Reportase Telulikuran Edisi #27, Desember 2018 MILAD DUA TAHUN DAMAR KEDHATON ”BERDAYA DAN BERKARYA” – Bagian I

“Berdaya dan Berkarya”, sebuah tema yang diangkat oleh dulur-dulur Damar Kedhaton pada Telulikuran edisi yang ke-27. Sabtu, 15 Desember 2018 menjadi hari yang menggembirakan bagi dulur-dulur Jannatul Maiyah (JM) yang berdomisili di Gresik. Terhitung sudah dua tahun Damar Kedhaton (DK) melangkahkan kaki untuk setia dan istiqomah berproses dalam bermajelis ilmu. Pada hari istimewa tersebut, berbagai rangkaian kegiatan yang terdiri dari tiga kelas, yaitu sinau bareng pemasaran online, workshop desain grafis, dan workshop sablon, diselenggarakan mulai dari pagi hingga terbenamnya matahari. Ketiga kegiatan yang dipersembahkan untuk masyarakat umum, khususnya wilayah Gresik dan sekitarnya ini, tentu tidak lain sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Allah SWT yang telah mencipratkan anugerah-Nya kepada beberapa dulur Damar Kedhaton, hingga mereka berserius menekuni bidang masing-masing. Semoga menjadi maestro.

Selepas adzan isya’ berkumandang, beberapa penggiat Damar Kedhaton melaksanakan shalat berjamaah. Setelah itu mereka berbondong-bondong mempersiapkan berbagai hal yang menunjang jalannya majelis ilmu. Sejak pagi, Gedung Balai Latihan Kerja Jl. Proklamasi No. 45 Gresik dijadikan sebagai tempat yang menggembirakan serta penuh kemesraan lewat berbagai persembahan workshop dari dulur-dulur Damar Kedhaton.

Cak Roy membuka majelis ilmu dengan nderes Alquran Juz 27

Seperti pada Telulikuran biasanya, kali ini Cak Roy membuka majelis ilmu dengan nderes Alquran Juz 27. Angka tersebut menunjukkan bahwa majelis ilmu ini telah berjalan pada putaran ke-27. Beberapa dulur lain yang juga ikut nderes adalah  Mbak Fida  Mas Fajar (Kediri), dan Cak Fauzi. Sesi nderes Alquran selesai pada pukul 21.27 WIB, dilanjutkan dengan lantunan wirid dan shalawat yang dipandu oleh Cak Roy. Suasana dinginnya malam seusai guyuran hujan menambah rasa khusyuk JMDK yang telah hadir lebih dulu guna bebarengan menyetorkan cinta kepada Allah dan Rasulullah.

Cak Purwo kemudian memandu jalannya acara. Jamaah diajak menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Syukur guna memperdalam jiwa ke-Indonesia-an dan menambah rasa syukur kepada Allah atas limpahan tanah secuil surga. Seluruh JMDK kompak bernyanyi bersama, suara mereka menggetarkan seluruh isi di dalam gedung.

Lik Ham hadir di tengah – tengah dan membersamai JMDK

Bersamaan dengan penghujung lagu Syukur dilantunkan, Lik Ham rawuh di tengah-tengah jamaah. Bersama Pak Kris dan Cak Syuaib, beliau membersamai kegembiraan JMDK. Sebelum memasuki sesi diskusi, Cak Purwo mempersilakan Cak Dedi selaku Ketua Panitia Milad ke-2 DK untuk menyampaikan sambutan pengantar. Karena radang tenggorokannya belum pulih betul, maka Cak Fauzi mewakili. Ia menjelaskan tentang beberapa kelas workshop yang digelar pada pagi hari sebagai ikhtiar DK melakoni peran bershodaqoh untuk sekitar. Selain itu, Cak Fauzi juga melakukan flash back perjalanan Damar Kedhaton. Tentu, ucapan terima kasih dihaturkan kepada para sesepuh yang selama ini berkenan menemani DK. Arahan dan ayoman senantiasa diharapkan untuk meneruskan perjalanan.

Tepat pukul 23.45 WIB, pemotongan tumpeng dilaksanakan oleh Cak Dedi sebagai penanda ungkapan syukur JMDK yang telah melangkahkan kaki selama dua tahun. Potongan tumpeng tersebut dihaturkan kepada Lik Ham, Pak Kris, dan Cak Syuaib, dengan diiringi lantunan Shalawat Burdah secara serentak oleh seluruh JM yang hadir.

Setelah itu, Cak Purwo selaku pemandu acara menggelar klasa terkait tema “Berdaya dan Berkarya” dengan sub judul, “Mengasah Potensi, Menggali Kreasi”. Cak Purwo menyampaikan bahwa pada hakikatnya setiap manusia dianugerahi keistimewaan yang berbeda untuk dapat menciptakan karya dalam hidup. Namun, di era modern ini, masyarakat digiring untuk menjadi manusia yang konsumtif. Konsumtif yang berlebihan berpotensi menumpulkan daya kreasi sehingga memaksa kita menjadi tidak produktif.

Cak Nanang melontarkan respon awal terkait tema. Setiap manusia, menurut Cak Nanang, pasti memiliki keahlian yang berbeda-beda. Keahlian tersebut, jika didayakan dengan optimal, berpotensi menghasilkan sebuah karya. Setiap ada karya yang dihasilkan, pasti ada reaksi yang diberikan pula. Salah satu reaksinya adalah sifat konsumtif.

“Tidak selamanya sifat konsumtif itu buruk. Sifat konsumtif juga bisa memutar roda perekonomian,” tutur Cak Nanang.

Cak Gogon tergelitik dengan respon yang disampaikan oleh Cak Nanang. Menurut Cak Gogon, budaya konsumtif itu memang ada sisi baiknya. Namun, Nusantara, terutama wilayah Gresik, saat ini sedang dibombardir banyak hal dari luar negeri. Semua hal yang masuk ke negeri ini, terutama Gresik, “memaksa” orang pribumi membentuk suatu perilaku konsumtif yang berlebihan.

“Kita sebagai lingkar/simpul berusaha mencoba untuk bergerak keluar, menggali potensi yang ada dalam Damar Kedhaton. Usaha tersebut salah satunya adalah dalam bentuk workshop yang digelar tadi pagi,” jelas Cak Gogon.

Beberapa jama’ah baru pun mulai tertarik dengan pembahasan tema

Cak Purwo merespon pernyataan konsumtif yang dipaparkan oleh Cak Gogon. Cak Purwo beranggapan bahwa konsumtif itu baik apabila sesuai dengan kebutuhan. Jika sekedar mengedepankan keinginan, maka perilaku konsumtif tersebut tidak tepat.

“Sing jenenge konsumtif iku yo elek, soale melampiaskan nafsu,” demikian tanggapan Cak Fauzi kepada Cak Nanang. “Dari pendekatan ilmu bahasa, diksi konsumtif itu kan hanya gejala ameliorasi, penghalusan saja, maknanya kan serakah”.. Konsumtif itu, kata Cak Fauzi, merupakan sikap yang berkecenderungan untuk melampiaskan banyak hal, misal makanan, pakaian, dan keinginan berkelompok. Kita digiring untuk melampiaskan semua hasrat atau keinginan-keinginan dalam era modern saat ini. “Sepanjang waktu kita ditantang untuk terus berjuang memperjelas garis batas antara kebutuhan dan keinginan,”  tegas Cak Fauzi.

Sebagai antonim dari konsumtif, Cak Fauzi menghadirkan diksi produktif untuk dionceki. Secara sederhana, agar tak konsumtif, ya sudah, produktif saja. Produktif itu seperti apa? Lihat saja Mbah Nun. Betapa beliau memberi teladan yang nyata tentang apa itu produktif. Kita pasti ingat ketika setiap hari Mbah Nun mengguyur JM dengan serial Daur. Jangankan menulis seperti beliau, membaca dan memahami Daur saja kita sudah kewalahan. “Ora nututi kecepatane, rung nututi pemahamane,” tukas Cak Fauzi menutup uraiannya.

Pak Kris Adji mengajak jamaah yang hadir untuk sedikit menarik garis ke belakang

Diskusi terus bergulir. Pak Kris Adji mengajak jamaah yang hadir untuk sedikit menarik garis ke belakang. Menurut beliau, sekarang ini media gencar membahas Revolusi Industri 4.0. Menilik sejarahnya, revolusi industri pertama ditandai dengan munculnya mesin uap. Revolusi industri kedua ditandai dengan lahirnya listrik, yang output-nya sekarang adalah mesin cuci, dispenser dengan setting dingin/panas, dll. Revolusi industri ketiga ditandai dengan munculnya komputer. Dulu penulis menikmati proses berkarya menggunakan mesin ketik, yang menyebabkan adanya sikap selalu berhati-hati saat menulis. Sekarang, Revolusi industri jilid 4 ditandai dengan munculnya sistem robotik. Jadi, kemungkinan besar, gelombang otomasi/digitalisasi ini berdampak pada sumber daya manusia (SDM) akan diganti dengan robot. Para owner pabrik kini mulai membandingkan hasil kerja manusia dengan robot. Oleh karena itu, perubahan kondisi ini perlu direnungkan dan dipikirkan kembali.

“Bagaimana manusia mampu menggali keunikan dirinya yang diberi oleh Allah. Sama-sama desainer, pelukis, gitaris, penulis puisi, pemain teater, jika manusianya berbeda, maka output yang dihasilkan juga akan berbeda. Jika kita mampu menggali keunikan dalam diri yang diberikan oleh Allah, kemudian bisa berdaya, maka kita akan kuat dan mandiri untuk melawan revolusi industri ke-4, menciptakan pekerjaan, mengumpulkan pegawai untuk kita.” Selain gambaran tentang Revolusi Industri 4.0, Pak Kris juga menawarkan kuda-kuda sikap kepada jamaah yang hadir. “Sekarang penyiar TV di Cina bukan lagi manusia. Tetapi perannya sudah digantikan dengan robot.” tegas Pak Kris dengan memberikan satu bentuk contoh peran robotik yang sudah menggantikan peran SDM. “Kita tidak perlu takut, selama kita senantiasa berusaha untuk menggali kemampuan guna menciptakan suatu karya,” pungkas Pak Kris.

Cak Madrim urun pendapat terkait tema ‘Berdaya dan Berkarya’. Perlu diketahui bahwa karya adalah hasil dari adanya daya. “Apakah kita harus berdaya dan berkarya? Sudah diketahui bahwa yang punya daya itu siapa…(Allah).” Cak Madrim memunculkan satu pertanyaan yang mengarahkan jama’ah untuk kembali mengingat kepada satu titik, yaitu kepada Yang Maha dari Segala Maha. Jika seseorang mampu memfungsikan daya yang telah dianugerahkan oleh Yang Maha Segala Daya secara maksimal, maka daya tersebut berpotensi untuk menghasilkan suatu karya.

“Kita diberi anugerah dari Tuhan untuk berdaya. Namun berdaya dan berkreativitas kurang lengkap jika tidak ditambahi dengan pemasaran,” Cak Fajar (Duduksampeyan) memperuncing sudut pandang tema dengan menambahkan satu poin bidang keilmuan, yaitu pemasaran. Berbagai kajian ilmu dalam konteks pemasaran dirasa perlu juga untuk dipelajari, guna memudahkan kita dalam mengelola hasil karya untuk dipersembahkan kepada khalayak umum.

Cak Ali – yang sehari-hari berkhidmah sebagai guru – turut juga memberikan respon terkait tema, “Anak-anak zaman sekarang bisa berkarya tetapi tidak memiliki daya. Saya membuat aturan dalam kelas. Jika ingin lulus dalam pembelajaran di kelas, maka setiap siswa harus bisa berkarya.” Sayang, tutur Cak Ali, kebanyakan dari siswanya masih memperlakukan “berkarya” tersebut sebagai “tugas” seperti biasanya. Persepsi bahwa tugas itu adalah beban, lebih dominan, katimbang gairah mengekspresikan potensi diri dalam sebuah karya.

Cak Purwo menanggapi Cak Ali dengan mengajukan satu pertanyaan, “Jika ada murid yang ingin menyatakan pendapat sesuai dengan dirinya sendiri itu bagaimana?” Kemudian Cak Ali menjawab, “Kalau di kelas, saya hal tersebut dibebaskan.” Selain itu, Cak Ali juga mempertegas bahwa Kurikulum Nasional saat ini juga hampir mendekati nilai-nilai Maiyah, “Kurikulum sekarang sebenarnya sudah merakyat dan mengajak untuk berkarya. Mungkin kesalahannya terletak pada sistem proseduralnya. Selain itu, masyarakat desa pada umumnya kurang siap menerima dan menerapkannya,” pungkas Cak Ali.

Ada satu jamaah yang berasal dari Kediri. Cak Fajar namanya. Ia juga sudah hadir sejak pagi untuk mengikuti beberapa kelas workshop. Ia juga menyampaikan titipan salam dari dulur-dulur Sanggar Kedirian (SK) Kediri kepada jamaah Damar Kedhaton. Cak Fajar berbagi pemikiran tentang “Berdaya dan Berkarya”. Menurutnya, anak-anak muda masa sekarang sebenarnya sudah kreatif. Hanya saja, mungkin ada sisi ketidaktepatannya jika mengarah kepada materialisme.

“Tiap orang pasti memiliki kreasi dan ide-ide yang inovatif. Kalau tujuane materialistik, yo selesai,” tutur Cak Fajar. Jadi, setiap karya yang dihasilkan sebisa mungkin diarahkan menuju kemanfaatan. Hal tersebut menjadi poin terpenting yang perlu ditekankan. “Berdaya dan berkarya dengan cara mencari celah dalam diri kita, bagaimana bisa bermanfaat untuk lingkungan sekitar. Yang hilang dari diri kita adalah etika dan kemanfaatan,” pungkas Cak Fajar dengan memberikan satu sudut pandang kelemahan dari kebanyakan orang yang jarang diketahui.

Cak Syuaib memberikan respon terkait perjalanan Damar Kedhaton

Cak Syuaib memberikan respon terkait perjalanan Damar Kedhaton yang sudah melangkah selama dua tahun, “Dulur-dulur DK iku duwe ciri-ciri sing piye? Nandur DK biyen iku piye? Ketika kita bisa berkarya, maka bakal ada resiko komplain dari pihak lain. Nah, bagaimana sikap kita untuk menghadapi komplain tersebut?  Ayok sareng-sareng ditata maneh lan diistiqomahi. Mugi-mugi Gusti Allah memunculkan daya dan karya kepada kita.” Perlu diketahui bersama, bahwa selama perjalanan dua tahun Damar Kedhaton harus selalu dijadikan pembelajaran bersama untuk ke depannya. Bagaimana mengelola sumber daya yang ada secara baik, efektif, dan efisien? Di samping itu pula juga harus dicari lagi celah-celah ketidakseimbangannya dalam melangkah menuju masa depan.

Waktu hendak menginjak tengah malam, ketika  Lik Ham membeberkan pemikiran beliau. Lik Ham ingin, pada malam tersebut, JMDK benar-benar dapat merasakan makna “berdaya”. Berdaya adalah suatu kondisi ketika kita menyiapkan bahan mentah dan berusaha mempelajarinya. Daya ada yang positif, ada pula yang negatif, tergantung situasi. Perlu diingat, jika ada daya, berarti ada Maha Daya. Jika ada karya, maka ada Maha Kerja. Dalam usaha untuk berdaya, Lik Ham berpesan pada JMDK untuk memperhatikan 3 unsur ini: kebenaran, kebaikan, kebersamaan. Ketiganya dijalankan dalam semangat persaudaraan dunia-akhirat. Kekuatan “berdaya” yang lahir dari tali silaturahmi dan dirajut dalam kokohnya tali persaudaraan akan menghasilkan keindahan. (KIS)

(Bersambung)