Reportase Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Edisi #32 Mei 2019 “Jejak Sang Sahan”

Dalegan merupakan salah satu desa yang lokasinya tidak jauh dari bibir pantai, tepatnya di Kecamatan Panceng, Gresik. Secara geografis, wilayahnya berada di Gresik bagian utara. Akses jalan menuju Desa Dalegan cukup sempit, agak bergelombang, dan banyak tanjakan curam.

Aula Balai Desa Dalegan menjadi lokasi berlangsungnya rutinan Majelis Ilmu Damar Kedhaton untuk edisi yang ke-32. Tepatnya, pada Jumat, 17 Mei 2019. Suasana dinginnya malam itu sangat terasa sampai ke sumsum tulang. Meskipun begitu, nuansa bulan Ramadhan masih terasa begitu hangat. Terdengar lantunan suci ayat-ayat Al-Quran di beberapa masjid atau langgar menuju Balai Desa. Sementara itu, halaman Balai Desa Dalegan telah disesaki kendaraan jamaah yang menghadiri Telulikuran. Berbekal spirit Sinau Bareng, mereka ingin menuntaskan rindu dengan pertemuan yang penuh kegembiraan. Beberapa sedulur Maiyah dari Gresik wilayah selatan, barat, dan kota, bahkan, ada yang berasal dari Lamongan, sangat antusias merapatkan diri untuk melingkar bersama dalam majelis ilmu yang selalu dinanti-nanti.

Tadarus Quran Juz 2 oleh Novita Ribhatun Nafa’ah dan Zaitantiyana Ayu, penghaturan shalawat yang dipandu oleh Cak Purwo, Cak Iqbal, Cak Huda

Tadarus Quran dibacakan oleh dua pemudi setempat, yaitu Novita Ribhatun Nafa’ah dan Zaitantiyana Ayu. Al-Quran Juz 2 dibaca dengan khusyuk dan syahdu menusuk qolbu. Acara kemudian dilanjutkan dengan penghaturan shalawat yang dipandu oleh Cak Purwo, Cak Iqbal, Cak Huda, dibersamai tabuhan banjari IPNU Ranting Dalegan. Jamaah yang hadir benar-benar menikmati lantunan cinta kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, terlihat jelas dari ekspresi wajah mereka yang begitu menghayati.

Salah satu pemuda perwakilan karang taruna setempat menyambut acara ini dengan penuh syukur dan bahagia. Salah satu ungkapannya berwujud sedekah energi guna mempersiapkan segala hal yang menunjang berjalannya Majelis Ilmu Telulikuran, seperti tempat acara, sound system, tikar, dll.

Cak Fauzi memaparkan karakter Mbah Nun yang disimbolkan oleh istilah Sahan.

Majelis Ilmu Damar Kedhaton kali ini mengangkat tema dengan judul “Jejak Sang Sahan”. Tema tersebut diambil berdasarkan momentum yang terjadi, yaitu tepat pada bulan kelahiran Simbah Emha Ainun Najib. Bulan Mei merupakan bulan istimewa. Oleh karena itu, jamaah Maiyah Damar Kedhaton ingin sinau lebih dalam tentang beberapa hal yang berhubungan dengan beliau, terutama perjalanan hidupnya.

“Sahan adalah sosok yang sederhana, dan hatinya selalu terikat kepada wong cilik”. Lewat mbeber klasa, Cak Fauzi memaparkan karakter Mbah Nun yang disimbolkan oleh istilah Sahan.

Cak Syuaib dan Abah Hamim membersamai jamaah mengulas beberapa cerita pengalaman hidup Sahan

Telulikuran kali ini juga dibersamai oleh dua orang kamituwo, yaitu Cak Syuaib dan Abah Hamim. Abah Hamim adalah salah satu sahabat Sahan yang pernah berjuang menimba ilmu di Berlin, Jerman. Pada kesempatan tersebut, Abah Hamim sedikit mengulas beberapa cerita pengalaman hidup Sahan saat berada di Berlin. Bahwasanya, beliau benar-benar menikmati hidup dalam kesederhanaan; makan apa adanya, lauk tahu tempe pun adalah hal biasa. Selain itu, Sahan juga sangat aktif menulis, kapan pun dan di mana pun—sambil ngopi, diskusi, atau pun saat kondisi sepi.

“Cak Nun iku NU-ne Muhammadiyah, atau Muhammadiyah-e NU. dhawuh Kiai Alfin yang turut hadir malam itu. Melalui sosok Sahan, beliau menyuntikkan spirit persatuan dan keutuhan hidup berbangsa dan bernegara. Selain itu, Kiai Alfin juga menyambut baik adanya forum sinau bareng pada malam tersebut. Beliau berharap agar, nanti, forum semacam ini bisa istiqomah diselenggarakan.

beberapa jamaah menceritakan pengalaman masing-masing ketika pertama kali dipertemukan dengan Maiyah

Para jamaah pun dipersilahkan menceritakan pengalaman masing-masing ketika pertama kali dipertemukan dengan Maiyah. Mulai dari keintiman mendengar sekaligus menghayati iringan musik Kiai Kanjeng, ketakjuban akan atmosfer sinau bareng yang terkesan ‘nyeleneh’ dan selalu menggembirakan, hingga diskusi hangat yang perlahan, secara tidak sadar, mengubah pola pikir menuju titik keseimbangan. Bahkan, banyak yang merasa terhanyut dengan sendirinya ke dalam pusaran energi Maiyah tersebut. Ada juga yang diperjalankan lewat anaknya yang tertarik magnet Maiyah tanpa paksa, hingga merasa candu dan rindu untuk menghadiri acara sinau bareng.

Cak Madrim mempersembahkan lagu yang berjudul ‘Titip Rindu Buat Ayah’ karya Ebiet G. Ade, dibersamai petikan gitar Cak Yusuf.

Embusan angin malam di wilayah pesisir pantai, serta diskusi yang menukik tajam hingga menusuk sumsum tulang membuat hawa malam terasa semakin dingin. Maka, sudah sepatutnya jika acara dilanjutkan dengan sesi penghangatan. Cak Madrim mempersembahkan lagu yang berjudul ‘Titip Rindu Buat Ayah’ karya Ebiet G. Ade, dibersamai petikan gitar Cak Yusuf. Lagu tersebut dipersembahkan untuk beliau, Sang Sahan—lambang semangat yang tak pernah pudar, walau langkah terkadang gemetar. Kemudian Mas Asif, selaku Ketua Karang Taruna ‘Garda’, mempersembahkan puisi berjudul “Munajat Apel Merah”. Pembacaan puisi terasa syahdu dan nikmat. Petikan gitar kembali bergetar, membumbui atmosfer diskusi yang sedang berlangsung menjadi semakin mesra.

Abah Hamim mempertajam sudut pandang jamaah terutama yang berhubungan dengan tema

Diskusi pun dilanjutkan. Abah Hamim mempertajam sudut pandang jamaah dengan menambah bekal sejarah, yang memang dibutuhkan untuk menggali informasi para leluhur, terutama yang berhubungan dengan tema. Bahwasanya, Sahan adalah pelaku puasa sepanjang zaman. Prinsip hidup tersebut beliau pegang secara teguh dan mengakar. Selain itu, Abah Hamim juga menjelaskan tentang perjalanan Padhang Mbulan, sejak awal berdirinya hingga saat ini. “Mbah Nun itu tidak malu bertanya kepada siapapun. Beliau juga sangat tawadhu kepada orang tua beserta seluruh saudaranya.” Betapa kita semua, para pejalan Maiyah, sangat perlu meneladani sikap tersebut dan senantiasa berupaya untuk menerapkannya dalam perilaku sehari-hari. Perlu diketahui,Sang Sahan juga memperkuat sekaligus mendalami ilmu shorof kepada ayahandanya, Mbah Muhammad. Salah satu output-nya adalah kecerdikan beliau (Mbah Nun) dalam othak-athik-gathuk setiap kata hingga memahami makna yang terkandung secara mendalam.

“Anak yang hebat terlahir dari pusaka yang hebat.” tutur Cak Syuaib, salah satu kamituwa yang berkesempatan hadir dalam Majelis Ilmu Telulikuran. Beliau menuturkan, bahwa Ibunda Halimah adalah sosok Ibu yang sangat telaten dalam mendidik anak-anaknya, baik secara materiil, moral, dan spiritual. Ada salah satu amalan wirid yang khusus dipersembahkan untuk Mbah Nun, yaitu mengirim Al-Fatihah sebanyak 1000 kali dengan tidak mengesampingkan putra-putri yang lainnya. “Sing penting titen. Nek gak isok titen, ayok diistiqomahi ae.” pungkas Cak Syuaib. Karena, menurut beliau, petunjuk dari Allah akan datang kepada orang yang tidak pernah pamrih serta gelem niteni kahanan yang kita alami sehari-hari.

Diskusi berlangsung sangat hangat. Beragam perspektif diulas secara subyektif berdasarkan pengalaman pribadi masing-masing jamaah

Diskusi berlangsung sangat hangat. Beragam perspektif diulas secara subyektif berdasarkan pengalaman pribadi masing-masing jamaah. Tidak penting benar atau salah, yang perlu diutamakan adalah semua saling menerima dan mengisi kekosongan yang ada. Seluruh jamaah berhak memilah-memilih sendiri hal-hal yang diperlukan bagi dirinya masing-masing. Proses tersebut, tentu, berlangsung berdasarkan pengalaman pribadi, karena setiap individu pasti memiliki pengalaman yang berbeda.

Tepat pada pukul 02.40 WIB, Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-32 ditutup dengan penghaturan wirid Maulan Siwallah, dilanjutkan dengan Duh Gusti, dan dipungkasi dengan doa yang dipandu oleh Cak Huda. Momen kemesraan yang menggembirakan pada malam itu diabadikan lewat sesi foto bersama, agar nantinya bisa dikenang, terlebih, bisa menjadi pembelajaran bagi anak cucu kita kelak.  (KIS)