#NderesTema “[Bukan] Generasi Cangkir”

Telulikuran Damar Kedhaton edisi-17 pada bulan Maret 2018 mengangkat tema “[Bukan] Generasi Cangkir”. Judul itu diambil dari Daur-I nomor 249, sebagai ikhtiar JMDK men-tadabburi salah satu cipratan dari derasnya limpahan Daur yang ditulis Mbah Nun.

Terdapat kata “bukan” di dalam tanda kurung itu seolah menegaskan bahwa JMDK bukanlah generasi cangkir. Setidaknya, mereka berniat dan berupaya untuk tidak menjadi generasi cangkir. Kenapa sedemikian perlu? Kali ini saya akan mencoba untuk melakukan perabaan dan pembacaan ulang.

Tema “[Bukan] Generasi Cangkir” ini disajikan secara visual melalui adegan cangkir yang semata menunggu kucuran kopi dari sebuah teko. Fase semata menunggu inilah yang menjadi titik krusial dalam membangun asosiasi di benak saya. Cangkir diandaikan sebagai sebuah peran yang pasif. Paling sedikit ada dua penanda sikap pasif dalam adegan ini. Pertama, hanya menerima apapun saja yang dituangkan padanya. Kedua, cangkir menunggu (lagi) ada tangan yang menyaut kemudian menikmati isinya.

Karena saya adalah seorang ayah, saya berminat untuk membawa spirit dari tema ini ke dalam soal bagaimana cara kita memandang anak. Mari menaruh curiga pada diri sendiri, jangan-jangan sebagian besar pola interaksi kita dengan anak selama ini berangkat dari cara memandang anak sebagai sebatas “cangkir”. Apakah anak-anak kita anggap sekedar wadah kosong yang menunggu dituangi beragam informasi, nilai-nilai, dan keterampilan dari orang tua dan guru, dan kita sebut itulah proses belajar?

Upaya reflektif ini mendorong saya untuk menyimak kembali pendapat salah seorang tokoh pendidikan dari Inggris, Charlotte Mason. Secara filosofis ia mengajak kita untuk mengajukan tiga pertanyaan mendasar ; (1) Kenapa anak perlu belajar? (2) Apa yang ia pelajari? (3) Bagaimana cara ia mempelajarinya?. Ketiga pertanyaan ini harus runut dan tuntas kita jawab lebih dulu, sebelum menerjemahkannya lebih lanjut ke level lebih teknis operasional dalam proses menemani anak belajar.

Terhadap pertanyaan pertama, apakah jawaban kita? Agar pintar, sehingga kelak ia jadi orang sukses? Apa itu sukses? Kaya, berkuasa, punya pengaruh kuat? Terpandang?

Menurut Charlotte Mason, anak belajar sebab jiwanya ingin bertumbuh. Sebagaimana jasad yang butuh makan demi memelihara kelangsungan hidup, akal budi anak pun membutuhkan belajar untuk bertumbuh. Secara naluriah, perut yang kosong akan mendorong rasa lapar, dan untuk itulah anak meminta makan. Begitu pula dengan jiwa anak. Maka sebetulnya, tanpa disuruh-suruh, hasrat untuk belajar sejatinya telah Tuhan lekatkan pada tiap jiwa anak. Kita saja yang kadung kurang cukup kuat mengimaninya. Hingga kita para orang tua dan guru, sibuk mencari cara mengemas proses belajar – yang acap kita anggap pahit tapi bermanfaat – melalui pemanis-pemanis, demi membangkitkan hasrat anak untuk belajar.

Jika kemudian kita mengeluhkan kenyataan sehari-hari bahwa anak-anak kerap menunjukkan rasa malas (bisa juga disebut keengganan atau sikap pasif) untuk belajar, barangkali kita perlu memeriksa kembali kualitas nutrisi yang selama ini kita sajikan bagi benak anak. Kalau untuk menjaga kesehatan jasmani anak, kita begitu memberikan perhatian besar dengan memilihkannya makanan yang bergizi, bagaimanakah kadar perhatian kita dalam mempertimbangkan nutrisi yang menyehatkan jiwa mereka? Jangan-jangan selama ini yang tersaji pada akal budi anak adalah “makanan” minim nutrisi, tak memiliki daya gugah pada jiwa mereka?

Mereka adalah makhluk spiritual. Pendidikan adalah kerja spiritual. Mereka bukan cangkir yang hanya pasif menunggu kita menuangi. Tugas kitalah merawat “hasrat ingin tahu akan segala hal” yang inheren ada di jiwa mereka, untuk terus menyala. Kita perlu sungguh-sungguh berhati-hati agar tidak memadamkannya, hingga ia mandheg, pasif, selayaknya cangkir.

Ahmad Irham Fauzi
JM Damar Kedhaton tinggal di Cerme, Gresik.