Reportase Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Edisi #33 Juni 2019 “Tuna Sathak Bathi Sanak”

Seperti juga dialami daerah lain, suhu udara saat malam hari di Gresik belakangan cenderung dingin. Bulan Juni berada di rentang musim kemarau. Terik panas menyengat di siang hari, tapi dingin mencekat sejak malam tiba hingga pagi. Bediding, sebutan masyarakat Jawa untuk menandai gejala alam ini. Rabu malam 26 Juni 2019, di sebuah pendopo mungil di kompleks SD Alami Driyorejo, berbeda suasana. Betapa tidak, hampir enam puluh manusia duduk melingkar saling merapat, maka tiada lagi dingin, yang ada hanyalah hangat.

nDeres Al Quran Juz 3

Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton menapaki edisinya yang ke-33. Masih di bulan Syawal dalam kalender hijriyah, malam itu mereka melingkar hendak menggali nilai, mencakrawalakan pandangan, dalam naungan tema “Tuna Sathak, Bathi Sanak”. Mudik ketika lebaran tiba – yang memang tradisi khas orang Nusantara – menjadi fakta memantik lahirnya tema itu.

penghaturan wirid dan shalawat yang dipandu oleh Cak Andre Tedjo

Selepas juz tiga tuntas didaras, seusai wirid dan sholawat dilantunkan, maka majelis ilmu itu dibuka. Pak Munashim, Kepala Desa Kesamben Wetan, menyampaikan sambutan hangat. Ia berterima kasih kepada dulur-dulur Damar Kedhaton yang malam itu kembali singgah di sekolah yang ia bina. Memang, dua tahun silam Telulikuran pernah digelar di sini. Dalam sambutannya, Pak Munashim tak lupa berbagi pesan kepada jamaah. “Mauidhoh hasanah itu mudah, yang terpenting adalah uswatun hasanah”, tegasnya. Keteladanan kian menjadi barang langka. Sementara tabiat gemar mengomentari hingga kemalan nuturi makin mengemuka. Di tengah arus interaksi sosial seperti itu, dibutuhkan kesadaran untuk berlomba menampilkan keteladanan yang baik. Dalam aras urip bebrayan, tak bisa dipungkiri adanya proses saling bertukar, soal apapun saja. “Urip kudu urup, dan urup mesti ada kurang lebihnya. Maka dari itu kita tak usah adigang, adigung adiguna”,

pesan Pak Munashim mengakhiri sambutan.

Abah Munashim memberikan sambutan, diimbuhi beliau dengan mengupas tema “Tuna Satha Bathi Sanak”

Elaborasi tema mulai terasa menukik ketika Mas Adi, dosen UMAHA Sidoarjo membagi gagasannya. “Salah satu contoh tuna sathak bathi sanak adalah tradisi weweh / tinjo / ater-ater menjelang lebaran. Pada masa kecil saya sering disuruh mengantar makanan ke sanak saudara dan tetangga. Tujuannya adalah agar anak-anak mengenali saudaranya”, ulas Mas Adi. Tak bisa dipungkiri memang, betapa masyarakat Jawa begitu kreatif dan arif dalam menanamkan nilai pada penerusnya. Tradisi weweh ditempuh “hanya” untuk  kenalan. Mas Adi juga menandaskan bahwa bathi sanak  adalah tentang bagaimana mengendalikan ego. Merendahkan hati untuk rela tidak tamak meraih laba demi menambah saudara. Diperlukan kerelaan untuk mengenali timing kapan harus untung kapan harus rugi. Pembiasaan untuk mengalami rugi secara tidak langsung akan melatih diri untuk tidak mudah takut, dan hidup lebih mandiri.

Suhu udara makin dingin, menyambut rombongan jamaah yang baru tiba di lokasi. Memang telah sama-sama dimaklumi, tidak semua jamaah bisa hadir sejak sore hari. Ada yang harus menempuh jarak yang cukup jauh, ada yang masih lembur di tempat kerja. Jamaah saling menggeser posisi duduk untuk memberi keleluasaan bagi sedulur yang baru datang. Kopi panas gelombang kedua disajikan, seiring dengan tembang “Ruang Rindu”, dilantunkan sebagai penyegar suasana.

Pak Kris mengulas arti etimologi dari tema “Tuna Sathak Bathi Sanak”

“Tuna” merupakan kosakata bahasa jawa yang telah diserap bahasa indonesia. Ia mengandung arti kekurangan, kehilangan, atau kondisi tanpa sesuatu. Diksi ini dapat dijumpai pada banyak frasa, misalnya ; tuna wisma, tuna rungu, tuna netra, dan sebagainya. Sedangkan “Sathak” adalah bahasa jawa yang berasal dari kata “sa’thak”, yang berarti “satus”, alias seratus. Maka “Tuna Sathak” secara harfiah dapat diartikan ; kehilangan seratus. Sedangkan “Bathi Sanak” berarti untung/laba dengan bertambahnya saudara. Demikian secara etimologis makna falsafah itu diurai Pak Kris.

Cak Syuaib mengajak jamaah untuk lebih dalam menggali tema “Tuna Sathak Bathi Sanak”

Cak Syuaib mengajak jamaah untuk mendalami makna yang dimuat oleh kata “Sanak”. Apakah sekadar adanya pertalian darah sehingga seseorang patut didaku sebagai sanak? Adakah relasi nilai yang menautkan akal budi antar orang hingga kedekatannya bak sanak saudara? Pada tataran implementatif, momentum seperti apakah falsafah “Tuna Sathak Bathi Sanak” ini dapat diejawantahkan? Apakah dapat diterapkan dalam segala kondisi? Cak Syuaib mencoba memberi deskripsi melalui contoh, “Misale Gogon iki. Kulak HP rega sa’juta. Trus ben oleh sanak akeh, HPne didol limang atus ewu. Ya laris. Ya akeh sing tuku. Tapi ya gak pas kan?!”  Kepekaan membaca momen menjadi poin yang ditekankan Cak Syuaib dalam melaksanakan falsafah itu. Ia bersyukur dulur-dulur DK malam itu berinisiatif uri-uri warisan leluhur berupa adagium bijak Tuna Sathak Bathi Sanak.

Suasana gayeng nan cair, begini : khas atmosfer maiyahan

Model diskusi cair nan mengalir khas maiyah, tak dapat dielak memang berpotensi mendorong pengembaraan tema menjadi agak liar. Meski begitu, tetap saja orang maiyah terbiasa menemukan persambungan-persambungan nilai. Seperti halnya malam itu. Sistem PPDB Zonasi yang sedang hangat dibincang khalayak ramai, disuguhkan di forum oleh Cak Pur. Suasana elaborasi tema pun kian ekskalatif. Ia memandang, dengan diterapkannya sistem zonasi, paseduluran antar siswa yang secara geografis berdekatan, akan menjadi semakin akrab. Selaras dengan itu, hikmah dari sistem zonasi adalah siswa dan orang tua diajak untuk mendahulukan sanak, katimbang sathak. Yang dekat-dekat dikumpulkan. Demikian secuil pendapat Cak Irul.

Pembacaan kritis terhadap sistem zonasi diajukan oleh Mas Adi. Ia memaparkan pelaksanaan sistem zonasi di Jepang. Di sana, sistem zonasi dilaksanakan tidak sejak usia SMP, tapi sejak TK. Anak-anak TK di Jepang berangkat ke sekolah tidak diantar orang tua, agar mereka berangkat bergandengan tangan berbarengan dengan sesama teman sekolahnya. Toh memang jaraknya cukup terjangkau. Dengan kebiasaan seperti itu, ikatan emosional antar anak kuat terbangun. Mereka diajari soal kekuatan untuk saling mengenal dan peduli satu sama lain. Bathi Sanak. Ketika beranjak usia SMP, anak-anak mulai dikenalkan atmosfer kompetitif di sekolah. Namun, mereka sudah punya modal kuat di benak bahwa yang sedang berkompetisi adalah tetap teman. Prinsip kekeluargaannya sudah jelas dan mengakar. Hal lain yang disorot Mas Adi perihal sistem zonasi adalah belum memadainya infrastruktur pembelajaran, meski tak dipungkiri adanya cita-cita mulia secara jangka panjang dari sistem tersebut.

Seksama dan nikmat, sesaat Cak Nanang mempersembahkan sebuah puisi diiringi Grup Akustik dari Dulur Slempit Kedamean

Lagu karya Boomerang berjudul “Pelangi” dihantarkan Cak Madrim mengisi jeda. Dilanjut dengan persembahan puisi dadakan oleh Cak Nanang dengan iringan “Kebyar-Kebyar”. Syaraf jamaah dilonggarkan sejenak. Jagung rebus, jagung bakar, dan aneka kudapan dinikmati demi mengusir hawa yang makin dingin.

Situasi kontekstual yang sedang terjadi di kenyataan, dihadirkan lagi di forum. Kali ini soal Pilkades. Diketahui bersama, sedang berlangsung rangkaian proses Pilkades di banyak desa di Kab. Gresik. Wak Kaji Bombom menceritakan ikhtiar yang sedang ditempuhnya bersama para pemuda di Desa Slempit (Kedamean). Beberapa waktu yang lalu mereka sowan kepada para calon kepala desa. Secara organisasi, para pemuda itu menegaskan sikap netralnya. Sembari menyampaikan aspirasi tentang pentingnya perhatian desa pada generasi muda. Upaya untuk menciptakan suasana pilkades yang adem ayem terasa membuahkan hasil. Tak seperti masa-masa sebelumnya, di mana aroma gontok-gontokan antar pendukung begitu kental.

Acap dijumpai memang, perhelatan politik sekelas pilkades menyisakan keretakan hubungan di masyarakat. Serangan fajar pun kerap mewarnai. Seolah menegaskan fakta bahwa yang berlangsung justru berkebalikan dengan nasihat leluhur. Masyarakat justru terbiasa mendahulukan mendapat laba melalui praktik money politic, dan rela kehilangan keguyuban antar sesama sanak saudara. Yang terjadi malah Tuna Sanak, Bathi Sathak. Bagi jiwa yang jernih dan akal yang sehat, fakta itu memang mengundang rasa prihatin.

Sesi diskusi Majelis Ilmu Telulikuran edisi ke-33 dipungkasi ketika jarum jam menunjuk antara angka dua dan tiga. Wirid Maulan Siwallah, Hasbunallah¸dan Sholawat Tibbil Qulub bersama dilantunkan. Permohonan agar Gusti Allah menjaga pertalian nilai yang mengikat antar Jamaah Maiyah Damar Kedhaton sebagai sesama sanak, dilangitkan. (AIF)