Reportase Telulikuran DK Edisi #21 – Juli 2018 “Piala Dunia Akhirat”

Telulikuran kali ini diselenggarakan pada hari sabtu, tanggal 21 Juli 2018. Pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an menandai awal dimulainya kegiatan Majelis Ilmu Maiyah Damar Kedhaton. Beberapa JMDK membaca juz 21 sekaligus menjadi acuan berjalannya Majelis Ilmu telulikuran edisi ke-21. Kali ini JMDK yang berdomisili di Gresik Selatan menjadi tuan rumah yang mempersiapkan segala sesuatu yang bertujuan untuk menyukseskan jalannya majelis telulikuran. Bertempat di LP Maarif NU Madrasah & Diniyah “Darussa’adah” Ds. Menunggal Kec. Kedamean, beralaskan tikar dan beratapkan langit malam menambah syahdunya telulikuran kali ini. “Piala Dunia Akhirat” menjadi payung bagi segenap JMDK dalam menjelajahi medan pencarian ilmu-ilmu maiyah, malam itu.

Deres Al-Qur’an, Pembacaan sholawat oleh tim banjari,serta Mahalul Qiyam

Beberapa jamaah yang telah hadir, langsung saling bertautan batin menyanjung Rasulullah, lantaran lantunan sholawat yang dialunkan merdu oleh tim banjari dari remaja masjid. Pembacaan sholawat oleh tim banjari terkemas secara apik dan jangkep. Ada peranan penting di setiap orang yang bertugas. Memang mereka semua terlihat seperti berlomba-lomba menunjukkan cintanya masing-masing, cinta pada Kanjeng Nabi.

Beberapa menit selepas jam sepuluh malam, Cak Rezki, Cak Bayu, Cak Huda, dan Cak Adib memandu jamaah untuk melatunkan wirid maiyah. Terhitung kurang lebih satu jam seluruh jamaah yang hadir terlarut dalam kekhusyukan wirid dan sholawat. Tentu pembacaan tersebut menjadi kegiatan “wajib” untuk mencicil cinta kepada Allah dan Rasulullah. Dengan harapan kelak di akhirat mendapat rahmat sekaligus syafaat dari Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Demi menjaga adab, setelah sesi wirid Cak Rezky mempersilakan tuan rumah untuk memberikan sambutan. Pak Saiqu, Ketua Yayasan Darus’saadah menyampaikan rasa terima kasihnya atas kedatangan para jamaah. Beliau berharap LP Maarif NU Darussa’adah mendapat kecipratan berkah dari sinau bareng kali ini.

Cak Bayu (Memoderatori) Telulikuran edisi #21

Cak Bayu (Moderator) mempersilahkan Cak Gogon untuk mbeber klasa. Menurut Cak Gogon, telulikuran kali ini mengambil tema yang kebetulan momentumnya adalah Piala Dunia. Dari hasil kesepakatan bersama menemukan tema yang kebetulan memiliki kesamaan getaran frekuensi. Memadukan antara Piala Dunia dibumbui dengan Akhirat, dengan harapan memenuhi keutuhan yang jangkep tidak sempit. Berpegang pada dhawuh Mbah Nun, “ndek dunya iki sekedar outbound, kita ini mahkluk akhirat”. Hidup itu tidak jauh dari sebab-akibat, jadi ketika kita berlomba-lomba memperebutkan piala dunia, maka kita juga sedang berproses meraih piala akhirat.

Cak Gogon mbeber klasa dan Cak Rezky menunjukkan ekspresi yang bersemangat dengan menjadi perespon awal telulikuran malam itu

Seperti pada Telulikuran biasanya, setelah mbeber klasa dilanjut dengan sesi diskusi atau elaborasi tema. Cak Rezky menunjukkan ekspresi yang bersemangat dengan menjadi perespon awal telulikuran malam itu. “Cipta, rasa, karsa. Cipta adalah awal mula terjadinya sesuatu, oleh karena itu kita harus ingat kepada Sang Maha Pencipta. Setelah mengetahui siapa pencipta, otomatis kita akan mulai merasakan yaitu ada pencipta. Kita dilatih dengan adanya ‘rasa’ yang memaksa untuk menjadi manusia peka. Berlanjut ke siklus karsa, kehendak, nafsu, lelaku. Sing paling isok mbok turuti iku akal, kalau hati tidak ada berhentinya”. Tiga konsep yang dijelaskan oleh Cak Rizky tentu berhubungan erat dengan dunia-akhirat. Tanpa cipta kita tidak dapat hidup, tanpa rasa kita tidak akan mampu menikmati hidup, dan tanpa karsa kita tidak akan berguna. Begitulah siklus kehidupan di dunia-akhirat, saling berkaitan dan mengisi satu sama lain (jangkep).

Berkah adanya Piala Dunia Akhirat semakin terasa ketika ada beberapa wajah baru yang terlihat mengikuti telulikuran edisi ke-21 dengan penuh antusias. Terhitung ada delapan jama’ah baru yang diperjalankan untuk datang sekaligus ngguyubi telulikuran pada malam itu.

Cak Gogon urun pendapat mengenai tema yang dibahas. Hidup di dunia itu harus menjadi maestro atau ahli di bidang tertentu. Seperti yang di-dhawuh-kan Mbah Nun pada forum Maiyahan “nek koen bebek ojok dadi pitik”. Cak Gogon mengilustrasikan dalam permainan sepakbola, di sana ada kesebelasan yang memiliki tugas dan fungsi masing-masing. Jika berposisi sebagai kiper, maka dia harus paham mengenai segala sesuatu serta batasan menjadi kiper. Bahwa kiper memiliki tugas untuk menjaga gawang dari kemasukkan bola serta tidak boleh menjauhi garis kotak penalti, kecuali pada saat tertentu yang memang membutuhkan untuk keluar dari sarangnya. Begitu juga dengan penyerang (striker), memiliki tugas untuk memasukkan bola ke gawang lawan serta berwenang untuk mengotak-atik bola di wilayah lawan. Penyerang tentu tidak akan bermain bertahan di wilayah kiper, kecuali memang pada saat yang menkhawatirkan sarang kiper. Dengan mengetahui sudut, jarak, dan resolusi pandang pada wilayahnya masing-masing, maka satu tim kesebelasan tentu berpotensi besar meraih Piala.

Cak Dimas (Tarik Krian) turut mengelaborasi tema Piala Dunia Akhirat

Di lain sudut terlihat Cak Dimas yang ngempet untuk bersuara. Lalu, moderator mempersilahkan Cak Dimas untuk bersuara. Menurut Cak Dimas, Piala Dunia itu identik dengan perebutan tropi bergengsi, keunggulan nama, kegagahan, kekuatan, dll. yang berkaitan dengan dunia. Sedangkan, Piala Dunia Akhirat, adalah hal-hal yang berbau dengan Piala Dunia, namun berorientasi menuju akhirat.

Beberapa jama’ah baru pun mulai tertarik dengan pembahasan tema Piala Dunia Akhirat. Salah satunya Cak Hasan yang berasal dari Malang, menurut tutur beliau Piala Dunia-Akhirat itu memiliki hubungan yang erat. Di dalam ajang bergengsi empat tahun sekali, terjadi persaingan strategi, kekuatan, dan kekompakan kesebelasan sepakbola dari negara-negara terbaik di dunia. Tentu negara-negara tersebut memiliki kualitas pemain yang tidak bisa diragukan lagi. Namun, bukan berarti yang menang adalah yang terbaik dan yang kalah adalah pecundang. Tapi lebih ke arah sportivitas saat memainkan si kulit bundar di atas lapangan.

Cak Hasan yang berasal dari Malang dan Beberapa jama’ah baru pun mulai tertarik dengan pembahasan tema Piala Dunia Akhirat.

Cak Rizky mencoba menambah atau meluaskan lagi dari penjelasan Cak Hasan, bahwa kemenangan dalam Piala Dunia itu memiliki banyak faktor kemungkinan. Beberapa faktor kemungkinan tersebut adalah, kesebelasan terbaik, jago kandang, keberuntungan dsb.

Semakin malam semakin juga banyak jama’ah yang ingin meluapkan argumennya. Cak Makhrus membeberkan argumennya tepat pada pukul 23.40, menjelang tengah malam. Menurut pandangannya, Piala Dunia Akhirat adalah bagaimana cara kita untuk menghadapinya. Mengambil perumpamaan bekerja, “Nek kerja aja golek dhuwek thok, lanjutna terus. Mari golek dhuwek, golek kaya gae nyenengna anak bojo, nek isok nyenengna anak bojo otomatis ati adem. Nek anak bojo seneng, Gusti Allah pasti seneng”. Cak Gogon bergetar tangannya dan langsung mencari mic untuk merespon argumen dari Cak Makhrus, “jangan berhenti mencari di dunia, yang terpenting jangan ada niatan untuk menyaingi”.

Beberapa jama’ah baru pun mulai tertarik dengan pembahasan tema Piala Dunia Akhirat

Moderator mengajak jama’ah agar semakin merapatkan lingkaran, yang di panggung turun, yang sendhepel di tembok kelas bergeser merapat, suasana kian karib dan egaliter. Cak Fauzi terpancing untuk memperluas pandang elaborasi tema malam itu. Menurut paparannya, tema adalah semacam payung raksasa.

Cak Fauzi terpancing untuk memperluas pandang elaborasi tema

Di bawah payung seharusnya ada banyak tikar, dengan harapan bahwa dengan berkumpul akan menambah tikar, perspektif, dan pandangan dari berbagai arah. “Kesan pertama saya setelah membaca prolog adalah, saya merasa perlu pasang kuda-kuda agar tidak terjebak pada sikap memperlawankan antara ‘dunia’ atau ‘akhirat’?”. Nyatanya memang pada realitas yang terjadi, banyak orang yang lebih mencari dunia katimbang akhirat. Merujuk pada salah satu hadits Kanjeng Nabi Muhammad saw. “Berbuatlah di dunia seakan-akan kamu akan hidup selamanya, dan beribadahlah seakan-akan kamu besok akan mati”. Penambahan kata Piala memiliki kesan ada semacam penghargaan, hadiah, atau reward. Jadi Piala tersebut akan kita peroleh setelah melewati berbagai tantangan, perlombaan, atau persaingan. Sedangkan dalam frasa “fastabiqul khairat”, makna yang dikandung adalah perlombaan, bukan pertandingan. Dalam pertandingan, kita berhadap-hadapan mengalahkan lawan. Tidak demikian halnya dalam perlombaan.

Cak Nanang ikut urun membeberkan pandangan tentang tema yang dibahas. Mengambi dhawuh Mbah Nun yang berbunyi “mengakhiratkan dunia”. Meskipun di dalam kehidupan ini tidak jauh dari sebuah perlombaan, persaingan, dan kompetisi, tetapi semua tujuan tersebut menuju ke akhirat. Beliau juga merespon kata perlombaan yang dilontarkan oleh Cak Fauzi, “bahwa perlombaan itu bukan untuk saling menyaingi”.

Cak Gogon, Cak Haqiqi, dan Cak Hadi : menginisiasi untuk menyedekahkan suaranya dengan menyanyikan tiga judul lagu. Tiga judul lagu tersebut antara lain, Kemesraan, Yamko Rambe Yamko, dan Bongkar.

Suasana malam bertambah dingin, Cak Gogon, Cak Haqiqi, dan Cak Hadi menginisiasi untuk menyedekahkan suaranya dengan menyanyikan tiga judul lagu. Tiga judul lagu tersebut antara lain, Kemesraan, Yamko Rambe Yamko, dan Bongkar. Seluruh jama’ah terbawa atmosfer hingga secara spontan ikut menyanyikan beberapa lagu tersebut. Beberapa nomer lagu tersebut kembali menyegarkan benak para jamaah untuk siap memasak berbagai ilmu.

Pada kesempatan telulikuran edisi ke-21 ini, Cak Amin (BBW) yang baru tiba dari Kalimantan, turut hadir. “Tidak ada aktivitas dunia melainkan hakikatnya adalah aktivitas akhirat atau menuju keabadian”. Cak Amin memberikan satu contoh riil dalam kehidupan sehari-hari. Contoh tersebut yaitu, ketika beliau mengajak ngopi Mas Dio. Memang ngopi terlihat sebagai aktivitas dunia, namun di sana ada laku bersahabat, bercengkerama, bersilaturrahim dll. Salah satu aktivitas nyata yang telah digunakan Cak Amin sebagai contoh semakin meyakinkan, bahwa tidak ada aktivitas yang bersifat duniawi. Cak Fauzi merespon pendapat Cak Amin. Semua aktivitas di dunia itu bersifat akhirat, tetapi masih ada beberapa orang yang membedakan antara aktivitas dunia dan akhirat. Pembedaan ini berangkat dari kesadaran, mindset yang kepreset. Maka beruntunglah kita diperjalankan memunguti ilmu-ilmu maiyah, yang darinya Mbah Nun menuntun kesadaran kita agar tepak.

Jama’ah turut mengelaborasi tema Piala Dunia Akhirat

Cak Djalil ikut meramaikan elaborasi tema Telulikuran edisi ke-21. Beliau lebih berfokus pada pernyataan Cak Fauzi tentang Piala-Dunia-Akhirat, “Piala itu universal, piala di titik mana? Dunia? Akhirat? Dunia-Akhirat?”. Cak Gogon menanggapi argumen dari Cak Djalil, menurut keterangan beliau, piala dapat diibaratkan sebagai penghargaan dalam kejuaraan dunia. Akan tetapi, dari setiap pemain masing-masing pasti memiliki track record sendiri-sendiri. Satu tim mendapat gelar bergengsi empat tahunan sekali, namun setiap pemain pasti memiliki sumbangasih yang berbeda-beda.

Cak Mustofa ikut bersuara untuk menyatakan pendapatnya. Beliau mengilustrasikan bahwa Piala Dunia Akhirat merupakan ujian dari Allah SWT. Dan pemenang yang sejatinya adalah Baginda Muhammad SAW. kebanyakan manusia zaman now terlalu merayakan dari awal dengan penuh hura-hura layaknya supporter bola.

Pria berambut gondrong, menutupi kepala dengan topi hitam, serta berusaha menghangatkan tubuh dengan memakai jaket jeans berwarna biru. Pria tersebut bernama Cak Teguh dari Driyorejo. Ia merespon poin dari Cak Fauzi tentang ‘kesadaran’ dan penjelasan Cak Amin tentang ‘orientasi akhirat’. Pendapat dari Cak Teguh terkesan seperti nyeleneh atau sulit difahami dengan kaca mata kuda, dan tentu harus mencakrawalakannya. “Aku mung rene ya rene, mbuh wong liya ngomong mengakhiratkan ya gak ngurus. Aku nandi-nandi gak kepikiran akhirat, ya mlaku sak anane. Aku sembahyang tujuanku mek siji gae ndugakna wong tuwa thok”.

Cak Hasan kembali merespon untuk yang kedua kalinya. “Dunia hanyalah piala, piala gawe wong-wong sing nguber kebagusan”. Semua orang pasti memiliki pandangan yang sama tentang piala dalam satu titik tertentu. Titik tersebut berasal dari faktor sebab-akibat. Jika seseorang mendapatkan Piala Dunia tanpa memanfaatkan menuju kebaikan, maka Piala Dunia tersebut didapatkan secara sia-sia. Piala Dunia hanyalah satu tahapan dari berbagai macam tahapan yang lainnya.

Cak Teguh (Bunder) menshodaqohkan pikirannya tentang tema telulikuran edisi ke-21.

Cak Amin (tertarik dengan paparan dari Cak Teguh, oleh karena itu ia mencoba menanggapi argumen dari Cak Teguh. “Sembahyang tujuan e gawe dungakna wong tuwa kan, gak ana salah e, soal e tujuan e apik kan??”. Ia menggarisbawahi bahwa semua aktivitas itu selalu ketemu dan menuju Gusti Allah. Selain itu, Cak Amin juga merespon argumen dari Cak Hasan mengenai tahapan atau tingkatan Piala Dunia. Menurutnya, bahwa Piala Dunia dinggap sebagai tingkatan atau tahapan tidak menjadi masalah. Ia ingin memperluas arah pandangan dengan sedikit memberikan contoh terjadinya peristiwa Perang Badar pada zaman Rasulullah SAW. perang badar adalah salah satu perang terbesar umat Islam pada masanya. Rasulullah SAW memberikan amanah yang begitu besar kepada umat Islam, bahwa sesungguhnya perang terbesar adalah perang melawan dirimu sendiri, yaitu hawa nafsu.

Waktu menunjukkan dini hari, masih saja ada jama’ah yang merespon bab Piala Dunia Akhirat. Cak Teguh (Bunder) menshodaqohkan pikirannya tentang tema telulikuran edisi ke-21. Ia menjelaskan bahwa, ketika ada turnamen bergengsi yang diselenggarakan empat tahun sekali dan memperebutkan juara alias Piala Dunia, maka pasti ada syarat, aturan, ketentuan, dan hukum tertentu untuk dapat mengikuti Piala Dunia tersebut. Cak Teguh memberi perumpamaan dengan ‘AMDK. Setiap orang pasti memiliki cara, sudut, dan jarak pandangnya masing-masing. Ada yang menyebutnya sebagai aqua, club, gelas berisi air, dsb. Jika dikaitkan dengan Piala Dunia Akhirat maka, tiap individu pasti memiliki perspektif yang berbeda dan tentu sesuai dengan kapasitas ilmu yang dimiliki. “Mudah-mudahan dengan kita bermaiyahan adalah salah satu jalan nyicil menuju akhirat”. Pungkas Cak Teguh untuk menutup pendapatnya.

Tepat pukul 02.00 telulikuran ditututup dengan membaca Al-Fatihah  yang dipandu oleh Cak Gogon, dengan harapan apa yang diperoleh dari telulikuran edisi ke-21 menjadi bahan untuk terus menerus sinau nyicil menuju Piala Dunia Akhirat yang seutuhnya.

(kis/ddk)