Reportase Telulikuran Edisi #28, Januari 2019 ” Mulat Sarira”

Jannatul Maiyah Damar Kedhaton (JMDK) memulai majelis ilmu di awal tahun pada Senin, 28 Januari 2019. Lantunan ayat suci Alquran menggema meramaikan cikal bakal Gedung Taman Posyandu “MUTIARA KASIH” yang terletak di Jl. Sultan Agung Timur Sungonlegowo, Bungah, Gresik. Kali ini, Cak Syahril Fawaid yang bertugas untuk nderes juz ke-28. Angka juz tersebut diambil sebagai penanda bahwa majelis ilmu Telulikuran Damar Kedhaton telah memasuki edisi yang ke-28.

Nderes Alquran diikuti Wirid dan Sholawat mengawali Telulikuran Ke-28 Damar Kedhaton

Tim Banjari Al-Ikhlas, yang telah membesarkan jiwanya untuk datang dan ikut melingkar bersama, mempersembahkan kurang lebih delapan lagu usai nderes Alquran. Peristiwa semacam ini jarang terjadi dalam Telulikuran sebelumnya. Karena lokasi Telulikuran kali ini—bisa dikatakan—nylempit, akibatnya, beberapa JMDK dari penjuru Gresik sedikit terlambat untuk datang ke Telulikuran. Cak Purwo, yang saat itu baru saja datang, dengan cekatan ikut urun suara dan tenaga guna menemani Tim Banjari Al-Ikhlas yang sedang perform.

          Untuk meminimalkan kemubaziran waktu, apalagi beberapa JMDK juga terlihat sudah memenuhi beberapa sudut dalam ruangan tersebut, maka Cak Farhan, Cak Purwo, dan Cak Iksan memulai memandu JMDK melantunkan wirid-wirid Maiyah. Pembacaan wirid Maiyah dilanjutkan dengan sholawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW dengan iringan tabuhan Tim Banjari Al-Ikhlas pada momentum Mahallul Qiyam. Pembacaan wirid dan sholawat tersebut dipungkasi pada pukul 22.40 WIB.

Cak Teguh memoderatori diskusi Telulikuran Ke-28 Damar Kedhaton

          Cak Teguh, yang kebetulan bisa hadir di awal waktu, dengan kepekaannya, secara spontan mengambil posisi sebagai moderator.  Cak Teguh menggantikan Cak Kamsidin yang tidak bisa hadir karena ada hal penting yang tidak bisa ditinggalkan malam itu. Cak Teguh menyadari situasi tersebut dan mampu mengisi perannya dengan baik. Memang, JM harus siap menghadapi situasi apapun yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari, sesuai pesan Mbah Nun, “Orang Maiyah harus siap bahwa hidup ini tidak sama dengan apa yang kamu inginkan, tidak sama dengan apa yang kamu pikirkan, bahkan hidup ini bisa saja berlaku sebagaimana yang kamu benci.”

          Waktu terus bergulir. Satu per satu jamaah mulai berdatangan di lokasi acara. Jarak dan lokasi yang agak nylempit tak menyurutkan jamaah untuk mengikuti majelis ilmu. Konon ada pepatah yang mengatakan “Tak kenal maka tak sayang.” Maka dengan atmosfer kemesraan, Cak Teguh mulai mengawali sesi perkenalan diri. Tak disangka, beberapa dulur dari Paseban Majapahit (Mojokerto), Serdadu Cinta (Bojonegoro), Turanggah (Lamongan), dan dua orang dari Surabaya, juga beberapa wajah baru lain, ikut melingkar di Damar Kedhaton.

          Cak Purwo menjelaskan sedikit tema “Mulat Sarira” dalam prolog yang sudah diunggah di website damarkedhaton.com beberapa hari lalu. Mulat Sarira dapat disimpulkan sebagai upaya untuk senantiasa berinterospeksi diri.

          Cak Teguh, selaku moderator, mempersilahkan Cak Nanang (Panceng) untuk memaparkan tema. Berangkat dari beberapa pertanyaan, antara lain, “Apa sih interospeksi diri itu?”, “Apa saja yang pernah kita lakukan selama ini?”, Cak Nanang (Panceng) mengajak JMDK untuk lebih mengenali diri sendiri secara utuh.

Cak Purwo turut urun diskusi tema Telulikuran Ke-28 Damar Kedhaton

Elaborasi tema dilanjutkan oleh Cak Nanang (Kedanyang) dengan sedikit bernostalgia. Suatu ketika, saat bersih-bersih rumah, Cak Nanang secara tak sengaja menemukan surat dari masa gendhaan. Di dalam surat itu terdapat beberapa kalimat yang sangat muluk, seakan-akan sudah bisa bertekad untuk melakukan segala hal hanya ‘untukmu’ yang ditujukan kepada calon istri saat belum menikah. “Cinta itu bukan sekedar kata-kata, melainkan pembuktian. Dan saat ini, secara tidak sadar, aku ngewangi korah-korah, kerja moleh dalu, dll.” Dengan kata lain, ia memberikan sudut pandang bahwa segala kegiatan yang dilakukannya sekarang adalah pembuktian cinta. Ia mengakhiri responnya dengan sebuah pertanyaan, ”lantas bagaimana caranya membuktikan cinta kita pada Sang Maha? Sedangkan kita telah mengaku telah bersyahadat.”

          Pembelajaran ‘Mulat Sarira’ yang dialami oleh Cak Kis berbeda lagi. Setelah mengalami kecelakaan beberapa minggu lalu, Cak Kis bertutur, “Seminggu sebelum kejadian, aku terlalu sibuk ke sana kemari. PP (pulang-pergi) Surabaya-Lamongan, dilanjutkan ke Tuban nyambangi kanca. Terus, dari Tuban, mengantarkan teman pulang ke Jombang. Dari Jombang pulang ke Gresik, dan keesokan harinya, kejadian itu berlangsung.” Dari pengalaman tersebut, Cak Kis mengambil pelajaran bagaimana bahwa seseorang harus mengetahui situasi dan kondisi fisik diri sendiri guna menentukan langkah yang tepat agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, misalnya, kecelakaan.

          Cak Teguh menanggapi berbagai respon tersebut dengan simulasi bercermin. Jika bercermin pada cermin cembung, maka akan kita dapati bayangan diri yang membesar. Saat menghadap cermin cekung, maka kita akan mendapati bayangan yang terbalik. Oleh karena itu, dalam melakukan refleksi diri, jenis cermin yang digunakan menjadi penting.

          “Nek aku sing penting nglakoni urip sing ikhlas. Apa anane, sak mlaku-mlakune. Setiap kenyataan yang kita alami bisa dijadikan sebagai cermin.” kata Cak Hadi. Ia menambahkan, bahwa ternyata antara ilmu refleksi cermin dengan interospeksi itu berbeda. Bercermin digunakan untuk menilai bagaimana diri kita yang terlihat secara fisik atau yang mudah untuk dilacak. Sedangkan interospeksi diri membutuhkan ilmu yang tinggi. Bahkan, kita tidak akan mampu menguasai ilmu tersebut secara jangkep.

Cak Yusuf dan Cak Totok mempersembahkan sebuah Lagu dan Puisi Telulikuran Ke-28 Damar Kedhaton

          Diskusi diselingi dengan persembahan musik dari Cak Yusuf untuk menghangatkan suasana yang semakin dingin. Cak Yusuf menyanyikan sebuah lagu yang berjudul “Intro” karya musisi kehidupan Iwan Fals. JMDK yang hadir larut menyelami makna lagu: manusia harus selalu membelah belantara akal, mencari kesejatian, serta mengakrabi cakrawala ruang dan waktu. Atmosfer “Intro” tersebut masih menghantui ruang kesadaran jamaah meskipun lagu usai. Akibatnya, dengan kesadaran yang sama, jamaah menyelami lagu kedua yang berjudul “Pada Sebuah Ranjang” karya Sujiwo Tejo. Cak Fauzi secara spontan mengikuti petikan gitar Cak Yusuf, sekaligus membersamainya dengan suara sunyi yang diresapi dengan sangat, sungguh. Lagu “Pada Sebuah Ranjang” me-mulat sarira-kan diri Cak Fauzi di masa lampau. Spontanitas tersebut juga dialami Cak Rifky (Surabaya), dengan nalurinya, mengajak untuk melanjutkan sesi penghangatan malam itu. Cak Rifky (Surabaya) berduet dengan Cak Hadi, dibersamai oleh petikan gitar jari-jemari Cak Yusuf, mempersembahkan lagu ketiga dengan judul “Yang Terlupakan” karya Iwan Fals. Nada kemesraan merambat pelan di kesunyian malam bersama sebuah bayangan yang penuh cinta dan takkan pernah terlupakan. Seribu ruang paseduluran malam itu diam mengakar pada hati jamaah dan membekas, seakan tak mau pergi. Karena, senyum semringah dari raut muka jamaah yang hadir mengalir mengikuti irama musik tak bertepi.

          Cak Nanang (Kedanyang), Cak Alauddin berduet dengan Cak Fauzi, dan Cak Totok juga urun mempersembahkan puisi. Masing-masing judul puisi yang dipersembahkan adalah “Hadapi dengan Senyuman”, “Doa”, dan “Jalanan”. Ketiga puisi tersebut dikemas secara apik. Untuk judul puisi yang pertama dan kedua sebenarnya merupakan sebuah lagu yang dipersembahkan dalam bentuk puisi. Ada saling ketertarikan di antara keduanya. Puisi ketiga “Jalanan” adalah karya pribadi Cak Totok yang berisi kritik terhadap carut-marut dunia perpolitikan saat ini. Sesi penghangatan dipungkasi pada pukul 00.05 WIB.

Suasana Elaborasi Tema Telulikuran Ke-28 Damar Kedhaton

          Sesi elaborasi tema kembali dilanjutkan guna terus mencari kebenaran yang presisi, otentik, dan komprehensif dari berbagai sudut pandang yang akan dilontarkan jamaah.

          Tema Telulikuran kali ini sejalan dengan qaul yang cukup populer di dunia tasawuf “Man arafa nafsahu, faqad arafa Rabbahu” yang memiliki makna ”Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Rabb-Nya.” Untuk mengenal diri sendiri tidaklah mudah. Bahkan membutuhkan proses kesadaran jiwa dengan rakaat panjang yang tak terbatas, karena jalan menuju Tuhan itu seluas cakrawala Rahman dan Rahim-Nya. Selaras dengan pesan Mbah Nun, “Posisi kita sekarang adalah Ihdinashiraathal Mustaqiim.” Artinya, adalah sebuah fakta bahwa sesungguhnya kita ini masih tersesat, dan membutuhkan welas asih pertolongan dari Allah SWT guna memperoleh jalan yang lurus. Selain itu, memang Gusti Allah menciptakan manusia dengan tujuan untuk menjadi khalifah di bumi. Pemaknaan terhadap kata “khalifah” memang sangat luas dan cair, karena pada dasarnya makna yang terkandung dalam setiap kata kebanyakan tidak seperti padatan kata yang sudah terbentuk.

Suasana Telulikuran Ke-28 Damar Kedhaton

Untuk memahami diri sendiri juga harus diimbangi dengan memahami lingkungan sekitar. Seperti halnya pada kesadaran orang Maiyah, segala hal yang lalu-lalang dalam kehidupan itu harus dimaknai secara seimbang, utuh, dan menyeluruh. Lewat Maiyah, kita menemukan suatu atmosfer untuk terus-menerus, tiada henti, memaknai apa yang terkandung dalam semesta Tuhan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Atau dengan kata lain, melalui sinau bareng, kita terus berproses untuk menjadi karakter manusia yang seutuhnya. Dalam ilmu tasawuf, hal semacam ini dikenal sebagai ilmu hati, atau kepekaan rasa untuk memaknai lingkungan sekitar.

          Seperti halnya beberapa peristiwa/sabda alam yang terjadi di Glagah beberapa hari yang lalu, lingkungan sekitar selalu memberikan pembelajaran bersama untuk kita semua. Bahwa tak selamanya yang terlihat buruk itu tidak baik, begitu juga sebaliknya. Bahkan yang memberikan sumbangsih terbesar saat penggalangan dan penyaluran dana adalah mereka (anak jalanan) yang termarjinalkan. Demikian pemaparan Cak Aziz (Lamongan).

          Dari sudut pandang musik, mulat sarira dapat dipandang sebagaimana lirik yang terkandung pada dua lagu yang berjudul Intro dan Pada Sebuah Ranjang: “Selalu sendiri membelah belantara kedunguan akal dalam gemerlap gelapnya dunia guna mencari secercah cahaya yang sejati, dan akan terus semakin bertanya-tanya.” Dengan kata lain, manusia senantiasa melakukan perjalanan panjang dalam kesendiriannya untuk terus mencari dan bertanya, hingga ia sampai pada satu titik yang kekal dan abadi.

Di penghujung sesi diskusi, Cak Fauzi mencoba mengajak jamaah menghikmahi pertanyaan yang diungkap Cak Nanang (Kedanyang) di sesi awal. Bagaimana cara kita mengejawantahkan cinta kepada Sang Maha? Firman Allah SWT di Surah Ali Imran ayat 31 layak menjadi panduan. “Qul inkuntum tuhibbunallah, fat tabi’uuniy…dst”. Jika kita cinta padaNya, maka tiada pilihan selain mengikuti laku Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Sesi makan bersama Telulikuran Ke-28 Damar Kedhaton.

       Sinau bareng  edisi ke-28 ini berjalan dengan penuh kegembiraan dan kemesraan. Di penghujung waktu, acara ditututup dengan beberapa wirid “Maulan Siwallah” yang dipandu oleh Cak Fauzi, serta doa yang dipimpin oleh Cak Farhan. Kemudian, dilanjutkan dengan sesi makan bersama. (KIS)