Reportase Telulikuran DK Edisi #22 – Agustus 2018 “Qurban Kemerdekaan”

Dengan memohon welas Rahman dan Rahim dari Sang Maha, JMDK kembali diperjalankan melakoni aktivitas yang telah menjadi rutinitas pada tiap bulan. Aktivitas tersebut tentu menjadi salah satu jalan untuk melampiaskan kerinduan para JM khususnya di wilayah Gresik. Telulikuran kali ini diselenggarakan di Gresik bagian barat. Gresik wilayah barat meliputi 4 kecamatan ; Balonggpanggang, Benjeng, Duduk Sampeyan, dan Cerme. Kali ini Balonggpanggang menjadi tuan rumah, tepatnya di MI Hidayatul Ulum II Desa Pacuh. Seusai merampungkan persiapkan pra-acara, beberapa dulur Balonggpanggang mengawali telulikuran dengan nderes Al-Qur’an juz 22. Seperti pada lazimnya acara telulikuran, pengambilan nomor juz tentu menyesuaikan dengan edisi ke berapa perjalanan telulikuran telah tiba. Juz 22 menandakan bahwa telulikuran telah berjalan selama ke-22 kali. Cak Shomad men-shodaqohkan waktu, suara, dan badan untuk urun nderes Al-Qur’an juz ke-22. Pembacaan Al-Qur’an rampung pukul 20.38 tepat. Suara bacaan Al-Qur’an membawa kehangatan atmosfer di sekitar lokasi yang begitu dingin.

nderes Al-Qur’an juz 22 dilanjutkan dengan lantunan sholawat nabi oleh Tim Banjari Qotrun Nada asli Desa Pacuh menyambut kehadiran jamaah

Usai nderes, Tim Banjari Qotrun Nada asli Desa Pacuh menyambut kehadiran jamaah dengan lantunan sholawat nabi. Tabuhan jari jemari para penerbang dipadu dengan suara indah para vokalis membuat suasana menjadi kian hangat. Terhitung tak kurang dari 10 nomor sholawat yang telah digarap tanpa henti selama satu jam. Bayangkan, betapa indahnya lantunan sholawat yang telah dikumandangkan serta dikemas secara apik tanpa dikomando berjalan seperti air mengalir. Selain itu, kesabaran mereka telah teruji di malam yang penuh berkah tersebut. Aktivitas mereka seakan-akan telah diperjalankan oleh Sang Maha Menjalankan.

Detik berjalan ke menit, dari menit menuju jam. Wirid-wirid maiyah dilantunkan bersama-sama, dipuncaki dengan mahallul qiyam. Rasa ketertundukan pada Gusti Pangeran dan kerinduan pada Kanjeng Nabi terekskalasi di lapangan MI Hidayatul Ulum II. Diselimuti dinginnya semilir angin tepi sawah Desa Pacuh, batin jamaah dibelai lembut oleh khusyuknya kebersamaan dalam menghaturkan cinta.

Cak Fauzi (moderator) memulai membuka majelis ilmu Damar Kedhaton

Memasuki sesi pembukaan, Pak Sukadi selaku sesepuh Desa Pacuh dipersilakan Cak Fauzi untuk memberikan sambutan. Pak Sukadi tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya menjumpai puluhan pemuda berkumpul melingkar mencari ilmu. Pemandangan itu mengingatkannya pada memori dua puluh tahun yang lampau, ketika beliau rajin datang mengikuti Padhang mBulan. Suasana pengajian di penghujung masa orde baru itu sempat beliau ceritakan. Terhadap situasi kekinian, beliau menuturkan keprihatinannya, “saya prihatin melihat pemuda zaman sekarang di kampung-kampung seberang jalan hanya asyik bermain hp dengan wifi-an. Tidak ada lagi komunikasi yang wajar antar mereka”. Pak Sukadi berharap kelak Lingkar Maiyah Gresik menjadi generasi penerus penyelamat bangsa. Beliau juga berpesan kepada JMDK agar senantiasa mengikuti kegiatan maiyahan dengan sabar dan istiqomah, tentu keistiqomahan itu membutuhkan pengorbanan, baik waktu, tenaga, maupun materi.

Telulikuran kali ini kebanjiran beberapa dulur baru. Seperti pada edisi telulikuran sebelum-sebelumnya, maka beberapa dulur baru dipersilakan untuk memperkenalkan diri. Kurang lebih 28 dulur baru yang terlihat pertama kali mengikuti telulikuran yang dilaksanakan oleh Damar Kedhaton. Banyaknya dulur baru yang rawuh dalam majelis ilmu Damar Kedhaton menambah spirit urip sesemutan. Semakin banyak yang rawuh semakin banyak pula bahan mentah yang siap digodhog.

Cak Fauzi (moderator) memulai membuka majelis ilmu Damar Kedhaton dengan menawarkan filosofi dari sinau bareng. Sinau bareng bisa dianalogikan sebagai kenduren. Setiap orang membawa persembahan dari rumah masing-masing. Wujudnya sangat boleh bervariasi, boleh membawa apem, jeruk, nagasari, semangka, dll. Ketika tiba di lokasi, seluruh peserta kenduren menyuguhkan apa yang dibawa, untuk dinikmati bersama. Tidak disarankan untuk mencari keunggulan apem dibanding jeruk. Tidak juga perlu mengidap rasa rendah diri karena semangka yang dibawa lebih murah katimbang apel. Semua peserta kenduren hanya mengutamakan kemesraan dalam menikmati segala suguhan, demi mendapat keberkahan.

Cak Abit (Surabaya) memaparkan pembahasan tema

Berikutnya, giliran Cak Alfian memaparkan prolog tema yang dibahas dalam majelis ilmu telulikuran malam itu. Memanfaatkan momentum Qurban dan Kemerdekaan, maka JMDK bersepakat untuk menjadikan “Qurban Kemerdekaan” sebagai tema dalam telulikuran edisi ke-22. Bahwa sebenarnya kita dalam konteks bernegara masih belum merdeka secara mutlak. Qurban Kemerdekaan bisa juga diartikan mendekat atau menjauh dari kemerdekaan itu sendiri. Mendekat bermakna mempersempit arti kemerdekaan dalam hal bebas dari penjajah dari sisi fisik wilayah Indonesia. Menjauh dari kemerdekaan dapat dimaknai sebagai memperluas cakupan arti dari kemerdekaan, yaitu lebih dari sisi fisik melainkan meruncing ke berbagai wilayah. Berbagai wilayah tersebut bisa mencakup rohani, materi, cara berpikir dsb. Mbah Nun dalam kesempatan waktu pernah dhawuh “Merdeka adalah mengetahui tentang batas-batas”.

Usai prolog dibabar, Cak Fauzi memantik para jamaah untuk merespon tema dengan memberikan pertanyaan ataupun pernyataan yang berkaitan dengan tema Qurban Kemerdekaan. Respon tersebut ditulis dan dikirim ke grup whatsapp Damar Kedhaton. Ajakan Cak Fauzi disambut baik jamaah, baik yang sudah, belum, atau tidak hadir. Seluruh jamaah terlihat begitu asik mengotak-atik HP-nya masing-masing. Bagi jamaah baru yang belum tergabung dalam grup whatsapp Damar Kedhaton juga diberi ruang yang lebar. Mereka dimuliakan dengan didatangi oleh beberapa dulur pegiat untuk membantu menuliskan respon. Terkumpul beberapa pertanyaan yang sangat mendalam, secara garis besar terangkum menjadi satu pertanyaan. Merdeka iku apa? Sejatine apa? Nek ana bates’e, bates apa?.

Beberapa jama’ah baru pun mulai tertarik dengan pembahasan tema

Cak Purwo melontarkan respon awal terkait tema Qurban Kemerdekaan. Terpampang raut muka yang antusias dari Cak Purwo, meskipun baru pertama kali mengikuti Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton, ia terlihat nyaman dan enjoy mengemukakan pendapat untuk pertama kalinya. Sungguh indah atmosfer yang terjadi pada majelis sinau bareng. Bahwa jamaah baru pun juga diperlebar pintu masuknya guna bisa mengikuti sinau bareng bahkan dipersilakan untuk bersuara. Ia sedikit bercerita tentang pengalamannya ketika sedang ikut membantu menata panggung, memasang umbul-umbul, bendera merah putih dll. pada saat peringatan guna memeriahkan bulan kemerdekaan. Bayangan yang ada pastinya sangat luas wilayahnya, akan tetapi pelaksanaannya pasti berbenturan dengan di mana kita berwilayah. Apabila di lingkup RT berarti peran kita cukup di lingkungan RT, karena di luar wilayah tersebut sudah menjadi hak dan kewenangan orang lain.

Cak Amin juga tidak ingin menyia-nyiakan momen majelis ilmu telulikuran Damar Kedhaton kali ini. Ia termasuk jamaah yang baru mengikuti telulikuran Damar Kedhaton. Menurut lelaki dari dari Sukomanunggal Surabaya ini, kemerdekaan pada zaman sekarang hanya terbatas pada ukuran senang-senang, hura-hura, perayaan pesta.  Ukuran mata pandang pada zaman sekarang terkesan kurang mengenali lebih mendalam tentang perjuangan masa lalu. Pada dasarnya kemerdekaan harus sesuai dengan perjuangan mbah-mbah pendahulu kita, semisal Sukarno, Mbah Cokro, Bung Tomo dan semua nama besar yang turut memperjuangkan harga diri bangsa. Momen kemerdekaan bukan hanya sebatas pemasangan umbul-umbul di sepanjang jalan pedesaan maupun di depan rumah-rumah. Toh di taman kanak-kanak juga bisa merayakannya hanya dengan simbolitas bendera maupun umbul-umbul. Sebenarnya di setiap momen bulan kemerdekaan yang diperingati setiap setahun sekali memunculkan satu pertanyaan yang mendasar, yakni apakah semakin mendekatkan kepada hakikinya kemerdekaan atau malah semakin menjauhkan dari makna substansial kemerdekaan?.

Cak Abit, seorang jamaah yang berasal dari Surabaya turut merespon tema. “Pada dasarnya semua makhluk itu terbatas, namun banyak yang mengartikan sebagai kebebasan”, tuturnya. Menurut sudut pandang Cak Abit, merdeka adalah suatu bentuk kebebasan untuk memilih dan menentukan batasan pada diri sendiri. Cak Fauzi merespon pendapat Cak Abit, bahwa jamak dijumpai, bahkan sangat mungkin terjadi pada diri kita sendiri, bahwa yang menentukan batasan kita justru adalah otoritas di luar diri. Yang lebih bikin terhina, otoritas itu bernama trend.

Berikutnya, Cak Purnomo urun perspektif makna kemerdekaan dalam lingkungan keluarga, bahwa satu keluarga akan menikmati kemerdekaan yang hakiki jika mampu merasakan segala sesuatu yang berasal dari dalam keluarga tersebut bukan dari luar keluarga.

Detik beranjak ke menit hingga langit malam semakin menghangatkan atmosfer majelis ilmu telulikuran. JMDK masih bersemangat untuk melanjutkan diskusi. Cak Yudha bersepaham dengan pendapat Cak Abit, bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu relatif. Titik merdeka terletak pada bagaimana seseorang menyikapi keadaan lingkungan sekitar. Merdeka yang abadi adalah ketika mendapatkan ketenangan di surga. Cak Yudha mencoba mengaitkan antara Qurban dan Kemerdekaan, jika dihubungkan dengan salah satu ayat dalam Al-Qur’an. Allah berfirman “Allah tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah”. Beribadah bisa juga memiliki arti berqurban alias mendekat, jadi selama beribadah kepada Allah otomatis kita akan terus berqurban kepada Allah SWT.

Selanjutnya, Cak Adit menyeruak benak jamaah dengan menyatakan bahwa bangsa indonesia sejatinya masih belum merdeka. Inonesia masih dijajah oleh pihak asing, namun bentuk penjajahan tak lagi dalam hal kedaulatan fisik atau wilayah teritorial. Penjajahan masa kini adalah penguasaan aset-aset bangsa yang dikendalikan pihak asing. Aset-aset tersebut bisa berupa perusahaan multinasioanal, media televisi, dan sebagainya. Masyarakat indonesia terlena dengan berbagai macam tipu daya yang seakan-akan menyejahterakan, tetapi pada dasarnya menyengsarakan. Penguasaan beberapa aset bangsa tersebut dapat melunturkan, menghapus, sekaligus merubah karakter asli bangsa dari Indonesia.

Cak Fauzi merespon salah satu pertanyaan jamaah tentang hiburan yang pantas dilaksanakan guna memeriahkan sekaligus memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke-73. Menilik realitas yang terjadi, bahwa peringatan yang digelar pada zaman sekarang kebanyakan mengundang kelompok musik dangdut, yang kemudian mencipta atmosfer sekedar pesta pora nan hura-hura, dan notabene kelompok tersebut bukan berasal warga yang merayakan perayaan. Fakta tersebut sering dijumpai di lingkungan pedesaan. Padahal seharusnya untuk memperingati HUT RI ke-73 dapat mengambil SDM dari lingkup kecil, misal dalam satu dusun. “peringatan HUT RI ke-73 yang substansial adalah memaksimalkan potensi yang berasal dari warga, oleh warga, dan untuk warga, serta mengemas acara yang lebih bermakna, kontemplatif, dan sebagai ungkapan rasa syukur, bukan meluapkan melampiaskan kegembiraan secara hura-hura semata,” pungkas Cak Fauzi.

Cak Mustofa Ngabei turut merespon. Ia menganalogikan dengan istilah pohon dan akar kemerdekaan. Di dalam pohon kemerdekaan boleh ada pembangunan, perombakan, dan renovasi. Namun segala sesuatu yang menyangkut pembaharuan tidak boleh menghilangkan identitas asli indonesia yang bernama kearifan lokal. Jadi menghias, mengecat, memasang pernak-pernik, lampu pohon kemerdekaan sanat dianjurkan asal tidak menghilangkan jati diri bangsa Indonesia. Selanjutnya mengenai akar kemerdekaan adalah kebebasan hak-hak rakyat milik anak negeri yang tidak boleh dikotori dengan sampah-sampah adu domba yang dapat menyengsarakan.

Cak Adib mencairkan suasana yang sedikit tegang serta menguras kinerja otak denga statemen yang menggelitik, tentu statemen yang dilontarkan oleh Cak Adib adalah keaadan yang dialami olehnya. “Jomblo merupakan bagian dari kemerdekaan”. Menurutnya, jomblo adalah pilihan, di mana seseorang harus rela bersabar, bertahan, serta mencari jodoh yang sesuai dengan kehendak Allah swt. Statemen itu sontak mengundang gelak tawa dari beberapa jamaah yang hadir pada malam itu.

Jarum jam menunjukkan pukul 00.45 tepat. Cak Ridwan ikut urun membawakan puisi karya Gus Mus. Ia mendeklamasikan puisi dengan penuh rasa penghayatan diri yang mendalam. Semua itu terlukiskan lewat mimik wajah dan gesture yang relevan dengan makna yang terkandung dalam puisi tersebut.

Cak Fauzi merespon pertanyaan Cak Adit dalam bentuk pertanyaan untuk membangkitkan gairah berpikir kritis dan meluas.“Apakah kemerdekaan dimasa era globalisasi ini banyak manfaat atau mudlorotnya?”. Cak Adit menjawab, bahwa globalisasi atau tepatnya zaman sekarang hanya terfokus kepada bagaimana caranya menyongsong kemerdekaan dengan hal-hal yg berbau positif, namun rata-rata pemuda pada zaman sekarang banyak yang menyalahgunakan dengan cara yang keluar dari arah konteks pemuda yang sesungguhnya, misal mendem, orkesan, main, dst.

Cak Rezki ikut urun elaborasi tema. Ssebenarnya kita, para pejabat, atau masyarakat Indonesia dalam konteks luas, secara tidak sadar sedang mengorbankan kemerdekaan bangsanya sendiri. Terkait dengan kemerdekaan bangsa, seharusnya kita harus bisa menjaga, mensyukuri, serta menggunakan untuk hal-hal yang positif. Bahwa dikorbankan bukan hanya tentang sapi atau kambing, melainkan lebih kepada kemerdekaan bangsa indonesia sendiri.

Cak Sakir ikut menanggapi tema telulikuran edisi ke-22. Menurutnya, kemerdekaan adalah bagaimana kita sebagai penduduk indonesia mampu melestarikan, menjaga, dan mengembangkan kebudayaan asli bangsa indonesia.

Cak Abit memberikan sudut pandangnya tentang kemerdekaan. “Asline merdeka iku gak onok”. Menurut beliau, melihat beberapa data sejarah yang pernah diperoleh selama ini. Dulu ketika sebelum era ’45, bangsa Indonesia dijajah oleh Belanda kurang lebih 3,5 abad, setelah itu masih ada jepang yang bergairah untuk melanjutkan selama kurang lebih 3,5 tahun. Penjajahan pada masa Belanda, Indonesia diambil rempah-rempahnya saja. Lewat VOC, Belanda menjajah indonesia dalam konteks ekonomi. Setelah era ’45 Indonesia telah merdeka, namun masih saja ada pihak yang menyetir jalannya roda kehidupan di tanah Indonesia. Di zaman sekarang baanyak pemuda desa berlari ke kota menggantungkan nasib pada universitas ternama dan peluang lowongan kerja. Lalu kembali ke desa untuk memberikan pemahaman yang menyeleweng dari kearifan lokal Desa.“Sebenarnya banyak sektor yang mampu mendorong kejayaan Indonesia, salah satunya lewat sektor agrobisnis,”  pungkas Cak Abit menutup pembicaraannya.

Cak Purwo menanggapi tentang teknis memeriahkan kemerdekaan,“saya memberikan mindset kepada para pemuda untuk menumbuhkan kreativitas di lingkungan kampungnya”. Cak Purwo juga menanggapi pendapat Cak Abit tentang kemerdekaan ’45. Menurut beliau, jangan mengambil makna kemerdekaan dalam skala luas. Dahulukanlah lingkup sendiri, pertama berdaulat diri, kedua dalam lingkungan keluarga, dst.

Cak Yudha merespon paparan dari Cak Abit, “kenapa zaman sekarang masih banyak pemuda desa yang berlari ke kota? Cari kerja? Cari kampus terbaik?”  Dan pada kenyataannya para pemuda tersebut telah masuk perangkap penjajah secara halus.  Mbah Nun sering juga menyampaikan pesan“nek dadi tempe dadi o tempe, ojok dadi tahu”. Dari pesan tersebut dapat diperluas lagi maknanya, jika sudah menjadi ahli maka kita akan lebih mudah untuk saling mengisi di antara kekosongan tersebut.

Cak Madrim turut mengelaborasi tema. Ia menceritakan pengalaman dari Semarang. Cak Madrim beberapa hari lalu ikut sinau bareng dengan Majelis Gugur Gunung yang ada di Ungaran Semarang. Ada beberapa “kemerdekaan” di sana, salah satunya adalah beberapa JM mampu menemukan padi jenis baru yang tingginya dapat mencapai 2 meter. Di sana para JM sudah mulai mencoba memberdayakan masyarakat secara mandiri, salah satunya adalah nandur lombok. Selain itu, bahwa semua hasil bercocok tanam dapat dirasakan sekaligus dinikmati oleh mereka sendiri. Cak Yayak juga ikut memperkuat cerita pengalaman dari Cak Madrim,“kita ambil dari dulur Semarang itu lebih ke eksekusinya. Namun masih terkendala SDM-nya”.

Cak Djalil menambahi sudut pandang tentang kemerdekaan. Menurut ia, merdeka dapat dirasakan lewat kaca mata pandang individu seseorang ketika mampu untuk berdaulat atas dirinya sendiri. Seseorang yang mengontrol dirinya sesuai dengan lingkungan sekitar tanpa harus mengikuti lingkungan sekitar tersebut.

Waktu mengalir hingga menuju sepertiga malam terakhir, dinginnya hawa malam dihanatkan oleh banyaknya respon para JMDK yang hadir. Cak Gogon semakin bergairah untuk menambah hangatnya kemesraan malam itu dengan memberikan argumennya. Cak Gogon berpendapat bahwa, semua sejarah yang berkembang saat ini banyak yang dimanipulasi. Ia juga mencoba menanggapi perspektif Cak Abit tentang penjajahan. “Sebenarnya Ibu Pertiwi sejak dulu telah berjuang menghadapi penjajahan” respon Cak Gogon. Jika berbicara tentang merdeka, maka bangsa indonesia aslinya belum merdeka. Merdeka menurut sudut pandang individu adalah kebebasan untuk memilih dan menentukan kehendak tanpa ada paksaan dari pihak lain.

Cak Hari perespon terakhir mencoba untuk memperluas mata pandang para JMDK yang hadir dan meluruskan kembali tujuan utama sinau bareng adalah untuk mencari apa yang benar bukan siapa yang benar. Ia juga menambahkan poin tentang kemerdekaan, perlu untuk menarik waktu ke sejarah masa lalu guna memperlebar pengetahuan ke masa mendatang. Kemerdekaan adalah kebebasan untuk mengetahui batasan, bebas berpendapat, berdaulat, dan bercakrawala luas dengan batasan tidak menyalahkan orang lain.

Lantunan surat Al-Fatihah dan Hasbunallah menutup perjumpaan para JMDK di Desa Pacuh Baloggpanggang

Jarum jam menunjukkan angka tiga, pertanda untuk mengakhiri sinau bareng telulikuran edisi ke-22. Penutupan sinau bareng bukan berarti untuk menghentikan proses belajar. Proses belajar para pejalan maiyah tentu sudah memiliki pola pikir untuk terus berproses tanpa mengharapkan hasil yang tetap. Bahwa kebenaran dari sinau bareng akan berjalan dinamis, menyesuaikan perkembangan zaman. Lantunan surat Al-Fatihah dan Hasbunallah menutup perjumpaan para JMDK di Desa Pacuh Baloggpanggang. Semoga para pejalan Maiyah semakin diarahkan oleh Sang Maha Mengarahkan untuk mampu memahami Qurban Kemerdekaan secara jangkep.

(kis/ddk)