Prolog Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedathon Edisi #39 – Desember 2019 “Kolaborasi Tigan”

Di tengah zaman yang makin modern nan canggih ini, yang segalanya menjadi serba mudah dan cepat ini, kita makin akrab dengan kian mengemukanya watak banal manusia. Wajah zaman di mana antar manusia memandang manusia lainnya tak lebih dari sekedar komoditas, aset yang memuat potensi untuk dimanfaatkan. Relasi yang berlangsung bersifat fungsional-mekanistis semata, terus menjauh dari kamanungsan. Bahkan, sedari belia anak-anak kita besarkan dengan atmosfer pendidikan yang utilitarian. Ditambah hembusan ambisius untuk mengalahkan liyan¸ kita tanamkan dengan bungkus idiom “kompetisi”. Hasrat untuk memanfaatkan-mengalahkan sesama manusia, tak pelak menjadi penanda utama peradaban masa ini. Maka tak keliru ketika Thomas Hobbes mempopulerkan istilah Homo Homini Lupus  dalam mencandra watak kejam manusia. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

Lalu terselip di semak belukar zaman sebelah manakah sebuah frasa “gotong royong” itu? Frasa yang oleh Soekarno merupakan intinya-inti dari Pancasila. Jika Pancasila yang lima itu diperas menjadi tiga, dan disarikan lagi menjadi satu, maka menurut Soekarno, yang tinggal adalah gotong royong.

Gotong royong, dalam bahasa bangku sekolah manajemen disebut Kolaborasi. Demi kepentingan sekufu saja, maka kali ini kita pakai idiom Kolaborasi, untuk kita sandingkan secara vis a vis dengan Kompetisi. Hal apa sajakah yang perlu kita siapkan dan tata ulang, agar kita bisa menjumput kembali spirit kolaboratif dalam membangun relasi dengan sesama di tengah zaman yang kian kompetitif ini?

Perjalanan simpul maiyah Damar Kedhaton kini tiba di tahun ketiga. Momentum “tiga” ini hendak diarungi dengan mengelaborasi segala hal terkait tiga. Segi-Tiga Cinta yang menjadi pondasi utama maiyah, harus makin dikukuhkan di benak JM DK, dengan segenap-selebar nuansanya. Dengan spirit tajdiidun niyat, upaya untuk terus memproses kelahiran diri kembali, menemukan urgensinya.  Senantiasa ngugemi kesadaran laku rakaat panjang dan kerangka pikir sumbu panjang. Hidup-mati dipahami tak sebatas tercabutnya nyawa, akan tetapi terus berlangsungnya proses menetasnya kembali telur-telur kebermanfaatan, dengan semangat dan wajah yang lebih baru dan lebih baik. Telur atau tigan, secara simbolik dipakai untuk menandai proses menuju kelahiran yang baru.

Dulur, menapaki momentum Milad Damar Kedhaton yang ke-3 ini, mari melingkar kembali sinau bareng menggali ilmu dengan payung tema “Kolaborasi Tigan” pada ;

 

Sabtu, 7 Desember 2019

Pukul 19:23 WIB

Di Gedung Serbaguna SKB Cerme, Gresik