Dalam sebuah Tajuk berjudul “Allah Pusat Simpul Maiyah” (diterbitkan www.caknun.com pada 17 Maret 2018), Mbah Nun menawarkan ajakan kepada anak cucunya untuk membangun semacam perjanjian agung, Mitsaqan Ghaliza. Terdapat 17 butir substansi di Tajuk itu.
Pada butir ke-5, tersurat kalimat-kalimat padat makna dengan muatan utama yang sifatnya muhasabah-introspektif, sebagai berikut :
………
Salikul Maiyah di koordinat mana saja
Siap membangkitkan kembali keberaniannya
Untuk selalu tangguh menemukan kekeliruannya
Siaga memastikan kembali kerendahan hatinya
Untuk mengakui kekhilafannya
Selalu gagah perkasa terhadap dirinya
Menertawakan prasangkanya atas kehebatan dirinya
………
Tanpa merasa telah khatam dalam memahami 16 butir lainnya, tanpa menganggap satu poin lebih krusial dibanding lainnya, tapi lebih pada kesadaran bahwa butir kelima rasa-rasanya sedang kompatibel terhadap realitas keseharian kita, maka “Salikul Maiyah” boleh jadi akan mengantarkan kita pada terbukanya ruang penggalian nilai-nilai maiyah, yang sedang kita coba jalankan. Atau, mungkin juga melaluinya kita hendak melakukan pemetaan atas 17 butir Tajuk itu? Apakah serupa bangunan yang berpintu belasan, ataukah sejenis tangga nilai yang mensyaratkan adanya pentahapan?
Dulur, mari senantiasa setia dalam derap langkah istiqamah berproses. Wa’tashimuu bihablillaah, penggalan ayat tersebut kerap kali dihatur-pesankan Mbah Nun pada jamaah maiyah. Maka, berkenanlah hadir dan berbareng memetik satu demi satu ragam ilmu serta cakrawala baru dari pintu tema “Salikul Maiyah” telulikuran edisi ke-25 yang diselenggarakan pada :
Rabu, 31 Oktober 2018
Pukul : 19.23 WIB
Bertempatan di : Kantor MWC NU Menganti,
Jl. Raya Pelem Watu, Kec. Menganti, Gresik