Reportase Telulikuran Edisi #30 Maret 2019 “Overdosis Pilpres”

Pada Jumat, 29 Maret 2019, Aula Islaachul Ummah Ponpes At-Tauhid, bergetar syahdu setelah dilangsungkannya khataman Al-Qur’an oleh Jamaah Maiyah Damar Kedhaton (JMDK). Cak Qosim menutup khataman dengan membacakan doa khotmil Qur’an. Kegiatan khataman Al-Qur’an ini memang sengaja dilakukan sebagai wujud syukur kepada Allah SWT yang masih mempertemukan para pejalan Maiyah Damar Kedhaton di putaran yang ke-30.

Khataman Al-quran diteruskan Wirid dan Sholawat Telulikuran edisi ke-30 Damar Kedhaton

Acara dilanjutkan dengan pembacaan Wirid Maiyah dan Shalawat Mahallul Qiyam yang dibaca begitu khusyu’, dipimpin oleh Cak Anam dan Cak Fauzi. Lantunan katresnan kepada Gusti Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad mengalir lembut dan merasuk ke dalam aliran darah jamaah yang hadir. Tiada keindahan yang paling mendalam kecuali kebersamaan untuk saling menjaga dan mengakarkan segitiga cinta antara Allah-Muhammad-Hamba. Pembacaan wirid dan shalawat tersebut dipungkasi pada pukul 23.25 WIB.

Gus Ali Sya’dan memberi sambutan selaku tuan Rumah Telulikuran edisi ke-30 Damar Kedhaton

(Pengasuh Ponpes At Tauhid) juga turut bersyukur atas kehadiran JMDK di Pondok At-Tauhid Ngebret, Morowudi, Cerme, Gresik. Kegiatan seperti ini (sinau bareng) tidak mudah untuk dilakukan, bahkan sifatnya heterogen. Semua orang yang hadir tidak dilihat dari sekadar penampilan. Di sisi lain, mereka juga bebas mengekspresikan dirinya dengan rasa aman dan saling mengamankan. Gus Ali bercerita bahwa beliau juga sering mengikuti Maiyahan, walaupun hanya melihat acara Banawa Sekar yang sering ditayangkan di TV 9.

Menyinggung tema, Gus Ali menyampaikan dua pendapat yang berupa pernyataan dan pertanyaan. Berkaitan dengan tema ‘Overdosis Pilpres’, sudah tentu ada indikator-indikator yang mempengaruhi dan harus dicari secara bersama-sama. “Apakah ada pengaruh yang cukup signifikan dari overdosis itu sendiri?”. Pertanyaan tersebut disampaikan oleh Gus Ali guna memantik daya berpikir jamaah yang hadir. Namun, setelah itu, beliau segera pamit: tidak bisa membersamai dulur JMDK hingga acara selesai, karena ada suatu hal yang sangat penting dan tidak bisa ditinggalkan.

Kemudian, diskusi dilanjutkan dengan mbeber klasa yang dibuka oleh Cak Teguh. Untuk mengawali pemaknaan atas tema “Overdosis Pilpres”, Cak Teguh  memaparkan bahwa Indonesia akan mengadakan Pemilu atau ‘Pesta Rakyat’ lima tahun sekali pada April nanti. Salah satu agendanya: mengadakan pemilihan presiden (pilpres). Perlu diketahui, sebelum tahun 2004, Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh MPR. Kemudian, perubahan konstitusi pada kurun 1999 hingga 2002 mengubah sistem tata pengelolaan negara kita. Hal ini tentu memberikan dampak positif dan negatif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mayoritas masyarakat merasakan cuaca yang semakin memanas atau bahkan memang dengan sengaja dipanas-panasi oleh pihak lain. Maka dari itu, berangkat dari tulisan Simbah Emha Ainun Najib dalam Tajuk Bulan Resolusi Terendah, Cak Teguh mengajak para JM untuk menarik jarak dari situasi bangsa saat ini, serta berkumpul, ber-tajammu’, dan bertafakur sebelum hari Resolusi Terendah tiba. Sedangkan makna “overdosis”, dari sudut pandang ilmu medis, adalah suatu keadaan yang diakibatkan oleh penggunaan berlebihan obat-obatan, hingga dapat menyebabkan hilangnya nyawa manusia.

Cak Teguh mengawali diskusi mengenai tema Telulikuran edisi ke-30 Damar Kedhaton

Suasana diskusi malam itu dibuat rileks dan sedingin mungkin. Semua berkumpul untuk setia mengolah titik kesadaran masing-masing secara utuh dan seimbang. Sesuai dengan pesan Mbah Nun, khususnya mendekati hari Resolusi Terendah, inilah saat-saat terbaik untuk merekonstruksi benih-benih nilai, formula, dan strategi masa depan yang sudah dihimpun selama ini. Beberapa jamaah yang hadir mengelaborasi tema secara apik dan tentunya penuh dengan tawa kemesraan. Di sini, mereka bersama-sama berupaya untuk membuat ‘Rumah Kaca’—mengutip pernyataan Mas Sabrang MDP bahwa Maiyah bagaikan sebuah rumah kaca kecil. Walaupun kecil, semoga cuaca di dalam rumah kaca tersebut tertata, sehingga yang tumbuh adalah benih-benih yang benar-benar bagus. Seperti malam ini, mereka yang hadir rela duduk berjam-jam dengan bekal kesadaran untuk membumikan paseduluran dan melangitkan katresnan.

Bicara tentang overdosis pilpres; apa yang terjadi dalam kompetisi politik tahun ini sangat vulgar, bahkan memberikan dampak negatif bagi lingkungan sekitar, baik terhadap masyarakat maupun terhadap alam. Berkaitan dengan alam, tentunya ada beberapa hal yang harus dicermati. Terutama, ditujukan terhadap baliho-baliho yang dipasang secara ngawur di berbagai lokasi. Tindakan tersebut dapat merusak tata kelola dan keindahan kota, sehingga meninggalkan kesan tak sedap dipandang oleh mata.

Suasana Telulikuran edisi ke-30 Damar Kedhaton

Di lingkungan masyarakat, perbedaan pilihan dapat menimbulkan sikap tak acuh kepada satu sama lain. Tentunya, ini sangat berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan ada juga, walaupun tidak semuanya, yang beranggapan bahwa mendukung salah satu calon pemimpin adalah bagian dari ibadah. Banyak juga dari beberapa lapisan masyarakat, terutama yang sudah berumur senja, tidak mengerti cikal-bakal calon pemimpin yang akan dipilih. Hal tersebut menjadikan demokrasi Indonesia tumpang-tindih, dan berpotensi memunculkan kecurangan-kecurangan yang tidak diinginkan. Dari beberapa hal tersebut, timbullah kekhawatiran, seolah-olah pemilihan calon pemimpin dapat membahayakan kondisi dari suatu negara, bahkan bisa memecah-belah masyarakat menjadi dua kubu.

Cak Syuaib, sebagai sesepuh DK, mencoba mendinginkan suasana diskusi yang cukup menguras energi, tenaga, dan pikiran. ”Mangano nek luwe,” kata Cak Syuaib. Sebuah pernyataan yang singkat, padat, dan jelas, namun syarat akan makna yang tersirat. Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah bagaimana memahami ilmu ukuran di segala dimensi kehidupan, harus mengerti sekaligus memahami perbedaan-perbedaan di setiap ukuran tersebut. “Gunakan kepekaan ‘rasa’ untuk melihat dan mendengar” pesan Cak Syuaib, agar kita senantiasa telaten meningkatkan kepekaan ‘rasa’ dalam menjalani kehidupan sehari-hari. “Mugi-mugi sekabehane iki gak didadekna wong sing overdosis”. pungkas Cak Syuaib. Beliau berharap, orang-orang yang setia berkumpul seperti ini mau telaten mencari kebenaran utuh tanpa ada tujuan apapun selain sinau bareng, dan semoga diperjalankan untuk tidak menjadi manusia yang overdosis di segala bidang kehidupan.

Berbicara tentang pemilu, pasti tidak jauh dari segala hal yang berbau politik. Secara garis besar, politik adalah upaya untuk meraih kekuasaan. “Nilai positif atau negatif dari politik itu tergantung bagaimana cara pengelolaannya”. Demikian penjelasan Pak Kris Adji (budayawan Gresik) tentang politik. Beliau juga menceritakan sedikit tentang awal mula sejarah perpolitikan di Indonesia. Pemilu pertama kali diselenggarakan pada tahun 1955 serta diikuti kurang lebih 29 partai politik. Pada era itu, sejarah mencatat beberapa kali terjadi pemberontakan. Selain itu, masih belum ada MPR, melainkan konstituante. Situasi negara saat itu tidak kurang menakutkan dibanding zaman sekarang, karena sedang berlangsung pertarungan beragam ideologi secara sangat tajam.

Suasana Diskusi “Overdosis Pilpres” Telulikuran edisi ke-30 Damar Kedhaton

Secara ideal, politik bisa diartikan sebagai pembagian kekuasaan dan pembentukan negara. Sayangnya, penjelasan politik saat ini adalah pembagian kekuasaan, bukan pembagian tugas. Hal sepele tersebut dapat memicu munculnya strategi politik yang ‘nakal’. “Kepada Tuhan pun kita juga bisa berpolitik. Politik iku njaluk secara alus”. Inilah penjelasan tentang politik yang disampaikan oleh Lik Ham. “Bersyukurlah bisa hidup di  zaman sekarang, karena telah ditunjukkan bekal kezaliman, dan berbagai kerusakan untuk pembelajaran di masa depan,” sambung Lik Ham.

Diskusi masih berlanjut dengan penuh kemesraan, tanpa ada pihak yang merasa ingin benar sendiri. Semua jamaah yang hadir menikmati alur jalannya diskusi yang terkadang meruncing, terkadang pula melebar dari tema yang dibahas. Pantau Bersama pun tak luput dari didiskusikan.

Pantau Bersama adalah salah satu aplikasi digital yang mengajak seluruh lapisan masyarakat, khususnya di era millenial ini, untuk bergotong-royong dan ikut serta secara aktif pada pelaksanaan Pilpres 2019. Aplikasi ini diinisiasi oleh Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh. Melalui aplikasi Pantau Bersama, masyarakat dapat mengenal lebih dekat kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden. Bukan sekadar mengenal sosok capres dan cawapres, melainkan fokus kepada program-program yang dikedepankan oleh mereka.

Lik Ham membersamai dalam diskusi Telulikuran edisi ke-30 Damar Kedhaton

Di akhir acara, Lik Ham berpesan banyak kepada jamaah yang hadir. Beliau tetap mengutamakan bagaimana cara mengelola hidup secara baik serta telaten, dan tentunya jernih, agar tidak mudah terhanyut oleh arus. Tak perlu jauh-jauh melangkahkan kaki; bisa menjadi apa yang kita jalani sekarang itu sudah termasuk bagian dari overdosis. Maka, fokuslah kepada kebutuhan yang memang benar-benar menjadi kebutuhan kita. Terutama, tentang berbagai hal yang berada di sekitar kita, dari lingkaran keluarga, lingkaran tetangga, dan lingkaran pengaruh kita. Utamakan untuk menyelamatkan keutuhan bangsa. Terkait dengan pileg dan pilpres, jangan terlalu dipaksa secara berlebihan. Jika memilih pemimpin, maka harus merujuk kepada Allah dan Kanjeng Nabi. Di dalam penggalan Surat Yusuf ayat 55 berbunyi ……” اِنِّى حَفِيْظٌ عَلِيْمٌ” yang artinya, “yang pandai menjaga lagi berpengetahuan”. Jadi, seorang pemimpin itu seharusnya pandai menjaga segala hal yang berkaitan dengan martabat dirinya serta yang dipimpin olehnya, di sisi lain juga diperlukan pengetahuan yang luas, agar mampu menghadapi segala permasalahan yang akan dihadapi.

Lik Ham berharap, semoga lingkaran DK jangan sampai mudah untuk dipecah-belah. “Ya Allah, mbok ya pas pemilu ngene iki sampeyan usil. Pasrahna sekabehane nang Gusti Allah. Ayo, kita temukan keasyikan di dalam keruwetan yang ada. Salah satunya adalah dengan sedikit usil.” pesan Lik Ham. “Yang terpenting adalah—ayo selalu berusaha menemukan Kanjeng Nabi di dalam diri kita masing-masing”. Pungkasan dari Lik Ham mengakhiri sesi diskusi Telulikuran kali ini.

Selanjutnya, pembacaan sholawat Thibbil Qulub yang dipandu oleh Cak Fauzi melangitkan harapan agar Allah senantiasa menemani JMDK dalam menjaga keutuhan Indonesia. Kemudian, Cak Qosim memimpin jamaah untuk berdoa. Momen kemesraan malam tersebut diabadikan lewat sesi foto bersama. Setelah itu, jamaah dipersilahkan untuk mengambil makanan berbentuk tumpeng yang sudah disediakan sejak acara belum dimulai. (KIS)