Reportase Telulikuran Edisi #31 April 2019 “Trayek Negeri Vasal”

Pada Sabtu, 27 April 2019, telah dilaksanakan rutinan Majelis Ilmu Damar Kedhaton. Cak Ibad dan Cak Amar mengawali kegiatan dengan nderes Al-Quran juz satu secara bergantian. Jannatul Maiyah Damar Kedhaton (JMDK) telah mengkhatamkan Al-Quran pada bulan Maret lalu, oleh sebab itu, sudah tiba saatnya untuk mengawali keistiqomahan nderes Al-Quran dari juz satu lagi dengan harapan agar Allah selalu senantisa menemani di setiap langkah perjalanan.

Rutinan Nderes Al-quran Telulikuran edisi ke-31 Damar Kedhaton

Majelis Ilmu Damar Kedhaton edisi ke-31 bertempat di Gedung Nasional Indonesia (GNI), tepatnya di Jalan Pahlawan, Gresik. Suasana hiruk pikuk keramaian Kota Gresik begitu terasa, apalagi berbarengan dengan acara “We Are United 2.0” yang digelar oleh Ultras Gresik Curva Sud (UGCS) di gedung Wahana Ekspresi Poesponegoro (WEP) yang tidak jauh dari lokasi Telulikuran. Kondisi lalu lintas sedikit terhambat, tetapi tidak sampai menyebabkan kemacetan yang cukup parah.

Seusai nderes Al-Quran, acara dilanjutkan dengan Amar Maiyah. Sebagai wujud pelaksanaan perintah dari Mbah Nun, Damar Kedhaton telah menggelar penghaturan doa Tahlukah dan Hizb Nashr dua kali. Dua hari sebelumnya, Amar Maiyah yang pertama digelar di rumah salah satu sedulur di tengah kota.

Amar Maiyah ke-2 sebelum memulai Telulikuran edisi ke-31 Damar Kedhaton

Pak Kris Adji, Cak Dil, Cak Rudd (Lumbung Bailorah), Cak Yasin (Maiyah Religi Malang), dan Cak Syuaib selaku kamituwa, membersamai kemesraan malam itu. Guyuran ilmu mengucur deras, tumpah ruah bak tumpahan air hujan yang turun dari langit. Beragam perspektif pandang diulas secara menyeluruh, baik dari para kamituwa maupun jamaah yang hadir di GNI malam itu.

Dengan spirit maraton, guna terus menyeimbangkan diri lewat sinau bareng, kurang lebih sekitar 40 orang berkumpul dan melepas ego, serta melingkar untuk mengikatkan paseduluran Al-Mutahabbina Fillah. Di salah satu sudut ruangan juga terlihat dua sedulur maiyah yang datang jauh-jauh dari Lamongan. Tak pandang penampilan, semua orang berhak mendaulatkan dirinya. Begitu juga dengan Cak Rifqi yang malam itu hadir dengan masih mengenakan seragam kerja, mbeber klasa mengajak para jamaah untuk belajar lebih mendalam tentang apa yang menjadi uneg-uneg nya, yaitu Trayek Negeri Vasal.

Poro kamituwo. Dari kanan Cak Syuaib, Cak Yasin, Cak Rudd Blora, Cak Dil, Pak Kris. Telulikuran edisi ke-31 Damar kedhaton

Trayek Negeri Vasal adalah tema yang diangkat pada Telulikuran malam itu, berkesinambungan dengan dua tema yang pernah dikupas sebelumnya pada edisi yang ke-29 dan 30, yaitu Daulat DiRI dan Overdosis Pilpres. Bisa ditarik benang merah, bahwasanya Trayek Negeri Vasal adalah jalan yang ditempuh oleh sebuah negeri yang sedang mengalami darurat kedaulatan, di mana negeri tersebut dikontrol langsung oleh negara yang lebih kuat.

Cak Syuaib menambahi penjabaran mengenai tema telulikuran edisi ke-31 Damar Kedhaton

Trayek juga bisa disebut dengan rute perjalanan. Dalam hal ini, Cak Syuaib menganalogikan trayek dengan rute angkutan umum. Unsur-unsur yang mendukung rute dari angkutan umum sendiri terdiri atas bermacam-macam pihak. Sebut saja sopir, kernet, penumpang, pemilik armada, Dishub, polisi, dsb. Di balik itu semua, pastinya juga ada banyak kepentingan yang mendukung keberlangsungan roda perputaran angkutan umum. Secara garis besar, kepentingan dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu pribadi, kelompok, dan sejati.

Pak Kris Aji membedah tema dengan menarik jauh ke belakang pada masa Kerajaan Majapahit. Saat itu, daerah-daerah perdikan menghamba kepada Majapahit. Menghamba di sini memiliki makna memohon perlindungan dan pengayoman kepada Majapahit. Banyak hal yang perlu dipelajari secara utuh, tidak sepenggal-sepenggal, terutama kepada Kerajaan Majapahit.

Pak Kris mengulas tema lewat sejarah, telulikuran edisi ke-31 Damar Kedhaton

Gresik juga kaya akan budaya leluhur yang perlu dijaga, salah satunya, Damar Kurung. Cak Dil mengajak jamaah untuk mengembangkan dan melestarikan karya tersebut. Damar Kurung adalah sebuah  lampion kayu berbentuk segi empat dengan sudut menyerupai segi tiga di bagian atas. Keempat sisinya berhiaskan lukisan. Lukisan yang termuat dalam keempat sisi biasanya bertemakan sisi-sisi kehidupan masyarakat Gresik. Dari situ dapat diambil makna, bahwa nenek moyang telah mewariskan peradaban Nusantara, terutama di wilayah Gresik lewat lukisan yang menggambarkan kehidupan di masa lampau.

Tidak semua vasal berkonotasi negatif; ada juga yang positif, seperti sistem pengayoman Kerajaan Majapahit terhadap kerajaan-kerajaan kecil serta kepemimpinannya terhadap 2/3 wilayah dunia. “Sebenarnya Majapahit itu tidak menjajah, melainkan mengayomi dan melindungi”. Pemaknaan baru tentang Majapahit yang diberikan oleh Cak Dil kepada jamaah, bahkan, belum pernah dimuat dalam kurikulum pendidikan nasional.

Lebih menariknya lagi, kembali ke otentitas pada masa Kerajaan Majapahit, bahwasanya kedaulatan benar-benar berada di tangan rakyat. Masyarakat abdan abdiya’, khalifatullah-khalifatullahi fil ardl’ yang terpatri dalam dada manusia kala itu memungkinkan wilayah administratif ketatanegaraan Majapahit bermula dari akar rumput. Maksudnya, masyarakat tingkat kelurahan bisa berdaulat menentukan kepada kerajaan mana ia tunduk secara administratif. Bahkan, setiap kelurahan pun bisa dengan mudahnya untuk meloncat sana-sini untuk ‘menghamba’ kepada kerajaan yang dipilih. Singkat kata, masyarakat tingkat kelurahan diberi kedaulatan untuk menentukan kepada kerajaan siapa ia akan menundukkan diri.

Penambahan Ilmu bab tema oleh cak dil, Telulikuran edisi ke-31 Damar Kedhaton

“Pertama kali ide pertanian ditemukan oleh kaum ibu-ibu. Ketika kaum laki-laki berburu masuk ke dalam hutan, sedangkan kaum ibu menemukan berbagai macam tanaman yang kemudian bisa disebut juga dengan dunia pertanian”. Masyarakat Indonesia sebenarnya sudah punya metode untuk bisa survive dalam rangka menghadapi persaingan pada era globalisasi seperti saat ini. Dijelaskan secara definitif oleh Cak Dil dalam konteks pertanian dan peternakan.

Dari beragam cara, sudut, sisi, jarak, lingkaran, serta bulatan pandang yang telah dielaborasi secara apik dan tentunya tetap dalam suasana kegembiraan, terutama yang berkenaan dengan masa Kerajaan Majapahit. Sebenarnya Indonesia adalah bangsa yang besar secara spiritual, sosio-psikologis dan ketatanegaraan. Hanya saja, saat ini ada sesuatu yang sangat krusial dan masih hilang entah ke mana, mengembara hingga pada suatu saatnya nanti akan berada pada situasi dan kondisi lingkungan yang tepat.

Sesuatu yang paling krusial tersebut adalah team work—kekompakkan dan kerjasama intens dalam segala bidang. “Kita harus melatih anak-anak untuk belajar dan mampu bekerja sama dalam sebuah tim”. Cak Dil berpesan agar kita telaten membersamai pertumbuhan dan perkembangan anak-anak sejak usia dini, terutama dalam hal bebrayan. “Sing penting nandur, poso, lan sodaqoh”. Hal ini Sejalan dengan dhawuh Mbah Nun yang berkaitan dengan rakaat panjang, bahwasanya jangan pernah berharap kepada hasil jerih payahmu sendiri, melainkan langitkan harapan itu kepada Yang Maha menentukan nasib di dunia.

Cak yasin dan Cak Rudd Blora turut urun sudut pandang bab tema, Telulikuran edisi ke-31 Damar Kedhaton

Suasana Gedung Nasional Indonesia (GNI) semakin malam semakin dingin, dibalut dengan terkurasnya energi akal dan hati para jamaah yang menambah panasnya atmosfer. Kemudian, Cak Nanang (Kota) dan Cak Amar mempersembahkan musikalisasi puisi guna menghangatkan dinginnya malam, serta menyegarkan akal dan hati yang hampir loyo. Puisi yang berjudul “Rindu Dendam” dibersamai dengan petikan gitar serta soundtrack “Kebenaran akan Terus Hidup” karya Fajar Merah. Bunyi yang terdengar melantun dengan indah, merambat lewat udara, menyerap energi positif dari tiap benda mati yang ada, serta memantul merasuk ke kedalaman jiwa para jamaah.

 Jam menunjukkan pukul 03.00 WIB. Jamaah yang hadir masih sangat antusias untuk melanjutkan diskusi ilmu. Di sisi lain, mereka juga harus memahami ilmu tentang batas. Oleh sebab itu, dengan hati yang legowo, semua jamaah bersepakat untuk memungkasi Majelis Ilmu Damar Kedhaton edisi ke-31 tersebut. Sebelum diskusi berakhir, beberapa percikan penutup dari disampaikan oleh para kamituwa.

Serius namun Mesra, Wajah-wajah Jamaah saat elaborasi tema, Telulikuran edisi ke-31 Damar Kedhaton

“Sekarang ini, masih ada banyak hal yang terlalu meruwetkan segala sesuatu yang sebenarnya tidak rumit amat, misalnya sistem sertifikasi dalam hal pertanian.” tutur Cak Dil.

“Kenapa segala sesuatu harus ada sertifikasinya, bahkan pihak yang memiliki kewenangan untuk mensertifikasi berasal dari luar negeri.” lanjut Cak Rudd (Lumbung Bailorah), mempertajam sudut pandang Cak Dil. “Sing penting anakmu, keluargamu nang Gusti Allah iku tetep nyambung.pungkasnya.

Sinau bareng diakhiri dengan shalawat Alfu Salam dan wirid Hasbunallah yang dilantunkan bersama-sama, dipandu oleh Cak Rudd (Lumbung Bailorah). Kemudian, Majelis Ilmu Damar Kedhaton edisi yang ke-31 tersebut dipungkasi dengan doa oleh Cak Yasin (Maiyah Relegi Malang) tepat pada pukul 03.25 WIB. (KIS)