IQRO’ : Jalan Kehidupan

https://vantagepoint3.org/wp-content/uploads/2017/06/a-way-of-life-vantage-point-3-flipped-300×127.jpg

 

Adalah perintah membaca. Iqra‘. Yang kemudian menjadi perintah pertama Allah pada kekasih-Nya, Muhammad. Bukan perintah yang lain. Bahkan bukan pula sholat yang merupakan tiang agama. Sementara ada pihak yang seolah menafikan peran akal. Perintah tersebut menunjukkan bahwa praktik keberagamaan kita sejatinya harus berlandaskan ilmu. Berbasis akal murni dalam tuntunan wahyu. Bilamana kita mau memahami wahyu (sumber keagamaan) tanpa bekal kecerdasan akal?

Kalau kemudian kita telisik lebih lanjut lagi, bahwasanya perintah iqro’ yang disampaikan melalui Jibril tanpa disertai objek khusus. Artinya apa? Seluruh yang terhampar, sepanjang jarak mata memandang, perilaku benda “mati” ataupun yang kita anggap “hidup”, semuanya bisa kita telaah. Semuanya bisa kita bedah dengan pisau analisis. Selama tujuannya adalah untuk meninggikan kalimat Allah. Bi-ismi-robbika-alladzii-kholaq.

Dalam kondisi apapun (berdiri, duduk, bahkan berbaring) proses iqro’ harus senantiasa kita lakukan sehingga kita mampu menemukan intisari kesejatian (tauhid). Sehingga apapun proses iqro yang kita lakukan mengantarkan kita kepada Allah. Pada akhirnya, dengan tunduk atau terpaksa, kita akan sampai pada kesimpulan betapa Allah menciptakan sesuatu tiada yang sia-sia. Rabbana maa khalaqta hadza bathila.

Mbah Nun pernah mengenalkan kita dengan konsep “all seasons man” atau “manusia pawang.” Manusia yang tidak hanya bisa survive (bertahan) tapi juga bisa bermanfaat baik untuk pribadi maupun masyarakatnya. Tidak hanya suitable (cocok) dalam lingkungan spesifik, melainkan juga dalam ragam ekosistem lingkungan yang mungkin kita temui dalam kehidupan ini.

Nah, dalam konteks sosial kemanusiaan, kehidupan bebrayan yang sedemikian, meng-iqro-i masyarakat dilakukan dengan proses membaca psikologi dan sosiologi masyarakat dalam segala aspeknya. Sehingga kita bisa secara presisi menempatkan diri dalam lingkungan sekitar kita. Syukur-syukur kita kemudian mampu menjadi “manusia wajib”. Minimal manusia sunnah.” Jangan sampai jadi manusia mubah yang kehadiran kita baik adanya maupun tidaknya tidak memiliki arti. Apalagi -naudzubillah- kita menjadi manusia “makruh” dan “haram”. (definisi dan elaborasi jenis manusia banyak terekam di catatan-catatan Mbah Nun)

Iqro sebagai sebuah proses belajar harus diistiqomahi sepanjang hayat. Bukankah Kanjeng Nabi sudah berpesan bahwa “belajar itu dari buaian hingga liang lahat” ?!. Maka sejatinya proses iqro tidak bisa hanya waktu-waktu tertentu. Karena itu akan menghasilkan pemahaman yang parsial dan bahkan jumud (tidak responsif terhadap perubahan zaman).

***

Iqra’ (asal kata dari qo-ro-a) berbeda misalnya dengan perintah utlu (asal kata dari ta-la) meski kemudian keduanya diartikan sebagai perintah membaca. Meski keduanya dipakai oleh Al-Qur’an, keduanya memiliki kekhasan. Perintah utlu hanya spesifik buat teks-teks yang sakral (kitab suci) sehingga kita kenal misalnya Musabaqoh Tilawatil Qur’an. Sementara itu iqro lebih bersifat umum.

Sebagai catatan akhir, yang perlu diingat bahwa iqro tidak hanya dilakukan dengan akal fikiran semata. Ia harus dibersamai dengan proses riyadhoh hati agar debu dan kerikil nafsu tidak menyertai proses iqro yang kita jalani. Dalam istilah Maiyah, iqro yang dilakukan merupakan perpaduan tafakur, tadabur dan tadzakur.

 

Jamaluddin Rosyidi
Pegiat Simpul Maiyah Bontang, berasal dari Panceng Gresik.