Reportase Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Edisi #34 Juli 2019 “Jati Diri”

Spirit sinau bareng masih terasa hangat dan terus melekat. Terutama, bagi beberapa pemuda Desa Pacuh, yang kebetulan juga merupakan Jamaah Maiyah (JM). Tercatat, sudah dua kali Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton diselenggarakan dengan mesra di desa ini. Kali pertama, Telulikuran putaran ke-22 dilaksanakan di halaman MI Miftahul Ulum Pacuh. Kali kedua, Telulikuran edisi ke-34 digelar di Balai Desa Pacuh pada Kamis lalu (25/7).

nderes Al-Quran oleh Cak Panji dilanjutkan dengan pembacaan wirid sholawat yang dipandu oleh Cak Syuaib, Cak Dedy, dan Cak Anam

Majelis ilmu diawali dengan nderes Al-Quran Juz 4 oleh Cak Panji, kemudian, dilanjutkan dengan pembacaan wirid sholawat yang dipandu oleh Cak Syuaib, Cak Dedy, dan Cak Anam. Lantunan wirid bergetar, mengikat erat tali persaudaraan Al-Mutahabbina Fillah antara Allah, Kanjeng Nabi, dan jamaah yang hadir. Ungkapan cinta kepada Kanjeng Nabi meledak bagai tabuhan banjari oleh remas Al-Muttaqin yang dikumandangkan ketika sesi mahalul qiyam sebagai usaha nyicil gondelan klambine Kanjeng Nabi, agar mendapatkan syafaat di akhirat nanti.

Sebelum mengawali sesi diskusi, seluruh jamaah yang hadir disuwun untuk memperkenalkan diri. Tak lain adalah guna mempermudah agar tak saling kaku tuk bertegur sapa ketika bertemu di jalan. Lebih dari itu semua, perkenalan ini adalah wujud awal untuk memperkuat akar paseduluran al-Mutahabbina Fillah.

Perwakilan perangkat desa setempat, Cak Askur—selaku Kepala Dusun Gadel, menyambut dengan penuh hangat. “Selamat datang. Semoga, kegiatan ini bisa menginspirasi, dan, tentunya, bermanfaat bagi diri pribadi, juga lingkungan kita masing-masing”.

Cak Askur menyinggung sedikit tema diskusi malam itu. Bahwasanya, kita harus setia berproses untuk menemukan jati diri, tanpa henti. Tujuan utama pencarian jati diri, tidak lain, hanya untuk kembali kepada Allah SWT. Dalam falsafah Jawa, tujuan ini biasa disebut dengan ‘Manunggaling kawula-Gusti’.

Cak Fian, yang dengan sukarela mengisi posisi untuk mbeber klasa, menjelaskan bahwa tema ini diangkat, sebab, pandangan kita semakin dikaburkan oleh banyaknya debu, kotoran, sampah, dan polusi dunia yang melenakan, terutama lewat materialisme. Maka, kata Cak Fian, diskusi bisa dimulai dengan melihat situasi dan kondisi dunia saat ini, di mana manusia berlomba-lomba menyuguhkan banyak hal, yang menurut mereka benar, padahal kemungkinan besar dapat membuat memar akal dan hati. Sehingga, output-nya adalah krisis jati diri, serta menjauh dari yang esensi.

Cak Syuaib mengajak jamaah untuk lebih dalam menggali tema “Jati Diri”

Diskusi berlangsung dengan serius, tapi asyik. Beberapa jamaah terlihat sangat antusias mendengarkan wejangan-wejangan dari para sesepuh: Pak Kris dan Cak Syuaib. Walaupun serius, terkadang, gelak tawa terdengar, tatkala kata-kata yang mengandung unsur kelucuan dilontarkan. Canda tawa juga diperlukan kala otak sedang jenuh memanggul pikiran yang berat. Asalkan, kadarnya tidak sampai melenakan.

Beragam perspektif diulas secara mendalam dan otentik, mengingat pembahasan tema ‘Jati Diri’ sangat menarik dan menggelitik bagi sebagian orang. Bahkan, ada yang merasa eman, jika derasnya air pengetahuan dibuang percuma—misalnya, dengan ditinggal tidur. Tapi, bukan berarti ada peraturan yang mewajibkan semua jamaah wajib mendengar dengan sadar. Toh, ini semua berangkat dari spirit sinau bareng. Tak ada paksaan, karena semua jamaah yang hadir memiliki kesadaran kolektif, yakni duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

Selama diskusi berlangsung, terlihat pula beberapa pemuda Pacuh sedang sibuk menjamu jamaah yang berdatangan; menenteng kopi hangat serta beberapa makanan ringan dengan penuh keramahan. Atmosfer alam desa terasa sangat sejuk, damai tanpa riuh rendah, dan menentramkan jiwa.

“Kemurnian itu bersifat statis.” Demikian cara Cak Syuaib menganalogikan jati diri. Kemurnian berasal dari Sang Maha Murni sendiri, yaitu Gusti Allah SWT. Lewat Rahman Rahim-Nya, kita semua diajak untuk belajar kepada alam semesta yang memang diberikan kepada seluruh mahkluk ciptaan-Nya. Apa yang dibutuhkan, sudah dipertimbangkanNya dengan perhitungan yang matang. Mengenai hal ini, Cak Syuaib mengajak jamaah belajar dari pohon jati—salah satu kakak sulung kita yang indah sekaligus kuat. “Butuh proses yang panjang, hingga batangnya bisa tinggi menjulang. Output-nya adalah keindahan yang bisa dimanfaatkan manusia dalam kehidupan sehari-hari, misalnya, kursi. Kita hanya bisa merawat dan menjaganya.” jelas Cak Syuaib.

Pak Kris mengulas arti etimologi dari tema “Jati Diri

“Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu.” Berangkat dari salah satu ungkapan masyhur di dunia tasawwuf, Pak Kris mengawali pembedahan tema. Kalimat tersebut memiliki arti “Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka akan mengenal Tuhannya”. Sejatinya, mengenali, memahami, dan niteni jati diri merupakan jalan menuju Allah SWT. Proses memahami jati diri dapat diawali dari hal yang tampak oleh mata. Misal, mengetahui apa yang menjadi kesukaan atau hobi kita. Namun, nahasnya, manusia sering kali mudah terkontaminasi oleh apa yang berasal dari luar dirinya. “Pengen jadi begini, begitu, adalah bagian dari nafsu, bukan jati diri”. lanjut Pak Kris. Bahwasanya, ketika kita terus menuruti hawa nafsu, maka, kemungkinan besar, tidak akan ada habisnya. Kita tidak akan bisa bersyukur untuk menikmati kecukupan yang sudah ada. Pada hakikatnya, output dari pencarian jati diri adalah rasa bahagia dan syukur atas segala yang ada di dekat kita.

Cak Fauzi dan Cak Mad menyanyikan lagu yang berjudul ‘Desa’ karya Iwan Fals

Dinginnya malam semakin menusuk ke sumsum tulang, menggigilkan tubuh, bersamaan dengan meresapnya guyuran ilmu dari berbagai sudut pandang ke dalam batin seluruh jamaah, tanpa terganggu ingar bingar. Wedaran-wedaran bernas memadati otak hingga penuh sesak, membekukan pikiran, hingga kepayang. Petikan gitar oleh jari jemari Cak Fauzi, diikuti nyanyian lagu yang berjudul ‘Desa’ karya Iwan Fals, menghentak, menggetarkan Balai Desa Pacuh. Sebuah lagu yang energik, melambangkan kekuatan, dan kesejatian. Sering pula disampaikan oleh Mbah Nun, di setiap forum Maiyahan, bahwasanya ‘Indonesia adalah bagian dari desa’. Bahkan, beliau juga telah menelurkan buku dengan judul kurang lebih sama. Ini menjadi salah satu bukti bahwa, desa adalah bagian dari warisan leluhur yang tak ternilai harganya. Hiburan musik kemudian dilanjutkan dengan persembahan lagu yang berjudul ‘Caping Gunung’ karya Gesang. Lagu berlanggam Jawa tersebut dibawakan oleh Cak Madrim dengan penuh khusyuk.

Bu Kris juga turut urun sudut pandang terkait jati diri. Menurut beliau, pencarian jati diri bisa berangkat dari ayat pertama yang diturunkan ke bumi, yaitu iqra’. Iqra’ bukan sekadar membaca dan menulis saja. Dalam iqra’, kata Bu Kris, ada makna yang terkandung secara mendalam dan meluas. Contohnya, “membaca” peristiwa di sekitar kita menggunakan ilmu titen.

Iqra’, tambah Bu Kris, adalah suatu proses jalan rakaat panjang dan bersifat wajib yang akhirnya bermuara pada tugas manusia sesungguhnya, yaitu pembangunan peradaban. Dalam prosesnya, membangun peradaban dapat dimulai dari habit, yang kemudian, menjadi behavior, dan akhirnya, menjadi trademark. Maka dari itu, merupakan sebuah keniscayaan bagi kita semua untuk mempelajari budaya leluhur secara historis. Sebagai contoh, kita selalu diingatkan dengan falsafah Jawa yang berbunyi aja gumunan. Jangan mudah kaget, terutama, dalam menyikapi situasi dan kondisi dunia saat ini yang semakin tidak keruan, karena ada jarak antara fakta dan makna yang masih perlu di-iqra’-i secara jujur, bersih, dan jernih.

“Sing penting awakdhewe mensyukuri keadaan yang sekarang, terutama membaca semesta terkecil yang amat jarang bagi kita untuk dipikirkan sebelumnya”. pungkas Cak Syuaib, mendinginkan diskusi yang larut dalam panasnya argumentasi. Bersyukur dan aktif “membaca”, menurut Cak Syuaib, perlu dilakukan agar kita tidak mudah terombang-ambing dalam menyikapi zaman. Dalam proses tersebut, yang tetap harus diutamakan adalah bagaimana kita setia menjalani kehidupan dengan membersamai Gusti Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Untuk menguatkan niat menjalani kehidupan bersama Allah dan Rasulullah, ‘Suluk Pangkur Kerinduan’ dilantunkan bebarengan. Jamaah mengungkapkan kerinduan mereka yang sangat mendalam atas Kanjeng Nabi kang angon langit lan bumi, seraya berharap, agar ungkapan kerinduan tersebut bisa menjadi petunjuk terang dalam menghadapi situasi dunia yang semakin pekat mengekang. Sesudah itu, Shalawat Alfa Salam juga dilantunkan dengan harapan agar syafaat Kanjeng Nabi bisa menyelamatkan segala perilaku kita dari ketidakseimbangan.

Suasana gayeng nan cair, begini : khas atmosfer maiyahan

Diskusi masih berlanjut. Rasa kantuk tak menyurutkan semangat jamaah. Kegembiraan ini terus berlangsung dari awal hingga menjelang usai acara tanpa ada keributan, meski perbedaan kerap kali hadir dalam perbincangan. “Jati diri bukan sekadar apa yang tampak oleh mata”. papar Cak Fauzi. Ia mengajak seluruh jamaah, bersama-sama, untuk tetap menjaga keseimbangan dan kejernihan dalam berpikir. Tidak terasa, waktu hampir mendekati subuh. Dengan mempertimbangkan segala hal yang ada, seluruh jamaah sepakat untuk menyudahi sinau bareng malam itu. Tepat pukul 02.31 WIB, Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton dipungkasi dengan penghaturan shalawat Tibbil Qulub dan Maulan Siwallah. Lalu, ditutup doa oleh Cak Anam. (KIS)