PERENCANAAN (?)

Tujuan dalam bermanusia memang harus ada. Misal, dengan membuat rumusan, bahkan blueprint, sebuah konstelasi perencanaan pola inti hidup bermanusia yang sesuai ridha-Nya. Efek darinya, mampu kita dapatkan titik presisi dalam menentukan ke mana arah yang akan kita tuju. Mengingat durasi sebuah titian-tempuh ini memang tidak sebentar. Selain kerangka formula, dirasa sangat perlu pula memupuk kesadaran diri untuk bersabar, dibarengi istiqamah, saat menunaikan jengkal upaya rakaat panjang bermanusia yang sejati. Dalam firman-Nya, Tuhan memberikan tetesan formula untuk mencicipi derajat Al Insan-Al Kamil dengan habluminallah dan habluminannas. Tentu, tidak mungkin kita dapat mencapai derajat itu, kendati sekadar seperjutamikron saja. Paling tidak, teologi di atas meyakinkan pada kita bahwa tidak cukup hanya merajut hubungan baik dengan Tuhan, namun dengan sesama mahluk pun kita diwajibkan bersikap baik dan peduli.

Dan, segala tujuan—yang terhimpun dalam satu rencana, formula, rumus, dan blueprint yang telah disusun—layak kita jajal untuk ditanamkan dalam keseharian. Jika sudah demikian, kita wajib mendoktrin dan menahan diri, siap dan bersedia, untuk tidak menuai hasil dari apa yang kita tanam. Karena, segalanya tidak melulu hanya untuk diri kita sendiri saat ini. Wajib juga kita siap-sediakan yang terbaik untuk anak cucu kelak. Tak mengapa, jika kita tidak mencicipi tuaian itu, saat ini. Yang terpenting, keturunan kita dapat menikmati apa yang kita tanam hari ini. Ibarat menanam pohon jati, panen rayanya belasan, bahkan, puluhan tahun kemudian. Di sini dapat kita petik kesamaan definisi inti bermanusia sejati dan menanam pohon jati: menanam serta merawat pohon jati bukanlah hal yang mudah. Butuh selaksa ketekunan, keikhlasan, bahkan pengorbanan. Tentu, jerih payah itu membuahkan guna dan manfaat untuk generasi selanjutnya.

Akan tetapi, masa kini, mainstream-nya malah terjadi sebaliknya. Rencana, upaya, dan pada akhirnya menjadi buah, sebisa mungkin hanya kita sendiri yang menikmati. Sejatinya, jika ada manusia yang berpikir demikian, bisa jadi benaknya hanya dipenuhi ambisi yang sangat besar. Padahal, di masa lalu, perilaku demikian sudah digambarkan dalam orde dan sifat Fir’aun—mengira dirinya adalah tuhan, dengan dogma yang tertanam: menikmati dan hidup di dunia ini selama-lamanya.

Pada dasarnya, di sini, penulis setuju bahwa manusia tidak akan mati. Manusia itu abadi. Namun, yang penulis maksudkan manusia abadi adalah jika manusia itu berpikir bahwa perilakunya akan menjadi tanggung jawab selamanya. Ibarat hidup adalah kertas putih, perilaku adalah sebuah pena dan rasa baik-buruk adalah gerak gores menjadikan kata-kata. Seperti itu pula tanggung jawab perilaku manusia, akan melekat abadi selamanya. Seyogyanya dalam segala tindak-tanduk hendaknya selalu berpikir tentang keabadian atas perilaku itu mampu bermanfaat dan maslahat. Minimal, tidak menyusahkan bahkan menyakiti orang lain.

Jadi, di sini, penulis mencoba menggaris bawahi lagi; kurang presisi apabila manusia disebut “akan mati” dalam konteks “perspektif perilaku”-nya. Jika ditarik ke bahasan perencanaan di atas, Penulis punya pertanyaan yang cukup mendasar. Bisakah manusia membuat dan mempunyai perencanaan untuk bermanusia yang sejati dalam satu menit ke depan saja? Karena, yang terjadi pada manusia saat ini adalah terpautnya rasa malas berpikir untuk jangka panjang. Dan parahnya, itu juga menjangkiti Penulis.

Penulis juga tidak sempat berpikir jauh ke depan—dari periode satu hari, satu minggu, satu tahun, bahkan satu windu. Bagi penulis, itu terlalu banyak menguras energi. Penulis sekadar berpikir satu menit ke depan saja, tetapi, yang terpenting, “dapat berbias manfaat dan maslahat”. Atau, justru malah sebaliknya? Tidak menjadikan manfaat dan maslahat. Iya, apa pun output-nya nanti, segalanya akan bermuara menjadi tanggung jawab yang melekat abadi pada diri sejati Penulis.

 

Nanang Timur

Jamaah Maiyah Damar Kedhaton (JMDK)