dan jangan takut dosa, sebab manusia memang tempat salah dan dosa. Yang dilarang adalah sengaja salah dan sengaja dosa.” Beliau juga tertarik pada dhawuh Mbah Nun tentang 3 macam kebenaran, dan mencoba mengambil dari sisi lain, “Kebenaran itu subyektif, obyektif, dan Sejati. Kalau ingin menemukan kebenaran sejati, kita tanya kepada Yang Maha Kebenaran Sejati (Asma Al-Haqq). Jangan ewuh pekewuh karena ‘ihdinash shirathal mustaqim‘; mencari kebenaran itu harus dan (berlangsung) hingga mati.”

Cak Bagus merespon tema telulikuran edisi ke-19

Cak Bagus (Gresik Kota Baru/GKB), yang sempat beberapa kali berdiskusi dengan Gus Farhat di luar Telulikuran, menuturkan bahwa “Manipulasi Kebenaran” merupakan tema yang sangat menarik. Berdasarkan paradigma pribadinya, Cak Bagus mencoba memantik dinamika diskusi, “manipulasi dan kebenaran itu dua hal yang berbeda. Manipulasi itu rekayasa. Apa dan bagaimana (sebuah) rekayasa akan dibuat didasarkan pada kepentingan tertentu dan (kemudian) menjadi topeng yang menutupi kebenaran. (Awalnya, rekayasa hanya) disepakati oleh beberapa orang, (namun) kemudian bisa berproses menjadi kebenaran yang berlaku umum.” Cak Bagus menambahkan bahwa kebenaran memiliki masa aktif secara periodik; kebenaran seperti ini, pada saat ini, detik ini. Bagaimanapun, kebenaran hakiki hanya berasal dari Allah dan Rasulullah. Selain itu, tidak ada kebenaran sejati.

 

Pemantik dari Pak Syahid, sambung Cak Bagus, harusnya mendorong jamaah—khususnya anggota Karang Taruna Desa Suci—untuk melakukan penelitian. Boleh jadi, jamaah menemukan kebenaran baru dan tidak sama dengan kebenaran versi Pak Syahid. Sebab, toh kebenaran yang dianut banyak orang masih berstatus tembung jare. Contohnya, penguasa Gresik menganggap bahwa revitalisasi alun-alun adalah sebuah kebenaran, karena bertujuan ngapiki atau merenovasi alun-alun menjadi Islamic Center. Berbeda dengan kebenaran versi lain, misalnya menurut masyarakat yang peduli sejarah dan budaya, yang melihat alun-alun sebagai sebuah cagar budaya milik seluruh warga Gresik dan harus dijaga. Pengalihfungsian alun-alun menjadi Islamic Center adalah sesuatu yang salah. “Kebenaran memiliki masa aktif, dan dengan nguri-uri sejarah, bisa jadi kita mengaktifkan kembali kebenaran yang dulu pernah ada.” Cak Bagus memungkasi penjelasannya.

3 Versi Kebenaran: Benere Dhewe, Benere Wong Akeh, Bener sing Sejati

Cak Rokhim urun rembug dalam telulikuran edisi ke-19

Cak Rokhim turut urun perspektif, bahwa tiga jenis kebenaran yang sudah dipaparkan bisa dibagi lagi menjadi dua. Pertama, kebenaran dzonni atau benere dhewe dan benere wong akeh. Kedua, kebenaran qath’i atau kebenaran sejati. Mengenai manipulasi kebenaran, Cak Rokhim berpendapat, “manipulasi kebenaran itu perlu ketika situasinya bener tapi gak apik, atau benar tapi tidak pas. Kita harus belajar lebih (fokus) kepada cara memanipulasi kebenaran.”

 

 

 

 

 

Cak Mustofa (Ngabehi)–salah satu Penasehat Karang Taruna—memiliki opini demikian, “Ketika menghadapi sebuah masalah di mana sejatinya kita dibohongi (dimanipulasi), sehingga menyebabkan kerugiaan bagi diri sendiri dan orang lain, alangkah baiknya kita mengutamakan tabayyun atau klarifikasi.” Sebagai informasi, atas jasa Cak Mustofa inilah, DK bisa mengadakan Telulikuran di Desa Suci. Cak Mustofa memilih lokasi tersebut atas dasar kecintaannya terhadap DK, serta sebagai ikhtiar untuk membekali Karang Taruna Desa Suci dengan sejarah desanya sendiri.

Memasuki pertengahan malam, Pak Krisadji–budayawan dan sejarawan Gresik yang selama ini sering menemani DK dalam bermajelis—memberikan pandangan dari segi bahasa. Menurut KBBI, definisi “manipulasi” adalah penambahan, pengurangan, pengaburan atas realitas. Dalam berbagai kesempatan, Cak Nun ngendikan bahwa kadang-kadang manipulasi itu dibutuhkan untuk menutupi suatu hal yang belum membawa kebaikan jika disampaikan. Contoh ketika anak bertanya dari mana ia lahir, orang tua dahulu umumnya menjawab dengan tidak menunjukkan kebenaran, melainkan kebaikan. Karena pada waktu itu sang anak belum cukup kedewasaannya untuk pantas mengetahui kebenaran tersebut, akhirnya keluarlah idiom “lahir teko kelek” atau “metu soko irung”, dll.

Proses suksesi kepemimpinan, lanjut Pak Krisadji, diliputi banyak peristiwa yang ditutup-tutupi kebenarannya. Contoh, sejarah mengenal Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara, setelah itu baru Giri Kedhaton. Padahal, urutan tersebut terbalik menurut Pak Krisadji. Barangkali ada maksud tertentu dari penguasa saat itu dengan menjadikan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara. Memang, sejarah adalah milik para pemenang.

“Dahulu, Gresik adalah tanah garam. Sekarang, garam tumbuh pabrik. Tambak terpanjang se-indonesia dahulu ada di Gresik. Akibat dari indoktrinasi pendidikan barat yang menjadikan generasi penerus “gak nyekel pacul, gak nyekel arit”, jumlah tambak garam Gresik menyusut. Pohon Bidara yang dahulu menjadi ikon Gresik ,ternyata disebut di 3 surat dalam Al Qur’an, disebut juga di hadits dan anjuran Nabi untuk merawat jenazah dengan daun bidara. (Sayang sekali) sekarang di Gresik, (pohon Bidara) hampir langka, sulit untuk menemukannya.” Pak Kris mengungkapkan keprihatinannya.

Suasana Telulikuran edisi ke-19 di Desa Suci

Dalam mengelola kebenaran, Pak Kris berpesan, “Kita harus menimbang kapan harus menyatakan kebenaran yang benar-benar benar. Kebenaran karepe dhewe perlu dihindari, kebenaran bersama perlu diteliti–mana yang bermanfaat bagi masyarakat dan mana yang perlu diluruskan. Tinggal (perhatikan) bagaimana cara kita meluruskannya. Ada kebenaran yang harus dibela, ada kebenaran yang harus dihindari. Misalnya malam ini, saya tidak mungkin membedah buku Babad Tanah Suci. Karena jika buku dibedah dan kebenaran diungkap, kemungkinan besar akan terjadi hal yang kurang baik bagi masyarakat Desa Suci.”

Gus Farhat menambah perspektif tema dengan mengutip dhawuhe Kanjeng Nabi bahwa  belajar tidak boleh terputus sebelum kita mati. Beliau juga menyampaikan, “Jika mendapatkan ilmu baru, hindari kebenaran karepe dhewe. Generasi muda memang harus berani bicara, tetapi kalau salah harus berani meminta maaf. Nek gak wani njaluk sepura, ya jadi Gusti Allah saja.”

Lebih luas lagi, Gus Farhat memaparkan bahwa dalam kepercayaan Hindu terdapat strata sosial, yaitu Brahmana, Satria, Waisya dan Sudra. Menurut beliau, sebenarnya strata ini adalah jokes dan bukan klasifikasi. Brahmana adalah orang yang mendapat kemuliaan dari Allah SWT, di mana yang tertinggi adalah Brahmana Paramahamsya, semacam Nabi dan Rasul dalam perspektif Islam. Di bawahnya, ada Satria—orang yang memimpin pemerintahan, Waisya—orang yang berprofesi sebagai pedagang, dan yang terakhir, Sudra—orang hanya mengandalkan fisik dan tidak bisa diajak berpikir. Gus Farhat percaya, strata sosial Hindu pasti ada dan merupakan keniscayaan, tetapi tidak untuk membeda-bedakan nilai manusia. Namun semakin lama, keturunan masing-masing strata/kasta mengaburkan kebenaran yang sejati demi mendapatkan keuntungan pribadi.

“Ada tiga nilai dalam diri manusia, yaitu nilai kebenaran—meliputi logika dan rasionalitas yang diukur dengan akal, kemudian nilai etika—meliputi moralitas, nilai baik-buruk, dan terakhir, estetika—meliputi indah atau tidak indah. Contohnya, rayuan pemuda adalah ekspresi cinta yang tidak bisa dibaca oleh logika.” tutur Gus Farhat yang juga mewanti-wanti agar kita senantiasa membumikan hikmah atau mengambil sisi positif dari segala sesuatu, dan jangan sampai terjebak pembenaran, yaitu kebenaran yang dimanipulasi.

Cak Syuaib menambahkan sebuah cerita. Sewaktu masih sekolah dulu, beliau ingin ikut study tour ke Karangkates-Malang, Jawa Timur. Setiap siswa, termasuk Cak Syuaib, diberi selebaran edaran oleh sekolah untuk disampaikan kepada orang tua. Dalam selebaran tersebut tertera pemberitahuan biaya kegiatan sebesar Rp 20.000. Karena ingin mendapatkan uang saku yang lebih banyak, maka edaran itu beliau manipulasi menjadi Rp 50.000. Alasannya, kalau Cak Syuaib meminta uang saku langsung kepada orang tua pasti tidak akan diberi. Namun karena meragukan jumlah biaya tersebut, orang tua Cak Syuaib mengecek kebenarannya dengan cara membayar langsung  ke sekolah. Maka, terbongkarlah siasat Cak Syuaib. Dari kejadian ini, Cak Syuaib menyimpulkan bahwa proses mencari kebenaran menuntut adanya kemampuan dalam mengakses sumber informasi.

“Sejak dahulu sampai sekarang, dan setiap hari, kita bergumul dengan manipulasi kebenaran. Misalnya, kita memiliki anak yang masih balita dan minta dibelikan es krim. Jika tidak mampu membelikan, kita tidak harus mengatakan bahwa kita tidak memiliki uang untuk membelinya, karena itu benar tapi tidak baik. Maka, kita harus melakukan manipulasi kebenaran dengan mengatakan, misalnya, ‘es iku nggawe banyu entah, nggarai watuk‘ . Tujuannya, supaya si anak tidak menangis dan merengek lagi.”

Dalam sejarah Walisongo, tutur Cak Syuaib, Sunan Kalijaga pernah menyamar sebagai tukang pencari rumput dengan tujuan menguji Ki Ageng Mangir dan kemudian menegurnya karena berbuat kesalahan. Sunan kalijaga memanipulasi kebenaran atas identitas dirinya dengan maksud baik. Kebenaran juga tidak selalu tampak di awal, bahkan baru dapat dipahami di saat terakhir, seperti kisah Musa dan kaumnya yang terpojok karena dikejar Firaun serta bala tentaranya. Perintah Allah untuk lari melewati laut memang tak masuk akal awalnya. Musa sempat ragu. Namun pada akhirnya kebenaran perintah Allah terkuak, justru di situlah jalan keselamatan bagi Musa dan kaumnya.

Selain mengawal jalannya diskusi, Cak Teguh sebagai moderator merasa perlu untuk mbeber kloso mengenai OPINIUM. Sebelum me-wedhar hal tersebut, jamaah disuguhi persembahan kolaborasi antara Cak Fauzi dan Cak Arjun dengan membawakan puisi serta lagu karya Mbah Nun.

Kolaborasi Cak Fauzi dan Cak Arjun membawakan karya-karya Mbah Nun

Kebenaran Harus Baik, Indah, dan Tepat

“Malam ini, rupanya saya salah sangka terhadap kebenaran. Sungguh berbeda dengan yang selama ini saya yakini. Bahkan saya baru mengetahui bahwa kebenaran ada banyak macamnya,” Cak Yusuf, owner Cindelaras Cafe n Gallery di Siwalan Panceng, terpantik untuk urun rembug tema.

Meskipun sudah mengetahui teori 3 versi kebenaran, sebelumnya Cak Yusuf meyakini bahwa yang bisa disebut kebenaran hanyalah kebenaran sejati, sementara 2 versi lain belum bisa disebut kebenaran. Kurang lebih, demikian lanjutan opini Cak Yusuf, Karena manipulasi hanya terjadi pada kebenaran (hal-hal) yang telah terjadi dan karena semasa hidup kita hanya bisa mencari kebenaran, setelah mati barulah kita mendapatkan kebenaran sejati. Dan, ketika kebenaran diri sendiri menjadi kebenaran orang banyak, definisinya akan berubah karena (ada unsur) subyektivitas yang disepakati (bersama). Cak Yusuf juga menyimpulkan, bahwa kebenaran tetap benar dan tidak bisa salah. Walau dimanipulasi seperti apapun, substansi kebenaran tetaplah benar sampai kapanpun, sebab kebenaran tidak punya masa aktif atau masa tenggang dan karena pencariannya berlangsung sepanjang hidup kita.

Cak Dul memberikan kritik seraya mengutip prolog tema tentang 3 level kebenaran, Benar itu harus baik, indah, dan tepat. Beberapa contoh dikemukakan Cak Dul. Pertama, penggunaan dupa dalam kegiatan Telulikuran dan Wirid-Sholawat/Rembug Tema. Sebagian orang mengatakan dupa itu klenik. Namun, muncullah idiom taksumetane dupa ben sing teka akeh (menyalakan dupa supaya banyak orang yang datang dalam kegiatan tersebut) sebagai respon atas kebenaran dupa itu klenik. Idiom ini merupakan usaha kita dalam mengelola kebenaran dari pernyataan orang lain menjadi sesuatu yang baik, indah, dan tepat bagi semua pihak.

Kedua, penggunaan pengeras suara dalam Telulikuran edisi ke-19 ini, misalnya. Karena berbarengan dengan kegiatan pemerintah desa, lebih baik, indah, dan tepat jika volume pengeras suara diminimalkan supaya tidak mengganggu kegiatan pemerintah desa. Cak Dul mengajak mengoreksi Telulikuran lebih dalam, Wayahe wong turu, awak dhewe mulai acara. Wayahe wong melek, kene mulih. Telulikuran yang dimulai ketika orang tengah terlelap dan usai ketika orang bangun tidur, menurut Cak Dul, mengakibatkan produktivitas kerja para jamaah menurun esok harinya, karena kurang tidur. Cak Dul menyimpulkan bahwa Telulikuran ini dimulai dari benere dhewe, kemudian disepakati bersama menjadi benere wong akeh, yang berakibat merugikan orang lain. Dari sisi literasi, Cak Dul mempertanyakan alasan dibuatnya reportase Telulikuran, karena tanpa reportase pun seharusnya tidak menjadi masalah. Adanya reportase, selain dapat menimbulkan niat untuk tetap eksis dengan dimuat di website dan medsos, juga dapat menimbulkan rasa kebenaran subyektif atau ngepek benere dhewe.

“Reportase Telulikuran merupakan kesepakatan bersama secara prosedural. Ketiadaan reportase merupakan suatu kemunduran, karena Alquran saja merupakan reportase kehidupan,” tanpa basa-basi, pernyataan Cak Dul langsung ditanggapi mesra oleh Cak Ngabehi/Mustofa. Kepada jamaah, Cak Ngabehi mengingatkan bahwa ibadah kita sedang diuji oleh Cak Dul. Melalui pernyataan-pernyataan Cak Dul, keterampilan manajemen konflik kita sedang diuji. Hal ini berguna untuk memantik jamaah lain supaya lebih intens dalam urun pemikiran.

Apa yang disampaikan Cak Ngabehi terbukti kemudian. Cak Saiful/Gogon yang dari awal menyimak dengan seksama akhirnya terpancing untuk urun pemikiran dan juga berinisiatif untuk menjelaskan tentang Opinium. Opinium adalah aplikasi yang untuk saat ini hanya berjalan di platform Android dan sudah bisa diunduh di Google Playstore. Fungsi dari Opinium adalah menyaring berita apakah itu benar/bohong “hoax“. Untuk teknis pemakaiannya dapat dibaca di manual aplikasi. Opinium merupakan senjata bagi orang Maiyah, ‘ya iki Rek perang’!, tegas Cak Syaiful/Gogon. Dahulu musuh kita secara langsung adalah penjajah. Kala terjadi peristiwa peperangan di Surabaya, para pejuang kemerdekaan menggunakan bambu runcing. Namun sekarang, kita tidak tahu dengan jelas siapa dan bagaimana musuh kita. Kita dijajah lewat pemikiran, dan dihasut melalui sosial media yang dikuasai oleh kartel penguasa.

Cak Syaiful (Gogon) menjelaskan bab OPINIUM di Telulikuran edisi ke-19

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa kita akan mendekati momentum tahun politik di mana kebenaran diperebutkan para calon penguasa. Dalam berbagai kegiatan sinau bareng, CNKK (Cak Nun & Kiai Kanjeng) sering mensimulasikan fragmen menarik anak panah ke belakang yang berarti belajar ke masa lalu sebagai bekal melesat ke arah (sasaran) masa depan. Dahulu, kaum brahmana yang jadi pengayom dan penguasa. Namun sekarang, kaum sudra yang menguasai. Cak Gogon lantas mengungkapkan pemikirannya tentang Telulikuran, Seperti dalam ideologi Pancasila, Telulikuran juga memiliki lima sila, yaitu nderes, menyapa Kanjeng Rasul dengan sholawatan, nggedabrus sak-isane, selalu gembira, dan bermanfaat atau tidak yang terpenting adalah (kegiatan ini) didasari niat istiqomah.

Cak Gogon lanjut menanggapi pendapat Cak Dul mengenai reportase dengan mengutip dhawuh Pak Kris bahwa kelemahan leluhur Jawa adalah dokumentasi tertulis, yang mengakibatkan stigma buruk dari dunia modern dan manipulasi-manipulasi kebenaran, seperti, orang Jawa yang tidak dapat membaca aksara latin dianggap buta huruf, meskipun dapat membaca-tulis dalam bahasa Jawa dan aksara Arab Pegon. Dari situlah kebenaran itu perlu ditakar. Umpan lambung Cak Gogon langsung disambut oleh Cak Dul, “justru kebudayaan Jawa itu kuat, karena tidak ada dokumentasi. Kesaktiannya di situ.” Cak Dul kembali mengkritisi melalui sebuah contoh. Dalam acara sinau bareng CNKK, biasanya terdapat pertanyaan/sanggahan dari jamaah yang berlawanan dengan  penjelasan Mbah Nun. Apa yang terjadi? Jamaah yang bertanya/menyanggah tadi disoraki oleh sebagian besar jamaah lain. Fenomena ini diartikan Cak Dul sebagai rasa mangkel karena mayoritas sudah kadung menganggap Mbah Nun adalah orang yang paling benar. Padahal, siapa pun bisa salah, termasuk Mbah Nun.

Mutlaknya Kebenaran Allah, Relatifnya Kebenaran Manusia

Cak Hariri, JM yang lama tinggal di Tanah Suci tepatnya Jeddah, rela datang dari Madura untuk mengikuti Telulikuran dan mengutarakan pendapatnya untuk mendinginkan suasana yang sempat memanas. “Seharusnya semakin malam, kita semakin introspektif. Kita memang harus mengakui kekuatan budaya tutur leluhur, namun itu budaya dahulu. (Sebagai contoh) Sayyidina Utsman bin Affan berijtihad membukukan Alquran karena khawatir terhadap keterbatasan memori umat yang akan datang. Kita butuh realistis terhadap keadaaan, kita bermaiyah tidak hanya dengan nalar, tetapi juga nuansa,” ulasnya mengawali pemaparan.

Cak Hariri dari Madura urun rembug tema Telulikuran edisi ke-19

Setelah itu, Cak Hariri memasuki ke tema Manipulasi Kebenaran. Kebenaran tidak akan bisa dimanipulasi (diubah). Jikalau manipulasi didefinisikan sebagai menutup-nutupi kebenaran (itu) masih dapat dilakukan. Tetapi kebenaran tetap akan menjadi kebenaran. Kitalah yang memanipulasi diri kita sendiri, dan melupakan lafadz Allah dan Muhammad/Ahmad dalam diri kita sendiri. Cerminan Lafadz ‘Ahmad’ dijelaskan Cak Hariri melalui contoh sikap sholat. Mulai dari takbir dengan tegak berdiri membentuk alif ( ﺍ ), kemudian ruku’ yang membentuk ha ( ﺡ ), dilanjut dengan sujud membentuk mim ( ﻡ ), dan diakhiri dengan sikap tahiyah/duduk yang membentuk dzal ( ﺩ ). Menurut beliau, kita melupakan bahwa sejatinya bukan kita yang melakukan sholat, melainkan sedang meng-Ahmad/Muhammad. Kita sebenarnya tidak ada, karena yang ada hanya Allah dan Nur Muhammad. Semua ini adalah manifestasi Allah untuk Muhammad, dan menjadi benar adalah kalau kita mengakui sedang mencari kebenaran.

Bu Kris (istri dari pak Kris) urun pendapat pada Telulikuran edisi ke-19

Suasana Telulikuran edisi ke-19 berlangsung panas dingin dengan saling menyatakan kemesraan melalui silaturahim pemikiran antar jamaah yang hadir. Namun, Bu Noer/Bu Krisadji (istri Pak Krisadji), seorang pejuang literasi Gresik, mencoba menstabilkan suasana. “Sebelum menginjak ke tema, hal yang perlu dilakukan adalah literasi tahap 3, yaitu literasi media. Nandur literasi dasar adalah pekerjaan rumah saya. Sudah beberapa kali, saya mengadakan kegiatan workshop literasi dengan sasaran anak-anak pra TK sampai SD. First Comandemen adalah iqra, iqra, iqra‘,” tegas beliau. Dengan mengasah kemampuan analisa terhadap literasi di media, kemampuan anak membedakan benar-salah akan meningkat. Maka, mereka akan mudah mengikuti dinamika zaman. Jangan lupa, pesan beliau, baik itu harus juga bijak. Untuk itu, tahapan kebenaran harus melalui tempaan-tempaan. Ujian sesuai tangganya/kemampuannya; (jadi) jangan menaruh harapan terlalu tinggi tanpa diimbangi kapasitas diri. Terus iqra hingga mati.

Cak Izzul mengutarakan pendapat bab tema Telulikuran edisi ke-19

Mas Izzul, punggawa Karang Taruna Desa Suci yang kali kedua mengikuti Telulikuran, terpantik untuk share perspektif dan sedikit klarifikasi mengenai keberlangsungan Telulikuran yang sempat berbenturan dengan kegiatan desa. Mas Izzul juga merespon pendapat Cak Dul mengenai reportase, Karena keterbatasan memori atau daya ingat kita, maka (kegiatan Telulikuran) perlu direkam melalui tulisan. “Apa yang kita bahas malam ini tidak semua dapat diingat. Perihal crash dengan kegiatan desa, ini karena terjadi missed komunikasi antara Kartar dengan perangkat desa. Namun, (kedua kegiatan) masih tetap berlangsung dengan saling bertoleransi,” jelasnya.

Cak Madrim sedikit mendinginkan Cak Dul karena menerima kontra pendapat dari banyak orang dengan ikhlas. Disambung oleh Cak Nanang Cah Blitar yang mengais rezeki di Gresik, yang mengembalikan alur diskusi kepada tema. Menurutnya,manipulasi kebenaran dapat dikatakan sebagai kreativitas. Sebagai contoh, proses pembangunan rumah di mana ada tanah dimanipulasi menjadi bata, gunung dieksploitasi dan diolah menjadi semen, dan seterusnya. Hal itu juga merupakan kreativitas yang menguntungkan bagi sang pelaku. Di situ pula kebenaran menjadi embuh, karena pelaku pembangunan itu diuntungkan, akan tetapi bagaimana dengan pendapat para pemerhati lingkungan? Pendapat Cak Nanang ditanggapi oleh Cak Hariri, “manipulasi bukan pada perilaku manipulatifnya, tetapi pada tujuannya. Jikalau Allah tidak menutupi kekurangan diri kita, ‘dadi apa awak dhewe iki‘ (mau jadi apa diri kita)?”.

Suasana semakin dingin ketika Cak Syuaib mengajak jamaah bersama-sama melantunkan “Duh Gusti” dan meminta Gus Farhat untuk menjelaskan Sapa wong sing oleh nikmat sapa wong sing oleh laknat. Gus Farhat sempat tertegun menanggapi bahwa narasi (Duh Gusti) itu sederhana tetapi jeru. Perihal pertanyaan Cak Syuaib, beliau tidak berani menjawab, karena merupakan hak veto Allah SWT. Gus Farhat tampak tertegun kembali serta berucap “Allahu Akbariku tibake tenanan, Allah Maha Berilmu; termanifestasikan pada dialektika forum Telulikuran ini.

Gus Farhat mengatakan bahwa yang beliau lihat dari awal bukan hanya kumpulan orang yang sedang berforum dan berdiskusi, tetapi manifestasi eksistensi kebesaran Allah. Kemudian, beliau merespon Bu Noer bahwa perintah iqra harus dilanjutkan dengan bismirobbikalladzi kholaq, agar senantiasa mendapat bimbingan Allah SWT. Lagi-lagi, Gus Farhat tertegun dengan berlangsungnya forum Telulikuran ini, Saestu niki merinding. Lambe lan njero nggih padha.

Perbedaan adalah keniscayaan, karena segala sesuatu dianggap benar pasti mengandung kesalahan. Oleh sebab itu, kita harus terus mencari sisi positifnya. Serta, dalam mencari kebenaran sejati, kita harus jujur kepada diri sendiri. Mencoba menjawab pertanyaan Cak Syuaib, Gus Farhat mengatakan, “ikhtiar maksimal yang bisa kita lakukan adalah menginventarisir ciri-ciri orang lalim dan seperti apa orang ini-itu”.

Kemudian, Gus Farhat bertanya kepada jamaah yang hadir, “kebenaran itu nyata atau tidak? Kalau tidak nyata, mengapa dibicarakan? Gusti Allah tidak akan bisa dibaca kalau kebenaran itu tidak nyata. Kebenaran itu nyata, Rek,” tegas beliau. Karena nyata, maka kebenaran memiliki bentuk. Allah membuat alam semesta supaya dapat dibaca oleh piranti keras indra manusia. Langit tidak akan bisa disebut langit jika tidak ada bumi. Kebenaran, selain nyata, juga dapat menjawab persoalan di masa depan. Sedangkan cara mencari kebenaran itu bermacam-macam. Ada yang melalui sasmita atau meminta kebenaran langsung dari langit, ada juga yang melalui proses pencarian. Terlepas dari dinamika benar-salah di dunia, beliau menggarisbawahi bahwa kebenaran semata milik  Allah.

Tak lupa Gus Farhat menyatakan, “Syahadat itu kombinasi antara gaib dan nyata. La illaha ilallah dan Muhammadur Rasulullah substansinya batin yang mewakili gaib, dan lahiriyah yang mewakili nyata. (Ingatlah) Kebenaran sejati hanya beralamat di Allah dan Rasulullah”. Tentang masa depan Indonesia, beliau percaya jika kita bersedia introspeksi dan memupus kepentingan diri, maka sejarah keemasan bangsa akan berulang, Indonesia akan menjadi mercusuar peradaban dunia lagi. Untuk itu, kita perlu membentuk keseimbangan diri, memfungsikan kutub positif dan negatif sebagaimana sepasang lempeng rel kereta api yang kanan dan kirinya berdampingan sejajar, bersama-sama mengantarkan pemikiran-pemikiran manusia menuju stasiun tujuan.

Sebelum mengakhiri kalimat, Gus Farhat mengingatkan bahwa kita harus berpihak kepada kebenaran yang konsekuensinya adalah menuju ashabul yamiin dan wassaabiquunassaabiquun. Ilmu pun harus berpihak pada kebenaran. Mengenai relativitas kebenaran, sebenarnya hal tersebut merupakan salah satu hasil pancingan filsafat kuno (barat), di mana kebenaran diukur dari diri sendiri. Nah, kejahiliyahan zaman sekarang adalah perulangan dari filsafat kuno (barat) tersebut. Padahal jika bersedia menengok ke dalam kearifan lokal, kita akan menemukan bahwa kata “Jawa“dalam bahasa Sanskerta berarti ngerti, yakni ngerti melalui marifatullah mengenal dan mengerti Allah melalui sifat-sifatNya, dan mengenal Allah melalui segala yang diciptakanNya dalam alam semesta.

Pak Krisaji memberikan Buku kepada DK dalam Telulikuran edisi ke-19

Telulikuran edisi ke-19 ditutup dengan doa oleh Pak Krisadji dan pemberian hadiah buku “Sang Gresik Bercerita Lagi” untuk Damar Kedhaton.

(ze/ddk)