Prolog Telulikuran DK Edisi #23 – September 2018 “Mencari Akar”

Jarum jam terus berputar, hingga hari menjadi minggu dan minggu menjadi bulan. Tak terasa Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton tepat menginjak pada edisi yang ke-23nya. Sebuah paduan angka kembar yang eman-eman jika hanya disebut sekedar kebetulan belaka.

Kesadaran akan pengetahuan, kebaikan dan manfaat kita sebagai manusia,- apakah sudah menelusup ke dalam diri sendiri atau bahkan sudah meluas ke orang lain? Sebuah pertanyaan menggelitik yang layak kita gali. Asal muasal dari sebab-akibat yang telah kita lalui di kehidupan ini. Proses pencarian pun tak lekang pada satu titik. Hingga gencarnya berkumpul (melingkar) tak berhenti selalu mencoba mengelaborasi dialektika satu sudut pandang dengan sudut pandang yang lainnya. Mengasah rasa peka dan jeli dalam meraba potensi untuk berbenah diri. Efeknya, kita mampu melangkah maju-menuju titik keseimbangan yang sejati. Merefleksikan diri agar urung luput dari memori lampau ; sesepuh terdahulu, yang telah tanam-tuai sebuah wejangan kepada anak-cucunya. Baik itu adat istiadat, tata krama maupun sesrawungan antar sesama. Demikian hal tersebut sudah banyak dinafikan dan ditinggalkan oleh generasi milenial. Dengan dalih sudah “ndesa” ketinggalan zaman. Bilamana jika kita telusuri lebih mendalam. Semua itu mengandung pelajaran, pengalaman, bias makna positif yang aktual walau tersembunyi.

Seperti halnya untaian piranti dari sebuah pohon. Ada daun, ranting, batang dan akar. Jika direfleksikan dalam siklus sosial hidup manusia, piranti akar adalah para pendahulu/leluhur/sesepuh kita. Bahwasannya sifat akar itu sendiri akan tumbuh menjalar ke dalam tanah menuju sumber air yang jernih-murni-suci. Maka yang demikian merupakan sunnatullah dan hukum alam.

Tak melulu harus dimaknai sebagai yang telah lampau, piranti akar boleh jadi memandu benak kita menuju yang paling pokok, paling mendasar, yang menjadi sumber utama lahirnya gejala-gejala kasunyatan yang bersifat ranting dan daun. Betapa besar energi kita habiskan, hanyut digerus persoalan-persoalan keseharian, baik skala individu, komunitas, bahkan terutama skala berbangsa. Tak bisa dielak, kita merasa perlu mempertanyakan kembali akar dari semua ini. Kecuali kita memang memasang niat untuk “salah bidik” hingga menjadi golongan yang merugi.

Dua dekade yang lampau, melalui syairnya Mbah Nun mengingatkan :

“Loyang disangka emas
emasnya dibuang-buang
Kita makin buta
Mana utara mana selatan
Yang kecil dibesarkan
yang besar diremehkan
Yang penting disepelekan
yang sepele diutamakan”

Berangkat dari poin pengantar di atas, perlu kita cari untaian puzzle-puzzle akar hidup yang tercerai-berai. Terkontaminasi kedangkalan berpikir dan pembaharuan zaman. Maka, dengan berpayung dalam rajut mesra istiqamah wa ilaa rabbika farghab. Kita selami bersama tema “Mencari Akar” dalam Majelis Ilmu Telulikuran edisi ke-23 pada :

Senin, 03 September 2018
Pukul 20:23 WIB
Di Halaman Parkir Pesarean Nyai Ageng Pinatih,
Jl. KH. Kholil 25, Kemuteran, Kebungson, Gresik