Prolog Telulikuran DK Edisi #24 – Oktober 2018 “Sumbat Sambat Sambut Sumbut”

Berangkat dari kesadaran yang masih  belum jangkep di pagi hari, bahkan sudah cenderung siang, berangkat dari kesadaran yang seakan sudah jangkep saat malam, bahkan sudah cenderung pagi. Menjalani putaran waktu yang tanpa tahu awal dan akhirnya hari, sepanjang waktu kesadaran bahwa kita sedang hidup di kehidupan. Namun, tidak di setiap satuan waktu kita menyadari bahwa kita sedang dihidupi oleh kehidupan, mengikuti putaran waktu dari sisa waktu rutinitas, berada di antara kawan-kawan, menghimpun masalah-masalah, keluhan-keluhan, kekurangan-kekurangan, keputus-asaan dan seterusnya, membicarakan bersama-sama, tentu tidak selalu harus ditemukan solusinya.

Mungkin kita semua sepakat, bahwa semua kesulitan yang dirasakan adalah pertanda hidup dalam kehidupan. Tapi, benarkah  kesulitan-kesulitan itu memiliki tingkat sama pada setiap individu?

SUMBAT SAMBAT SAMBUT SUMBUT. Bisa dijatuhi tuduhan (hanya) mengkait-kaitkan kata dan suku kata, bisa juga rangkaian kalimat dan tentu bisa berarti dalam bahasa jawa _paribasan_ dari fitrah kelahiran manusia sebagai unsur utama dari kehidupan semesta.

SUMBAT = Buntu (kebuntuan/persoalan)

SAMBAT = Keluh (mengeluh)

SAMBUT =Sambut (menyambut, kerja dan usaha)

SUMBUT = Kesesuaian (antara usaha dan harapan)

Dulur, Majelis Ilmu Telulikuran kini menapaki putaran ke-24. Bersama-sama akan kita gelar perjamuan ide demi melakukan elaborasi, pendalaman, penguraian serta pencarian nilai-nilai Maiyah melalui tema “Sumbat Sambat Sambut Sumbut“. Simulasi saling sambat-sambut atas realitas sehari-hari tentu menjadi pintu utamanya. Mari kembali berhimpun, melingkar, tetap dalam naungan payung wa ilaa rabbika farghob serta wa laa tansa nashiibaka minad-dunyaa, pada :

 

Selasa, 02 Oktober 2018

Pukul 20:23 WIB

di Cindelaras Café n Galery

Desa. Siwalan, Kec. Panceng, Kab. Gresik