#NderesTema “Berdaya dan Berkarya”

Tema tersebut diangkat pada saat momentum milad Damar Kedhaton untuk yang ke-2 kalinya. Menurut KBBI, daya adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu atau kemampuan untuk bertindak. Sedangkan karya, menurut KBBI adalah pekerjaan, hasil perbuatan, buatan, atau ciptaan. Tema yang sungguh asyik dan menarik untuk dibahas lebih mendalam. Tak bisa dielak lagi, berdaya dan berkarya sejalan dengan perintah Tuhan, yakni ; manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di atas muka bumi.

Inni Ja’ilun Fil Ardi Khalifah“. Artinya : Sesungguhnya aku mengangkat Khalifah di bumi. Bukan sekadar istilah biasa, melainkan sebuah idiom yang bermakna sangat luas dan mendalam. Bagaimana makhluk yang bernama manusia, diberi amanat yang sungguh luar biasa oleh Sang Pencipta.

Agar hidup tidak sia-sia, maka berkaryalah. Berkarya bukan sekadar menghasilkan sesuatu yang digunakan untuk keuntungan pribadi, melainkan memberikan manfaat yang seluas-luasnya bagi lingkungan sekitar. Lebih tepatnya adalah Rahmatan Lil ‘Alamiin. Rahmatan Lil ‘Alamiin merupakan sebuah konsep hidup di mana rahmat atau kasih sayang adalah pondasi awal untuk bersikap. Baik kepada diri sendiri, orang lain, atau lingkungan sekitar.

Untuk menghasilkan karya, tentunya tidak akan dapat muncul, jikalau hanya berleha-leha saja. Dibutuhkan daya atau kemampuan, lebih tepatnya lagi adalah konsistensi untuk menggali potensi dalam diri. Tuhan menciptakan manusia dengan beragam fadhilahnya masing-masing ; ada yang memiliki kecenderungan untuk bermusik, menulis, mreteli mesin, otak-atik barang bekas, merawat, dlsb.

Golekono fadhilah sing diparingi Gusti Allah ning awakmu, sampai mati“. Salah satu dhawuh beliau, yang selalu terngiang dalam benak diri. Untuk sementara ini, saya mencoba menaiki satu anak tangga dengan prediksi sesuai dengan keyakinan diri. Entah, hasilnya bagaimana yang terpenting saya harus berjuang. Salah satunya adalah menulis. Setelah melihat begitu banyak bentuk, ragam, dan jenis tulisan yang dikeluarkan oleh beliau (Mbah Nun), hal tersebut menjadi tamparan keras bagi saya untuk terus menulis, apapun itu. “Dengan syarat, tulislah dengan jujur dan jernih apa yang kau lihat dengan yang kau rasakan”.

Satu kalimat di atas, adalah secuil tulisan yang saya ambil dari “Tahadduts Bin Ni’mah”, yang merupakan ‘Perintah’ dari Simbah. Latar belakang saya menulis, tidak lain sebagai ungkapan syukur sekaligus motivasi diri untuk terus telaten mengembangkan kecenderungan apa yang saya suka. Dengan harapan, siapapun yang membaca, turut berkenan berdoa. Meski tidak ada kewajiban, namun bagi saya kata-kata merupakan rentetan doa panjang. Abadi, menembus ruang dan waktu, setidaknya bisa menjadi pembelajaran bagi anak cucu.

Berdaya memang membutuhkan tenaga ekstra, namun tak perlu terlalu ‘ngoyo’ dan muluk-muluk. “Nandur, Poso, Sodaqoh”, adalah dhawuh Mbah Nun yang menjadi spirit utama yang paling saya ugemi. Semoga, semesta turut meng-aamiini.

 

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton tinggal di Cerme, Gresik. Sedang menempuh studi di UINSA Surabaya.