#NderesTema “Kuda-Kuda Keseimbangan”

Menjelang Milad ke-3 Majelis Masyarakat Maiyah Damar Kedhaton, saya tertarik megelaborasi tema “Kuda-Kuda Keseimbangan”, yang merupakan tema Telulikuran edisi 10, digelar di bulan Agustus 2017.
Berangkat dari ejaan “kuda-kuda” yang menurut pemahaman saya ialah “Jejeg Ajeg”, yang tak bisa digoyahkan ataupun dilumpuhkan. Sedangkan ejaan “Keseimbangan” ialah posisi dimana tertanam keindahan, keserasian, keadilan dan kebijaksanaan.

Mungkin saya adalah orang yang paling kurang cerdas di antara JMDK lainnya, karena hanya berputar-putar diwilayah kuda-kuda keseimbangan yang tak pernah lulus. Hehe…

Mencuplik dhawuh sesepuh saat Telulikuran ;

Pak Kris Aji : sisi etimologis. “Dalam dunia persilatan, istilah ‘kuda-kuda’ lahir dari keyakinan bahwa kita sedang atau akan menghadapi situasi marabahaya.” ungkap beliau. Keseimbangan, menurut Pak Kris, adalah kondisi di mana kedua sisi berbobot sama. Untuk mencapai bobot yang sama antara jasmani dan rohani, atau pikiran dan hati, maka membutuhkan proses. Proses penyeimbangan bermula dari bobot satu sisi yang sudah pasti, kemudian diseimbangkan dengan sisi satunya.

Kyai Hamad : Manusia juga dibekali empat nafsu agar manusia benar-benar menjadi sumber masalah, yang setelah dikelola dengan baik oleh manusia, maka akan menuju pancer. Manusia tidak akan menemukan solusi atas masalahnya jika gagal mengelola keempat nafsu agar menuju pemusatan pada pancer-nya. Pancer adalah ciptaan Allah sebelum alam semesta yang lain diciptakan, yakni Nur Muhammad. Masalah yang tidak bisa diselesaikan manusia, pasti menjadi urusan Tuhan. Oleh karena itu, kita perlu terus menerus mencari, dengan selalu menyandarkan pada wasilah Nur Muhammad.

Maiyah sebagai bekal menata kuda-kuda. Agar dapat mencapai keseimbangan dalam memandang sebuah masalah, diperlukan empat jenis kuda-kuda: sudut pandang, jarak pandang, sisi pandang dan cara pandang

Membaca dan meraba keadaan sekitar kita dalam berkumpul atau bermasyarakat hari ini, banyak kita temui kondisi yang menepikan nilai keindahan, keadilan, keadilan dan kebijaksanaan. Mungkin saja saya, kita, dan mereka tidak menancapkan sifat dan nilai kuda-kuda keseimbangan dalam dirinya,

Si A menyalahkan Si B ataupun si C.

Padahal dalam setiap diri insan memiliki benih-benih keseimbangan yang sudah dirahmatkan Sang Maha Kuasa, mungkin saja mereka tidak peka atau merasa memilikinya.

Menurut saya, kuda-kuda keseimbangan perlu diaktifkan dalam diri masing agar sempurna seperti yang tertulis di Surat Al-Infitar Ayat 7, “Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang”.

Seperti sang siang yang merindukan kekasihnya sang malam untuk bersua, namun mereka tetap menahan rindunya demi tatanan keseimbangan. Dan mereka tetap memegang teguh tugasnya masing-masing.

Semoga kita semua menemukan titik kuda-kuda keseimbangan tiap individu hingga tatanan bersosial dan bermasyarakat kita dapat mendekati nilai sempurna.

Maaf tulisan ini bukannya menggurui atau atur-atur, kami hanya mengajak sedulur bersama menemukan keseimbangan masing-masing.

 

Fauzi “Madrim” Effendy
JM Damar Kedhaton, tinggal di Gresik Kota.