Reportase Telulikuran Edisi #27, Desember 2018 MILAD DUA TAHUN DAMAR KEDHATON ”BERDAYA DAN BERKARYA” – Bagian II

“Keindahan adalah ketika sesuatu mampu memancarkan cahaya terang yang bisa menyinari. (Merupakan) suatu keindahan ketika kita bisa bersama melakukan silaturahmi untuk memperekat persaudaraan. (Merupakan) suatu keindahan ketika penjalinan silaturahmi menjadikan hati kita terang-benderang. Kebersamaan dalam bersilaturahmi menjadikan kebaikan, keindahan, kebenaran, dan menjadi cahaya terang untuk seluruh umat manusia,” kata Lik Ham.

Lik Ham mengajak JMDK menyadari bahwa kemampuan berdaya berasal dari bahan mentah yang dipelajari secara menyeluruh

Menyinggung pengertian berdaya, Lik Ham mengajak JMDK menyadari bahwa kemampuan berdaya berasal dari bahan mentah yang dipelajari secara menyeluruh. Kehidupan adalah contohnya. Kehidupan berasal dari “embuh”, tutur Lik Ham. Tapi kita harus mencari “dzalikal kitaabu laa roiba fiih, hudan lil muttaqin”. Sesuatu yang awalnya tidak kita pahami harus dipelajari unsur-unsurnya (bentuk, waktu, muatan, ukuran, dll.) sampai benar-benar paham. Supaya bisa berdaya secara kreatif, DK perlu mempelajari Surah Al Kahfi tentang bagaimana cara mengeluarkan pemuda dari “gua”, karena sudah bukan zamannya berada dalam “gua”. Karena hal-hal yang kita lakukan bisa jadi sudah dilakukan oleh pihak-pihak lain. Workshop, misalnya.

Tak lupa, DK juga pelan-pelan harus mencari tugas yang diamanahkan Tuhan kepadanya. Mengenai hal tersebut, Lik Ham menjelaskan, “Saya—manusia—dikaruniai Tuhan berbagai macam kemampuan; nembak manuk, nyablon, dll. (Oleh sebab itu) kita butuh riset; jan-jane sing pas ambek diri sendiri iki apa?” Lik Ham juga berpesan agar, dalam berdaya, kita tidak terjebak pada gaya. Melainkan, harus menggunakan kekuatan/potensi diri yang otentik.

Bila berdaya adalah situasi mengumpulkan bahan mentah, lanjut Lik Ham, maka berkarya adalah suatu kondisi di mana kita sudah menyepakati: mau apa dan bagaimana. Dalam berkarya, kita harus kreatif. Jangan melulu bergerak di bidang dagang/jual beli; yang terpenting, output-nya bermanfaat. Semua hal bisa menjadi jalan kreativitas. JMDK bisa berkumpul seperti ini adalah juga kreativitas. Jika ada busi mati, orang kreatif tidak akan berpikir konsumtif—tinggal beli baru, tapi mencari cara lain untuk memperbaikinya. Energi kreatif inilah yang membuat manusia terus bergembira, bersemangat mencari solusi masalah dan tidak menyalahkan zaman.

“Maka, kalau anda ingin berkarya, kumpulkan seluruh bahannya. Itu bisa berlangsung apa saja. Oh, DK saiki duwe amanah workshop—juga harus punya batas-batas, masiyo gak peduli (tidak bertujuan pada) hasil,” kata Lik Ham.

Di samping membahas tema, Lik Ham menyisipkan strategi pokok untuk mengolah potensi yang digunakan untuk berdaya dan berkaya, yaitu ketrampilan ngegas-ngerem. Tidak semua potensi perlu diumbar ke khalayak umum, seperti di media sosial. Jadikanlah potensi tersembunyi tersebut sebagai harta/kekayaan. “Belakangan kita makin kehilangan budaya ngempet, tutur Lik Ham. Tidak perlu berlebihan dalam membeberkan suatu perbuatan baik. Sebab, Allah hanya memerintahkan berbuat baik yang bermanfaat. Itu saja sudah merupakan sebuah maha karya. Berbuat baik itu yang bagaimana? Bagaimana caranya agar bermanfaat? Untuk menemukan jawabannya, kita tidak boleh berhenti pada keilmuan yang teoritis. Kita butuh daya jelajah—yang berarti kreativitas—untuk melakukan perbuatan-perbuatan nyata. Misalnya, jangan menghabiskan energi untuk memperdebatkan baik/buruk kurikulum. Fokuslah memikirkan cara/terobosan baru untuk menemani murid-murid agar mereka bisa berkembang. Demikian pula DK, yang merupakan anak asuh kita, juga harus dipikirkan asupannya agar terus berkembang.

Kalau anda memiliki potensi, kumpulkan. Petakan mana yang harus digas dan direm,” ucap Lik Ham. Menurut beliau, kehendak berbuat harus didasarkan pada momentum yang diberikan Allah—harus ditunggu terlebih dahulu, dan tidak didasarkan pada hawa nafsu. Sebagai penutup, Lik Ham merespon kegelisahan JMDK tentang budaya konsumtif, “Jangan berpikir begitu, tetapi ciptakan sesuatu. Tetap berkarya, tapi jangan terlalu berpikir tentang sifat-sifat materi yang gampang hilang. Berdaya dan berkarya adalah sesuatu yang rohaniah.”

Cak Ateng urun pendapat mengenai tema ‘Berdaya dan Berkarya’. Menurutnya, kreativitas tidak mengenal zaman. Ia mencoba menarik garis ke belakang, memandang dari perspektif sejarah. Tragedi ’98 adalah tonggak hancurnya perekonomian secara total. Pulihnya perekonomian pasca reformasi pada saat itu karena keberadaan UKM-UKM (Usaha Kecil Menengah) sanggup mempertahankan putaran roda ekonomi. Selain itu, juga terjadi pembenahan berbagai sistem yang ada. Semua usaha pemulihan tersebut, menurut Cak Ateng, merupakan bentuk-bentuk nyata dari konsep berdaya dan berkarya, baik dari sisi masyarakat maupun pemerintah.

“Inti dari fungsi pemerintah adalah pelayanan yang bertujuan mengangkat derajat/martabat anak bangsa supaya mulia di hadapan Tuhan. Bukankah ini bertolak belakang dengan sistem pemerintahan (yang ada)? Lalu, jika melihat situasi dan kondisi sekarang yang sedang berlangsung, fungsi dari Pemerintahan terkait berdaya dan berkarya itu bagaimana (seharusnya)?” Cak Ateng menutup tanggapannya dengan sebuah pertanyaan.

Pak Kris Adji Merespon beberapa pertanyaan JMDK

Selanjutnya Pak Kris menjawab pertanyaan Cak Ateng, bahwa UKM adalah salah satu upaya untuk memunculkan daya kreativitas yang unik, “Gusti Allah selalu menghitung tetesan keringat kita, sak obahmu (gerakmu) pasti dikeki (diberi) rezeki. Kanjeng Nabi juga bersabda: Berilah upah kepada pekerjamu sebelum menetes keringatnya.” Beliau menegaskan bahwa melakukan perbuatan apapun di dunia ini, asalkan bermanfaat bagi lingkungan sekitar dan tidak menambahi permasalahan, merupakan suatu kebaikan. Bahkan pada hakekatnya, Gusti Allah tidak akan tega untuk melihatnya. Sehingga, Ia memberikan rasa aman dari kelaparan kepada kita. Selama kita bergerak, maka kita akan dapat rezeki, kata Pak Kris. Terkait dengan pemerintah, beliau berujar, “Jenenge pemerintah yo fungsine merintah. Gak usah mikir negoro, mikir cilik-cilik ae—(misalnya) bagaimana mengelola sumber daya alam di desa. Di Bandung, ada seseorang yang gajinya berlipat-lipat. Dia berdaya dan memberdayakan masyarakatnya dari sebotol air mineral.”

Lik Ham juga merespon pertanyaan dari Cak Ateng terkait dengan fungsi pemerintah, yang mana jika melihat situasi dan kondisi sekarang, pemerintah itu tidak ada fungsinya. Kita akan kesulitan besar jika hanya mengandalkan kinerja pemerintah.

“Mikir negara wes ngelu, apa maneh pemerintah. Malah nemen. Gak entuk ilmu apa-apa gak masalah. Gak oleh apa-apa gak masalah. Sing penting tetep paseduluran dunia-akhirat,” jelas Lik Ham untuk menjembarkan jiwa dan pikiran JM. Selain itu, Lik Ham juga menambahkan percikan ilmu yang berkaitan dengan tema. Lik Ham berpendapat bahwa kreatif adalah suatu bentuk daya juang yang berisikan intuisi (feeling). Posisi yang tepat bagi diri kita ketika mengolaborasikan sikap kreatif beserta intuisi adalah harus bergembira lahir batin. Beliau juga merespon pernyataan tentang UKM, “Dengan adanya UKM, alhamdulillah, isok digae golek rezeki. Syarat nglakonine kudu konsen, ditekuni ambek ditelateni.”

Dalam forum kebersamaan ini, Cak Nanang berkesempatan menyampaikan keluh-kesah tentang situasi dan kondisi pribadinya. Ia merasa terjebak oleh keadaan, sehingga terkadang ia tidak mempedulikan orang lain. Ungkapan dari Cak Nanang langsung direspon oleh Lik Ham. Beliau mengatakan bahwa kita perlu menanamkan sikap kreatif pada diri sendiri. Kreatif sendiri adalah kata kerja. Jadi kita harus berbuat sesuatu. Untuk  mewujudkan sikap kreatif yang tepat, maka diperlukan juga diimbangi intuisi/feeling yang kuat. Alat untuk mengasah intuisi terletak pada lima panca indera manusia. “Tujuh keajaiban dunia sebenarnya adalah panca indera,” ucap Lik Ham. Perangkat alat panca indera manusia begitu dahsyat fungsinya, tetapi sayangnya sudah hilang dari peradaban “pelajaran sekolah”. Misal, mata. Mata tidak direncanakan untuk melihat, tetapi otomatis mata melihat (sesuatu). Budaya yang paling mendasar tersebut perlu dikenalkan kepada anak-anak kecil.

Beberapa jama’ah Fokus dengan pembahasan tema

“Wong sing kreatif iku kudu gendheng ambek gembira,” tutur Lik Ham. Gendheng (gila) adalah situasi kegembiraan dari sikap kreatif. Kenapa harus bergembira? Pertama, karena dengan bergembira kita akan bebas berkarya. Dengan bergembira dan bersikap gila, kreativitas akan lahir. Kedua, sikap gembira perlu ditanamkan dalam diri untuk menghadapi situasi dan kondisi apapun untuk melatih daya juang, untuk menempa karakter manusia yang tidak mudah cengeng.

“DK pasti memiliki daya juang pribadi. Dibutuhkan latihan daya juang, kreatif, untuk masa akan datang. Maha karya sama dengan manfaat, nglakoni apik, gak nggoleki kelemahan, tapi (nggoleki) kelebihan. (Jadi) segitiga cinta ojok mandek ning hamba, Rasul, Allah. (Ayo) menggali potensi, mewujudkan kreasi. Lik Ham memberi semangat, seraya mengingatkan, “Yang diminta (dimaksud) Mbah Nun membaca Surat Alkahfi adalah metu gua, goleka sing akeh. Salah satu jalan (keluar gua) yang harus kita capai adalah bergembira, ben gak gampang stres.”

Pada penghujung acara, Cak Purwo, pemandu acara, menutup majelis ilmu Telulikuran Edisi ke-27 yang bertepatan dengan peringatan perjalanan Damar Kedhaton ke-2. Cak Fauzi menuntaskan kebersamaan malam itu dengan memberikan penguatan-penguatan bahwa tiap JMDK perlu untuk terus mengidentifikasi diri sendiri, menemukan kecerdasan otentik masing-masing, sampai kapanpun,  “Terusna nggoleki, aku iki isoke nang ndi? Iku golekana terus.”

menjelang dini hari, suasana semakin tentram, adem, sunyi, dan menyegarkan jiwa. Cak Roy memandu JMDK untuk membaca sholawat bersama

Pukul 01.41 WIB, menjelang dini hari, suasana semakin tentram, adem, sunyi, dan menyegarkan jiwa. Cak Roy memandu JMDK untuk membaca sholawat bersama. Usai pembacaan sholawat, majelis ilmu Telulikuran Damar Kedhaton spesial milad tahun ke-2 tersebut ditutup oleh Lik Ham. “Bersamaan dengan kesulitan, tersedia kemudahan,” pesan Lik Ham; bahwa Allah menciptakan kesulitan atau kemudahan sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri. Lalu, Lik Ham mengajak JMDK bersama-sama membaca Surah Alam Nashroh guna menguatkan langkah JMDK agar dibersamai Allah dan Rasulullah SAW, dan dilanjutkan dengan melangitkan doa. (KIS)