Prolog Telulikuran DK Edisi #22 – Agustus 2018 “Qurban Kemerdekaan”

Kemerdekaan
Menapaki awal lorong waktu bulan Agustus, kita akan menghirup atmosfer perayaan kemerdekaan negeri ini. Nuansa merah putih bakal menjadi penghias apa saja dan di mana-mana. Dari puncak tertinggi di pegunungan, hingga dataran rendah di tepi pantai, akan kita jumpai atribut merah putih. Baik di tengah hiruk-pikuk roda perkotaan, maupun di sudut-sudut sunyi perdesaan, aroma nasionalisme dengan beragam rupa akan menyeruak. Tidak seperti sebelas bulan lainnya, bagi bangsa Indonesia, bulan agustus memang menyimpan makna khusus, bulan di mana 73 tahun silam kemerdekaan negeri ini diproklamirkan.

Ritual, seremoni, bagaimanapun wujud ekspresinya – entah khusyu’ atau hura-hura –, sepertinya memang menjadi sesuatu yang diperlukan. Secara psikologis kita membutuhkan momen tertentu untuk memanggil kembali memori kolektif masa silam guna menjemput spirit, yang dengannya kita kendarai masa depan. Kita tengok lagi perjalanan yang telah tertempuh bersama sebagai negara bangsa. Juga kita baca ulang apa dan bagaimana situasi kekinian, sembari melakukan refleksi. Sudah barang tentu, cerminnya adalah cita-cita yang sudah kadung tertuang di konstitusi.

Dengan cuaca batin diselimuti guyonan, serta rasa cinta yang penuh pada tanah air, boleh jadi pikiran liar Sampeyan kumat untuk menggoda dengan menyebut tahun ini usia kemerdekaan kita adalah yang ke-73%. Rasanya godaan itu justru akan memantik kita untuk kembali menukik pada definisi : apa itu sejatinya arti merdeka?

Qurban
Selain momen tujuh belasan, agustus tahun ini juga menawarkan momentum yang – bagi umat islam khususnya – eman-eman dilewatkan begitu saja : Hari Raya Idul Adha. Beberapa hari pasca HUT RI ke-73, kita akan menyaksikan prosesi penyembelihan sapi, kambing, dan kerbau. Sebagian umat muslim yang merasa mampu, berkurban. Mereka mengorbankan , merelakan kehilangan sebagian hartanya untuk berbagi dengan sesama.

Agaknya, “qurban” / “kurban” / “korban” hanyalah satu dari sekian kata serapan yang terlanjur dipakai dengan pengertian yang kepreset dari makna asalnya. “Qurban” sebetulnya berasal dari kata qoroba – yaqrobu yang berarti “mendekat”. Kita pun lazim menyebut teman yang dekat dengan “sahabat karib”. Keluarga dengan pertalian darah yang dekat kita sebut “kerabat”.

Qurban Kemerdekaan
Lantas, asosiasi macam apakah yang terbit di benak Sampeyan ketika dua kata ini disandingkan? Sepertinya lebih gayeng jika masing-masing dari kita mbanting urun pertanyaan perihal apapun terkait aspek-atribut-segi-sisi dari frasa ini, dan lalu kita berbareng ber-shodaqoh pendapat mencari jawaban atasnya. Jika ternyata jawaban itu melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru, tak jadi soal. Dulur, mari kita gelar saja perjamuan ilmu ini, dengan tetap berpayung pada wa ilaa robbika farghob, pada :

Jumat, 03 Agustus 2018
Pukul 20:23 WIB
Di MI Hidayatul Ulum II
Dsn. Pacuh, Ds. Pacuh, Kec. Balongpanggang, Kab. Gresik.