Prolog Telulikuran DK Edisi #32 – Mei 2019 “Jejak Sang Sahan”

Dua Puluh Tujuh Mei adalah penanda. Enam puluh enam tahun yang silam, dinaungi rembulan yang sedang purnama, ia dilahirkan. Di sebuah pelosok desa di Kabupaten Jombang, Menturo namanya. Ialah pewaris cincin. Imam Zahid, kakek buyutnya, adalah salah satu dari empat murid Syaikhona Kholil, mendapat amanah cincin. Satu murid menerima pisang, dua murid yang lain diamanati kitab. Apa gerangan makna cincin, kitab, dan pisang?

Ia tumbuh di keluarga yang atmosfer kesehariannya kental dengan pengasuhan dan pelayanan pada sesama. Sang Ibunda acap mengajaknya mengunjungi rumah tetangga yang papa, sekedar memastikan asap dapurnya tetap menyala. Ayahnya adalah sosok ulama desa, yang konsisten menjaga denyut peradaban masyarakat terus berjalan. Dari sisi pendidikan, penguatan ekonomi, hingga olahraga.  Keragaman corak ideologi khas era orde lama yang sengit dan tajam, diramu oleh sang ayah dalam kewajaran bebrayan warga desa.

Sejak usia belia, bakat perlawanan telah ia tunjukkan. Masih seusia SMP, ia “diusir”dari Pondok Modern Gontor, setelah ia menggerakkan massa untuk melayangkan protes atas kebijakan pondok.  Selepas tamat SMA di Jogja, ia melanjutkan studi di UGM. Satu semester di kampus, ia merasa cukup. Menggelandang di Malioboro menjadi pilihan medan belajarnya. Kepada Umbu, ia berguru.

Jejak karyanya tak lagi terbilang di dunia sastra. Kolom-kolomnya mewarnai media utama. Musikalisasi puisi, ialah pionirnya. Sastra tak sekedar untuk sastra. Ia  telah menempuh perlawanan budaya. Lautan Jilbab, Geger Wong Ngoyak Macan, Pak Kanjeng, adalah sedikit dari sekian banyak judul pementasan perlawanan yang ia gelar.

Belum lagi buku antologi puisi, kumpulan cerpen, kumpulan essai, naskah teater, syair lagu, naskah film, ah…masih banyak lagi daftar karyanya. Apatah lagi sepak terjangnya di level nasional. Meskipun sepi dari catatan sejarah, tak bisa dielak, ia senantiasa hadir menyetorkan komitmen kepengayomannya.

Dulur, kita lanjutkan saja ikhtiar membaca ulang jejaknya ini di perjumpaan darat. Masing-masing dari kita dapat saling urun cuplikan cerita. Dengan itu, kita dapat saling memperkaya hikmah, betapa produktif dan konsistennya jejak perjuangan yang telah ia teladankan. Senyampang dengan itu, mari saling berbagi pertautan ide, pertalian batin, dan jalinan katresnan yang engkau alami, dengannya. Tentu saja kita sama-sama telah terlatih untuk tidak terjebak pada pengkultusan individu. Bukankah itu pula yang selalu ia tegaskan di setiap kali maiyahan?! Ini adalah sebentuk ikhtiar tahadduts bin ni’mah dan ungkapan syukur di momentum bulan Mei, bulan ia dilahirkan.

Tetap dalam payung istiqomah mengakkan segitiga cinta antara Allah – Kanjeng Nabi – Hamba, mari melingkar kembali di Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke 32, pada :

Jumat, 17 Mei 2019

Pukul 20:23 WIB

Di Balai Desa Dalegan,

Kecamatan. Panceng, Gresik.