Reportase Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Edisi #35 Agustus 2019 “ Factory Reset ”

Rindu yang kian membuncah tuntas sudah terbayarkan, ketika Jamaah Maiyah Damar Kedhaton (JMDK) kembali bersua lewat tatap muka. Tentunya, dalam majelis ilmu rutin Telulikuran yang telah memasuki edisi yang ke-35. Tepatnya, pada Jumat, 22 Agustus 2019,

Penghaturan Wirid dan Shalawat yang dipandu Cak Huda

bertempat di Balai Kelurahan Singosari, Kecamatan Kebomas. Diawali dengan nderes Al-Quran Juz 5 oleh Cak Chabib dan Cak Ibad, kemudian, dilanjutkan dengan penghaturan wirid dan sholawat yang dipandu oleh Cak Huda. Lengkap sudah, konsep segitiga cinta yang menjadi ciri khas Maiyah, terealisasi dengan sempurna. Dengan harapan, agar paseduluran ini terus berlanjut hingga ke surga.

.

Beberapa wajah baru tampak terlihat di beberapa sudut Balai Desa. Rasanya akan sia-sia belaka, jikalau kedatangan mereka dibiarkan begitu saja.

Sesi Perkenalan Beberapa Jamaah Baru oleh Moderator (Cak Teguh)

Oleh sebab itu, Cak Teguh, sebagai moderator,mempersilakan mereka untuk memperkenalkan diri. Kali ini, Lik Ham dan Pak Kris turut membersamai jalannya diskusi. Mereka berdua mengajak jamaah untuk terus berkelana, mengembara, dan menyelami lautan ilmu dalam kandungan semesta. Perlu diingat kembali, bahwasanya kapasitas kemampuan kita hanya sebatas tetesan air, jika dibandingkan dengan hamparan lautan ilmu semesta yang begitu luas tak terkira.

.

Cak Makhrus berkolaborasi dengan Cak Gogon mbeber klasa tema Telulikuran kali ini, yakni “Factory Reset”. Berangkat dari “Tajuk” rilisan Kiai Toto Rahardjo “Kembali ke Spirit”, sebagai langkah awal, Factory Reset secara esensi mungkin bisa menjadi pijakan kita untuk sinau kembali ke spirit—bagaimana selama ini kita bermaiyah pada skala diri sendiri, sosial masyarakat, lingkar/simpul, dan juga yang lainnya. Di tengah keruh debu dunia yang kian merajalela, kejernihan dan kemurnian niat perlu dijadikan pegangan agar kita tak terhanyut dalam arus dunia yang kian memabukkan. Terpampang jelas pada banner Majelis Telulikuran Damar Kedhaton untuk edisi ke-35, Tajdiidun-n-niyaat merepresentasikan keinginan untuk kembali nyinaoni pijakan dasar kita yang berupa niat, memaknai ulang tentangnya secara jujur, jernih, dan utuh, guna menjaga ke-istiqomah-an.

Cak Makhrus berkolaborasi dengan Cak Gogon mbeber klasa tema Telulikuran “Factory Reset”

“Untuk memahami diskusi yang sedang berlangsung memang agak berat,” papar Cak Zulfikar, salah satu jamaah yang baru ikut melingkar untuk pertama kalinya. Menurutnya, diskusi yang berlangsung dalam forum Maiyahan sedikit berbeda dengan forum yang sudah ada. Pada satu sisi, terkesan melangit, namun bisa juga berkemungkinan untuk membumi. Tema-tema yang disodorkan pun kebanyakan memang unik, asyik, dan menggelitik. Ternyata, banyak juga jamaah yang mengikuti diskusi karena terpancing oleh judul tema. Namun, tak mengapa. Toh, atmosfer diskusi tetap adem, menenteramkan hati, serta mampu menetralisir akal dari segala macam racun dunia.

Pengupasan tema pun semakin intens. Dalam diskusi, muncul bahasan bahwa, terkadang, kita semua juga perlu berkaca kepada orang lain. Terutama, untuk menemukan ulang, mereparasi ulang, atau bahkan memformat ulang segala hal yang menuju kepada inti dan kesejatian. Apa, sih, faedah yang sebenarnya telah Gusti Allah anugerahkan kepada diri ini? Cak Mustofa Ngabei menjawab pertanyaan tersebut dengan mencoba meniru lelaku Mbah Nun. Dalam arti, ia memaknai hidup melalui lelaku tertentu yang tentunya sesuai kemampuan, ketahanan, serta kapasitas dirinya sendiri. “Aku niru lelakune Mbah Nun mung bondo wani tok”. Sebuah pernyataan sekaligus pertanyaan yang diajukan kepada Lik Ham, bagaimana sih caranya menjadi Ummatan Wassathan?!. Cak Mustofa Ngabei dengan hanya bermodalkan wani, untuk meniru lelaku Mbah Nun yang menurutnya, adalah bagian dari konsep Ummatan Wassathan.

Lik Ham membersamai dan Memberi Panjabaran Mengenai Tema Majlis Telulikuran, dengan mengedepankan idiom “sinau bareng”

“Tidak penting kita apa, dan siapa. Yang utama adalah bagaimana ketangguhan kita untuk setia berproses.” tutur Lik Ham. Beliau berkata bahwa kesungguhan, keikhlasan, dan ketangguhan dalam berproses sangat mutlak diperlukan bagi kita semua. Oleh sebab itu, kurikulum Maiyah selalu mengedepankan idiom “sinau bareng”. Dengan bersama-sama, semua hal yang berat akan mudah tuk diselesaikan. Terkait tema, Lik Ham menjelaskan “onok di-reset, me-reset, dan ter-reset”. Pada tiga idiom tersebut, kita bisa memetakan makna dari reset itu sendiri. “Di-reset” adalah proses yang dilakukan dengan sengaja oleh oknum tertentu, bisa individu mau pun kelompok. “Me-reset” adalah proses yang dilakukan dengan sengaja disertai perencanaan yang matang. “Ter-reset” adalah proses yang dilakukan dengan tidak disengaja, bisa jadi karena keteledoran diri. “Jangan sampai kehilangan kepercayaan dari Allah dan Kanjeng Nabi, karena itu merupakan bagian dari software yang paling utama dalam Maiyah.” sambung Lik Ham.

Pak Kris Mengulas Tema Majlis Telulikuran Secara Mendalam

Pak Kris, yang pada malam itu berkesempatan hadir, menyampaikan bahwasanya sebelum menyiapkan segala hal yang berkaitan dengan pilihan sikap sadar kita, terutama berkenaan dengan berbagai aplikasi yang berasal dari luar diri kita, alangkah lebih baiknya jika kita menggali kesejatian diri: apa dan siapa, sih, sebenarnya kita ini. “Saya setuju dengan adanya filosofi nandur”. Pandangan Pak Kris tersebut memperkuat dhawuh Lik Ham tentang ketangguhan berproses. Pak Kris juga menyampaikan bahwa kesadaran dari dalam diri tentang bagaimana memahami, memelihara, dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar, wajib tertanam kuat sejak dalam pola pikir.

Terkait tema, Cak Syuaib menjelaskan bahwa yang paling utama untuk di-reset adalah diri sendiri setiap saat, waktu, dan di mana pun berada. “Aku hanya memetik tentang kesabaran. Sabar dapat diwujudkan dari kesadaran diri.” Beliau menekankan aspek kesabaran, terutama bagaimana menggunakan metode yang tepat untuk me-reset  diri sendiri. Sebelum melangkah menuju puncak kebersamaan yang bernama Maiyah, sabar adalah salah satu tanjakan pertama yang harus dilewati, demikian menurut Cak Syuaib.

Cak Amar dan Cak Mad: membawa atmosfer Majelis Telulikuran bertambah mesra dengan mempersembahkan lagu

Dua alunan lagu bergema, memberi jeda pada sinau bareng malam itu. Lagu karya Iwan Fals yang berjudul “Kota” dipersembahkan oleh Cak Amar dengan petikan gitar, membawa atmosfer Majelis Telulikuran bertambah mesra. Tak berhenti pada satu lagu saja, Cak Madrim pun tak ingin kehilangan momen kemesraan tersebut. Tanpa rencana, ia turut mempersembahkan lagu yang berjudul “Belum Ada Judul”, karya Iwan Fals.

Diskusi masih berlanjut. Para dulur mencoba menarik garis ke belakang, menggali perjalanan historis Lingkar Maiyah Damar Kedhaton, untuk memaknai ulang bagaimana posisi Damar Kedhaton saat sekarang. “DK ini masih benih, atau sudah menjadi tumbuhan? Kalau menjadi benih, fungsi dari benih itu apa? Begitu pula jika tumbuhan, fungsi dan tugasnya apa? Isi dari tumbuhan apa aja? Harus memosisikan fungsi sesuai dengan tugasnya masing-masing (batang, daun, ranting). Buah adalah bentuk dari regenerasi. DK ini masih batang pohon. Tugasnya adalah mencari asupan sebanyak-banyaknya, terutama dalam akar.” pesan Lik Ham, terutama kepada JMDK, supaya tetap bisa memosisikan diri sesuai porsi. “Jangan sampai kehilangan kenikmatan dalam membaca. Kebanyakan orang, sibuk dalam hal mempelajari, dan kurang dalam hal menikmati.” sambung Lik Ham. Beliau menekankan untuk selalu tepat sejak dalam pola pikir, agar tindakan yang dilakukan juga tepat. Menurut beliau, apa pun yang sudah terukur secara matang akan mempermudah jalan menuju sasaran.

Serius namun Mesra, Wajah-wajah Jamaah saat Elaborasi Tema

Diskusi masih terus berjalan. Beberapa pegiat DK juga turut mengulas sedikit sejarah perjalanan mulai dari nol. Beragam perspektif pandang dipapar secara rinci, tentu, sesuai dengan pengalaman subyektif masing-masing pegiat. Pembelajaran tersebut perlu untuk terus diperdalam secara utuh, agar bisa mengetahui arah dengan jelas menuju ke masa yang akan datang.

Lantunan shalawat Ya Badrotin dikumandangkan, mendinginkan suasana diskusi yang memanaskan kinerja otak. Cak Purwo memandu, diikuti oleh jamaah. Nada suara bergetar hingga menusuk kalbu, menenteramkan jiwa, hingga panasnya otak luruh seketika.

 “Tiap simpul atau lingkar memiliki wajahnya masing-masing. Yang paling utama, prinsipnya adalah selama berkumpul, asalkan tidak saling memutuskan satu dengan yang lain, lanjutkan. Jika berkebalikan, maka hentikan.” pesan Lik Ham terkait gerak hidup simpul atau lingkar Maiyah, khususnya kepada Damar Kedhaton. “Mlaku terus, nandur terus. Masalah panen wes onok sing ngurusi.” tambah Lik Ham.

Cak Adib berkolaborasi dengan Cak Mad

Pukul 01.30 tepat WIB, musik kembali mencuat. Cak Adib berkolaborasi dengan Cak Madrim mempersembahkan lagu berjudul “Kemesraan” karya Iwan Fals. Lagu tersebut sangat tepat, sesuai momentum diskusi yang berlangsung. Melalui lagu ini, atmosfer kemesraan sinau bareng diharapkan tidak cepat berlalu begitu saja, lebih mengakar dalam jiwa, sehingga output-nya adalah paseduluran yang tetap terjaga selama di dunia hingga sampai ke surga.

 “Tajdiidu n niyaat adalah meneguhkan kembali pondasi niat yang kemungkinan besar terkotori oleh nafsu. Setidaknya kita sudah memiliki bahan, meski tidak jangkep.” dhawuh Lik Ham, terkait pentingnya untuk terus berproses memaknai, menggali, sekaligus merekam secara titen pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari, meski terlihat sepele. “Pekerjaan utama kita adalah ukhuwah, atau menyatukan”. pungkas Lik Ham.

Kemudian, sinau bareng dipungkasi dengan lantunan Shohibu Baity tepat pada pukul 02.00 WIB dan dilanjutkan dengan doa. (KIS)