Tikus-Tikus Dalam Jiwa Manusia

Jika sepasang tikus jantan dan betina berhasil menyelinap ke dalam sebuah gudang beras tanpa penjaga, maka dalam waktu setahun jumlah tikus di gudang akan mencapai 10.887 ekor—dengan asumsi setiap ekor tikus betina rata-rata melahirkan 7 ekor cindil (5 betina, 2 jantan) setiap 60 hari sekali, dan semuanya hidup. Seandainya di dalam gudang terdapat 100 ton beras dan setiap ekor tikus menghabiskan rata-rata 25 gram beras setiap harinya, maka beras di dalam gudang akan (nyaris) habis tepat dalam waktu setahun. Hanya dengan dua ekor tikus saja, gudang beras dan isinya bisa dikuasai tikus-tikus dalam waktu yang relatif singkat.

Sekarang kita ganti kata tikus di atas dengan “nafsu” (nafsu apa saja, jenis maupun objeknya: syahwat, amarah, makanan, harta-benda, gelar dan pangkat, kekayaan, kekuasaan, dll), sementara gudang beras kita ganti dengan “jiwa”. Lalu kita bayangkan, seandainya tikus-tikus nafsu yang tinggal di dalam jiwa manusia ini bisa dihitung secara matematis, maka sudah berapa ratus juta atau bahkan milyar ‘tikus’ yang menghuni jiwa anak Adam dari ia kecil sampai akhir hayatnya (?) Untungnya, atas rahmat Allah, melalui sunnatullah-Nya, yang seperti itu bisa dihindari meskipun seringkali membutuhkan latihan yang ketat dan konsisten. Insting tikus, sebagaimana binatang pada umumnya, adalah survive (bertahan hidup) dan berkembang biak untuk melestarikan keturunan/spsiesnya. Insting inilah yang menuntun tikus menyelinap masuk ke dalam gudang beras. Begitu pula dengan nafsu, ia selalu mencari-cari apa yang diinginkannya hingga terpuaskan sebagaimana tikus yang mencari beras. Dalam kebudayaan dengan nilai-nilai antroposentris yang kuat, tikus sering dipakai sebagai simbol bagi nafsu-nafsu rendah—bersifat kotor, rakus, licik, dan merusak. Tikus juga berkembang biak dengan cepat jika lingkungan tempat tinggalnya mendukung: rumah yang ditinggalkan penghuninya, di dalam gudang beras tanpa penjaga, atau di tempat-tempat dimana sisasisa/sampah makanan terkumpul. Nafsu pun sama, ia tumbuh subur di dalam jiwa-jiwa yang tidak terawat, jiwa yang ruang-ruangnya banyak diisi dengan tumpukan materi keduniaan, serta jiwa-jiwa yang senang berada di tempat-tempat maksiat. Namun, apa yang penting untuk diingat di sini adalah, bahwa keberadaan nafsu, sebagaimana tikus, adalah qudrat-iradat Allah yang mana keduanya memang harus ada, tak semestinya diingkari, apalagi dibasmi habis. Tikus harus ada (sampai pada tingkatan jumlah tertentu) supaya ular, elang, burung hantu, dan binatang-binatang pemangsa tikus lainnya bisa tetap bertahan hidup, sehingga populasi predator dan mangsa tetap seimbang. Begitu juga dengan nafsu, ia mesti ada dan diberi ‘makan’ secukupnya, tidak hanya agar manusia mampu melangsungkan hidup, tetapi juga supaya bisa menikmati hidupnya secara wajar.

Metafora tikus sebagai nafsu tampak parallel dengan apa yang di dalam ilmu ekologi disebut biological control (pengendalian hama, pest). Di dalam suatu ekosistem sawah yang sehat, populasi tikus secara alami akan dibatasi oleh ketersediaan sumber makanan (padi) serta dikendalikan oleh kehadiran ular, elang, dan/atau burung hantu sebagai ‘musuh’ alaminya (natural enemies). Demikian halnya dengan nafsu, agresivitas dan ruang geraknya dibatasi oleh ada/tidaknya objek sasarannya serta dikendalikan oleh (kejernihan) akal dan (kelembutan) hati yang dari persambungan keduanya melahirkan cahaya iman dan akhlaqul karimah. Dalam konteks ini, jiwa manusia dapat dipandang mirip seperti ekosistem sawah dimana nafsu (sebagai salah satu pelaku utama dalam ekosistem kejiwaan manusia) adalah sesuatu yang wajar adanya selama akal dan hati hadir dalam laku keseharian dan berfungsi secara seimbang sesuai niche (peranannya) masingmasing. Dalam bidang tasawuf, terdapat suatu konsep yang sejajar dengan biological control dalam ekologi, yaitu takziyatun nafs yang tujuan utamanya adalah membersihkan jiwa dari ‘tikus-tikus’ yang bersarang di dalamnya, minimal supaya potensi buruk dalam diri kita (nafsu lawwamah) tidak sampai menjadi perilaku jahat dan liar yang menyebabkan kerusakan (nafsu ammarah bissu’). Dari pengertian ini, maka takziyatun nafs adalah melatih ‘Elang Akal dan Hati’ untuk terus mengasah ‘paruh dan cakar-cakar iman’ serta mengepakkan ‘sayap akhlaqul karimah’ nya sehingga ‘tikus-tikus’ nafsu yang berkeliaran di dalam ‘sawah jiwa’ manusia—nifaq, riya’, hasad, iri dengki, ujub, sombong, pemarah, dan tamak—dapat dimangsanya dengan cepat.

Di satu sisi, memang terasa lebih ringan (tidak begitu mengkhawatirkan) bila cara kita melihat keberadaan nafsu dan skala ruang geraknya sebatas di level individu, orang per orang. Namun, di sisi lain, jika kita mencoba memproyeksikan ‘tikus-tikus’ lawwamah pada skala yang lebih luas—komunitas masyarakat, perusahaan, korporasi, pemerintahan dan negara, hingga pasar global—seketika rasanya menjadi horror. Ada semacam bayangan dimana adegan ‘tikus-tikus’ lawwamah berkembang biak sangat cepat dan saling berebut memasuki jiwa-jiwa manusia melalui ribuan lorong gelap materialisme dan hedonisme yang terhubung secara real time ke gadget, TV, rumah-rumah, cafe dan restoran, mall, hotel, pusat-pusat kota, tempat-tempat hiburan dan destinasi wisata, stasiun, bandara, bank, pabrik-pabrik, kantor-kantor pemerintahan, korporasi, gedunggedung parlemen dan istana negara, bahkan sampai ke stasiun antariksa. Lalu, tiba-tiba dalam sekejap kumpulan massa ‘tikus-tikus’ lawwamah di seluruh penjuru dunia membentuk struktur-struktur dan sistem operasional ekonomi-politik baru yang bercirikan nafsu ammarah bissu’—melampaui batas, dholim, merusak tatanan—tetapi dalam kemasan baru: neo-liberalisme dan neo-imperialisme. Inilah awal mula petaka dunia, ketika ‘ekosistem sawah’ jiwa manusia modern—yang dulunya terbuka luas tur ijo royo-royo; gantrung, walang, manuk, kupu-kupu sliweran—tiba-tiba direduksi fungsinya sedemikian rupa oleh berhala-berhala modernitas (dengan sesajen dan dupa-dupa berupa materialisme akut) menjadi sebatas “gudang beras”, gelap tanpa penjaga. Akibatnya, peradaban masyarakat modern cenderung timpang dalam melihat kebutuhan hidupnya: mereka hanya butuh beras, bukan sawah; butuh nasi, bukan petani padi; ingin panen, tapi tidak mau bersusah payah ikut macul dan tandur; mau dapat bulir padi yang baik, tapi malah menaburi sawahnya dengan racun dan mengundang wereng. Mereka terus saja menumpuk ‘beras keduniaan’ di dalam ‘gudang jiwanya’, sementara tanpa sadar membiarkan ‘tikus-tikus nafsu’ beranak pinak dan menguasai jiwa serta segenap dunia tempat tinggalnya. Mengenai tikus dan kehidupan modern, saya ingin menuliskannya sebagai berikut:

Semasa masih tinggal (ngekos) di Jakarta tahun 2015 – 2017, setiap kali pulang kerja (agak larut malam) berjalan kaki melewati gang-gang di daerah Palbatu, Menteng Dalam, saya sering dikagetkan oleh kerumunan tikus yang tiba-tiba berhamburan keluar dari tong sampah di depan rumah warga. Ketika hari mulai gelap, tikus-tikus ini keluar dari sarangnya, bergerilya menyusuri got-got becek sembari mengendus-endus bau sampah (sisa-sisa makanan) yang menumpuk di tong atau bak sampah. Sesekali muncul dalam pikiran saya sebuah gambar imajiner dari dunia bawah tanah kota Jakarta yang dihuni oleh jutaan ekor tikus—suatu dunia yang sama sekali berbeda dengan apa yang ada di atasnya namun sebenarnya antara keduanya tak terpisahkan. Tikus-tikus ini, mereka menjadi sebuah simbol yang sempurna atas sisi lain—sisi gelap—dari kehidupan metropolis-modern kota Jakarta serta perilaku orang-orangnya. Populasi manusia yang berjejal, deretan beton-beton mati, konsumerisme dan keserakahan, membuang-buang makanan, tumpukan sampah, got-got yang becek dan bau, rumah-rumah yang berdempet dan gang-gang yang penuh sesak, kali yang hitam dan bau. Semua itu, pada akhirnya, hanya semakin memberikan ruang subur bagi tikus-tikus untuk beranak-pinak secara hampir tak terkendali. Jakarta mirip seperti kandang ternak tikus!

Jika kita mau merenungkan ayat-ayat kauniyah (fenomena alam) secara sungguhsungguh dan menyandingkannya dengan ikhtisar ilmiah dari hasil-hasil riset mutakhir, maka akan terlihat jelas bahwa seluruh alam raya dan isinya—mulai dari partikel subatom yang berdiameter 1/1000 triliun meter sampai dengan galaksi yang bergaris tengah jutaan tahun cahaya—mewujud dalam tatanan yang (super) teratur dan seimbang, in equilibrium. Tak terkecuali nafsu yang ada dalam diri manusia, ia adalah bagian tak terpisahkan dari tatanan kosmis. Kita harus menerima bahwa ada ‘tikus-tikus’ yang berkeliaran di dalam jiwa kita semua, bahkan ia adalah bagian dari diri kita, tak perlu merasa jijik; tak usah pula mengutuk-ngutuki nafsu, merendah-rendahkannya, apalagi ingin menghilangkannya dari diri kita, karena itu berarti mendholimi diri sendiri. Apa yang semestinya kita perbuat adalah merawat, menjaga, dan melatih ‘Elang Akal dan Hati’ di dalam diri kita—karena ini yang sering kita abaikan—agar populasi ‘tikus-tikus nafsu’ di dalam ‘sawah jiwa’ kita tidak sampai melampaui batas dan menjadi hama yang merusak. Ketika semua pelaku di dalam ‘ekosistem sawah’ jiwa manusia (nafsu, akal, hati) mendapatkan hak dan kebutuhan hidupnya masing-masing (ruang, makanan) secara cukup dan adil serta tidak terputus tali silaturrahim diantara ketiganya, maka jiwa manusia ada dalam keadaan yang seimbang, stabil, ijo royo-royo, dan tidak gampang muncul hama penyakit. Inilah jiwa yang dirahmati Tuhannya (nafsul mutmainnah).

 

 Mohammad Shofie

Jamaah Maiyah Damar Kedhaton (JMDK), tinggal di Cerme, Gresik.