Prolog Telulikuran DK Edisi #30 – Maret 2019 “Over Dosis Pilpres”

Tanggal 17 April 2019 nanti negara Indonesia punya hajat Pemilihan Umum (Pemilu) atau “Pesta Rakyat” 5 tahun sekali. Akan ditentukan siapa-siapa yang akan mewakili rakyat di DPRD kabupaten/kota/provinsi serta DPR dan sekaligus memilih Presiden dan Wakilnya untuk 5 tahun ke depan. Berbagai macam hal dipersiapkan untuk suksesnya hajatan tersebut. Tentu dengan biaya yang ditanggung oleh negara/rakyat.

Tahun 2004 NKRI memulai sejarahnya dengan mengadakan Pilpres secara langsung. Hingga kini terhitung telah tiga kali, dan bulan depan adalah yang ke-4 kalinya. Sebelumnya, presiden dan wakil presiden dipilih oleh MPR. Empat tahap amandemen UUD 1945 sejak tahun 1999 hingga 2002, telah menjadikan perubahan sistem tata negara kita. Hal ini tentu memberikan pengaruh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Positif maupun negatifnya.

Kita bisa amati dan rasakan bahwa saat ini, hampir mayoritas seluruh fokus perhatian masyarakat ditujukan untuk hajatan pilpres. Isi pemberitaan media massa, televisi dan media sosial sangat dominan temanya tentang pilpres. Perbincangan di warung-warung pun dominan bermuara pada topik pilpres. Apakah fenomena ini sudah sesuai takaran atau ukuran yang seimbang, atau sudah overdosis?

Idiom “overdosis” memuat arti ; ukuran (obat dan sebagainya) yang berlebihan. Manakala dosis/ukuran itu kita masukkan dalam konteks Pilpres 2019, maka kita merasa perlu untuk mengindentifikasi dulu bahan-bahan apa saja yang berhubungan dengan pilpres. Lalu apakah benar kita mendapati ukuran-ukuran yang over.

Misalnya saja tentang kampanye. Salah satunya adalah pemasangan atribut capres secara berlebihan tanpa memperhatikan etika dan estetika lingkungan.
Atau bisa kita teliti dan cermati para pendukung saling mengincar kelemahan para kandidat untuk dijadikan bahan saling olok seolah masing-masing sebagai pihak yang kuat sekaligus benar. Lebih mengkhawatirkan jika memposisikan pilpres sebagai Perang Baratayudha atau Perang Badar. Sehingga Gus Mus (KH. Mustofa Bisri) pun mengingatkan kita bahwa Pilpres bukan Perang Badar.

Apakah dulur-dulur juga merasakan cuaca yang semakin memanas atau memang sengaja dipanas-panasi oleh pihak lainnya, mendekati hari pencoblosan?
Maka berangkat dari tulisan Simbah Emha Ainun Najib dalam Tajuk di caknun.com Bulan Resolusi Terendah  https://www.caknun.com/2019/bulan-resolusi-terendah/  yaitu Jamaah Maiyah perlu mengambil jarak perenungan untuk memelihara dan memperoleh kejernihan baru dalam melihat dan menyikapi situasi bangsanya. Kemudian juga perlu kumpul, tajammu’ dan tafakkur bersama sebelum Hari Resolusi Terendah April nanti tiba,

Marilah dengan bekal kerinduan kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan tetap berpayung istiqomah kita hadiri Majelis Ilmu Telulikuran edisi ke-30, bahwa Di balik itu semua, inilah sesungguhnya saat-saat terbaik untuk mereidentifikasi dan merekonstruksi benih-benih nilai, formula dan strategi masa depan yang sudah dihimpun selama ini. pada :

Hari : Jumat, 29 Maret 2019
Pukul : 19.23 WIB
Tempat : Aula Islaachul Ummah, Ponpes At Tauhid
Dusun Ngebret, Desa Morowudi Kecamatan Cerme.